MasukPintu diketuk dengan keras di siang hari yang menyengat ini. Selina yang sejak tadi berbaring di tempat tidur terpaksa bangkit dan melihat siapa yang datang bertamu pada tengah hari begini.
Sembari memegangi pinggangnya, Selina tertatih-tatih berjalan ke pintu depan. Tak salah lagi, suara panggilan itu terdengar familiar. Ternyata Husna, mertua tercintanya. "Lama banget bukanya!" Gerutu Husna tak tahan. Diluar matahari bersinar terik, bukannya cepat membuka pintu rumah Selina malah berjalan seperti siput hamil. "Maaf, ma." Selina memundurkan langkahnya agar Husna bisa masuk. Dengan sikap arogan seperti biasa, Husna menyapu sekeliling rumah dengan tatapan elangnya. Rumah ini tampak rapi. Tak ada pakaian kotor yang tertaruh di atas sofa. Dapur juga tampak aman. Tapi debu yang mengkilat itu tak luput dari penglihatannya. "Udah berapa lama kamu nggak ngelap lemari?" Tanya Husna tajam. Selina ikut mengedarkan pandangannya pada lemari kaca yang ada di sudut ruangan. "Kurang tahu juga, ma." Selina sama sekali tak ingat. Selama hamil ia jarang sekali mengurus rumah. Untuk menyapu dan bisa mengepel saja rasanya bersyukur sekali. Mendengar itu, Husna berdecak. "Gimana caranya Aldi bisa betah di rumah kalau kamu nggak bisa mengurus rumah dengan baik?!" Husna lalu menunjuk-nunjuk lantai. "Lihat debu di lantai ini udah tebal banget! Jangan terlalu pemalas, Selin. Mama tahu kamu hamil! Tapi itu nggak jadi alasan buat kamu bermalas-malasan." Selina hanya tertunduk mendengar cemoohan Husna. Sebuah kidung nyanyian yang memekikkan telinga. "Oh, iya.." Husna jadi teringat sesuatu. "Aldi bilang kamu nggak ada di rumah semalam. Pergi kemana kamu?" "Aku.. ke rumah sakit, ma." "Rumah sakit? Malam-malam begitu??!" Tanya Husna tak percaya. Selina mengangguk pelan. "Aku semalam dirawat. Tapi mas Aldi datang dan menjemputku." "Ya, Tuhan.." Husna jadi berucap. Tapi dari raut wajahnya tak menunjukkan sama sekali ke khawatiran. "Mama yakin sakitmu nggak terlalu parah makanya dia menyuruhmu pulang." Selina lagi tertunduk sedih akan ucapan mertuanya. Alih-alih memberikan rasa kasihan maupun sepercik perhatian, Husna lebih suka menyudutkannya. "Mama perhatikan selama hamil kamu banyak sekali keluhan." Husna memperhatikan Selina dari atas ke bawah. "Padahal kamu kelihatan baik-baik aja.. ckckckck." Selina memang menegapkan diri di hadapan mertuanya. Tapi yang Husna tak tahu, bahwa Selina merasakan betul kesakitan saat ini. Terlalu lama berdiri membuat pinggangnya sakit, belum lagi perut yang terasa kram. Selina takut jika ada perdarahan lagi yang keluar dari bawah sana. "Kamu terlalu menyusahkan Aldi, Selin. Harusnya kamu bersyukur mendapatkan suami seperti itu. Ahli agama, setia dan giat bekerja. Jangan sampai sikapmu itu membuat Aldi jengah dan mencari wanita lain. Kamu tahu sendiri, kan? Dia bisa mendapatkan 10 wanita lebih baik dari kamu." Ucapan Husna begitu mengiris hati Selina. Tak perduli jika wanita ini tengah mengandung calon cucunya, yang penting Selina memang harus diberi teguran. "Iya, ma." Jawab Selina serak menahan tangis. Selepas kepergian Husna, barulah