Share

Bab 7

Author: Stary Dream
last update Last Updated: 2026-02-13 18:28:16

Pintu diketuk dengan keras di siang hari yang menyengat ini. Selina yang sejak tadi berbaring di tempat tidur terpaksa bangkit dan melihat siapa yang datang bertamu pada tengah hari begini.

Sembari memegangi pinggangnya, Selina tertatih-tatih berjalan ke pintu depan. Tak salah lagi, suara panggilan itu terdengar familiar. Ternyata Husna, mertua tercintanya.

"Lama banget bukanya!" Gerutu Husna tak tahan. Diluar matahari bersinar terik, bukannya cepat membuka pintu rumah Selina malah berjalan seperti siput hamil.

"Maaf, ma."

Selina memundurkan langkahnya agar Husna bisa masuk. Dengan sikap arogan seperti biasa, Husna menyapu sekeliling rumah dengan tatapan elangnya.

Rumah ini tampak rapi. Tak ada pakaian kotor yang tertaruh di atas sofa. Dapur juga tampak aman.

Tapi debu yang mengkilat itu tak luput dari penglihatannya.

"Udah berapa lama kamu nggak ngelap lemari?" Tanya Husna tajam.

Selina ikut mengedarkan pandangannya pada lemari kaca yang ada di sudut ruangan.

"Kurang tahu juga, ma." Selina sama sekali tak ingat. Selama hamil ia jarang sekali mengurus rumah. Untuk menyapu dan bisa mengepel saja rasanya bersyukur sekali.

Mendengar itu, Husna berdecak. "Gimana caranya Aldi bisa betah di rumah kalau kamu nggak bisa mengurus rumah dengan baik?!"

Husna lalu menunjuk-nunjuk lantai. "Lihat debu di lantai ini udah tebal banget! Jangan terlalu pemalas, Selin. Mama tahu kamu hamil! Tapi itu nggak jadi alasan buat kamu bermalas-malasan."

Selina hanya tertunduk mendengar cemoohan Husna. Sebuah kidung nyanyian yang memekikkan telinga.

"Oh, iya.." Husna jadi teringat sesuatu. "Aldi bilang kamu nggak ada di rumah semalam. Pergi kemana kamu?"

"Aku.. ke rumah sakit, ma."

"Rumah sakit? Malam-malam begitu??!" Tanya Husna tak percaya.

Selina mengangguk pelan. "Aku semalam dirawat. Tapi mas Aldi datang dan menjemputku."

"Ya, Tuhan.." Husna jadi berucap. Tapi dari raut wajahnya tak menunjukkan sama sekali ke khawatiran. "Mama yakin sakitmu nggak terlalu parah makanya dia menyuruhmu pulang."

Selina lagi tertunduk sedih akan ucapan mertuanya. Alih-alih memberikan rasa kasihan maupun sepercik perhatian, Husna lebih suka menyudutkannya.

"Mama perhatikan selama hamil kamu banyak sekali keluhan." Husna memperhatikan Selina dari atas ke bawah. "Padahal kamu kelihatan baik-baik aja.. ckckckck."

Selina memang menegapkan diri di hadapan mertuanya. Tapi yang Husna tak tahu, bahwa Selina merasakan betul kesakitan saat ini.

Terlalu lama berdiri membuat pinggangnya sakit, belum lagi perut yang terasa kram. Selina takut jika ada perdarahan lagi yang keluar dari bawah sana.

"Kamu terlalu menyusahkan Aldi, Selin. Harusnya kamu bersyukur mendapatkan suami seperti itu. Ahli agama, setia dan giat bekerja. Jangan sampai sikapmu itu membuat Aldi jengah dan mencari wanita lain. Kamu tahu sendiri, kan? Dia bisa mendapatkan 10 wanita lebih baik dari kamu."

Ucapan Husna begitu mengiris hati Selina. Tak perduli jika wanita ini tengah mengandung calon cucunya, yang penting Selina memang harus diberi teguran.

"Iya, ma." Jawab Selina serak menahan tangis.

Selepas kepergian Husna, barulah Selina terduduk sambil menangis tersedu-sedu.

"Ayah.." lirih Selina. Tiba-tiba saja dia merindukan ayahnya yang ada di kota sebrang.

Ternyata pernikahan semengerikan ini. Jika Selina bisa menukar takdir, dia pasti memilih untuk tidak menikah.

