Share

Perjalanan 30 Hari Mencintaimu
Perjalanan 30 Hari Mencintaimu
Penulis: Stary Dream

Bab 1

Penulis: Stary Dream
last update Tanggal publikasi: 2026-01-13 07:02:47

"Nih, nyusahin banget kamu ini!"

Selina meringis ketika Aldi melempar sepiring mie goreng ke hadapannya. Persis mengenai perutnya yang mulai membukit.

"Jangan mentang-mentang hamil kamu jadi manja! Aku nggak suka, Selina! Aku ini suamimu bukan pembantu. Harusnya aku yang kamu layani bukan malah kebalikannya!" Gerutu Aldi tanpa henti. Saking kesalnya ingin sekali ia meludahi mie goreng tersebut.

Selina hanya tertunduk diam. Perlahan dia bangkit dari tidurnya dan membersihkan tumpahan mie yang mengenai baju dan perutnya.

Panas sekali.. Selina sampai merasakan nyeri di tubuhnya. Tapi yang lebih sakit adalah ucapan suaminya, Aldi yang begitu mencabik isi hatinya.

Kandungan Selina baru berusia 5 bulan. Dan selama ini juga Selina banyak keluhan.

Mual muntah tanpa henti, pusing, lemas dan belum lagi kontraksi ringan yang menyebabkannya harus bedrest total.

Bukan maksud Selina untuk bermalas-malas. Tapi keadaan yang tengah memaksanya.

Selina sendiri meminta pengertian dari suaminya. Tapi sepertinya Aldi tak pernah mau mengerti.

"Sudah menikah surgamu itu pindah kepadaku. Suamimu! Ini kenapa surgamu malah sibuk melayanimu??" Aldi kembali mengoceh tanpa henti.

Jika sedang begini maka paham agama patriarki yang ia anut akan menjadi bahan cercaannya.

Istri itu harus tunduk pada suami.

Cukup di rumah saja tak perlu bekerja. Layani suamimu. Tapi semenjak Selina hamil, dunianya berputar.

Selina yang biasanya rajin jadi pemalas dan hanya berbaring saja.

Dia yang biasanya memasak jadi tak pernah menyentuh kompor. Rumah yang biasanya rapi jadi tak terurus.

"Kalau gini aku menyesal menghamilimu. Harusnya kamu nggak usah hamil kalau cuma bisa nyusahin aja!" Dongkol sekali Aldi dibuatnya.

Tanpa berpamitan, Aldi main pergi saja keluar dari rumah. Meninggalkan Selina yang terpekur sedih sendirian.

Sambil menyesapi mie gorengnya, air mata Selina mengalir diam-diam. Wanita ini berusaha keras menahan isakan yang keluar dari mulutnya.

Hampir 1 tahun menikah, tak pernah didengarnya Aldi bermulut manis kepadanya. Tak pernah!

Setiap hari Aldi selalu memarahinya. Membentak bahkan mengeluarkan kata yang menyakiti hatinya.

Mau sebaik dan sesempurna apapun Selina mengejarkan tugasnya sebagai seorang istri. Tetap saja tak bisa mengambil hati Aldi.

Kalau begini kenapa harus Selina yang dilamarnya?

Padahal Selina berpikir jika Aldi adalah pria yang tepat untuknya. Pria yang terlihat sholeh, tenang dan berkepribadian baik. Namun ternyata, itu hanya tameng belaka.

****

"Mana Selina?" Tanya Husna ketika anaknya berkunjung sendirian.

"Di rumah." Jawab Aldi mengambil tempat duduk. Kepala pria ini lalu disenderkan di sofa sembari menghela nafas berat.

"Coba mama ajari Selina gimana jadi istri yang baik. Di rumah kerjaannya cuma malas-malasan aja!"

"Malas-malasan gimana?"

"Iya. Cuma tiduran aja! Alasannya karena mual lah! Pusing lah! Sekarang katanya pinggangnya sakit!"

"Harusnya kamu maklum, nak. Istrimu kan sedang hamil." Sahut Husna berusaha bijak.

