แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Ungu
Begitu bagian itu dicengkeram olehnya, aku yang tadinya masih setengah sadar langsung sadar sepenuhnya. Pandanganku langsung tertuju pada raut wajahnya yang luar biasa panik dan tangan mungilnya yang masih menggenggam erat milikku yang sedang bereaksi!

Dia tampak syok dan terpaku, sementara otakku juga mendadak kosong selama beberapa detik. Setelah keheningan yang canggung itu, dia buru-buru melepaskan tangannya dan aku pun segera mengubah posisi duduk untuk menekan reaksi yang sedang aktif itu!

Setelah itu, tante tidak berani lagi duduk. Dia mengangkat pantatnya tinggi-tinggi sambil menumpu beban tubuhnya dengan kedua lengan yang memeluk sandaran kepala kursi depan erat-erat.

Namun, seberapa lama posisi seperti itu bisa bertahan? Begitu melihat lengannya mulai gemetar kelelahan, aku merasa tidak tega. Akhirnya, aku berinisiatif menariknya untuk kembali duduk di pangkuanku.

Sejak saat itu, suasana menjadi sangat canggung sampai-sampai kami berdua tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia berpura-pura fokus mendengarkan obrolan Tina dan Mona, sama sekali tak berani melirik ke arahku.

Namun, semakin aku mengingat kejadian canggung tadi, benda di dalam celanaku malah menjadi semakin aktif. Semakin aku berusaha membuatnya tenang, ia malah semakin bersemangat, bahkan mulai berdenyut-denyut menyodok pantat sexy tante!

Merasakan sundulan itu, tante menjadi semakin malu. Dia berniat mengangkat pantatnya lagi, tapi begitu dia bergerak naik sedikit, benda itu malah semakin menegang tegak. Benda kecil di celanaku itu terus mengikuti ke mana pun pantatnya bergerak!

Aku berpikir kalau terus begini bisa gawat. Jadi, aku mengeluarkan ponsel, mengetik sebaris kalimat, lalu mengirimkannya pesan, [Tante, jangan asal gerak lagi. Tahan sebentar, nanti juga bakal mereda sendiri, kok.]

Setelah membaca pesan itu, dia benar-benar tak bergerak lagi.

Tubuhnya yang lembut bersandar dengan patuh di pelukanku. Ketika aku pura-pura ‘tak sengaja’ menyentuhnya, dia hanya menggigit bibir, menahan sensasi sentuhan itu dan pada akhirnya tetap tak mengatakan apapun.

Saat melewati area istirahat, kami semua turun untuk ke kamar mandi dan makan cemilan. Setelah itu kembali melanjutkan perjalanan.

Kali ini, demi menghindari kecanggungan, aku membiarkan tante masuk duluan. Aku kembali mengambil posisi duduk miring yang bersandar di dekat pintu. Setelah kejadian tadi, tante tidak banyak berkomentar kali ini.

Namun baru jalan sebentar, aku langsung menyesal. Ini benar-benar menyiksa diri. Tak butuh waktu lama, separuh badanku langsung keram. Mau bergerak pun tidak ada ruang, jadi aku hanya bisa menggertakkan gigi sambil menahannya.

Tiba-tiba, aku mendengar tante di samping menghela napas pelan, lalu berkata pada Tina, “Tina, minggirkan dulu mobilnya sebentar. Aku mau ganti posisi duduk lagi, sempit sekali sampai sesak napas rasanya!”

“Tante Fani, sudah kubilang dari tadi mending duduk di pangkuan Paul saja, malah keras kepala. Padahal posisi tadi sudah nyaman!” ujar Mona.

Aku melirik ke arah tante. Dia tampak berpura-pura tenang seolah tak terjadi apa-apa, tak berani menunjukkan gelagat mencurigakan di depan Tina.

Namun, saat dia bergerak naik untuk duduk di pangkuanku, dia sengaja menggesekkan pantatnya ke arah benda milikku yang sedang tertidur di dalam celana.

Aku langsung terkejut. Begitu mendongak, aku melihat kedua pipi tante sudah merona merah.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Perjalanan Yang Mendebarkan   Bab 11

    Tante bersandar di pundakku dan menangis sepanjang malam.Keesokan harinya dalam perjalanan pulang, suasana di dalam mobil begitu hening sampai-sampai suara napas pun terdengar.Tina tak berbicara sama sekali, tante juga memilih diam saja. Sementara itu, Mona yang tak tahu apa-apa mengira kami semua hanya kelelahan setelah mendaki gunung, jadi dia pun tak banyak bertanya.Sambil menyetir, sesekali aku melirik tante melalui spion tengah. Dia terus menunduk dan kantong matanya masih terlihat memerah.Aku berjanji dalam hati, begitu balik dari sini, aku harus membereskan masalah ini.Cerita setelah itu, kalau diingat kembali memang penuh lika-liku.Aku membawa tante pulang ke rumah untuk menemui orang tuaku. Ibuku langsung marah, dia memaki-maki tante, menyebutnya wanita tua yang tak tahu malu.Sangking marahnya, ayahku juga menggebrak meja. Dia mengancam kalau aku nekat menikahi wanita yang usianya dua puluh tahun lebih tua dariku, dia akan memutuskan hubungan denganku.Namun, aku tak ge

