Share

Bab 3

Author: Yumi
Yoel menghela napas lega.

“Sayang, lihat, aku sudah suruh dia pergi. Jangan marah lagi, ya?”

Ucapannya sama sekali tak terdengar seperti permintaan maaf.

Aku sudah malas berdebat dengannya, jadi langsung menghempas tangannya dan berjalan masuk ke kamar.

Aku berbaring di ranjang dan menutupi kepalaku dengan selimut.

Dia mengira aku sudah tidur.

Entah berapa lama berlalu, aku terbangun karena getaran ponsel.

Itu ponsel Yoel yang tergeletak di atas nakas.

Layarnya menyala, menampilkan nama Wen yang menusuk mata.

[Kak Yoel, istrimu nggak menyulitkan kamu lagi, ‘kan?]

Aku mengambil ponselnya dan ternyata tak ada kata sandi.

Yoel benar-benar merasa aman denganku.

Aku membuka whatsapp dan menggulir ke atas.

Layarnya penuh dengan riwayat obrolan antara Yoel dan Wenny tepat setelah aku tertidur.

Wenny, [Maaf Kak Yoel, gara-gara aku, kamu jadi berantem lagi dengan Kak Susan.]

Yoel, [Jangan mikir yang aneh-aneh. Sifatnya memang begitu, ngambekan dan berpikiran sempit. Nggak perlu ladenin dia.]

Ngambekan dan berpikiran sempit.

Ternyata bagi dia, diriku sosok seperti itu.

Wenny, [Semua ini salahku, harusnya aku nggak maksa ikut.]

Yoel, [Bukan salahmu, aku sendiri yang menyuruhmu ikut.]

Yoel, [Memang kamu yang terbaik, nggak seperti orang yang bisanya hanya merusak suasana.]

Jantungku rasanya seperti diremas, sangat sesak.

Mereka bahkan mulai bernostalgia tentang masa-masa mereka liburan berdua saat kuliah dulu.

[Sungguh indah sekali dulu, hanya ada kita berdua.]

Ternyata, akulah orang ketiga di hubungan ini.

Dengan wajah datar, aku membuka kamera ponselku sendiri.

Aku memotret semua riwayat obrolan itu.

Lalu, meletakkan ponselnya kembali ke tempat semula.

Tak lama kemudian, Yoel pun kembali.

Wajahnya dihiasi senyuman lebar, dia bertanya, “Sayang, sudah bangun?”

Aku menghindar saat dia mengulurkan tangan. Tangan itu mungkin baru saja mengelus rambut Wenny.

Aku bertanya padanya, “Kamu mau ke mana?”

“Ferry dan yang lain mengajakku ke bar, katanya mau minta maaf soal tadi.”

Dia tampak merasa bersalah dan tak berani menatapku.

Aku menatap matanya lekat-lekat, “Yoel, kita ke sini untuk bulan madu.”

Dia malah melotot ke arahku.

“Bulan madu terus! Bisa nggak sih jangan buat aku pusing?”

“Main sama siapa saja bukannya sama saja? Harus sekali berduaan terus?”

Setelah mengucapkan itu, dia pun membanting pintu dan pergi.

Aku menunggu dua menit, lalu diam-diam membuntutinya.

Di bar terbuka milik hotel, aku langsung bisa menemukan mereka.

Mereka sedang memainkan permainan jujur dan berani.

Botol menunjuk ke arah Wenny, Ferry bersorak menyuruhnya memilih berani.

“Berani nggak buka ikat pinggang Kak Yoel?”

Wenny merengek manja, “Kalian jahat sekali.”

Namun, dia sudah berlutut di depan Yoel.

Dengan santainya, Yoel merangkul pinggangnya.

Di tengah sorak-sorai semua orang, Wenny mengulurkan tangan, menyibak baju Yoel dan jarinya mengusap perut Yoel dengan intim.

Kemudian, tangannya bergerak ke bawah membuka kaitan ikat pinggangnya.

Sepanjang waktu, Yoel terus menunduk menatapnya dengan senyuman penuh memaklumi.

Aku menunggu sampai mereka selesai, lalu kemudian berjalan lurus dan duduk di sofa mereka.

Senyuman di wajah Yoel langsung membeku. Dia reflek melepaskan Wenny dan menjaga jarak.

Dia jelas tak menyangka aku akan menyusul.

Suasana sempat canggung selama beberapa detik hingga Feddy mencoba mencairkan suasana.

“Eh, Kak Susan datang?! Ayo, main bersama!”

Aku tak menjawab, hanya mengangkat gelas alkohol di depanku.

Ada yang memberanikan diri melanjutkan permainan dan bertanya pada Wenny, “Siapa orang yang paling kamu suka di sini?”

