MasukDentingan notifikasi yang masuk melalui ponsel yang berada di atas nakas itu membuat gadis yang telah tertidur sekitar satu jam lalu membuka sedikit matanya. Dia meraih benda itu lalu membaca pesan yang masuk.
Mom : Za, Mama sama Papa nggak pulang malam ini, masih banyak kerjaan di kantor. Kamu hati-hati ya di rumah. Pintu jangan lupa di kunci.Merza mendengus, sudah biasa dia rumah seorang diri. Tetapi tetap saja, lama kelamaan dia merasa jenggah.
Gadis itu meringsut turun dari ranjang, berjalan keluar kamar lalu menuruni anak tangga untuk menuju dapur. Membuka lemari makanan lalu mengeluarkan dua bungkus mi instan dari dalam sana dan langsung memasaknya.
Namun baru saja dia menghidupkan kompor, dia teringat akan sesuatu. Bibirnya lantas tertarik ke atas, dia tahu apa yang akan dia lakukan setelah ini. Yaitu mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
"Halo Regan! Jalan yuk?" seru Merza semangat kala Regan menjawab teleponnya.
"Gue sibuk. Ngerjain tugas."
"Ck, ntaran aja ngerjain tugasnya. Ayolah, gue laper nih pengen makan di luar."
"Makan di rumah aja."
Binar di wajahnya perlahan memudar. Merza menghela napas panjang, dia tidak mungkin memaksa Regan jika dia sudah menolak.
"Lo sibuk banget ya? Kalo gitu yaudah deh, besok-besok aja."
"Hm."
Merza menurunkan ponselnya dari telinga karena Regan sudah memutuskan panggilan. Ada rasa kecewa, namun di satu sisi dia juga harus mengerti jika dia bukan satu-satunya prioritas Regan. Oh bukan, lebih tepatnya dia bukan siapa-siapa.
Langkah itu perlahan menjauh meninggalkan dapur dan kembali ke kamar untuk mengganti pakaian. Rencananya dia akan keluar untuk membeli makanan, karena di rumahnya tidak ada bahan yang bisa Merza masak kecuali mie instan.
Selang beberapa menit gadis dengan pakaian casualnya itu turun menuruni anak tangga untuk menuju garasi di mana mobil merah kesayangannya berada. Jam masih menunjukkan pukul delapan, jadi tidak terlalu larut untuknya keluar malam.
****
Selama di perjalanan hanya lagu milik Twice berjudul up to more yang terdengar. Untuk sampai ke Moon Coffee membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit, jadi untuk memecah bosan, Merza memilih memutar lagu yang membuatnya sedikit lebih nyaman.
Dia memang memiliki segalanya. Apapun yang Merza inginkan selalu dia dapat. Kedua orangtuanya juga masih ada, dia pun memiliki teman, memiliki pacar. Tetapi mengapa dia tetap sendirian?
Sejak kejadian itu semua perlahan berubah. Papa dan Mamanya mulai sibuk bekerja, bahkan sering tidak pulang ke rumah dan meninggalkan Merza sendirian.
Mama yang dulunya selalu menanyakan tentang sekolah atau pun tentang kegiatan apa saja yang Merza lakukan kini tidak lagi. Beliau pulang sesekali, dan itu pun hanya untuk beristirahat. Namun walau begitu Merza juga sadar jika Mama dan Papa bekerja demi dirinya. Dia tidak mungkin egois, lagipula dia sudah besar, jadi bisa mandiri dan juga jaga diri.
Saat sedang memikirkan itu Merza tiba-tiba menginjak pedal rem kala melihat sesuatu di depan sana. Dia menajamkan penglihatan, seolah tak asing dengan orang itu. Tanpa berpikir panjang dia keluar dari mobil, dan saat itu pula segerombolan geng motor yang memukul orang tadi pergi.
Merza berlari kecil, dia berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan orang itu.
"Arlen? Lo.. Nggak papa?" tanyanya. Ada rasa takut, tetapi Merza tidak mungkin meninggalkan seseorang yang terluka begitu saja.
Cowok berjaket hitam itu meringgis akibat pukulan yang dia terima di pipi kanannya. Ia mengangkat wajah melihat Merza.
"Tumben lo mau deket sama gue? Nggak takut gue apa-apain?"
Merza terdiam sebentar, tidak mungkin Arlen melakukan hal yang bisa menyakitinya jika keadaannya seperti ini. Jadi, Merza tidak takut.
"Nggak. Gue bisa nendang lo trus kabur," Merza menjawab. Membuat Arlen tertawa sinis. Dia mencoba berdiri, tetapi cukup sulit karena tubuhnya terasa nyeri akibat pukulan tadi.
Merza mengulurkan tangan untuk membantu Arlen berdiri. Bagaimana pun sesama manusa harus saling membantu. Walau kejadian buruk itu tak bisa dia lupakan.
