แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Yumi
Jakun Yoel bergerak naik turun, lalu dia mendadak menenggak alkoholnya dalam jumlah banyak.

“Ferry, kamu mabuk ya? Pertanyaan macam apa itu?”

Yoel mencoba mengalihkan pembicaraan.

Namun, sorak-sorai di sekitar mereka malah semakin kencang.

Wajah Yoel tampak semakin muram.

Dia tak melihatku, tak melirik sedikit pun.

“Sudahlah, jangan ribut terus.”

Wenny tak mau menyerah. Sambil tertawa manja, dia menggandeng lengan Yoel.

“Kak Yoel, jangan marah. Ferry juga hanya penasaran.”

Wenny pun menoleh melihatku.

“Kak Susan, jangan salahkan mereka. Kami sudah main bersama Kak Yoel sejak kecil, jadi memang seperti ini bercandanya.”

“Beda denganmu, dulu kamu pasti masuk bar saja nggak berani, ‘kan?”

Begitu kalimat itu terucap, semua orang di sofa pun tertawa.

Yoel tetap diam, hanya mengangkat gelasnya dan minum lagi.

Sambil memegang segelas bir yang penuh, Toni berdiri dengan terhuyung-huyung.

“Kak Susan, aku bersulang denganmu, jangan marah lagi, ya.”

Katanya sambil pura-pura tersandung.

Segelas penuh bir dingin itu pun tumpah menyiramku dari ujung kepala sampai kaki.

Gaun putih yang kupakai langsung basah kuyup.

“Aduh, maaf Kak Susan. Aku benar-benar nggak sengaja.”

Mulutnya meminta maaf, tapi matanya memancarkan kepuasan seolah baru saja menonton pertunjukan bagus.

Yoel mengerutkan kening dan berkata, “Toni, kamu apain?”

Nada bicaranya sangat ringan, tidak ada nada menegur sama sekali.

Perutku rasanya mual melihat semua ini, aku sudah tak tahan lagi.

“Kalian lanjut saja, aku mau balik dulu.”

Aku berbalik untuk pergi.

Saat melewati Wenny, tiba-tiba sebuah kaki terjulur.

Tubuhku tersungkur ke depan, lututku menghantam lantai dan mengeluarkan bunyi yang keras.

Rasa sakitnya sempat membuat pandanganku gelap sejenak.

“Astaga, Kak Susan!”

Teriak Wenny dengan nada yang dilebih-lebihkan.

Yoel mengerutkan kening.

“Kok kamu ceroboh sekali?”

Dia membungkuk berniat memapahku berdiri.

“Jangan sentuh aku.”

Aku menghempaskan tangannya dan bangkit berdiri sendiri sambil bertumpu pada lantai.

Si Ferry penjilat kembali berusaha menengahi.

“Kak Susan nggak sengaja jatuh, bagaimana kalau kita main satu putaran sebagai permintaan maaf ke dia?”

Botol kosong di atas meja diputar dengan cepat.

Akhirnya, mulut botol itu berhenti tepat ke arahku.

Wenny bertepuk tangan kegirangan.

“Kak Susan, bagaimana kalau kamu merangkak satu putaran seperti anjing kecil, sambil menggonggong? Setelah itu kita anggap impas, ya?”

Semua orang menatapku dengan pandangan mengejek.

Aku menoleh ke arah Yoel.

Tatapannya menghindar. Wajahnya tampak serba salah, takut aku akan membuat keributan yang membuatnya sulit.

“Sayang.”

Dia mulai membujukku.

“Ini hanya permainan, jangan dimasukkan ke hati.”

“Ikut main saja, biar masalahnya cepat selesai.”

Menyuruhku merangkak di lantai hanya untuk menghibur mereka?

Aku mengambil gelas di depanku dan meminumnya hingga habis.

“Aku nggak bisa merangkak.”

Wenny tampak cemberut, dia menggoyang-goyangkan lengan Yoel sambil bermanja.

“Kak Yoel, lihat dia, benar-benar merusak suasana saja.”

Dia pun segera mencari ide, lalu menunjuk ke panggung kecil di tengah bar.

“Atau Kak Susan naik ke sana untuk menari? Setelah itu, masalah dianggap selesai.”

“Badan Kak Susan begitu bagus, pasti sangat cantik kalau menari.”

Di atas panggung, beberapa wanita berpakaian minim sedang menggoyangkan tubuh mereka.

