INICIAR SESIÓNBersamaan dengan tumbangnya Ye Zhu, Xian Hui pun memenangkan pertarungan melawan Zhu Guan. Siang Yu menatap Jaka Geni lalu dia menjatuhkan pedangnya di tanah hingga menancap. "Aku menyerah. Kekuatanku sudah mencapai batasnya. Dan makhluk-makhluk tak berguna ini mengacaukan segalanya. Harusnya makhluk lain, tapi malah babi sialan yang keluar." kata Siang Yu kesal. Jaka Geni menghampiri Siang Yu. "Sebenarnya aku masih penasaran, kamu ini Yang Sian Kan atau Siang Yu? Jika benar kau Yang Sian Kan, dimana kekasihku Utari Dewi?" tanya Jaka. Dia mengira sedari awal Siang Yu hanyalah drama yang di lakukan Yang Sian Kan. "Aku benar-benar Siang Yu. Apakah kamu pernah mendengar yang namanya reinkarnasi?" tanya Siang Yu. Jaka diam sejenak. Sejak kecil dia hanya tahu tentang bertarung. Gurunya sama sekali tidak mengajarkan ilmu lain selain silat dan kanuragan. "Sepertinya kamu ini orang bodoh. Tapi pada dasarnya aku tidak ada perselisihan denganmu. Aku anggap pertarungan ini sebagai latiha
Blarrrrrr! Ledakan keras kembali mengguncang makam besar yang kini telah menjadi arena pertarungan dahsyat. Tanah melambung tinggi setelah ledakan terjadi. Siang Yu mendengus kesal. Matanya yang membara menatap ke arah Jaka Geni yang melongo tak percaya. "Pedang ku menyerang sendiri?" ucap Jaka tak percaya. "Sepertinya ada daya tarik tersendiri dari tubuh Siang Yu atau pedang merah itu. Kita coba untuk mengetes lagi."Jaka menghunus kan pedangnya ke arah lain. Tangannya sedikit berat seolah pedang itu tidak mau ke arah yang lain. Namun ketika dia menghunus pedangnya ke arah Siang Yu, seketika petir ungu melesat lagi ke arah Siang Yu! "Gila! Dia benar-benar tertarik untuk melawan Siang Yu!" ucap Jaka dalam hati. Siang Yu yang sudah murka langsung membabat petir tersebut dengan pedangnya. Namun dia terpental keras karena ledakan yang ditimbulkan petir tersebut. "Setan sialan,bantu aku wahai pedang Segel Neraka!"Siang Yu menancapkan pedang ke dalam tanah. Kali ini muncul tiga ma
Jaka Geni tertawa membuat Siang Yu berang. Dengan penuh amarah dia berteriak. "Bunuh dia!" Jaka kembali serius saat melihat makhluk besar yang keluar dari dalam tanah makam. Makhluk itu adalah sesosok babi hutan dengan tubuh manusia. Tubuhnya sangat besar, hampir lima kali lipat tubuh orang dewasa. Dengan pedang Guntur Jaka menyerang makhluk tersebut. Xian Hui turut membantu dalam wujud ular raksasa. Melihat ular putih raksasa yang memotong serangan babi hutan siluman tersebut, Siang Yu segera mencabut pedangnya dan melawan Jaka Geni. Pertarungan dua pedang Dewa pun terjadi. Pedang Segel Neraka milik Siang Yu sejatinya adalah milik Dewa Penjaga Neraka,Wuchang. Siang Yu mendapatkan pedang itu sebagai hadiah karena masa reinkarnasi nya yang seharusnya dua puluh tahun setelah kematian, menjadi delapan ratus tahun lamanya. Karena kesabaran itulah, yang membuat Wuchang mau memberikan salah satu pedang nya. Yaitu pedang Segel Neraka. Jaka Geni sangat bersemangat saat bertarung. Entah
Yang Sian Kan melangkah keluar dari lubang. Matanya merah membara. Tangannya di hantam kan ke tanah makam. "Datanglah!" teriak Yang Sian Kan. Lalu dari dalam tanah muncul retakan besar yang melancarkan aura merah gelap. Sebuah pedang beraura merah keluar dari dalam tanah. Pedang itu penuh dengan kobaran api. Pedang Guntur Saketi menanggapi kedatangan pedang tersebut. Cahaya kilat Ungu yang terpancar dari tubuh pedang itu semakin santer. Dan secara aneh terbang ke arah Jaka Geni yang segera menangkapnya. "Eyang sampai menanggapinya seperti ini, pedang pusaka apa yang keluar dari tanah makam itu?" batin Jaka Geni. Yang Sian Kan mendatangi pedang yang baru muncul dari dalam tanah. "Delapan ratus tahun aku menantikan kedatangan ku di dunia ini. Ternyata tubuh pemuda ini yang menjadi wadahnya. Sungguh mengejutkan masih ada darah Chu yang mengalir di dunia ini." ucap Yang Sian Kan sambil menarik pedang merah membara yang muncul dari dalam tanah. Matanya menyorot ke arah Jaka Geni. "