Selina terduduk sambil menangis tersedu-sedu. "Ayah.." lirih Selina. Tiba-tiba saja dia merindukan ayahnya yang ada di kota sebrang. Ternyata pernikahan semengerikan ini. Jika Selina bisa menukar takdir, dia pasti memilih untuk tidak menikah. Pria yang dicintainya pandai memberi luka. Dan ibu mertua yang dianggap bisa menggantikan peran mendiang ibunya sering kali menggores perasaannya. Tengah terisak menangis, Selina tersadar jika ada sesuatu yang keluar dari bagian bawahnya. Wanita ini pun mengusap air matanya dan segera beristirahat. Harapan Selina hanya ada satu, yaitu pada anak yang ia kandung ini. **** Mobil hitam baru saja tiba di sebuah rumah kecil yang ada di ujung kota. Sebelum turun, Mayang menyunggingkan senyuman sebagai hadiah pada pria yang tengah mengantarnya saat ini. "Mau mampir, mas?" Tawar Mayang. "Lain kali aja. Aku harus pulang." "Aku merasa nggak enak karena terlalu ngerepotin kamu. Padahal aku ingin membalas jasamu." "Ya ampun.." Aldi jadi tergelak. "Kamu ini seperti menganggapku orang lain saja.." "Lalu aku harus menganggapmu apa?" Sejenak Mayang dan Aldi tertegun bertukar pandangan. Pertanyaan Mayang barusan seakan mengikis jarak yang tak terlihat. Aldi berdeham menyadarkan kesadarannya. Sementara Mayang terkekeh. "Masuklah dulu, mas. Nanti aku buatin teh sama pisang goreng. Pasti kamu capek banget karena sibuk mengajar, kan?" Sambung Mayang mengulum senyumnya. "Ah.. kamu memang pandai menebak." Tawaran yang tak mampu ditolak oleh Aldi. Pria ini memutuskan untuk mampir ke rumah Mayang. Sebentar saja.. mumpung hari belum terlalu sore. Akhirnya Aldi bisa benar-benar bertamu di rumah ini. Kemarin ia bertandang disaat yang tak tepat. Yaitu saat dia memergoki Mayang yang baru saja menjadi korban kekerasan suaminya. Sambil menunggu Mayang yang sibuk di dapur, Aldi mengedarkan pandangannya dari dalam sini. Rumah yang luasnya mungkin sama seperti rumahnya. Tapi rumah ini berbeda karena memiliki banyak barang di dalam sana. Jam kayu antik, lemari jati dan perabotan vintage lainnya membuat Aldi jadi terpesona. "Diminum dulu, mas." Mayang menghindangkan dua cangkir teh hangat. Aldi tersenyum sesekali mencuri lirik. Mayang baru saja mengganti pakaiannya dengan dress rumahan yang lumayan ketat. Tak seperti sebelumnya yang memakai gamis dan hijab lebar, Mayang hanya memakai hijab instan yang pendek tak menutup dada. Wajah itu juga nampak segar karena baru saja dibilas. Walau memar itu masih terlihat tapi cantiknya wajah Mayang tak pernah gagal menyilaukan. "Aku baru memperhatikan rumahmu. Ternyata kamu suka mengoleksi barang antik, ya." Ujar Aldi melepas kecanggungan. "Bukan aku. Tapi suamiku.. dia kolektor barang antik." "Sebenarnya suamimu kerja apa? Kenapa dia jarang pulang?" "Suamiku itu pemborong di sebuah perusahaan, mas. Pekerjaannya memang lebih banyak keluar kota." Aldi menghela nafas. "Bahkan dia yang jarang pulang aja sering sekali membuatmu terluka. Gimana kalau kalian bertemu setiap hari?" Aldi sampai tak bisa membayangkan jika suami Mayang itu bekerja di kota ini. Mungkin tiap hari wajah Mayang akan babak belur