Share

Bab 2

Author: Stary Dream
last update publish date: 2026-01-13 07:03:30

"Kontraksi hebat terjadi di rahim istri bapak." Jelas dokter kandungan wanita yang memeriksakan Selina malam itu. "Lihat ini ada lekukannya. Ini menandakan kontraksi." Sambungnya dengan menunjuk monitor USG.

Aldi diam dan mencermati. Tapi ia masih tak mengerti. Di sebrang sana Selina sudah sadar kembali, namun keadaannya begitu lemah. Buktinya sejak tadi dia tidak mengeluarkan suaranya.

"Kalau saran saya ibu Selina lebih baik dirawat di rumah sakit."

"Memangnya bahaya ya, dok?"

Dokter itu menatap suami pasien sekilas dan mengangguk.

"Telat sedikit saja bapak dan ibu bisa kehilangan calon anak kalian. Menurut saya lebih baik dirawat, disana ibu Selina akan bedrest total dan diberikan obat-obatan."

"Tapi nggak ada yang bisa menjaga di rumah sakit, dok.. saya kerja, ibu saya sakit-sakitan. Mertua saya nggak tinggal di kota ini."

Dokter tersebut berpikir sejenak. Jelas baginya adalah keselamatan pasien dan calon kandungannya.

"Saya pulang aja, dok.." terdengar suara serak nan lemah dari arah pembaringan.

"Ibu Selina yakin mau pulang?"

Selina mengangguk getir. Ia juga tak mau merepotkan suaminya.

"Kalau begitu baiklah, keputusan berada di tangan kalian." Dokter tersebut mengalah dan menulis resep. "Tolong tebus obat ini. Ada vitamin dan obat penguat kandungan yang diberikan lewat bawah."

"Baik." Aldi menerima resep itu dengan senang hati.

Selina pikir masalah akan selesai dengan ia yang memilih tak jadi dirawat. Rupanya Aldi belum berhenti marah. Pria ini terus menghakiminya selama di perjalanan pulang.

"Lihat ulahmu! Aku habis sampai 700 ribu untuk menebus obatmu aja! Belum lagi biaya usg dan konsul dokter.. aarrgghh! Belum lahir aja anak iu udah nyusahin!" Bentak Aldi kesal.

"Tapi ini demi anak kita, mas.." lirih Selina.

"Aku perhatikan cuma kamu yang begini, Selina! Memang dasar bawaanmu saja yang lemah. Sial!"

"Astaghfirullah.." Selina tak sanggup lagi menahan air matanya. Ia pun menangis tersedu-sedu.

Mendengar istrinya menangis Aldi jadi tersadar. Ia sudah kelewatan memarahi istrinya. Tapi mau bagaimana lagi? Inilah akumulasi dari kemarahannya. Dan Aldi tak bisa lagi membendung kekesalan ini.

Sesampainya di rumah, Selina bergerak menuju kamar untuk beristirahat. Sebelum itu, Aldi menegurnya terlebih dahulu.

"Karena kamu dan calon anakmu itu terlalu banyak pengeluaran, kuputuskan akan memotong biaya bulananmu. Jangan membantah!" Aldi menatap tajam.

Selina mengangguk. Dia berpasrah jikalau memang sudah dianggap beban.

Aldi juga langsung pergi setelah mengatakan itu. Seperti biasa, tanpa berpamitan lagi. Selina menebak mungkin saja Aldi pergi ke tempat ibunya. Mengadukan kejadian ini pada Husna.

Tak ayal mungkin sebentar lagi Husna datang dan akan memarahinya seperti tadi siang.

Selina yang baru saja memejamkan matanya jadi teringat. Tadi dia terjatuh dengan nasi goreng yang dibawanya.

Piring itu pecah, belum lagi tumpahan nasi goreng itu..... Oh.. Selina harus menahan rasa sakit ini. Ia bangkit dari duduknya dan pergi ke ruang makan. Membersihkan kekacauan tadi dengan sisa tenaganya.

Pintu terbuka dengan aroma khas yang menggugah selera. Rupanya Aldi yang baru saja dari luar membeli makan malam.

Selina yang dianggapnya patung dilewatinya begitu saja. Pria ini mengambil piring dan menuangkan mie tumis yang ia beli. Hanya satu bungkus saja, untuk dirinya.

