Share

Bab 2

Author: Yumi
Yoel panik.

Dia mengejarku, mencengkeram tanganku dan langsung membatalkan tiket Wenny saat itu juga.

Dia menunjukkan layar ponselnya padaku sambil meminta maaf berkali-kali.

Di kejauhan, Wenny menatap kami dengan mata yang berkaca-kaca.

Aku menatap tajam ke arah Yoel dan memberinya peringatan bahwa ini adalah kesempatan terakhir.

Setelah itu, aku menghempaskan tangannya dan berjalan lurus menuju pintu pemeriksaan keamanan.

Begitu masuk pesawat, aku memakai penutup mata dan berniat untuk tidur.

Tak lama kemudian, terdengar bunyi ketikan pelan di ponsel dari arah sampingku.

Aku membuka penutup mata dan melirik sedikit.

Yoel sedang membalas pesan dengan nama kontak bernama Wen dengan sangat cepat.

[Jangan menangis lagi, ini semua salahku.]

Rasanya sekujur tubuhku langsung dingin membeku.

Sadar bahwa aku sedang memperhatikannya, Yoel buru-buru menyembunyikan ponselnya.

“Lagi chat sama siapa?” tanyaku dingin.

“Nggak ada, hanya klien,” jawabnya tanpa berani menatap mataku.

Aku tersenyum, “Klien yang namanya Wen?”

Wajahnya langsung memucat.

“Sayang, jangan salah paham. Aku hanya takut dia melakukan hal yang berbahaya.”

“Kalau dia mau bunuh diri, kamu juga mau menemaninya mati sekalian?”

Suaraku agak keras, sampai orang di barisan depan menoleh ke arah kami.

“Pelankan suaramu.”

Yoel malu, nada bicaranya mulai berubah jadi kesal.

“Kita susah payah bisa pergi bulan madu, bisa nggak sih kamu jangan bahas dia terus?”

“Aku yang bahas dia atau kamu yang sebenarnya nggak rela meninggalkan dia?”

Tanyaku balik padanya.

Yoel pun mengerutkan kening.

“Kami hanya teman, sudah temanan dari kecil. Kok kamu nggak bisa percaya samaku, sih?”

“Nggak bisakah kamu lebih pengertian?”

Kalimat itu lagi.

Aku memejamkan mata, tak ingin lagi mengucapkan satu kata pun dengannya.

Begitu pesawat mendarat, mobil jemputan hotel pun sudah tiba.

Yoel mencoba menggandeng tanganku, tapi aku menepisnya.

Saat pintu mobil terbuka dan hendak masuk, aku malah membeku di tempat.

Wenny duduk di dalam mobil, menatapku sambil tersenyum lebar.

Ada dua sahabat Yoel, Ferry dan Toni yang duduk di samping Wenny.

“Kak Susan, kebetulan sekali!”

Aku langsung menoleh dan menatap Yoel lekat-lekat.

Wajahnya tampak agak gugup.

Wenny melompat turun dari mobil, langsung merangkul lengan Yoel dan menjulurkan lidah ke arahku dengan nada mengejek.

“Kak Susan, Kak Yoel diam-diam mengizinkan aku ikut. Katanya lebih ramai lebih seru, kamu pasti bakal suka.”

“Kamu pelit sekali, tetap Kak Yoel yang lebih baik padaku.”

“Wenny, diam kamu!”

Yoel tampak panik dan gagap

Dari dalam mobil, temannya yang bernama Ferry malah ikut menimpali,

“Kak Yoel, untuk apa pura-pura? Bukannya kamu sendiri yang transfer uang tiketnya ke kami?”

Melihat wajah pucat Yoel, aku pun tiba-tiba tertawa.

Akting di bandara tadi sungguh luar biasa bagus.

Saat tiba di hotel, Yoel mengikutiku masuk sambil terus mengarang kebohongan.

“Mereka maksa mau ikut, uangnya itu dipinjam sama Ferry. Aku nggak tahu kalau Wenny juga ikut datang.”

Aku menonton aktingnya tanpa komentar.

“Sudah selesai bicaranya?”

Yoel membeku.

“Kalau sudah, keluar sekarang,” ujarku sambil menunjuk pintu.

Dengan sisa tenagaku, aku mendorongnya keluar dari kamar.

Lalu menutup pintu dan menguncinya.

Aku bersandar di balik pintu, merosot jatuh ke lantai dan air mataku pun mulai jatuh.

Di luar pintu, terdengar suara Wenny dan yang lainnya yang mencoba menengahi, bercampur dengan suara gedoran pintu Yoel yang terus-menerus.

Aku tak peduli.