Aldi menggeleng cepat. "Jangan jadikan kehamilan sebagai alasan untuk tidak melayani suami! Dosa, ma!"

"Ya sudah, nanti mama nasehatin." Jika Aldi sudah mengeluh begini maka ada baiknya Husna akan turun tangan.

Sore menjelang, Husna benar-benar datang ke rumah anaknya. Kali ini sendirian karena Aldi yang sepertinya ogah pulang.

Sesampainya disana, Husna menemukan Selina yang berbaring di kamarnya.

"Pantes aja Aldi nggak betah di rumah. Kerjaanmu cuma di kamar aja." Seru Husna menatap tajam. "Lihatlah rumahmu ini udah seperti kapal pecah. Cucian piring menumpuk. Sampah belum dibuang! Mau kamu jadikan apa rumah ini?"

Selina sontak menoleh karena mendengar suara menggelegar itu. Ia pun beringsut bangun dengan perlahan.

"Ada, mama. Maaf, ma.. perutku sakit." Jawab Selina lemah.

"Jangan dijadikan alasan, Selina! Sekarang bangun dan bereskan semuanya." Perintah Husna.

Selina akhirnya bangkit dari tidurnya. Tertatih-tatih dia berjalan keluar dari kamar sembari memegang perutnya yang kram.

Ia mulai mengambil baju kotor yang berada di ruang tamu dan membawanya ke mesin cuci. Begitu juga sapu yang ditugaskan membersihkan seluruh sudut ruangan.

Selesai disana, Selina mencuci piring yang sudah menumpuk di washtafel. Begitu juga kotak sampah yang terlihat menggunung dibawanya keluar rumah.

"Mama dulu hamil tapi nggak banyak keluhan kayak kamu, Selin!" Seru Husna menghakimi menantunya. Ia berdiri dan memandang Selina yang tengah membersihkan rumah sambil menyilangkan tangan di dada.

"Kamu itu terlalu manja! Harusnya kamu mikir kalau ada suami yang harus kamu urus!"

"Iya, ma.." jawab Selina tersendat. Kepalanya sudah berat sekali. Belum lagi perutnya yang kram.

"Kan enak kalau lihat rumah bersih!" Husna tersenyum senang. "Sekarang mama akan hubungi Aldi."

Husna segera menghubungi putranya. Menantunya yang pemalas ini baru saja diberikannya pelajaran.

Mendengar rumah yang katanya sudah dibersihkan membuat Aldi pulang ke rumah. Walau sebenarnya ia malas.

Bagaimana tidak? Selina sudah kehilangan semua cahayanya.

Wajah yang dulu mulus tanpa cela kini terlihat kusam. Mata yang dulu selalu berbinar menjadi sayu.

Entah karena faktor kehamilan, Aldi juga tak tahu.

Intinya dia sudah kehilangan selera terhadap istrinya. Apalagi ucapan dokter kemarin membuatnya kesal. Selina tak boleh disentuh dulu sampai kandungannya kuat..

Astaga! Kalau begini Aldi tak bisa memberikan nafkah batinnya. Sebab itulah emosinya selalu memuncak ketika melihat wajah istrinya.

Tinggalkan dulu masalah itu, sekarang Aldi harus pulang ke rumah. Hari mulai malam dan besok pagi dia harus bekerja lagi.

Kebetulan Aldi adalah dosen dari universitas ternama. Dia berhasil menyelesaikan Magisternya di usia 25 tahun dan diberi kesempatan untuk mengajar disana.

Sesampainya di rumah, Aldi menyapu sekeliling dengan pandangannya.

Rumah sudah rapi tapi... meja makan kosong. Aduh! Perut Aldi padahal sudah keroncongan. Ia pun bergegas masuk ke kamar dan membangunkan istrinya.

"Ya ampun, Selina! Kamu tidur lagi??"

Bisa-bisa Selina kena serangan jantung juga karena nada kemarahan suaminya.

"Mana makan malamnya! Aku lapar!" Bentak Aldi kesal.