Mencium aroma sedap makanan membuat perut Selina bergerak. Ia jadi teringat baru makan mie goreng saja seharian ini.

"Mas cuma beli satu?" Tanya Selina takut-takut.

Aldi berdeham. "Iya."

Pria ini begitu rakus memakan makanannya.

Selina mengerti, dia bukanlah prioritas suaminya. Buktinya ia hanya membeli satu bungkus makan malam tanpa memikirkan istrinya sama sekali. Padahal Selina tengah mengandung anaknya.

Apa mungkin ini balasan karena menebus obat Selina yang mahal tadi? Ya, bisa jadi.

Dengan langkah lunglai, Selina kembali ke kamar. Untunglah masih ada stok roti kering yang biasa ia jadikan cemilan.

Setelah memakan itu, Selina meminum vitamin dan obat penguat lalu membaringkan diri terbang ke alam mimpi.

***

Pagi ini seperti biasa Aldi pergi mengajar. Ada kelas khusus alih program yang diajarnya, yaitu kelas diploma yang ingin mengambil strata 1.

Saat mengajar matanya berbenturan beberapa kali dengan seorang wanita berwajah cantik yang ada di hadapannya.

Memakai pashmina berwarna biru dengan kemeja putih. Wajah cantik dengan hidung yang mungil serta bibir pinknya mengingatkan Aldi akan seseorang.

Benar saja. Saat melihat absensi mahasiswa, Aldi baru sadar jika wanita itu adalah seseorang yang memang sudah lama dikenalnya.

Mayang Sari. Adik tingkatnya ketika sama-sama bersekolah di pesantren.

"Terima kasih pak Aldiraga Rahman.." ucap Mayang.

Mendengar nama lengkapnya disebut membuat Aldi tersenyum cerah.

"Aku nggak salah mengenali orang. Ternyata ini bener kamu, Mayang!" Seru Aldi. "Kamu ambil kuliah lagi?"

"Iya, mas. Aku susah cari pekerjaan dengan diplomaku, kali aja dengan pendidikan sarjana aku bisa dapat kerjaan." Jawab Mayang ketika perkuliahan selesai.

"Sebenarnya banyak lowongan kerja untuk diploma."

"Dimana, mas? Rasanya sudah seluruh tempat ku datangi tapi nggak ada yang mau menerimaku." Sahut wanita ini terdengar putus asa.

"Kalau begitu lanjutkan saja kuliahmu.." Aldi memandang lekat. "Kamu masih tinggal di rumah lama?"

Mayang menggeleng. "Aku udah ikut suamiku, mas."

"Oh. Kamu udah nikah??"

"Iya."

"Kok nggak ngundang sih? Padahal aku mau dateng, loh!"

"Mas Aldi juga nikah nggak ngundang aku lagi," Mayang sampai tertawa. "Udah punya anak berapa sekarang?"

"Kebetulan istriku lagi hamil sekarang."

"Wah.. alhamdulillah. Itu artinya mas Aldi akan jadi ayah sebentar lagi." Ucap Mayang tersenyum.

Obrolan mereka pun terpaksa diputus ketika ada pria yang bertugas sebagai cleaning service datang dan hendak membersihkan kelas.

Namun keduanya kembali bertemu ketika Mayang tengah duduk manis di halte. Sementara Aldi baru saja mengeluarkan mobilnya dari gerbang kampus.

"Nunggu apa, Mayang? Bentar lagi hujan!" Seru Aldi dari dalam mobil.

"Nunggu bis, mas."

"Suamimu nggak jemput??"

Mayang tersenyum pahit. "Ada kerjaan."

'Kasihan sekali.." Aldi mendesis dalam hatinya.

Dilihatnya langit yang memekat berwarna keabuan. Belum lagi gemuruh dari atas sana. Bisa dipastikan awan sebentar lagi akan menumpahkan tangisannya.

"Masuklah, Mayang! Aku antar pulang." Tawar Aldi.

"Nggak usah, mas. Aku nunggu bis aja!" Jawab Mayang tak enak hati.

"Udah rezeki jangan ditolak! Ayo masuklah! Sebentar lagi hujan lebat."

