LOGIN
"Saya Della, kekasih mas Cakra dan juga saat ini sedang mengandung anak dari mas Cakra." Seketika tubuh mungil Kania limbung tak kuasa menahan berita yang baru saja ia dengar dari mulut seorang wanita yang datang kerumahnya siang ini. Jantungnya berdegub kencang, tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba datang membawa kabar buruk untuknya. Tidak, semua ini pasti mimpi. Tak mungkin mas Cakra, suaminya, tega mengkhianati dirinya. Atau mungkin ini modus penipuan jenis baru? mungkin saja wanita ini datang berpura-pura dihamili oleh suaminya lalu meminta sejumlah uang. Ya, pasti ini yang terjadi.
"Mbak, maaf ya sepertinya kamu salah sasaran. Kalau mbak mau menipu saya bukan begini caranya. Lebih baik mbak segera pergi dari rumah saya sebelum saya laporkan mbak ke RT atau ke polisi." ucap Kania sambil meneguhkan hatinya meski ia yakin saat ini suara yang ia keluarkan seditkit bergetar. Namun sepertinya wanita tersebut tak bergeming dengan ancaman Kania, malahan menampilkan wajah penuh ejekan kehadapannya. "Telepon saja mas Cakra dan tanya sama dia." ucap wanita bergaun merah ketat dengan belahan dada yang cukup rendah. Dengan rambut sebahu yang digerai dan dandanan yang medok, wanita bernama Della tersebut cukup percaya diri meminta Kania untuk menelpon suaminya. Tanpa menunggu lama tentu saja Kania langsung menghubungi Cakra."Halo?" Suara Cakra terdengar begitu panggilan telepon tersambung. "Halo mas, maaf aku telepon di jam kerja." Ya, meski keadaan genting seperti ini Kania tetap menjaga adabnya saat menelepon suaminya. "Iya, kenapa Nia?"Kania melirik kearah Della yang tanpa malu nyelonong masuk ke dalam rumahnya dan langsung duduk di sofa tanpa dipersilahkan. "Mas, ini ada wanita bernama Della datang. Mas kenal?""Hah? Della ke rumah? Ngga sabaran banget sih udah dibilang tunggu dulu malah dateng sekarang." oceh Cakra tak menghiraukan bahwa saat ini sedang tersambung di telepon dengan istrinya. Belum sempat Kania bertanya maksud ucapan Cakra, suaminya itu malah mengakhiri panggilan telepon mereka. Membuat Kania semakin bingung dan berpikiran macam-macam. Ya Tuhan, semoga saja semua ini hanya kekeliruan batin Kania.========"Mulai sekarang Della akan tinggal disini." Darah dalam tubuh Kania mendadak mendidih mendengar ucapan Cakra. Setelah Kania menelepon Cakra tadi, suaminya itu langsung pulang meski belum waktunya jam pulang kerja. Biasanya Cakra sampai dirumah sekitar pukul tujuh malam, belakangan ini malah seringnya pulang jam sepuluh yang menurut suaminya itu saat ini pekerjaan di kantor sedang banyak-banyaknya sehingga mau tak mau ia harus sering lembur. Namun sepertinya adanya wanita ini membuat Cakra harus meninggalkan pekerjaannya yang menumpuk itu."Apa maksud mas?! Siapa sebenarnya wanita ini dan kenapa harus tinggal dirumah kita? Jelasin mas!!" Nada bicara Kania meninggi membuat Cakra sedikit terkejut karena memang Kania tak pernah meninggikan suara di depannya. Pikiran Kania sudah menjalar kemana-mana, ia tak sempat memikirkan adabnya sebagai istri saat ini. Siapa pula yang tidak kesal tiba-tiba saja suaminya mengijinkan wanita lain tinggal dirumah mereka. Meski Cakra dan Kania saat ini berada di dalam kamar, namun sepertinya suara Kania cukup kencang terdengar keluar.Della, si objek permasalahan saat ini malah sedang asyik duduk di depan tv sambil makan apel yang ia ambil sendiri di lemari es. Sepertinya wanita itu sudah tak sungkan