Sembari menahan kram perutnya, Selina bangun dengan perlahan. Ia pergi ke dapur dan menyentuh kompor untuk pertama kalinya.

Tak ada stok makanan di kulkas, Selina memutuskan untuk membuat nasi goreng saja.

Saat menumis bawang, Selina menahan mualnya yang amat sangat. Aroma tumisan ini membuat perutnya bergejolak.

"Sudah belum, Selin? Lama banget!" Seru Aldi yang sudah duduk manis di kursi makan.

"Tunggu sebentar." Jawab Selina serak.

Satu piring nasi goreng sudah disiapkan. Selina membawanya ke arah suaminya.

Namun, saat sedang berjalan ke meja makan. Selina merasakan ada sesuatu yang keluar dari bagian bawahnya.

Tak lama pandangan Selina berubah gelap. Piring yang ia bawa terjatuh begitu saja.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Helmy Rafisqy Pambudi
suami edan
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 60

    "Gimana kalau kita kerja sama aja? Kebetulan aku lagi merambah ke bisnis skincare. Dengan basic mu sebagai seorang dokter, kita bisa membangun bisnis ini bersama-sama." Ujar Nisa tersenyum manis.Taufan melihat anak dan menantunya secara bergantian. Malam ini mereka berkumpul di ruang keluarga dimana Rangga dan istrinya suka sekali mendominasi pembicaraan."Aku nggak berminat." Sahut Rama datar."Ayolah, Rama. Tawaran kakak iparmu ini bagus banget, loh!" Sambung Rangga. "Lagipula ngapain sih kamu masih betah jadi dokter? Mana dokter umum lagi! Emang berapa gajimu itu, hah? Lebih baik kamu ikut berbisnis seperti kami."Sudah berulang kali Rama jengah dengan ucapan Rangga dan istrinya. Mereka selalu meremehkan pekerjaan Rama. Padahal ketika pria ini terjatuh, bukannya mengulurkan tangan dan memberikan motivasi melainkan mereka suka sekali mencibir kisah hidup Rama yang tragis.Betapa tidak? Dalam satu tahun ini hanya kemalangan yang menimpa

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 59

    Aldi sudah terhukum jika dia menyadarinya. Ia terpisah dari istrinya yang setia. Terpisah dari putri yang sudah membuka jendela hatinya.Aldi ingin marah, menuntut semua orang yang memisahkan dirinya dengan Selina dan Alina. Tapi apa Aldi masih memiliki hak akan itu? Sedangkan dia saja tak bisa melakukan apapun.Semua keburukan Aldi tertulis dalam buku harian hitam milik Selina. Tak hanya itu, bukti cctv perselingkuhannya dengan Mayang serta riwayatnya tinggal di penjara sudah menjadi bukti bahwa Aldi memang tak pantas untuk diberikan kesempatan.Terlebih ketulusan dan kesabaran yang Aldi tampilkan pada Selina saat lumpuh rupanya memiliki tepi. Ia kembali lagi ke watak aslinya. Aldi cukup beruntung Selina tak membawa catatan hitamnya ke meja hijau, atau bisa dipastikan dia akan mendekam lagi di penjara.Hari ini, pertemuan kembali Aldi dengan putri kecilnya yang ia panggil Alina.Aulia Alina kini sudah berusia 1 tahun. Dua kaki kecil itu

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 58

    Rintik hujan mulai jatuh ke atas bumi. Awan hitam pekat. Hembusan angin kencang menerpa wajah Rama yang masih berdiam di tempatnya.Tatapan matanya begitu kosong. Teguran dari para manusia yang hulu hilir melewatinya, bahkan ada yang berani menyentuh bahunya sama sekali tak dihiraukan olehnya.Rama menatap nanar makam yang masih tertumpuk dengan tanah berwarna merah. Semakin basah karena hujan yang mulai melanda."Kami tidak tahu apa yang terjadi pada Anggia. Kepergiannya membuat kami terpukul."Suara pria itu lalu mengembalikan kesadaran Rama. Dia lalu memandang pria yang berada di hadapannya. Seorang pria paruh baya."Tapi kami bersumpah akan mencari tahu apa yang menjadi penyebabnya bunuh diri. Cepat atau lambat, kami akan menemukan siapa orang itu." Sambung pria itu tegas.Rama masih tak bergeming. Pandangannya lalu beralih pada wanita paruh baya yang masih menangis meratapi nisan yang bertuliskan nama Anggia. Wanita muda yan

