LOGIN"Kontraksi hebat terjadi di rahim istri bapak." Jelas dokter kandungan wanita yang memeriksakan Selina malam itu. "Lihat ini ada lekukannya. Ini menandakan kontraksi." Sambungnya dengan menunjuk monitor USG.
Aldi diam dan mencermati. Tapi ia masih tak mengerti. Di sebrang sana Selina sudah sadar kembali, namun keadaannya begitu lemah. Buktinya sejak tadi dia tidak mengeluarkan suaranya. "Kalau saran saya ibu Selina lebih baik dirawat di rumah sakit." "Memangnya bahaya ya, dok?" Dokter itu menatap suami pasien sekilas dan mengangguk. "Telat sedikit saja bapak dan ibu bisa kehilangan calon anak kalian. Menurut saya lebih baik dirawat, disana ibu Selina akan bedrest total dan diberikan obat-obatan." "Tapi nggak ada yang bisa menjaga di rumah sakit, dok.. saya kerja, ibu saya sakit-sakitan. Mertua saya nggak tinggal di kota ini." Dokter tersebut berpikir sejenak. Jelas baginya adalah keselamatan pasien dan calon kandungannya. "Saya pulang aja, dok.." terdengar suara serak nan lemah dari arah pembaringan. "Ibu Selina yakin mau pulang?" Selina mengangguk getir. Ia juga tak mau merepotkan suaminya. "Kalau begitu baiklah, keputusan berada di tangan kalian." Dokter tersebut mengalah dan menulis resep. "Tolong tebus obat ini. Ada vitamin dan obat penguat kandungan yang diberikan lewat bawah." "Baik." Aldi menerima resep itu dengan senang hati. Selina pikir masalah akan selesai dengan ia yang memilih tak jadi dirawat. Rupanya Aldi belum berhenti marah. Pria ini terus menghakiminya selama di perjalanan pulang. "Lihat ulahmu! Aku habis sampai 700 ribu untuk menebus obatmu aja! Belum lagi biaya usg dan konsul dokter.. aarrgghh! Belum lahir aja anak iu udah nyusahin!" Bentak Aldi kesal. "Tapi ini demi anak kita, mas.." lirih Selina. "Aku perhatikan cuma kamu yang begini, Selina! Memang dasar bawaanmu saja yang lemah. Sial!" "Astaghfirullah.." Selina tak sanggup lagi menahan air matanya. Ia pun menangis tersedu-sedu. Mendengar istrinya menangis Aldi jadi tersadar. Ia sudah kelewatan memarahi istrinya. Tapi mau bagaimana lagi? Inilah akumulasi dari kemarahannya. Dan Aldi tak bisa lagi membendung kekesalan ini. Sesampainya di rumah, Selina bergerak menuju kamar untuk beristirahat. Sebelum itu, Aldi menegurnya terlebih dahulu. "Karena kamu dan calon anakmu itu terlalu banyak pengeluaran, kuputuskan akan memotong biaya bulananmu. Jangan membantah!" Aldi menatap tajam. Selina mengangguk. Dia berpasrah jikalau memang sudah dianggap beban. Aldi juga langsung pergi setelah mengatakan itu. Seperti biasa, tanpa berpamitan lagi. Selina menebak mungkin saja Aldi pergi ke tempat ibunya. Mengadukan kejadian ini pada Husna. Tak ayal mungkin sebentar lagi Husna datang dan akan memarahinya seperti tadi siang. Selina yang baru saja memejamkan matanya jadi teringat. Tadi dia terjatuh dengan nasi goreng yang dibawanya. Piring itu pecah, belum lagi tumpahan nasi goreng itu..... Oh.. Selina harus menahan rasa sakit ini. Ia bangkit dari duduknya dan pergi ke ruang makan. Membersihkan kekacauan tadi dengan sisa tenaganya. Pintu terbuka dengan aroma khas yang menggugah selera. Rupanya Aldi yang baru saja dari luar