dipukulinya. "Sebentar, mas. Aku angkat pisang gorengnya dulu." Sekitar 10 menit, Mayang kembali dengan membawa pisang goreng. Lengkap dengan susu serta taburan keju. "Di cicipi dulu, mas. Tapi aku nggak yakin rasanya enak." Satu pisang diambil menggunakan garpu oleh Aldi. Baru gigitan pertama, Aldi menggumam hingga membuat senyuman merekah di wajah Mayang. "Masakanmu enak sekali! Aku nggak pernah merasakan makanan seenak ini." "Beneran?" Mayang jadi tertawa. "Mas Aldi berlebihan." "Aku serius, Mayang! Masakanmu ini enak banget!" "Duh.. cuma pisang goreng aja padahal! Pasti masakan istrimu lebih enak!" Mendengar itu, Aldi jadi tersenyum miring. "Istriku itu pemalas, Mayang. Nggak seperti kamu yang rajin! Pokoknya dia itu kerjaannya cuma bisa berbaring aja di tempat tidur. Kadang untuk makan malamku aja dia nggak sempat memasak. Hampir tiap hari aku makan mie instan!" "Astaga.. kasihan banget kamu, mas. Kalau begitu kamu tunggu sebentar, ya. Aku ke dapur dulu." Aldi mengangguk sambil menikmati pisang gorengnya. Apa yang ia ucapkan barusan memang benar, kan? Semenjak Selina hamil, dia berubah total. Jadi pemalas dan tak bisa melayani suami. Jangan salahkan Aldi jika menceritakan semua keburukan istrinya pada wanita lain.Alih alih mengintrospeksi diri, Aldi malah sibuk menyalahkan orang lain.Andai saja dia tidak berpisah dengan Selina, mungkin Husna tak akan sepuruk ini.Bagaimana tidak? Hampir 10 bulan ini Husna menderita stroke. Tak ada satupun perbaikan yang ditunjukkannya.Sudah beberapa kali Aldi mengambil perawat home care dari yayasan. Namun tak ada satupun dari mereka yang betah.Ya bagaimana bisa betah jika Aldi memperlakukan mereka secara semena-mena? Padahal tugas utama perawat tersebut untuk merawat Husna yang sakit. Tapi, si Aldi sialan ini malah menyuruh mereka mengurus rumah, mulai dari menyapu, mencuci hingga memasak. Aji mumpung katanya!Sontak saja nama Husna sudah terblack list dari yayasan tempat Aldi sering mengambil perawat. Dan sekarang pria ini seenak perutnya mengatakan jika ingin menuntut pihak yayasan karena Husna yang tak kunjung sembuh. Sial!Aldi sudah kembali ke kamar perawatan Husna. Disana mamanya sudah
"Ada Aulia?"Selina terkejut melihat pria yang ada di hadapannya. Hampir saja ia ingin memaki karena berpikir jika Aldi yang datang berkunjung. Rupanya, ada pria lain yang berdiri tegak di depan rumah ini."Maaf saya mengganggu malam-malam." Ujar Rama tersendat. "Kedatangan saya kemari untuk memberikan ini."Rama menyerahkan sebuah paper bag. Selina pun melihat ke dalam isinya. Ternyata sebuah boneka barbie yang sempat di pegang oleh putrinya kemarin."Anggaplah itu sebagai tanda penyesalan saya karena perbuatan perempuan itu. Dia sudah merebut mainan milik Aulia.""Oh.. nggak masalah, dokter. Aulia juga sudah melupakannya. Aku malah nggak enak karena dokter sudah berlebihan menolong kami. Kemarin dokter sudah mengobati luka Aulia. Dan juga boneka ini...." Selina menatap boneka itu sekilas dengan perasaan campur aduk. "Sepertinya lebih bagus diberikan pada kekasih dokter saja. Dia pasti menginginkan ini.""Dia bukan kekasih saya.
