Share

340.Kekuatan Li Mi

Author: Gibran
last update publish date: 2026-03-29 07:38:33

Li Mi melompat saat tinju Chang Yun menerjang ke arah batu. Dalam sekali pukul batu itu hancur berantakan. Aura petir membungkus setiap pecahan batu tersebut.

Li Mi berteriak marah lalu menerjang ke arah Chang Yun. Tangan Li Mi bergerak cepat ke arah gadis itu. Chang Yun menangkis menggunakan lengannya.

"Gadis bodoh!" umpat Li Mi.

Saat telapak Li Mi berhasil di tangkis oleh Chang Yun, dari telapak itu sesuatu menembus lengan Chang Yun seperti kekuatan tak terlihat.

Chang Yun terhempas setel
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Perjalanan Sang Batara   340.Kekuatan Li Mi

    Li Mi melompat saat tinju Chang Yun menerjang ke arah batu. Dalam sekali pukul batu itu hancur berantakan. Aura petir membungkus setiap pecahan batu tersebut. Li Mi berteriak marah lalu menerjang ke arah Chang Yun. Tangan Li Mi bergerak cepat ke arah gadis itu. Chang Yun menangkis menggunakan lengannya. "Gadis bodoh!" umpat Li Mi. Saat telapak Li Mi berhasil di tangkis oleh Chang Yun, dari telapak itu sesuatu menembus lengan Chang Yun seperti kekuatan tak terlihat. Chang Yun terhempas setelah kekuatan itu melabrak dadanya. Tubuhnya terguling beberapa kali di atas tanah berbatu. Li Mi tertawa cekikikan. "Masih bocah sudah berlagak jago di hadapan ku, sungguh menyebalkan!" Chang Yun merangkak di atas tanah untuk mencoba berdiri. Dia merasakan dadanya sesak setelah terkenal pukulan Li Mi yang sangat aneh. "Dia berada di tanah Langit. Sudah pasti aku tidak akan mampu melawannya..." lirih Chang Yun. Li Mi menggerakkan bahu nya yang terasa sakit dan linu. "Sial, ternyata buka hany

  • Perjalanan Sang Batara   339.Pengecut Dari Keluarga Li

    Pasukan kerajaan memburu Bayu Seta hingga ke dalam hutan Luoyang. Mereka melacak jejak kaki lelaki tua itu. Li Mi memimpin pasukan itu bergerak ke dalam hutan. Meski dia baru saja tiba dari selatan, tapi perburuan ini membuatnya bersemangat. "Kaisar akan mengakui ku jika aku berhasil menangkap tahanan ini." batin Li Mi penuh ambisi. Bayu Seta terus bergerak hingga sampai di sebuah sungai kecil. Di sana ternyata ada lima orang prajurit yang tengah bertugas menjaga aliran air. "Siapa itu!" teriak salah satu penjaga. Bayu Seta melemparkan pecahan batu ke arah lima orang tersebut. Tiga di antaranya tewas seketika terkena lemparan batu yang tepat menembus kepala mereka. Dua prajurit itu berteriak keras lalu menyerang Bayu Seta. Pertarungan pun terjadi. Lelaki tua itu melawan dengan serius. Hanya empat jurus dua prajurit itu pun tumbang. "Pengganggu," ucap Bayu Seta lalu bergerak meninggalkan tempat itu. Beberapa saat kemudian Li Mi datang ke tempat dimana ada lima mayat tergeletak.

  • Perjalanan Sang Batara   338.Gadis Yang Kesepian

    Yang Chu dan Yo Fan masuk ke dalam kamar sang putri. Mereka menatap sekitar dan tak mendapati hal yang mencurigakan. Setelah yakin tak ada siapa-siapa di kamar itu, mereka berdua pun pamit pergi setelah meminta maaf karena telah mengganggu ketenangan Putri Nanyang. Gadis itu pun menutup pintu dan menguncinya. Saat dia masuk ke dalam kamarnya dilihatnya Jaka Geni sedang duduk di pinggiran kasur. Putri Nanyang heran, bagaimana kedua orang tadi tidak melihat keberadaan Jaka Geni, padahal ruangan itu tak begitu luas. Sembunyi dimanakah pemuda itu? pikir gadis itu penasaran. "Siapa yang mengijinkan mu duduk di atas tempat tidurku?" tanya Nanyang sambil bersandar di pintu. Jaka Geni segera beralih dan duduk di lantai kamar yang terbuat dari batu pualam. Terasa dingin dan menyegarkan. Putri Nanyang tersenyum lucu melihat kelakuan Jaka Geni yang terlihat serba salah. Jaka Geni selama ini menjadi orang yang di puja dan di kejar-kejar wanita. Namun kali ini,dia salah tingkah di depan Putr