membeli makan malam. Selina yang dianggapnya patung dilewatinya begitu saja. Pria ini mengambil piring dan menuangkan mie tumis yang ia beli. Hanya satu bungkus saja, untuk dirinya. Mencium aroma sedap makanan membuat perut Selina bergerak. Ia jadi teringat baru makan mie goreng saja seharian ini. "Mas cuma beli satu?" Tanya Selina takut-takut. Aldi berdeham. "Iya." Pria ini begitu rakus memakan makanannya. Selina mengerti, dia bukanlah prioritas suaminya. Buktinya ia hanya membeli satu bungkus makan malam tanpa memikirkan istrinya sama sekali. Padahal Selina tengah mengandung anaknya. Apa mungkin ini balasan karena menebus obat Selina yang mahal tadi? Ya, bisa jadi. Dengan langkah lunglai, Selina kembali ke kamar. Untunglah masih ada stok roti kering yang biasa ia jadikan cemilan. Setelah memakan itu, Selina meminum vitamin dan obat penguat lalu membaringkan diri terbang ke alam mimpi. *** Pagi ini seperti biasa Aldi pergi mengajar. Ada kelas khusus alih program yang diajarnya, yaitu kelas diploma yang ingin mengambil strata 1. Saat mengajar matanya berbenturan beberapa kali dengan seorang wanita berwajah cantik yang ada di hadapannya. Memakai pashmina berwarna biru dengan kemeja putih. Wajah cantik dengan hidung yang mungil serta bibir pinknya mengingatkan Aldi akan seseorang. Benar saja. Saat melihat absensi mahasiswa, Aldi baru sadar jika wanita itu adalah seseorang yang memang sudah lama dikenalnya. Mayang Sari. Adik tingkatnya ketika sama-sama bersekolah di pesantren. "Terima kasih pak Aldiraga Rahman.." ucap Mayang. Mendengar nama lengkapnya disebut membuat Aldi tersenyum cerah. "Aku nggak salah mengenali orang. Ternyata ini bener kamu, Mayang!" Seru Aldi. "Kamu ambil kuliah lagi?" "Iya, mas. Aku susah cari pekerjaan dengan diplomaku, kali aja dengan pendidikan sarjana aku bisa dapat kerjaan." Jawab Mayang ketika perkuliahan selesai. "Sebenarnya banyak lowongan kerja untuk diploma." "Dimana, mas? Rasanya sudah seluruh tempat ku datangi tapi nggak ada yang mau menerimaku." Sahut wanita ini terdengar putus asa. "Kalau begitu lanjutkan saja kuliahmu.." Aldi memandang lekat. "Kamu masih tinggal di rumah lama?" Mayang menggeleng. "Aku udah ikut suamiku, mas." "Oh. Kamu udah nikah??" "Iya." "Kok nggak ngundang sih? Padahal aku mau dateng, loh!" "Mas Aldi juga nikah nggak ngundang aku lagi," Mayang sampai tertawa. "Udah punya anak berapa sekarang?" "Kebetulan istriku lagi hamil sekarang." "Wah.. alhamdulillah. Itu artinya mas Aldi akan jadi ayah sebentar lagi." Ucap Mayang tersenyum. Obrolan mereka pun terpaksa diputus ketika ada pria yang bertugas sebagai cleaning service datang dan hendak membersihkan kelas. Namun keduanya kembali bertemu ketika Mayang tengah duduk manis di halte. Sementara Aldi baru saja mengeluarkan mobilnya dari gerbang kampus. "Nunggu apa, Mayang? Bentar lagi hujan!" Seru Aldi dari dalam mobil. "Nunggu bis, mas." "Suamimu nggak jemput??" Mayang tersenyum pahit. "Ada kerjaan." 