Dua jam kemudian.

Aku mengganti pakaian dan berniat keluar untuk mencari udara segar.

Begitu pintu dibuka….

Terlihat Yoel masih berdiri di sana.

Namun, ada Wenny yang memakai bikini yang sangat minim bahan, sedang mencoba bergelayut di tubuh Yoel.

“Kak Yoel, nanti malam kita berenang, yuk? Seperti waktu kuliah dulu.”

Wenny melirik ke arahku dengan tatapan menantang.

Yoel tampak serba salah, matanya menghindar dariku, “Sayang, dia….”

“Kak Susan itu baik hati, dia pasti nggak akan keberatan, ‘kan?” ucapnya dengan polos.

Aku berjalan ke hadapan mereka dan menatap Yoel lekat-lekat.

“Kamu mau pergi?”

“Sayang, aku hanya temani dia biar dia merasa lebih tenang.” Yoel masih membela diri.

“Kalau kamu berani melangkah keluar dari pintu kamar ini satu langkah saja, hubungan kita benar-benar selesai.”

Yoel pun langsung mendorong Wenny menjauh dan buru-buru berkata,

“Aku nggak mau.”

Wenny sampai terhuyung karena didorong. Dia menatap Yoel dengan tak percaya dan seketika matanya berkaca-kaca.

Wenny memberiku tatapan tersakiti, lalu berbalik dan berlari pergi.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pergi Dari Belenggu Cinta   Bab 9

    Yoel dan Wenny serentak menghentikan aksi mereka, lalu terbengong menatapku.Di mata Yoel, sempat terbersit secercah harapan.Sementara itu, Wenny reflek menciut ke belakang.Aku mengeluarkan ponsel ke arah mereka dan mulai merekam video.“Jangan berhenti, dong.”Ujarku pelan.“Lanjutkan saja, aku belum puas menontonnya.”Mereka berdua mematung di tempat.“Bukannya katamu Kak Yoel itu yang terbaik? Kok sekarang malah main tangan?”“Kok kamu tega memukul Adik Wen?”“Yoel, jadi begini cara kamu melindunginya?”Setiap kalimatku menusuk tepat di titik paling menyakitkan bagi mereka.Mereka saling pandang, tapi hanya tersisa rasa benci yang mendalam di mata mereka sekarang.Setelah merekamnya, aku membagikan video itu ke sahabatku.[Wanita jalang dan pria bajingan lagi berantem di pinggir jalan, selamat menonton.]Setelah itu, aku menginjak pedal gas.Aku tak menoleh ke arah mereka lagi.Setengah bulan kemudian, pengacaraku meneleponku.“Pihak Ferry sudah membayar ganti rugi, uangnya sudah

  • Pergi Dari Belenggu Cinta   Bab 8

    Baru saja masuk ke rumah, telepon dari sahabatku langsung masuk.“Beb! Cepat cek berita viral, si Wenny mau lompat dari gedung.”Aku membuka instagram dan ternyata benar.Wenny yang masih memakai baju pasien, berdiri di pinggir atap gedung dan menangis tersedu-sedu di depan kamera.“Aku hanya mencintai orang yang salah, kok kalian terus menggangguku?”“Kalau kematian bisa membuatmu puas, aku rela melakukannya.”Kolom komentar langsung penuh dengan orang sok suci yang menyerangku.Tepat saat itu, telepon dari Yoel masuk.Aku mengangkatnya dan langsung menekan tombol rekam.“Susan, cepat ke rumah sakit! Suruh si Wenny gila itu turun!”Bentaknya dengan panik.“Kalau dia benaran mati dan arwahnya gentayangan menggangguku, gimana?”Aku menjawab datar, “Apa urusannya denganku?”Setelah menutup telepon, aku mengirim rekaman itu secara anonim ke seorang jurnalis yang sedang melakukan siaran langsung di lokasi.Tak sampai lima menit, suara lantang jurnalis itu menyebarkan rekaman tersebut ke se

  • Pergi Dari Belenggu Cinta   Bab 7

    Begitu bukti-bukti itu terunggah, ponselku bergetar hebat.Aku pun langsung memblokir Yoel dan semua temannya.Pesan suara dari sahabatku masuk, sangking semangatnya, suaranya sampai gemetar.“Beb! Keren sekali! Teman-teman di media sosial bilang postinganmu itu buku panduan untuk menangkis pelakor paling ampuh.”Aku mematikan ponsel dan tertidur selama belasan jam di pesawat.Begitu mendarat dan menyalakan ponsel, banyak pesan yang langsung menyerbu masuk.Wenny mulai beraksi lagi.Dia mengunggah foto tangan yang sedang diinfus di rumah sakit, dengan keterangan, [Ini semua salahku. Kumohon jangan salahkan Kak Yoel.]Kolom komentar langsung penuh dengan hujatan yang menyebutku kejam karena sudah memaksa orang sampai mau bunuh diri.Sahabatku panik, [Pelakor ini benar-benar jago akting, sialan!]Tanpa banyak bicara, aku mengirimkan video yang sudah kusiapkan sebelumnya pada sahabatku.Video saat dia berbisik di telinga Ferry sambil mengataiku sok suci.Lengkap dengan video kualitas tin