berada di rumah Kania, malah sudah seperti di rumahnya sendiri. Ia yang mendengar suara teriakan Kania menyeringai senang meski tak ada yang melihat. Ia merasa bangga pada dirinya yang berhasil merusak rumah tangga orang lain. Tak ada empati darinya meski ia sama sama sebagai wanita."Maafkan aku, apa yang Della katakan itu benar. Saat ini ia sedang mengandung anakku." Ucapan Cakra menusuk hatinya dengan amat keras. Cakra, lelaki yang ia nikahi empat tahun silam bisa-bisanya menghamili wanita lain. Lelaki yang ia perjuangkan kala orangtuanya menentang, lelaki yang telah ia serahkan seluruh dunianya, dan lelaki yang meminangnya meski dengan mahar satu gram emas kini justru menusuknya dari belakang. Sekali lagi seluruh dunia Kania terasa runtuh setelah sebelumnya dunianya hancur kala kedua orang tuanya meninggal pada kecelakaan seminggu setelah lamaran Cakra ditolak. Pandangannya perlahan menggelap dan Kania pun terjatuh tak sadarkan diri.Lima tahun telah berlalu sejak Kania mendapatkan kesempatan kedua dalam hidupnya.Rumah yang dahulu terasa seperti penjara kini dipenuhi suara tawa.Pagi itu, Kania berdiri di balkon lantai dua sambil memandangi halaman. Seorang anak perempuan kecil berlari mengejar kupu-kupu dengan rambut yang dikuncir dua. Sesekali terdengar suara tawa Cakra yang berusaha menangkap putri mereka sebelum gadis kecil itu berlari terlalu jauh."Mama! Lihat!"Kania tersenyum."Pelan-pelan, Sayang."Anak itu mengangkat seekor kupu-kupu yang hinggap di tangannya, lalu tertawa bahagia sebelum kupu-kupu tersebut kembali terbang.Kania memejamkan mata sejenak.Pemandangan sederhana itu seharusnya terasa biasa.Namun bagi Kania, itu adalah keajaiban.Dahulu ia pernah berdiri di tempat yang sama dengan hati yang hancur. Pernah menangis seorang diri karena kehilangan anaknya. Pernah berharap kematian segera datang karena ia tidak lagi sanggup menjalani hidup.Kini semuanya terasa begitu jauh."Nia."Suara Cakra
Kebenaran terbesar akhirnya terbuka.Cakra secara tidak sengaja menemukan bukti bahwa ayah Della pernah mencoba mendekati Kania dengan cara yang tidak pantas.Ia langsung menghampiri Kania."Nia."Kania menatapnya."Apa?""Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?"Kania terdiam."Karena aku tahu Mas tidak akan percaya."Cakra menunduk."Aku akan percaya."Kania tersenyum pahit."Dalam kehidupan yang dulu, aku juga pernah berharap begitu."Cakra mengangkat wajah."Apa?"Kania terdiam.Ia hampir mengatakan semuanya.Tentang kehidupan pertama.Tentang kematiannya.Tentang bagaimana ia kembali.Namun ia belum siap.Cakra hanya bisa melihat air mata Kania."Aku minta maaf."Kania menggeleng."Jangan minta maaf karena sesuatu yang belum kau lakukan."Cakra menatapnya.Kalimat itu membuatnya semakin sadar bahwa Kania menyimpan rahasia yang jauh lebih besar.Waktu berlalu.Kehamilan Della semakin besar.Akhirnya hari kelahiran tiba.Della melahirkan seorang bayi laki-laki.Cakra datang ke rumah