Utari Dewi merasa terpancing untuk keluar dari toko Nenek Chung. Dia melihat banyak orang berkerumun melihat ke arah langit di timur laut. Utari menatap ke arah sana. Mata birunya seketika membesar. "Awan hitam di musim panas? Tidak mungkin ada turun hujan bukan?" batin Utari Dewi. Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang. "Jangan-jangan...!" mata Utari berkaca-kaca. Berbulan-bulan lamanya dia tidak bertemu dengan Jaka Geni. Dia yakin sekali, itu adalah kekuatan petir sang pendekar yang telah lama dia rindukan. Nenek Chung melihat perubahan pada wajah gadis itu. "Apakah kau mengetahui sesuatu dengan keadaan di sana? Aku yakin itu berada di kawasan Ibu Kota." ujar Nenek Chung. Utari Dewi tidak menjawab. Namun dia tersenyum penuh arti kepada nenek tersebut. Tiba-tiba kerumunan itu menyingkir saat serombongan pasukan berkuda datang. Utari Dewi buru-buru masuk ke dalam toko. Seorang berpakaian putih dengan rambut putih panjang berhenti bersama pasukan tersebut. Pasukan itu adalah praj
Kasim Yang Jie tergopoh-gopoh berlari keluar istana saat mendengar laporan ada awan hitam yang tiba-tiba menutupi langit Luoyang. Dia melihat dengan jelas awan yang sangat gelap itu sehingga seluruh kota menjadi seperti di malam hari. Para penduduk kota mulai panik. Mereka segera menyalakan lampu minyak di rumahnya masing-masing. "Awan hitam yang tak biasanya... Apakah pendekar asing itu telah berada di Luoyang?Tepat sekali di saat Kaisar dan Menteri Pertahanan sedang berperang. Sial," ucap Yang Jie sambil terus menatap awan hitam itu. Tiba-tiba dari atas langit sinar ungu terang menyilaukan mata menyambar turun ke bawah dengan suara yang menggelegar membuat kota Luoyang bergetar. Semua orang panik dan segera menutup rumahnya. Padahal hari masih pagi. Mereka bersembunyi di dalam rumah masing-masing. Para pedagang pun segera menutup tokonya karena takut jika ternyata itu adalah amukan Dewa Petir Lei Gong. "Sepertinya Dewa akan menghukum Raja Tang Tie. Tapi sayang, Raja tengah perg
Di sebuah bukit batu yang terjal, terlihat tiga sosok orang yang tengah berjalan mendaki bukit. Dua di antaranya adalah gadis dengan paras cantik jelita. Sedangkan satunya lagi adalah seorang pemuda gondrong dengan ikat kepala biru dan pakaian serba putih. Siapa lagi kalau bukan Jaka Geni si Pend
Perhatian! (Episode ini mengandung adegan dewasa!) bagi yang berumur di bawah 18+ di sarankan untuk tidak membacanya. Terimakasih. Jaka menatap mata indah yang sangat menawan itu. Tidak diragukan lagi, gadis yang ada di depannya benar-benar sangat cantik. Julukan gadis tercantik d
Ratu dan dua dayang menghampiri Maharani yang terduduk di tepi ranjang. Gadis itu tengah menangis sesenggukan. Ratu segera memegang bahu Maharani, dengan tatapan serius Ratu berkata. "Jaka belum mati. Aku mengunci peredaran darah dan jantungnya agar aura kehidupannya tidak hil
Jaka mempercepat langkahnya menyusuri jejak yang semakin terlihat samar. Hingga akhirnya jejak itu berhenti pada sebuah batu persegi berwarna hitam. Jaka memperhatikan batu itu dengan seksama. Beberapa kali dia coba memutarnya namun tak bergeming. Dia duduk sebentar sambil berpikir keras. Jelas s