Wenny menatap Yoel dengan malu-malu.

“Aku… paling suka dengan Kak Yoel.”

Usai bicara, dia membenamkan wajahnya di pelukan Yoel.

Yoel tampak sangat gemas dan mengusap kepalanya.

Sorakan pun kembali riuh di sekitar.

Lalu, ada yang bertanya lagi, “Lalu, siapa yang paling kamu benci.”

Wenny memasang wajah polos dengan nada bicara yang terdengar tersakiti, matanya sambil tertuju padaku.

“Aku nggak benci siapa-siapa, kok. Aku hanya agak takut dengan tipe orang yang kalau dirinya nggak bahagia, dia juga nggak mau orang lain bahagia.”

Orang-orang di sana langsung tertawa terbahak-bahak.

Saat itu, botol pun berputar dan menunjuk ke arah Yoel.

“Kak Yoel, berani! Cium Wenny satu kali.”

Wenny membantah, “Tapi ada istrinya di sini….”

Namun, tubuhnya malah semakin menempel pada Yoel, wajahnya mendongak dengan tatapan penuh harap.

Semua mata tertuju pada Yoel.

Yoel mengangkat gelas dan meminumnya seteguk.

Dia tak bergerak.

Si Ferry pun muncul untuk menengahi, “Ganti jujur saja.”

Dia menatap Yoel dan bertanya,

“Kak Yoel, seandainya masih belum menikah, kamu bakal menikahi Wenny?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pergi Dari Belenggu Cinta   Bab 9

    Yoel dan Wenny serentak menghentikan aksi mereka, lalu terbengong menatapku.Di mata Yoel, sempat terbersit secercah harapan.Sementara itu, Wenny reflek menciut ke belakang.Aku mengeluarkan ponsel ke arah mereka dan mulai merekam video.“Jangan berhenti, dong.”Ujarku pelan.“Lanjutkan saja, aku belum puas menontonnya.”Mereka berdua mematung di tempat.“Bukannya katamu Kak Yoel itu yang terbaik? Kok sekarang malah main tangan?”“Kok kamu tega memukul Adik Wen?”“Yoel, jadi begini cara kamu melindunginya?”Setiap kalimatku menusuk tepat di titik paling menyakitkan bagi mereka.Mereka saling pandang, tapi hanya tersisa rasa benci yang mendalam di mata mereka sekarang.Setelah merekamnya, aku membagikan video itu ke sahabatku.[Wanita jalang dan pria bajingan lagi berantem di pinggir jalan, selamat menonton.]Setelah itu, aku menginjak pedal gas.Aku tak menoleh ke arah mereka lagi.Setengah bulan kemudian, pengacaraku meneleponku.“Pihak Ferry sudah membayar ganti rugi, uangnya sudah

  • Pergi Dari Belenggu Cinta   Bab 8

    Baru saja masuk ke rumah, telepon dari sahabatku langsung masuk.“Beb! Cepat cek berita viral, si Wenny mau lompat dari gedung.”Aku membuka instagram dan ternyata benar.Wenny yang masih memakai baju pasien, berdiri di pinggir atap gedung dan menangis tersedu-sedu di depan kamera.“Aku hanya mencintai orang yang salah, kok kalian terus menggangguku?”“Kalau kematian bisa membuatmu puas, aku rela melakukannya.”Kolom komentar langsung penuh dengan orang sok suci yang menyerangku.Tepat saat itu, telepon dari Yoel masuk.Aku mengangkatnya dan langsung menekan tombol rekam.“Susan, cepat ke rumah sakit! Suruh si Wenny gila itu turun!”Bentaknya dengan panik.“Kalau dia benaran mati dan arwahnya gentayangan menggangguku, gimana?”Aku menjawab datar, “Apa urusannya denganku?”Setelah menutup telepon, aku mengirim rekaman itu secara anonim ke seorang jurnalis yang sedang melakukan siaran langsung di lokasi.Tak sampai lima menit, suara lantang jurnalis itu menyebarkan rekaman tersebut ke se