'Kasihan sekali.." Aldi mendesis dalam hatinya. Dilihatnya langit yang memekat berwarna keabuan. Belum lagi gemuruh dari atas sana. Bisa dipastikan awan sebentar lagi akan menumpahkan tangisannya. "Masuklah, Mayang! Aku antar pulang." Tawar Aldi. "Nggak usah, mas. Aku nunggu bis aja!" Jawab Mayang tak enak hati. "Udah rezeki jangan ditolak! Ayo masuklah! Sebentar lagi hujan lebat." Mendengar ajakan itu, Mayang tersenyum tipis. Memang benar rezeki tidak boleh ditolak. Ia pun segera masuk ke dalam mobil milik Aldi."Mayang!" Aldi yang cemas menggedor keras pintu rumah wanita ini.Tanpa berpikir lagi, Aldi langsung mengemudikan mobilnya dengan cepat dan sampai di depan rumah ini. Suara histeris Mayang tadi membuatnya panik bukan main.Namun, dahi Aldi mengernyit ketika melihat keadaan rumah dalam keadaan lengang. Bahkan pintu pagarnya saja tak terbuka.Itu artinya hal yang Aldi takutkan tak terjadi. Pria sialan yang berstatus suami Mayang itu tak ada disini.Tapi.. apa yang terjadi pada Mayang? Kenapa suaranya tadi terdengar menangis? Oh.. Aldi cemas lagi.Aldi kembali mengetuk pintu secara tak sabar dengan beberapa kali memanggil nama Mayang."Mayang!" Panggil Aldi lagi."Mas Aldi.." samar-samar Aldi mendengar namanya disebut. Seperti ada bisikan yang memanggilnya dari belakang telinga.Deg!Aldi menoleh ke belakang dengan degup jantung yang kencang. Tiba-tiba saja tengkuk belakangnya sangat dingin. Membuat bulu kuduknya seketika merinding.Suara yang ia dengar tadi begitu mendayu. Terdengar sam
Bak senandung yang menyambut, hubungan Aldi dan Mayang kian dekat semakin harinya.Aldi selalu mengantar adik tingkatnya pulang lepas perkuliahan, begitu juga dengan Mayang yang selalu memberikan bekal makanan sebagai imbalannya.Pria ini juga tak segan untuk selalu mampir. Meski Mayang pernah tak menawarinya, tapi dia senang hati untuk mengantar wanita itu sampai ke depan rumahnya."Sampai jumpa besok." Ujar Aldi ketika berpamitan."Besok? Bukannya besok libur." Mayang jadi tertawa.Aldi tergelak. "Benar juga. Aku lupa kalau besok hari minggu.""Iya, mas. Setidaknya besok kamu bisa menghabiskan waktu dengan istrimu." Sahut Mayang mengulum senyum."Kapan suamimu pulang?" Tanya Aldi mengalihkan perhatian. Dia malas jika bersinggungan dengan istrinya."Mungkin minggu depan.""Kalau begitu aku bisa meninggalkanmu dengan aman..""Aku jadi terharu karena perhatianmu, mas. Terima kasih sekali.."Aldi tersenyum ketika menatap kedua mata indah yang tampak berkaca-kaca itu. Kedua mata dari wan
Dua tangan Aldi penuh memegang buah tangan dari Mayang. Sebab pujian Aldi tadi membuat pipi Mayang merah merona, wanita itu pun tak segan membuat pisang goreng lagi serta lauk lainnya."Ini mas untuk makan malam.." Mayang menyerahkan dua paper bag. "Ya ampun kamu repot banget.""Istrimu pasti nggak masak, kan? Nih aku buatkan mie goreng."Aldi tersenyum menerima buah tangan tersebut. Secuit perhatian ini berhasil membuatnya dada berdebar."Terima kasih." Ucap Aldi memandang wanita itu lekat.Dalam hatinya berkata, alangkah beruntung pria itu berhasil mempersunting Mayang. Wanita ini tak hanya cantik, tapi juga lembut.. tapi dengan tega pria sialan itu malah menghajarnya.Sesampainya di rumah, Aldi meletakkan dua paper bag itu di atas meja. Dia hendak ke kamar mandi dan membersihkan diri.Saat masuk ke kamar, matanya berpapasan dengan Selina yang baru terbangun."Astaga.. pemales banget kamu! Baru bangun tidur kamu jam segini?" Aldi memandang dingin."Iya, mas." Sahut Selina letih. Pe