"Pergi lo sana. Ntar cowok lo liat, gue lagi males berantem," ucap Arlen mengusir Merza karena gadis itu masih berdiri pada tempatnya.
"Tunggu. Jangan pergi dulu," cegah Merza karena Arlen sudah ingin bergerak untuk pergi menuju motornya. Dia berlari kecil menghampiri mobil, lalu mengambil kotak P3K yang berada di sana dan langsung menuju ke tempat Arlen.
"Nih, luka lo kayaknya parah. Obatin dulu, kalo nunggu lama takutnya infeksi," ucap Merza sembari memberikan kotak obat itu pada Arlen. Namun tak ada pergerakkan dari cowok itu, dia diam menatap Merza sinis.
"Nggak perlu. Gue lagi baik, jadi mending lo pergi sebelum gue--,"
"Sebelum apa? Gue juga baik, mau minjemin kotak obat ini ke elo."
Arlen kembali tersenyum miring, dia melangkah mendekat ke arah Merza hingga membuat gadis itu mundur beberapa langkah.
"Nggak takut lo kalau gue apa-apain? Ini tempat sepi, nggak ada siapa-siapa. Nyali lo kuat?"
Merza menenggak salivanya dengan susah payah, dia mencoba untuk bernapas normal. Menepis pemikiran buruknya karena tidak mungkin Arlen menyakitinya di saat keadaannya seperti ini.
Gadis itu mengangkat wajah, seolah menantang Arlen. "Iya, nyali gue kuat. Gue nggak takut sama lo, buat hari ini."
Cowok itu terkekeh, biasanya Merza tidak berani menatap matanya. Tetapi tampaknya benar, nyalinya cukup kuat untuk hari ini.
"Udah, cepet obatin luka lo," suruh Merza lagi sembari menyondorkan kotak itu. Arlen menatapnya sebentar, lalu menerimanya dan berbalik menuju tempat duduk besi yang berada di dekat sana.
Dia kembali meringis, bukan hanya luka di wajahnya saja, karena sikunya terasa nyeri kala dia menggerakkan tangan.
Merza menghela napas pelan, dia berjalan mendekat ke arah Arlen lalu duduk di samping cowok itu. Mengambil alih kotak obat dan mulai mengobati luka di wajah lelaki yang pernah menjadi pacarnya selama dua tahun.
"Kenapa lo dipukulin? Nyari masalah lagi?" Merza bertanya dengan tangan yang menekan pelan luka di pipi Arlen.
"Bukan urusan lo."
"Ya memang, gue kan cuma nanya doang," balasnya.
Dan tanpa dia ketahui ponsel yang berada di dalam mobil sejak tujuh menit yang lalu tak henti berdering. Ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Regan.
Dia berada di tempat yang sama, namun dengan jarak yang berbeda. Wajah dingin dan tatapan tajam itu sudah cukup menandakan bahwa dia emosi. Bagaimana tidak? Dia berusaha melindungi Merza dari cowok itu. Tetapi lihat apa yang dia lakukan kini?
Sedangkan Arlen, dia diam menatap lekat wajah Merza. Jika boleh jujur, tak ada sedikitpun niat dalam hatinya untuk menyakiti Merza. Kejadian dulu terjadi di luar kendalinya akibat pengaruh alkohol yang membuatnya hampir merusak masa depan gadis itu.
Dia bersikap jahat, semata-mata hanya ingin membuktikan satu hal. Hal yang mungkin akan mengecewakan.
"Putusin Regan."
Pergerakkan Merza terhenti saat mendengar itu, dia menjauhkan sedikit tubuhnya ke belakang.
"Maksud lo apa?" tanyanya dengan nada tak suka.
"Nggak ada maksud apa-apa. Gue cuma nggak suka liat lo deket sama dia."
Respons Merza hanya berdecih pelan, "Itu urusan lo. Gue suka sama dia, jadi nggak ada alasan buat gue mutusin Regan."
Arlen mengalihkan pandangan. Dia terdiam sebentar, mau bagaimana pun menjelaskannya Merza tak mungkin percaya.
"Kadang hal yang lo anggap baik, nggak selamanya bakalan sama. Jangan mudah percaya sama seseorang. Karna bisa aja suatu saat nanti orang itu bakal nyakitin lo."
Merza menatap Arlen heran. Tak mengerti dengan maksud ucapannya barusan. Dan juga, dari mana dia belajar mengatakan kata-kata seperti itu?
"Lo ngomong apa sih? Nggak jelas," balas Merza merasa lucu karena biasanya Arlen tidak pernah mengatakan kalimat seperti itu.
"Jauhi Regan. Dia nggak sebaik yang lo kira."