  • Pergi Dari Belenggu Cinta   Bab 7

    Begitu bukti-bukti itu terunggah, ponselku bergetar hebat.Aku pun langsung memblokir Yoel dan semua temannya.Pesan suara dari sahabatku masuk, sangking semangatnya, suaranya sampai gemetar.“Beb! Keren sekali! Teman-teman di media sosial bilang postinganmu itu buku panduan untuk menangkis pelakor paling ampuh.”Aku mematikan ponsel dan tertidur selama belasan jam di pesawat.Begitu mendarat dan menyalakan ponsel, banyak pesan yang langsung menyerbu masuk.Wenny mulai beraksi lagi.Dia mengunggah foto tangan yang sedang diinfus di rumah sakit, dengan keterangan, [Ini semua salahku. Kumohon jangan salahkan Kak Yoel.]Kolom komentar langsung penuh dengan hujatan yang menyebutku kejam karena sudah memaksa orang sampai mau bunuh diri.Sahabatku panik, [Pelakor ini benar-benar jago akting, sialan!]Tanpa banyak bicara, aku mengirimkan video yang sudah kusiapkan sebelumnya pada sahabatku.Video saat dia berbisik di telinga Ferry sambil mengataiku sok suci.Lengkap dengan video kualitas tin

  • Pergi Dari Belenggu Cinta   Bab 6

    Aku menunjuk ke arah lantai di depanku.“Kalau begitu, berlutut dan sujud tiga kali di hadapanku, baru aku pertimbangkan untuk memaafkanmu.”Seketika, wajah Wenny langsung membeku. Dia menatapku dengan tatapan tak percaya.Yoel pun meledak amarahnya, “Kamu jangan keterlaluan!”“Aku keterlaluan?”Aku mengangkat ponselku dan menekan tombol play.Sebuah rekaman suara terdengar dengan sangat jelas.“Lihat mukanya yang menyebalkan itu, sok suci sekali.”“Hari ini, aku mau dia tahu siapa yang sebenarnya pantas berdiri di samping Kak Yoel.”Suasana bar memang bising, tapi aku cukup cerdik untuk merekamnya diam-diam.Aku menatap Yoel yang tampak terkejut.“Dengar nggak?”“Ini adik kesayanganmu, si Wen.”“Sekarang, bawa Adik Wen ini keluar dari kamarku dan pergi.”Aku berjalan mendekat, melemparkan kopernya langsung keluar pintu hingga pakaiannya berceceran di lantai.Lalu, aku mengambil ponsel dan memesan tiket pesawat untuk pulang.Kemudian, aku mengirimkan pesan singkat pada pengacaraku.[Si

  • Pergi Dari Belenggu Cinta   Bab 5

    Aku berjalan ke depannya.Aku mengangkat tangan, lalu menyiramkan seluruh isi gelas alkohol itu tepat di atas kepalanya.“Mau lihat aku nari?”“Biar kusadarkan dulu kamu.”Kemudian, sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya.Wenny memegangi pipinya, menatapku dengan tatapan tidak percaya.“Berani sekali kamu memukulku?”“Memukulmu?”Aku melayangkan satu tamparan lagi dengan punggung tanganku.“Hari ini, aku bakal menghancurkanmu sekalian.”Aku menjambak rambutnya, lalu menghantamkan kepalanya dengan keras ke pilar di samping kami.“Wenny.”Yoel menerjang maju hendak mendorongku.Belum sempat dia menyentuhku, aku mengambil setengah botol alkohol di atas meja dan menghantamnya tepat ke kepala Yoel.“Yoel, katamu tadi hanya main-main?”“Bagaimana kalau kamu main-main juga di depanku?”“Yoel, aku mau cerai denganmu.”Wenny menjerit histeris.“Atas dasar apa kamu memukulku!”Yoel terhuyung, darah di keningnya bercampur dengan cairan alkohol yang mengalir turun.Dia mengusap wajahnya, lalu

  • Pergi Dari Belenggu Cinta   Bab 4

    Jakun Yoel bergerak naik turun, lalu dia mendadak menenggak alkoholnya dalam jumlah banyak.“Ferry, kamu mabuk ya? Pertanyaan macam apa itu?”Yoel mencoba mengalihkan pembicaraan.Namun, sorak-sorai di sekitar mereka malah semakin kencang.Wajah Yoel tampak semakin muram.Dia tak melihatku, tak melirik sedikit pun.“Sudahlah, jangan ribut terus.”Wenny tak mau menyerah. Sambil tertawa manja, dia menggandeng lengan Yoel.“Kak Yoel, jangan marah. Ferry juga hanya penasaran.”Wenny pun menoleh melihatku.“Kak Susan, jangan salahkan mereka. Kami sudah main bersama Kak Yoel sejak kecil, jadi memang seperti ini bercandanya.”“Beda denganmu, dulu kamu pasti masuk bar saja nggak berani, ‘kan?”Begitu kalimat itu terucap, semua orang di sofa pun tertawa.Yoel tetap diam, hanya mengangkat gelasnya dan minum lagi.Sambil memegang segelas bir yang penuh, Toni berdiri dengan terhuyung-huyung.“Kak Susan, aku bersulang denganmu, jangan marah lagi, ya.”Katanya sambil pura-pura tersandung.Segelas pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status