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 57

    "Selina!" Teriak Aldi dengan keras.Selina yang menggendong putrinya berlalu ke dalam mobil yang sudah menunggu di depan sana.Aldi yang bergerak ingin mengejar Selina tertahan karena dua pria bertubuh besar yang menghadangnya."Apa-apaan ini? Ayah menyewa preman untuk menghajarku?" Aldi marah sekali."Tidak. Aku hanya ingin menjemput putri dan cucuku." Jawab Maryono tenang."Apa ayah sudah lupa dengan perjanjian kita?? Ayah tidak diizinkan untuk menemui anakku lagi!""Dan surat perjanjian itu tidak berlaku karena kamu sudah mengingkarinya.""Sial!" Aldi mengumpat hingga membuat Maryono terkejut. "Kalian semua sudah mempermainkanku! Aku nggak akan tinggal diam!""Ternyata inilah watak aslimu, Aldi. Aku pikir kamu sudah berubah karena Selina koma. Tapi ternyata ketulusanmu hanya sementara saja."Maryono memutar tubuhnya dan ikut masuk ke dalam mobil. Sementara Aldi tak bisa mengejar karena tertahan oleh

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 56

    "Wanita brengsek! Sebenarnya apa yang kau rencanakan, hah?" Aldi menghempaskan ponselnya ke dashboard mobil.Percuma ia memaki Mayang. Wanita itu sudah memutus sambungannya."Harusnya aku sudah curiga! Tidak mungkin dia tidak memiliki maksud masuk ke keluargaku! Ah, sial!" Tak henti-hentinya Aldi mengumpat.Ia melarikan mobilnya ke rumah miliknya. Mayang mengatakan jika Alina sudah berada pada Selina. Itu artinya Selina sudha mengetahui semua faktanya. Rahasia yang Aldi simpan selama ini. Begitu juga jati diri Mayang yang sesungguhnya."Sial!" Aldi memukul setirnya dengan kesal. "Aku harus cari alasan!"Dia tahu Selina mudah terpengaruh. Hanya disirami dengan kasih sayang dan dipupuk dengan nyanyian lembut, Selina pasti lebih mempercayai Aldi.Hari ini Aldi akan mengatakan yang sebenarnya jika Alina adalah anak mereka. Tapi Aldi akan menceritakan semuanya dengan versi dirinya. Jangan sampai Selina teringat semua hal buruk yang me

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 55

    "Harusnya dari awal kamu memang pake pengasuh, Aldi! Jangan nyalahin mama!" Ucap Husna tak terima saat Aldi menyalahkannya. "Kan mama bisa lapor padaku kalau Alina demam. Kenapa mama malah mendiamkannya?" "Udah mama bilang jangan bergantung sama mama! Mama udah tua! Kamu juga nggak becus mengasuh anak! Lagipula kamu itu pelit, Aldi. Kamu kan udah punya uang satu miliar kenapa nyari pembantu aja susah!" "Mama!" Mata Aldi sampai melotot. Untung saja mereka tengah berdebat di kamar Alina jadi tak ada yang mungkin mendengarnya. "Jadi sekarang gimana Alina?" Husna mengalihkan pembicaraan. "Ada Mayang yang menungguinya di rumah sakit." "Nah!" Husna terkekeh. "Mama kan udah bilang biarkan Mayang yang mengurus semuanya tapi kamu malah mengusir dia!" Aldi memalingkan wajahnya karena kesal. Kalau bukan demi Alina saja makanya dia menghubungi wanita itu. Apalagi saat Alina bertemu lagi den

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status