Aku mendengar Wenny sengaja berbisik dengan suara yang terdengar olehku,

“Lihat mukanya yang menyebalkan itu, sok suci sekali.”

“Hari ini, aku mau dia tahu siapa yang sebenarnya pantas berdiri di samping Kak Yoel.”

Ferry terkekeh.

“Ide kamu memang banyak, biar dia kapok.”

Ternyata begitu.

Aku menoleh perlahan, menatap Yoel.

Dia sedang menunduk membicarakan sesuatu dengan Wenny sambil tersenyum penuh kasih.

Dia bahkan tak menyadari tatapanku.

Di hatinya sekarang, aku mungkin hanyalah beban yang tak pengertian.

Aku mengambil segelas alkohol yang penuh dari meja, lalu bangkit dan berjalan menuju panggung.

Wenny mengira aku menyerah, wajahnya menunjukkan senyuman kemenangan.

“Kak Susan menyerah? Ayo, cepat ke sana! Kami semua sudah nggak sabar untuk menonton!”
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pergi Dari Belenggu Cinta   Bab 9

    Yoel dan Wenny serentak menghentikan aksi mereka, lalu terbengong menatapku.Di mata Yoel, sempat terbersit secercah harapan.Sementara itu, Wenny reflek menciut ke belakang.Aku mengeluarkan ponsel ke arah mereka dan mulai merekam video.“Jangan berhenti, dong.”Ujarku pelan.“Lanjutkan saja, aku belum puas menontonnya.”Mereka berdua mematung di tempat.“Bukannya katamu Kak Yoel itu yang terbaik? Kok sekarang malah main tangan?”“Kok kamu tega memukul Adik Wen?”“Yoel, jadi begini cara kamu melindunginya?”Setiap kalimatku menusuk tepat di titik paling menyakitkan bagi mereka.Mereka saling pandang, tapi hanya tersisa rasa benci yang mendalam di mata mereka sekarang.Setelah merekamnya, aku membagikan video itu ke sahabatku.[Wanita jalang dan pria bajingan lagi berantem di pinggir jalan, selamat menonton.]Setelah itu, aku menginjak pedal gas.Aku tak menoleh ke arah mereka lagi.Setengah bulan kemudian, pengacaraku meneleponku.“Pihak Ferry sudah membayar ganti rugi, uangnya sudah

  • Pergi Dari Belenggu Cinta   Bab 8

    Baru saja masuk ke rumah, telepon dari sahabatku langsung masuk.“Beb! Cepat cek berita viral, si Wenny mau lompat dari gedung.”Aku membuka instagram dan ternyata benar.Wenny yang masih memakai baju pasien, berdiri di pinggir atap gedung dan menangis tersedu-sedu di depan kamera.“Aku hanya mencintai orang yang salah, kok kalian terus menggangguku?”“Kalau kematian bisa membuatmu puas, aku rela melakukannya.”Kolom komentar langsung penuh dengan orang sok suci yang menyerangku.Tepat saat itu, telepon dari Yoel masuk.Aku mengangkatnya dan langsung menekan tombol rekam.“Susan, cepat ke rumah sakit! Suruh si Wenny gila itu turun!”Bentaknya dengan panik.“Kalau dia benaran mati dan arwahnya gentayangan menggangguku, gimana?”Aku menjawab datar, “Apa urusannya denganku?”Setelah menutup telepon, aku mengirim rekaman itu secara anonim ke seorang jurnalis yang sedang melakukan siaran langsung di lokasi.Tak sampai lima menit, suara lantang jurnalis itu menyebarkan rekaman tersebut ke se

  • Pergi Dari Belenggu Cinta   Bab 7

    Begitu bukti-bukti itu terunggah, ponselku bergetar hebat.Aku pun langsung memblokir Yoel dan semua temannya.Pesan suara dari sahabatku masuk, sangking semangatnya, suaranya sampai gemetar.“Beb! Keren sekali! Teman-teman di media sosial bilang postinganmu itu buku panduan untuk menangkis pelakor paling ampuh.”Aku mematikan ponsel dan tertidur selama belasan jam di pesawat.Begitu mendarat dan menyalakan ponsel, banyak pesan yang langsung menyerbu masuk.Wenny mulai beraksi lagi.Dia mengunggah foto tangan yang sedang diinfus di rumah sakit, dengan keterangan, [Ini semua salahku. Kumohon jangan salahkan Kak Yoel.]Kolom komentar langsung penuh dengan hujatan yang menyebutku kejam karena sudah memaksa orang sampai mau bunuh diri.Sahabatku panik, [Pelakor ini benar-benar jago akting, sialan!]Tanpa banyak bicara, aku mengirimkan video yang sudah kusiapkan sebelumnya pada sahabatku.Video saat dia berbisik di telinga Ferry sambil mengataiku sok suci.Lengkap dengan video kualitas tin