Malam itu Della meminta bicara dengan Cakra. Kania mengetahui percakapan itu akan terjadi. Ia tidak mendengarkan dari balik pintu. Tidak perlu. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan Della. Beberapa saat kemudian Cakra keluar dari ruangan. Wajahnya tampak serius."Nia."Kania menoleh."Ada apa?""Della bilang sesuatu."Kania diam.Cakra menarik napas."Dia hamil."Kania menatapnya.Dalam kehidupan pertama, kabar itu membuat dunianya runtuh.Sekarang?Kania hanya tersenyum."Selamat."Cakra terdiam."Kau tidak marah?""Kenapa aku harus marah?""Nia...""Kita bisa melakukan pemeriksaan kalau memang diperlukan."Cakra menatapnya."Kau percaya padaku?"Kania tersenyum tipis."Aku percaya kebenaran akan muncul."Kemudian ia pergi.Cakra masih berdiri di tempatnya.Ia tidak mengerti.Dahulu Kania akan menangis.Sekarang perempuan itu justru tenang.Dan untuk pertama kalinya, Cakra merasa takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum ia sadari sedang menjauh darinya.Kania tidak berniat langsung
Gelap.Begitu gelap hingga Kania tidak tahu apakah dirinya masih hidup atau sudah benar-benar mati.Tubuhnya terasa ringan.Tidak ada rasa sakit.Tidak ada suara mesin rumah sakit.Tidak ada suara langkah kaki.Tidak ada suara Cakra.Hanya kesunyian.Kemudian sebuah tangisan bayi terdengar.Tangisan yang begitu kecil.Begitu jauh.Kania berusaha meraihnya."Anakku..."Tangannya bergerak, tetapi tidak menemukan apa pun."Maafkan Mama..."Air mata mengalir dari sudut matanya."Maaf..."Kemudian semuanya berubah menjadi cahaya.Kania tersentak bangun.Napasnya memburu.Ia langsung memegang dadanya.Matanya bergerak ke seluruh penjuru ruangan.Langit-langit putih.Tirai berwarna krem.Tempat tidur besar.Aroma parfum yang sangat ia kenal.Kania terdiam.Ini kamarnya.Kamar yang sudah lama tidak pernah ia lihat.Kania menunduk.Tangannya bergerak menyentuh perut.Datar.Tidak ada luka.Tidak ada darah.Tidak ada rasa sakit.Kania langsung bangkit dari tempat tidur.Ia berjalan menuju cermi
Malam itu hujan turun begitu deras.Kania berdiri sendirian di depan jendela bungalow.Sudah tidak ada lagi gerakan kecil di dalam perutnya.Tidak ada lagi harapan.Tidak ada lagi alasan untuk menunggu pagi.Sejak kehilangan bayinya, Kania seperti kehilangan separuh jiwanya.Ia masih bernapas.Masih makan.Masih berjalan.Namun dirinya yang dulu sudah tidak ada.Tangannya menyentuh perut yang kini terasa begitu kosong."Maafkan Mama..."Air matanya jatuh."Seharusnya Mama bisa melindungimu."Kania menutup mata.Bayangan bayi yang tidak pernah sempat ia lihat kembali memenuhi pikirannya.Kemudian terdengar suara pintu dibuka.Cakra masuk.Kania tidak menoleh."Kan."Tidak ada jawaban.Cakra berjalan mendekat."Aku membawakan makanan.""Aku tidak lapar.""Kau belum makan sejak pagi.""Aku tidak lapar, Mas."Cakra menghela napas.Ia masih merasa bersalah sejak kejadian yang menyebabkan Kania kehilangan anak mereka.Namun rasa bersalah tidak pernah cukup untuk mengembalikan sesuatu yang t
Malam itu hujan turun begitu deras.Kania berdiri sendirian di depan jendela bungalow.Sudah tidak ada lagi gerakan kecil di dalam perutnya.Tidak ada lagi harapan.Tidak ada lagi alasan untuk menunggu pagi.Sejak kehilangan bayinya, Kania seperti kehilangan separuh jiwanya.Ia masih bernapas.Masih makan.Masih berjalan.Namun dirinya yang dulu sudah tidak ada.Tangannya menyentuh perut yang kini terasa begitu kosong."Maafkan Mama..."Air matanya jatuh."Seharusnya Mama bisa melindungimu."Kania menutup mata.Bayangan bayi yang tidak pernah sempat ia lihat kembali memenuhi pikirannya.Kemudian terdengar suara pintu dibuka.Cakra masuk.Kania tidak menoleh."Nia."Tidak ada jawaban.Cakra berjalan mendekat."Aku membawakan makanan.""Aku tidak lapar.""Kau belum makan sejak pagi.""Aku tidak lapar, Mas."Cakra menghela napas.Ia masih merasa bersalah sejak kejadian yang menyebabkan Kania kehilangan anak mereka.Namun rasa bersalah tidak pernah cukup untuk mengembalikan sesuatu yang t