Pria yang dicintainya pandai memberi luka. Dan ibu mertua yang dianggap bisa menggantikan peran mendiang ibunya sering kali menggores perasaannya.

Tengah terisak menangis, Selina tersadar jika ada sesuatu yang keluar dari bagian bawahnya.

Wanita ini pun mengusap air matanya dan segera beristirahat. Harapan Selina hanya ada satu, yaitu pada anak yang ia kandung ini.

****

Mobil hitam baru saja tiba di sebuah rumah kecil yang ada di ujung kota. Sebelum turun, Mayang menyunggingkan senyuman sebagai hadiah pada pria yang tengah mengantarnya saat ini.

"Mau mampir, mas?" Tawar Mayang.

"Lain kali aja. Aku harus pulang."

"Aku merasa nggak enak karena terlalu ngerepotin kamu. Padahal aku ingin membalas jasamu."

"Ya ampun.." Aldi jadi tergelak. "Kamu ini seperti menganggapku orang lain saja.."

"Lalu aku harus menganggapmu apa?"

Sejenak Mayang dan Aldi tertegun bertukar pandangan. Pertanyaan Mayang barusan seakan mengikis jarak yang tak terlihat.

Aldi berdeham menyadarkan kesadarannya. Sementara Mayang terkekeh.

"Masuklah dulu, mas. Nanti aku buatin teh sama pisang goreng. Pasti kamu capek banget karena sibuk mengajar, kan?" Sambung Mayang mengulum senyumnya.

"Ah.. kamu memang pandai menebak."

Tawaran yang tak mampu ditolak oleh Aldi. Pria ini memutuskan untuk mampir ke rumah Mayang. Sebentar saja.. mumpung hari belum terlalu sore.

Akhirnya Aldi bisa benar-benar bertamu di rumah ini. Kemarin ia bertandang disaat yang tak tepat. Yaitu saat dia memergoki Mayang yang baru saja menjadi korban kekerasan suaminya.

Sambil menunggu Mayang yang sibuk di dapur, Aldi mengedarkan pandangannya dari dalam sini. Rumah yang luasnya mungkin sama seperti rumahnya.

Tapi rumah ini berbeda karena memiliki banyak barang di dalam sana. Jam kayu antik, lemari jati dan perabotan vintage lainnya membuat Aldi jadi terpesona.

"Diminum dulu, mas." Mayang menghindangkan dua cangkir teh hangat.

Aldi tersenyum sesekali mencuri lirik. Mayang baru saja mengganti pakaiannya dengan dress rumahan yang lumayan ketat. Tak seperti sebelumnya yang memakai gamis dan hijab lebar, Mayang hanya memakai hijab instan yang pendek tak menutup dada.

Wajah itu juga nampak segar karena baru saja dibilas. Walau memar itu masih terlihat tapi cantiknya wajah Mayang tak pernah gagal menyilaukan.

"Aku baru memperhatikan rumahmu. Ternyata kamu suka mengoleksi barang antik, ya." Ujar Aldi melepas kecanggungan.

"Bukan aku. Tapi suamiku.. dia kolektor barang antik."

"Sebenarnya suamimu kerja apa? Kenapa dia jarang pulang?"

"Suamiku itu pemborong di sebuah perusahaan, mas. Pekerjaannya memang lebih banyak keluar kota."

Aldi menghela nafas. "Bahkan dia yang jarang pulang aja sering sekali membuatmu terluka. Gimana kalau kalian bertemu setiap hari?"

Aldi sampai tak bisa membayangkan jika suami Mayang itu bekerja di kota ini. Mungkin tiap hari wajah Mayang akan babak belur dipukulinya.

"Sebentar, mas. Aku angkat pisang gorengnya dulu."

Sekitar 10 menit, Mayang kembali dengan membawa pisang goreng. Lengkap dengan susu serta taburan keju.

"Di cicipi dulu, mas. Tapi aku nggak yakin rasanya enak."

Satu pisang diambil menggunakan garpu oleh Aldi. Baru gigitan pertama, Aldi menggumam hingga membuat senyuman merekah di wajah Mayang.

"Masakanmu enak sekali! Aku nggak pernah merasakan makanan seenak ini."

"Beneran?" Mayang jadi tertawa. "Mas Aldi berlebihan."