  • Pergi Dari Belenggu Cinta   Bab 6

    Aku menunjuk ke arah lantai di depanku.“Kalau begitu, berlutut dan sujud tiga kali di hadapanku, baru aku pertimbangkan untuk memaafkanmu.”Seketika, wajah Wenny langsung membeku. Dia menatapku dengan tatapan tak percaya.Yoel pun meledak amarahnya, “Kamu jangan keterlaluan!”“Aku keterlaluan?”Aku mengangkat ponselku dan menekan tombol play.Sebuah rekaman suara terdengar dengan sangat jelas.“Lihat mukanya yang menyebalkan itu, sok suci sekali.”“Hari ini, aku mau dia tahu siapa yang sebenarnya pantas berdiri di samping Kak Yoel.”Suasana bar memang bising, tapi aku cukup cerdik untuk merekamnya diam-diam.Aku menatap Yoel yang tampak terkejut.“Dengar nggak?”“Ini adik kesayanganmu, si Wen.”“Sekarang, bawa Adik Wen ini keluar dari kamarku dan pergi.”Aku berjalan mendekat, melemparkan kopernya langsung keluar pintu hingga pakaiannya berceceran di lantai.Lalu, aku mengambil ponsel dan memesan tiket pesawat untuk pulang.Kemudian, aku mengirimkan pesan singkat pada pengacaraku.[Si

  • Pergi Dari Belenggu Cinta   Bab 5

    Aku berjalan ke depannya.Aku mengangkat tangan, lalu menyiramkan seluruh isi gelas alkohol itu tepat di atas kepalanya.“Mau lihat aku nari?”“Biar kusadarkan dulu kamu.”Kemudian, sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya.Wenny memegangi pipinya, menatapku dengan tatapan tidak percaya.“Berani sekali kamu memukulku?”“Memukulmu?”Aku melayangkan satu tamparan lagi dengan punggung tanganku.“Hari ini, aku bakal menghancurkanmu sekalian.”Aku menjambak rambutnya, lalu menghantamkan kepalanya dengan keras ke pilar di samping kami.“Wenny.”Yoel menerjang maju hendak mendorongku.Belum sempat dia menyentuhku, aku mengambil setengah botol alkohol di atas meja dan menghantamnya tepat ke kepala Yoel.“Yoel, katamu tadi hanya main-main?”“Bagaimana kalau kamu main-main juga di depanku?”“Yoel, aku mau cerai denganmu.”Wenny menjerit histeris.“Atas dasar apa kamu memukulku!”Yoel terhuyung, darah di keningnya bercampur dengan cairan alkohol yang mengalir turun.Dia mengusap wajahnya, lalu

  • Pergi Dari Belenggu Cinta   Bab 4

    Jakun Yoel bergerak naik turun, lalu dia mendadak menenggak alkoholnya dalam jumlah banyak.“Ferry, kamu mabuk ya? Pertanyaan macam apa itu?”Yoel mencoba mengalihkan pembicaraan.Namun, sorak-sorai di sekitar mereka malah semakin kencang.Wajah Yoel tampak semakin muram.Dia tak melihatku, tak melirik sedikit pun.“Sudahlah, jangan ribut terus.”Wenny tak mau menyerah. Sambil tertawa manja, dia menggandeng lengan Yoel.“Kak Yoel, jangan marah. Ferry juga hanya penasaran.”Wenny pun menoleh melihatku.“Kak Susan, jangan salahkan mereka. Kami sudah main bersama Kak Yoel sejak kecil, jadi memang seperti ini bercandanya.”“Beda denganmu, dulu kamu pasti masuk bar saja nggak berani, ‘kan?”Begitu kalimat itu terucap, semua orang di sofa pun tertawa.Yoel tetap diam, hanya mengangkat gelasnya dan minum lagi.Sambil memegang segelas bir yang penuh, Toni berdiri dengan terhuyung-huyung.“Kak Susan, aku bersulang denganmu, jangan marah lagi, ya.”Katanya sambil pura-pura tersandung.Segelas pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status