Mendengar ajakan itu, Mayang tersenyum tipis. Memang benar rezeki tidak boleh ditolak. Ia pun segera masuk ke dalam mobil milik Aldi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 116

    "Assalamu'alaikum.""Wa'alaikum salam." Rama cepat-cepat memutus panggilan video yang disambungkannya.Selina masuk dengan senyum manisnya. Tangan wanita berhijab ini tampak penuh membawa satu paper bag dan satu tas tangan. "Mas Rama udah makan?" Tanyanya perhatian."Udah tadi. Itu habis." Rama menunjuk mangkuk buburnya."Alhamdulillah. Kebetulan aku buat puding mangga. Mas mau cicip?" Tawar Selina sembari membuka jaket tebalnya hingga tersisa gamis saja."Boleh. Kamu naik apa kemari?""Diantar ojek online." Selina menghidangkan puding tersebut ke Rama. "Mas bisa makan sendiri atau mau ku bantu?"Gara-gara pertanyaan itu, Rama jadi gugup."Aku bisa makan sendiri. Tanganku sudah lebih baik."Rama mengambil sendok puding tersebut dan memakan makanan lembut itu perlahan. Seperti biasa, masakan Selina tak pernah gagal."Maaf ya rasanya kurang manis. Sengaja aku kurangin karena Aulia juga

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 115

    Rangga menggelepar sembari memegang pipinya yang sudah tercetak lima jari dari Taufan. Ia pun jatuh berlutut dan memegang kaki papanya."Maaf, papa.. maafkan aku.." lirihnya ketakutan."Papa nggak menyangka kamu tega melakukan ini pada adikmu sendiri. Demi ambisimu, kamu menjadikan Rama sebagai kambing hitam! Apa sebenarnya yang kamu pikirkan?? Dimana hati nuranimu??!"Rangga tertunduk. Ia terus memegang kedua lutut papanya. Wajah itu telah memerah."Dan lihat hasilnya.. kamu ditipu, kan? Tak hanya itu, istrimu juga sudah meninggalkanmu! Dan lihat sekarang apa yang terjadi pada adikmu! Lihat!" Bentak Taufan. "Bangun!""Maaf, papa.." ucapnya mulai menangis."Bangun!" Teriak Taufan membuat rumah yang hening ini bak disambar petir.Mala yang tengah beristirahat sampai keluar dari kamarnya dengan raut rajah yang cemas."Rangga.." Mala menatap putra sulungnya yang bangun dari berlutut."Duduk disana!" Taufan

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 114

    Selepas Taufan dan Mala kini ada Maryono yang datang berkunjung. Saat pria paruh baya ini datang, yang ditanyakan oleh Rama adalah Aulia. "Aulia dititipkan ke day care sebentar. Selina bilang tidak boleh membawa anak kecil ke rumah sakit." Jawab Maryono. "Itu benar." Rama heran kenapa dia sendiri bisa lupa akan peraturan rumah sakit. "Bagaimana kabarnya? Apa dia masih menangis?" Rama ingat sekali kemarin malam Aulia menangis sambil memeluknya. Anak itu terus memanggilnya dengan sebutan papa. "Nah ayah lihat sendiri apa yang dikhawatirkan mas Rama. Dari tadi pagi yang dia pikirkan cuma Aulia, padahal perutnya masih sakit begitu!" Selina ikut memprotes hingga membuat Maryono terkekeh. "Aku cuma mencemaskannya, Selina.." ujar Rama membela diri. "Lebih baik kamu mengkhawatirkan dirimu aja, mas." "Aulia baik-baik saja." Sela Maryono cepat. Jangan sampai pria dan wanita ini saling ber

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 113

    Rangga berjalan gontai menuju pintu rumah dan mengangkat tangannya. Namun tangan itu seketika membeku. Sejenak ia ragu..Perlukah ia jujur atas semua masalah yang menimpanya selama ini?Tapi dia takut..Bagaimana tanggapan dari orang tuanya?Rangga yang cerdas, hebat dan selalu bisa diandalkan ini malah menjadi sumber masalah bagi keluarganya..Dia sudah terkhianati.. oh, tidak.. dia juga sudah ditumbalkan..Oleh karena ketidak berdayaannya itu lah yang membuat Rangga menjadi pengecut. Ia kehilangan segalanya..Jabatannya, karirnya, uang serta istrinya..Apalagi Rama mengatakan jika Nisa ingin kembali pada Rama setelah berpisah darinya. Ya, Tuhan.. Beginikah rasanya dikhianati? Ternyata sakit sekali..Lalu bagaimana perasaan Rama setelah tahu ia bertubi-tubi dikhianati oleh keluarganya sendiri?Hati Rama tak hanya sakit, tapi juga hancur sekali..Ting. Tong..Akhirnya tangan i