"Aku serius, Mayang! Masakanmu ini enak banget!"

"Duh.. cuma pisang goreng aja padahal! Pasti masakan istrimu lebih enak!"

Mendengar itu, Aldi jadi tersenyum miring.

"Istriku itu pemalas, Mayang. Nggak seperti kamu yang rajin! Pokoknya dia itu kerjaannya cuma bisa berbaring aja di tempat tidur. Kadang untuk makan malamku aja dia nggak sempat memasak. Hampir tiap hari aku makan mie instan!"

"Astaga.. kasihan banget kamu, mas. Kalau begitu kamu tunggu sebentar, ya. Aku ke dapur dulu."

Aldi mengangguk sambil menikmati pisang gorengnya. Apa yang ia ucapkan barusan memang benar, kan?

Semenjak Selina hamil, dia berubah total. Jadi pemalas dan tak bisa melayani suami. Jangan salahkan Aldi jika menceritakan semua keburukan istrinya pada wanita lain.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 10

    "Mayang!" Aldi yang cemas menggedor keras pintu rumah wanita ini.Tanpa berpikir lagi, Aldi langsung mengemudikan mobilnya dengan cepat dan sampai di depan rumah ini. Suara histeris Mayang tadi membuatnya panik bukan main.Namun, dahi Aldi mengernyit ketika melihat keadaan rumah dalam keadaan lengang. Bahkan pintu pagarnya saja tak terbuka.Itu artinya hal yang Aldi takutkan tak terjadi. Pria sialan yang berstatus suami Mayang itu tak ada disini.Tapi.. apa yang terjadi pada Mayang? Kenapa suaranya tadi terdengar menangis? Oh.. Aldi cemas lagi.Aldi kembali mengetuk pintu secara tak sabar dengan beberapa kali memanggil nama Mayang."Mayang!" Panggil Aldi lagi."Mas Aldi.." samar-samar Aldi mendengar namanya disebut. Seperti ada bisikan yang memanggilnya dari belakang telinga.Deg!Aldi menoleh ke belakang dengan degup jantung yang kencang. Tiba-tiba saja tengkuk belakangnya sangat dingin. Membuat bulu kuduknya seketika merinding.Suara yang ia dengar tadi begitu mendayu. Terdengar sam

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 9

    Bak senandung yang menyambut, hubungan Aldi dan Mayang kian dekat semakin harinya.Aldi selalu mengantar adik tingkatnya pulang lepas perkuliahan, begitu juga dengan Mayang yang selalu memberikan bekal makanan sebagai imbalannya.Pria ini juga tak segan untuk selalu mampir. Meski Mayang pernah tak menawarinya, tapi dia senang hati untuk mengantar wanita itu sampai ke depan rumahnya."Sampai jumpa besok." Ujar Aldi ketika berpamitan."Besok? Bukannya besok libur." Mayang jadi tertawa.Aldi tergelak. "Benar juga. Aku lupa kalau besok hari minggu.""Iya, mas. Setidaknya besok kamu bisa menghabiskan waktu dengan istrimu." Sahut Mayang mengulum senyum."Kapan suamimu pulang?" Tanya Aldi mengalihkan perhatian. Dia malas jika bersinggungan dengan istrinya."Mungkin minggu depan.""Kalau begitu aku bisa meninggalkanmu dengan aman..""Aku jadi terharu karena perhatianmu, mas. Terima kasih sekali.."Aldi tersenyum ketika menatap kedua mata indah yang tampak berkaca-kaca itu. Kedua mata dari wan

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 8

    Dua tangan Aldi penuh memegang buah tangan dari Mayang. Sebab pujian Aldi tadi membuat pipi Mayang merah merona, wanita itu pun tak segan membuat pisang goreng lagi serta lauk lainnya."Ini mas untuk makan malam.." Mayang menyerahkan dua paper bag. "Ya ampun kamu repot banget.""Istrimu pasti nggak masak, kan? Nih aku buatkan mie goreng."Aldi tersenyum menerima buah tangan tersebut. Secuit perhatian ini berhasil membuatnya dada berdebar."Terima kasih." Ucap Aldi memandang wanita itu lekat.Dalam hatinya berkata, alangkah beruntung pria itu berhasil mempersunting Mayang. Wanita ini tak hanya cantik, tapi juga lembut.. tapi dengan tega pria sialan itu malah menghajarnya.Sesampainya di rumah, Aldi meletakkan dua paper bag itu di atas meja. Dia hendak ke kamar mandi dan membersihkan diri.Saat masuk ke kamar, matanya berpapasan dengan Selina yang baru terbangun."Astaga.. pemales banget kamu! Baru bangun tidur kamu jam segini?" Aldi memandang dingin."Iya, mas." Sahut Selina letih. Pe