  • Perjalanan Sang Batara   347.Dua Tetua

    Jaka Geni tak bisa berucap apa pun melihat pemandangan yang terlalu mempesona. Dia tertegun dan hanya menatap gadis itu tanpa berkedip hingga tanpa dia sadari... Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi Jaka dengan cukup keras. Pemuda itu tersadar seketika dan melihat seorang gadis yang tengah menatapnya dengan wajah cemberut. Wajah itu terlihat memukau sehingga Jaka tak berkutik dan hanya cengengesan sambil mengusap pipinya yang baru saja kena tampar. "Siapa kamu!? Apakah kamu buronan yang di bicarakan Cheng tadi?" tanya Putri Nanyang. Jaka Geni tidak langsung menjawab, dia menatap sejenak mata gadis itu. "Aku memang buron. Tapi aku bukan penjahat." kata Jaka Geni.Mata putri Nanyang menatap tajam. Lalu tiba-tiba tangan Nanyang menarik Jaka Geni masuk ke dalam ruangan miliknya. "Kamu tunggu di dalam kamar ku, ada prajurit wanita datang kesini," ucap Nanyang lalu meninggalkan ruangan itu. Jaka menatap ruangan yang di penuhi bunga dalam pot dan lukisan ikan sungai Yangtze. "Indah

  • Perjalanan Sang Batara   336.Putri Nanyang

    Hong Lie langsung bergerak melepas Kecapi miliknya. Li Shimin mengetahui hal itu, dia berusaha membelakangi Hong Lie agar pendekar dari Xin Xiang itu kesulitan membidik Jaka Geni. Benar saja, Hong Lie menanti saat Jaka Geni terlihat. Namun malah punggung Li Shimin yang terpampang di depan matanya. "Cepat kabur dari sini!" ucap Li Shimin perlahan. Jaka Geni mengangguk. "Pukul aku agar kau terlihat menang dan bisa kabur," kata Li Shimin lagi. Dengan ragu Jaka memukul Li Shimin. Awalnya Li Shimin mengira Jaka bakal memukul dengan sedikit tenaga, tapi ternyata tidak. Jaka Geni tak bisa mengendalikan kekuatannya dengan baik. Buk! Li Shimin terlempar hingga tujuh tombak. Hong Lie segera menahannya. Jaka Geni memanfaatkan waktu itu untuk segera kabur dengan perasaan bersalah. "Pendekar sinting! Aku suruh memukul ku bukan berarti memukul dengan kekuatan penuh!" umpat Li Shimin dalam hati. Darah meleleh dari mulutnya. Namun itu justru membuat kecurigaan Hong Lie tadi hilang. Ternyata

  • Perjalanan Sang Batara   335.Kekacauan

    Bayu Seta melempar kan pecahan batu itu ke arah sepuluh penjaga. Trang!Trang! Terdengar pecahan-pecahan batu itu mengenai pakaian besi sepuluh prajurit penjaga tersebut. Mereka menoleh. "Aki!Apa yang kamu lakukan tadi!? tidak ada gunanya sama sekali!" ujar Jaka langsung melesat ke arah sepuluh penjaga yang menatap ke arahnya. Belum sampai Jaka di tempat mereka, sepuluh penjaga itu tumbang dengan suara besi yang berisik di lorong tersebut. Jaka Geni terpana. Dia menoleh ke arah Bayu Seta yang nyengir ke arahnya. "Sudah ku bilang,lihat saja. Sekarang kamu mau menyerang mayat-mayat itu?" tanya Bayu Seta. Jaka masih tak percaya. Dia mencoba melihat tubuh mayat-mayat tersebut. Ternyata baju besi itu berlubang. Bahkan hingga tembus ke punggung. "Ini... luar biasa, Aki hanya menggunakan dua pecahan batu dan berhasil membunuh sepuluh orang prajurit berpakaian besi...Jurus apa yang kau tunjukkan Ki?" tanya Jaka penasaran. "Aku ini seorang Tabib, bukan seorang pendekar hebat sepertimu.

  • Perjalanan Sang Batara   141. Perjalanan

    Matahari pagi yang hangat menyapa keindahan waduk Wadaslintang. Airnya yang biru bergelombang di terpa angin sepoi. Tiga sosok manusia terdampar di tepi waduk besar tersebut. Tubuh mereka basah kuyup yang sesekali terkena riak gelombang dari air waduk. Tiga orang itu tak lain adala

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Perjalanan Sang Batara   147. Kaki Dewa Menendang Langit

    "Ki Lintang! Keluar kau!" teriak salah satu pendekar yang baru saja datang beramai-ramai bersama Pendekar-pendekar lain dari Perkumpulan Gerhana Bulan. Wajah pendekar itu terlihat garang dengan mata tanpa alis. Seragam mereka sama, pakaian hitam dengan gambar bulan warna merah di bagian punggung.

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Perjalanan Sang Batara   145. Mayat Tergantung

    Jaka Geni bersama dua kawannya kembali melanjutkan perjalanan ke padepokan Wadaslintang yang sudah tidak begitu jauh. Hanya beberapa waktu saja dari tempat mereka sekarang. Melati berjalan di samping Pendekar Tangan Gledek. Gondo Sula berjalan di belakang sendirian. Tanpa mereka sadari, satu sosok

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Perjalanan Sang Batara   136. Kerajaan Lubang Sewu(2)

    Ratu Suhita yang saat itu tengah berada di atas singgasananya merasakan aura tak biasa dari atas kerajaannya. Tiba-tiba istana Lubang Sewu terguncang keras seperti dilanda gempa bumi. Semua bawahannya berteriak panik. "Apa yang terjadi!?" tanya Ratu Suhita kepada penjaganya. "Ampun Ratu, ada s

    last updateLast Updated : 2026-03-25
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status