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 112

    "Apa kabar, Rama?"Rangga menatap Rama dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun sikapnya kaku, bak dua orang asing yang baru bertemu."Beginilah." Rama menunjukkan kondisinya. "Aku baik-baik saja.""Papa bilang kalau kamu kritis.""Benar. Tapi aku bisa melewatinya."Rangga menatap adiknya lagi kini dengan rasa iba. Di kedua telapak tangan pria itu terdapat perban yang membalut. Begitu juga dengan perut yang tertutup pakaian pasien itu."Apa yang terjadi?" Tanya Rangga serak."Panjang sekali ceritanya. Mungkin papa dan pak Abram bisa menjelaskannya padamu.""Rama.. sebenarnya.." bibir Rangga sampai keluh untuk mengucapkan sesuatu."Terima kasih atas perhatiannya. Aku yakin mas Rangga juga sangat berat datang kemari, kan? Aku dengar kamu juga tengah terkena masalah."Wajah Rangga lalu tertunduk."Begitulah..""Mas Rangga dan Nisa juga berencana untuk berpisah, begitu?"

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 111

    Secepat kilat Rangga ke rumah sakit Mandala pagi ini setelah mendapat kabar jika adiknya kritis. Sesampainya disana, langkah Rangga membeku seketika. Disana tak hanya ada ibunya yang sedang menemani Rama melainkan juga ada Selina.Tiba-tiba saja Rangga malu untuk bertemu dengan adiknya. Seperti ada rasa bersalah yang menyeruak muncul.Bagaimana tidak?Beberapa tahun ke belakang kehidupan Rama dihantam ombak sana sini. Dan itu ada sangkut pautnya dengan kesalahan Rangga. Andai saja pria ini berkata jujur.. Andai saja dia berani mungkin Rama tidak akan sampai sesakit ini.Apalagi tak hanya Rama yang menjadi korban melainkan juga keluarganya."Mas mau duduk?" Tanya Selina saat melihat Rama bergerak."Iya. Tolong bantu aku."Selina mengulurkan tangan yang disambut oleh Rama. Setelah itu, ia menaikan posisi bednya."Jangan terlalu banyak bergerak, mas. Perut kamu masih sakit." Ujar Selina ngeri melihat Rama yang meri

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 13

    Adzan subuh berkumandang sudah beranjak dari dua jam yang lalu, bau masakan yang khas ini membelai indera penciuman Aldi hingga memaksanya membuka mata.Aldi bangun dengan perlahan, mengusap wajah dan memandang ke samping. Tak ada Selina. Sepertinya sudah diluar sedang memasak.Dengan sisa kantukny

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 12

    "Wanita simpanan?"Aldi berusaha mencerna ucapan istrinya dengan menunjukkan wajah polos itu."Apa maksudmu?""Aku sudah mengetahui semuanya, mas." Jawab Selina berat. "Kamu sering pulang malam, mie tumis dan juga kotak bekal berwarna ungu. Aku yakin itu bukan sebuah kebetulan, kan?""Soal mie tumi

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 10

    "Mayang!" Aldi yang cemas menggedor keras pintu rumah wanita ini.Tanpa berpikir lagi, Aldi langsung mengemudikan mobilnya dengan cepat dan sampai di depan rumah ini. Suara histeris Mayang tadi membuatnya panik bukan main.Namun, dahi Aldi mengernyit ketika melihat keadaan rumah dalam keadaan lenga

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 9

    Bak senandung yang menyambut, hubungan Aldi dan Mayang kian dekat semakin harinya.Aldi selalu mengantar adik tingkatnya pulang lepas perkuliahan, begitu juga dengan Mayang yang selalu memberikan bekal makanan sebagai imbalannya.Pria ini juga tak segan untuk selalu mampir. Meski Mayang pernah tak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status