  • Pergi Dari Belenggu Cinta   Bab 6

    Aku menunjuk ke arah lantai di depanku.“Kalau begitu, berlutut dan sujud tiga kali di hadapanku, baru aku pertimbangkan untuk memaafkanmu.”Seketika, wajah Wenny langsung membeku. Dia menatapku dengan tatapan tak percaya.Yoel pun meledak amarahnya, “Kamu jangan keterlaluan!”“Aku keterlaluan?”Aku mengangkat ponselku dan menekan tombol play.Sebuah rekaman suara terdengar dengan sangat jelas.“Lihat mukanya yang menyebalkan itu, sok suci sekali.”“Hari ini, aku mau dia tahu siapa yang sebenarnya pantas berdiri di samping Kak Yoel.”Suasana bar memang bising, tapi aku cukup cerdik untuk merekamnya diam-diam.Aku menatap Yoel yang tampak terkejut.“Dengar nggak?”“Ini adik kesayanganmu, si Wen.”“Sekarang, bawa Adik Wen ini keluar dari kamarku dan pergi.”Aku berjalan mendekat, melemparkan kopernya langsung keluar pintu hingga pakaiannya berceceran di lantai.Lalu, aku mengambil ponsel dan memesan tiket pesawat untuk pulang.Kemudian, aku mengirimkan pesan singkat pada pengacaraku.[Si

  • Pergi Dari Belenggu Cinta   Bab 5

    Aku berjalan ke depannya.Aku mengangkat tangan, lalu menyiramkan seluruh isi gelas alkohol itu tepat di atas kepalanya.“Mau lihat aku nari?”“Biar kusadarkan dulu kamu.”Kemudian, sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya.Wenny memegangi pipinya, menatapku dengan tatapan tidak percaya.“Berani sekali kamu memukulku?”“Memukulmu?”Aku melayangkan satu tamparan lagi dengan punggung tanganku.“Hari ini, aku bakal menghancurkanmu sekalian.”Aku menjambak rambutnya, lalu menghantamkan kepalanya dengan keras ke pilar di samping kami.“Wenny.”Yoel menerjang maju hendak mendorongku.Belum sempat dia menyentuhku, aku mengambil setengah botol alkohol di atas meja dan menghantamnya tepat ke kepala Yoel.“Yoel, katamu tadi hanya main-main?”“Bagaimana kalau kamu main-main juga di depanku?”“Yoel, aku mau cerai denganmu.”Wenny menjerit histeris.“Atas dasar apa kamu memukulku!”Yoel terhuyung, darah di keningnya bercampur dengan cairan alkohol yang mengalir turun.Dia mengusap wajahnya, lalu

  • Pergi Dari Belenggu Cinta   Bab 4

    Jakun Yoel bergerak naik turun, lalu dia mendadak menenggak alkoholnya dalam jumlah banyak.“Ferry, kamu mabuk ya? Pertanyaan macam apa itu?”Yoel mencoba mengalihkan pembicaraan.Namun, sorak-sorai di sekitar mereka malah semakin kencang.Wajah Yoel tampak semakin muram.Dia tak melihatku, tak melirik sedikit pun.“Sudahlah, jangan ribut terus.”Wenny tak mau menyerah. Sambil tertawa manja, dia menggandeng lengan Yoel.“Kak Yoel, jangan marah. Ferry juga hanya penasaran.”Wenny pun menoleh melihatku.“Kak Susan, jangan salahkan mereka. Kami sudah main bersama Kak Yoel sejak kecil, jadi memang seperti ini bercandanya.”“Beda denganmu, dulu kamu pasti masuk bar saja nggak berani, ‘kan?”Begitu kalimat itu terucap, semua orang di sofa pun tertawa.Yoel tetap diam, hanya mengangkat gelasnya dan minum lagi.Sambil memegang segelas bir yang penuh, Toni berdiri dengan terhuyung-huyung.“Kak Susan, aku bersulang denganmu, jangan marah lagi, ya.”Katanya sambil pura-pura tersandung.Segelas pe

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status