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 7

    Pintu diketuk dengan keras di siang hari yang menyengat ini. Selina yang sejak tadi berbaring di tempat tidur terpaksa bangkit dan melihat siapa yang datang bertamu pada tengah hari begini.Sembari memegangi pinggangnya, Selina tertatih-tatih berjalan ke pintu depan. Tak salah lagi, suara panggilan itu terdengar familiar. Ternyata Husna, mertua tercintanya."Lama banget bukanya!" Gerutu Husna tak tahan. Diluar matahari bersinar terik, bukannya cepat membuka pintu rumah Selina malah berjalan seperti siput hamil."Maaf, ma." Selina memundurkan langkahnya agar Husna bisa masuk. Dengan sikap arogan seperti biasa, Husna menyapu sekeliling rumah dengan tatapan elangnya.Rumah ini tampak rapi. Tak ada pakaian kotor yang tertaruh di atas sofa. Dapur juga tampak aman.Tapi debu yang mengkilat itu tak luput dari penglihatannya."Udah berapa lama kamu nggak ngelap lemari?" Tanya Husna tajam.Selina ikut mengedarkan pandangannya pada lemari kaca yang ada di sudut ruangan."Kurang tahu juga, ma.

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 6

    Petugas yang berjaga di ruang observasi sampai kelimpungan menjelaskan kondisi pasien mereka yang bernama Selina ini.Bagaimana tidak? Pria yang mengaku sebagai suaminya ini sangat keras kepala. Aldi malah yakin jika kandungan istrinya tak bermasalah. Menolak semua hasil pemeriksaan dokter yang mengatakan jika Selina bisa dirawat di rumah.Terpaksa petugas memanggil dokter yang berjaga untuk menjelaskan kondisi Selina pada pria satu ini.Dan hal yang mengejutkan, dokter yang hendak memberikan penjelasan merupakan dokter jaga yang memeriksa Mayang tadi di igd."Jadi anda suaminya ibu Selina?" Dokter itu memastikan.Aldi langsung berdeham tak enak. "Iya, dokter. Tapi saya tetap ingin istri saya pulang saja.""Pasti anda sudah dijelaskan konsekuensinya, kan? Ibu Selina mengalami kontraksi dan perdarahan di kehamilannya yang berusia 6 bulan. Dengan dirawat, ibu Selina akan bedrest total dan diberikan obat-obatan.""Saya paham, dok. Tapi saya tetap ingin pulang saja. Lagipula saya seorang

  • Perjalanan 30 Hari Mencintaimu   Bab 5

    Aldi menggeleng kesal setelah mematikan panggilan dari istrinya."Ada-ada saja.. apa dia pikir aku mau saja dibodohinya lagi?" Ah, Aldi sudah bisa menebak drama apa yang sedang dibuat oleh Selina.Menepis perasaannya pada Selina, Aldi kembali masuk ke ruang igd dan menemui Mayang. Rupanya wanita itu baru saja selesai melakukan visum."Mari aku antar ke kantor polisi.""Kantor polisi? Untuk apa, mas?""Melaporkan kejahatan suamimu.""Apa?" Mayang terkejut bukan main karena keberanian pria ini. "Nggak perlu, mas.""Nah.. kenapa, Mayang? Kita kan baru saja melakukan visum. Ini bisa menjadi bukti kekerasan dari suamimu.""Jangan, mas. Aku..." Mayang jadi tergagap. "Masih takut.""Ada aku disini, kenapa kamu mesti takut?" Aldi memberikan senyum simpatiknya. "Aku akan menemanimu.""Kumohon, mas. Biarkan saja.." pinta Mayang memelas."Jadi maksudmu nggak mau melaporkan suamimu? Ya Tuhan, May! Suamimu itu sudah melakukan kdrt!""Nanti saja. Biarkan visum hari ini untuk berjaga-jaga.."Aldi me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status