Pintu diketuk dengan keras di siang hari yang menyengat ini. Selina yang sejak tadi berbaring di tempat tidur terpaksa bangkit dan melihat siapa yang datang bertamu pada tengah hari begini.Sembari memegangi pinggangnya, Selina tertatih-tatih berjalan ke pintu depan. Tak salah lagi, suara panggilan itu terdengar familiar. Ternyata Husna, mertua tercintanya."Lama banget bukanya!" Gerutu Husna tak tahan. Diluar matahari bersinar terik, bukannya cepat membuka pintu rumah Selina malah berjalan seperti siput hamil."Maaf, ma." Selina memundurkan langkahnya agar Husna bisa masuk. Dengan sikap arogan seperti biasa, Husna menyapu sekeliling rumah dengan tatapan elangnya.Rumah ini tampak rapi. Tak ada pakaian kotor yang tertaruh di atas sofa. Dapur juga tampak aman.Tapi debu yang mengkilat itu tak luput dari penglihatannya."Udah berapa lama kamu nggak ngelap lemari?" Tanya Husna tajam.Selina ikut mengedarkan pandangannya pada lemari kaca yang ada di sudut ruangan."Kurang tahu juga, ma.
Petugas yang berjaga di ruang observasi sampai kelimpungan menjelaskan kondisi pasien mereka yang bernama Selina ini.Bagaimana tidak? Pria yang mengaku sebagai suaminya ini sangat keras kepala. Aldi malah yakin jika kandungan istrinya tak bermasalah. Menolak semua hasil pemeriksaan dokter yang mengatakan jika Selina bisa dirawat di rumah.Terpaksa petugas memanggil dokter yang berjaga untuk menjelaskan kondisi Selina pada pria satu ini.Dan hal yang mengejutkan, dokter yang hendak memberikan penjelasan merupakan dokter jaga yang memeriksa Mayang tadi di igd."Jadi anda suaminya ibu Selina?" Dokter itu memastikan.Aldi langsung berdeham tak enak. "Iya, dokter. Tapi saya tetap ingin istri saya pulang saja.""Pasti anda sudah dijelaskan konsekuensinya, kan? Ibu Selina mengalami kontraksi dan perdarahan di kehamilannya yang berusia 6 bulan. Dengan dirawat, ibu Selina akan bedrest total dan diberikan obat-obatan.""Saya paham, dok. Tapi saya tetap ingin pulang saja. Lagipula saya seorang
Aldi menggeleng kesal setelah mematikan panggilan dari istrinya."Ada-ada saja.. apa dia pikir aku mau saja dibodohinya lagi?" Ah, Aldi sudah bisa menebak drama apa yang sedang dibuat oleh Selina.Menepis perasaannya pada Selina, Aldi kembali masuk ke ruang igd dan menemui Mayang. Rupanya wanita itu baru saja selesai melakukan visum."Mari aku antar ke kantor polisi.""Kantor polisi? Untuk apa, mas?""Melaporkan kejahatan suamimu.""Apa?" Mayang terkejut bukan main karena keberanian pria ini. "Nggak perlu, mas.""Nah.. kenapa, Mayang? Kita kan baru saja melakukan visum. Ini bisa menjadi bukti kekerasan dari suamimu.""Jangan, mas. Aku..." Mayang jadi tergagap. "Masih takut.""Ada aku disini, kenapa kamu mesti takut?" Aldi memberikan senyum simpatiknya. "Aku akan menemanimu.""Kumohon, mas. Biarkan saja.." pinta Mayang memelas."Jadi maksudmu nggak mau melaporkan suamimu? Ya Tuhan, May! Suamimu itu sudah melakukan kdrt!""Nanti saja. Biarkan visum hari ini untuk berjaga-jaga.."Aldi me