Gadis yang mengenakanbathrobeberwarna putih itu keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju meja riasnya untuk mengambil ponsel. Dia hendak mengirim pesan pada Ghea, memberitahu pada gadis itu agar menunggunya di lobby hotel.Setelah meletakkan benda pipih itu kembali ke tempat semua, tanpa sengaja pandangan Merza jatuh pada satu figura kecil yang terjatuh. Dia lantas menegakkan bingkai foto itu, dan terdiam menatapnya.Terlihat di sana seorang gadis yang tengah tersenyum manis ke arah kamera, sedangkan lelaki di sebelahnya hanya menatap gadis itu datar. Tanpa sadar sudut bibir Merza tertarik ke atas, dia ingat foto ini diambil ketika mereka berada di Moon Coffee. Ah, mengingatnya membuat Merza merasa sedih.Tapi tidak, kini dia tidak akan bersedih l
Duabulan kemudian..."Ma! Merza berangkat kuliah dulu, ya!" seru gadis yang rambutnya diikat satu itu, dia menuruni anak tangga seraya memasang jam tangan putihnya.Seina yang sedang memasak di dapur pun lantas berlari kecil menghampiri Merza, "Nih, nanti jangan lupa dimakan, ya," ucapnya sambil memasukkan satu kotak bekal berukuran mini ke dalam tas Merza."Itu apaan?""Makanan kesukaan kamu," balasnya tersenyum. Kini Seina tidak bekerja lagi di Butiknya, dia hanya datang sesekali jika ada kepentingan. Dan memilih untuk tinggal di rumah. Dia sudah tahu apa yang dialami anaknya dua bulan yang lalu, dan kini Seina ingin menjadi Ibu yang baik untuknya, agar Merza tidak lagi merasa kesepian.
"Sebelum lo ngelakuin itu, lo duluan yang gue bunuh."Lyora menurunkan tangannya yang terdapat pistol. Dia menggeram kesal dan langsung berbalik hendak menembak kepala orang itu.Namun gerakkan tangan Grace tak secepat dugaan Lyora, dia berhasil menangkis serangan hingga pistol Lyora terlempar."SIALANN! SIAPA LO, HAH?!" teriak Lyora dengan mencekik leher Grace, dan langsung dibalas dengan tendangan diperut Lyora saat itu juga hingga gadis itu terduduk."Gue?" Grace membungkuk menatap Lyora sembari menunjuk wajahnya sendiri, "Orang yang bakal bawa lo ke neraka."Lyora mengeram kesal, dia menoleh ke samping melirik pistolnya yang terjatuh, lalu kemudian bangkit
Satu jam yang lalu..Setelah mendapat telepon dari Darga, Regan pun langsung menelepon Merza, namun sudah berpuluh-puluh kali memanggil, gadis itu tak menjawab panggilannya. Regan bahkan sudah mendatangi rumah gadis itu, namun tidak ada siapa-siapa di sana.Karena dia tak kunjung ada kabar, Regan akhirnya meminta bantuan pada Davin untuk melacak sinyal ponsel gadis itu. Dengan begitu dia bisa mengetahui keberadaan Merza.Kini Regan tengah berada di rumah sakit, menjenguk Ghea sekaligus menemui Darga, karena ada hal penting yang ingin dia sampaikan."Apa?!" kaget lelaki yang duduk tepat di depan Regan. Dia terlihat tak percaya saat mengetahui siapa dalang dari kasus pembunuhan Melva.
Langkah kecil itu menyusuri lorong rumah sakit dengan wajah sendu. Merza tidak tahu apa yang akan dia lakukan setelah ini, hidupnya terasa benar-benar kosong. Perasaan sedih, marah, dan menyesal itu berkumpul menjadi satu.Kakinya berhenti tepat di pintu ruang rawat Ghea, dia berulang kali menarik napas dalam, sebelum akhirnya melangkah masuk. Melihat jika gadis itu masih memejamkan matanya, membuat Merza ingin membalas perbuatan manusia sialan yang membuat keadaan Ghea seperti ini.Perlahan dia berjalan mendekat, lalu menarik satu kursi dan duduk tepat di samping tubuh Ghea."Lo kapan sadar? Kenapa lama banget? Gue pengin cerita banyak hal sama lo," ucap Merza, pandangannya mulai mengabur. Dia selalu menceritakan hal apapun pada Ghea, karena hanya gadis ini yang tidak p
Merza berlari keluar dari taksi dan melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan wajah sembab. Air matanya terus mengalir, tak kuasa membendung sesak pada dadanya setelah mengetahui semua itu."Merza, udah ma--," ucapan Seina terhenti saat melihat Merza menangis, gadis itu berhenti melangkah dan menoleh ke arahnya."Mama udah tau, kan?" Seina meletakkan majalahnya di atas meja, lalu kemudian berdiri dan berjalan mendekat ke arah Merza."Maksudnya?"Merza tertawa sumbang, dia menghapus kasar jejak air matanya, "Kak Melva meninggal bukan karena kecelakaan. Tapi dibunuh. Mama udah tau, kan?" tanya Merza, menatap Mamanya sendu. Dia bahkan berharap jika Mamanya tidak tahu apa-apa, namun sayangnya ekspresi wajah yang terlihat