"Kamu memalukan, Rama! Harusnya kamu nggak perlu menyakitinya seperti itu!"Taufan sudah tak bisa menahan kemarahannya. Sejak tadi ia mendengar cerita sepihak dari Yasmine. Wanita ini mengadu jika ditinggal begitu saja oleh Rama. Pria itu juga dianggapnya sudah berbuat kasar.Tapi darimana Rama berbuat kasar? Oh, Rama sampai tak habis pikir. Kenapa para wanita suka sekali menciptakan drama?"Oleh karena papa yang ingin sekali melihat aku menikah hingga membuat papa mudah percaya dengan wanita itu! Coba papa lihat bagaimana reaksi Yasmine saat aku menceritakan semuanya? Dia hanya menggigit bibir, kan?!" Rama juga tak terima."Tapi kamu tidak perlu berbuat kasar padanya, nak.." Mala ikut berbicara."Mama ikut percaya ucapan wanita itu?" Rama menggeleng. "Kalau aku berbuat kasar, mungkin dia sudah berdarah-darah! Tapi yang dia lakukan malah mendorong anak kecil hingga terjatuh! Dan gara-gara perbuatannya aku harus membawa anak itu ke klinik
"Aulia!" Selina menjerit begitu juga dengan Aulia yang menangis kesakitan.Tubuhnya di dorong oleh wanita dewasa dengan wajah yang terbentur lantai.Selina mengangkat putri kecilnya. Terlihat noda merah yang keluar dari dalam mulutnya. Ternyata benturan keras membuat gusi anak kecil ini berdarah.Bukannya merasa bersalah, wanita ini melenggang dengan santainya. Selina yang tak terima lekas menahan lengan wanita ini."Hey, mbak!" Tegur Selina."Ada apa?" Yasmine melotot."Kamu sudah mendorong anak saya!""Aku?" Yasmine menunjuk dirinya sendiri. "Bukan aku!""Saya melihatnya. Anda merebut mainan anak saya dan mendorongnya hingga terjatuh!""Aku nggak merebut. Boneka ini milikku, dia yang berusaha merebutnya.""Anda berusaha berbohong? Kalau begitu kita lihat cctv saja untuk membuktikannya!" Ucap Selina yang membuat Yasmine terkesiap."Ada apa ini?" Rama memburu wanita barbie ya
Selina sudah tak bisa bersabar jika berurusan dengan sikap emosional mantan suaminya. Tak hanya keras kepala, Aldi juga egois.Dia mungkin melunak, tapi itulah caranya untuk mengambil hati lawannya. Dan Selina sadar bahwa dia sedang diperdaya oleh pria kurang ajar itu. Selina sudah bertekad untuk tidak jatuh dalam lubang yang sama.Akhirnya, Selina memutuskan untuk pindah ke rumah sewa yang lain. Tempatnya sedikit terpencil, para penghuni komplek ini bahkan bisa dihitung dengan jari.Tapi kedamaian seperti inilah yang dicari oleh Selina. Tanpa gangguan dan rasa ingin tahu dari tetangga yang julid. "Kalau kamu kesulitan dan butuh bantuan, jangan segan panggil ayah." Ujar Maryono. Usia sudah memakan separuh tubuhnya tapi cinta pada anak dan cucunya menguatkan dirinya."Ayah jangan khawatir." Balas Selina tersenyum manis. "Menurut ayah apakah aku kejam memisahkan ayah dan anaknya? Mas Aldi berucap demikian, tapi aku merasa ini yang terbaik.
"Panggil Rama kemari!"Rahang Taufan sudah mengeras karena menahan emosi. Wajah ini merah padam karena malu akibat perbuatan anaknya.Entah anak siapa Rama ini, kenapa dia berbeda sekali dengan dirinya dan juga Rangga! Karena terlalu biasa dimanja oleh Mala membuatnya menjadi pemberontak.Dan salah satu rasa malu yang diberikan oleh Rama adalah malam ini.. disaat Rama main pergi saja meninggalkan wanita yang hendak dijodohkan padanya.Rama dipanggil, pria ini duduk di sofa keluarga tanpa rasa bersalah. Ia disidang oleh Taufan dan juga Rangga."Beginikah sikapmu itu, Rama? Kenapa kamu tidak bisa menghormati tamu papa!""Apa ada yang salah? Bukannya aku sudah menyapa mereka tadi.""Jangan main-main, Rama! Berapa usiamu itu! Mau sampai kapan kami bertingkah kekanak-kanakan!" Seru Taufan kesal."Aku nggak mengerti maksud papa." Ujar Rama ikut kesal juga."Papa dan mama hendak menjodohkanmu dengan Yasmine. T