  • Perjalanan Yang Mendebarkan   Bab 10

    Kepalaku langsung berdengung dan tante pun panik setengah mati. Dia kelabakan mencari pakaiannya yang berserakan.Aku menyuruhnya segera bersembunyi di dalam lemari pakaian. Dengan tubuh telanjang sambil memeluk pakaiannya, dia langsung menyelinap masuk ke dalam.Aku asal memakai celana pendekku, menarik napas dalam-dalam, lalu membuka pintu.Tina berdiri di depan pintu dengan mata berkaca-kaca dan sisa air mata di wajahnya terlihat kalau dia baru saja menangis.Dia menatapku, lalu menyapu pandangannya ke dalam kamar. Sambil menggigit bibir, dia bertanya, “Ibuku ada di kamarmu, ‘kan?”“Nggak ada, kok. Bukannya ibumu ada di kamar kalian?” Aku terpaksa berbohong.“Aku sudah dengar semuanya!” Dia langsung mendorongku, menerobos masuk dan memeriksa sekeliling kamar. Hingga akhirnya, tatapan matanya tertuju pada lemari pakaian itu.Pintu lemari memang tertutup, tapi di bagian bawahnya terselip sepotong kain merah muda, itu tali gaun tidur tante.Tina berjalan mendekat, lalu membuka pintu le

  • Perjalanan Yang Mendebarkan   Bab 9

    Aku menghabiskan dua jam lebih untuk menunggu.Sekali-kali aku memeriksa ponsel, lalu beralih mendengarkan suara di luar. Aku benar-benar gelisah seperti semut di atas wajan panas.Lama-kelamaan aku sudah tak sanggup menahan kantuk. Tepat saat aku mulai tak sadar dan hampir terlelap, tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan di pintu sebanyak dua kali.Seketika, aku langsung terlompat dari ranjang dan berlari dengan kaki telanjang untuk membuka pintu.Begitu pintu terbuka, tante sudah berdiri di luar. Rambutnya dibiarkan terurai dan dia mengenakan gaun tidur bertali tipis berwarna merah muda. Bahannya yang tipis melekat erat di tubuhnya dan dari siluetnya yang bulat berisi, terlihat jelas kalau dia tak memakai apa-apa di dalamnya.Wajahnya tampak merona dan tatapan matanya agak salah tingkah. Dia berkata dengan pelan, “Tina sudah tidur.”Aku menariknya masuk, menutup pintu dan memeluknya.Tubuh tante rasanya sangat lembut dan wangi. Saat bersandar di pelukanku, aku bisa merasakan detak j

  • Perjalanan Yang Mendebarkan   Bab 8

    Wajah tante langsung memerah, dia membalas, [Menurutmu? Tentu saja langsung kutelan. Coba kamu pikir, kita berdua sedang jongkok di sana entah lagi berbuat apa, kalau sampai Tina nggak sengaja melirik ke arah bawah, tamatlah riwayat kita! Meskipun aku ceroboh, jangan pernah sepelekan insting wanita dalam urusan seperti ini!][Tante, Tina nggak akan berpikir macam-macam, kok. Bagaimanapun kamu itu ibu kandungnya!][Kamu masih ingat aku itu ibu kandungnya?! Sejak pagi tanganmu sudah nggak bisa diam meraba-raba tubuhku… entah apa yang kamu suka dari wanita tua sepertiku?!][Tante, kamu nggak tua sama sekali! Kamu kelihatan awet muda sekali!]“Aku tahun ini sudah 43 tahun, lho!][Apa? Nggak kelihatan sama sekali, mirip seperti kakaknya Tina. Seharusnya aku panggil kamu kakak!]“Dasar si mulut manis! Sudahlah, aku nggak mau meladenimu lagi, makin dibahas makin menjadi-jadi!] Setelah itu kami berdua tidak lagi saling berkirim pesan. Dia tetap duduk di pangkuanku, sementara aku reflek memelu

  • Perjalanan Yang Mendebarkan   Bab 7

    Meskipun apa yang dilakukannya ini terasa cukup mendebarkan, seiring berjalannya waktu, rasanya tubuhku mulai terbiasa dengan rangsangan tersebut.Tante pun mulai panik dan bertanya berapa lama lagi waktu yang kubutuhkan.Aku tersenyum pahit, “Tante, kalau begini saja rasanya agak kurang. Bagaimana kalau kamu ganti cara lain?”“Dasar kamu, kamu mau ambil kesempatan lagi dengan tante?” ujarnya sambil melotot tajam ke arahku.Aku buru-buru membela diri, “Bukan begitu maksudku. Kalau hanya pakai tangan rasanya agak kurang, bagaimana kalau kamu pakai….”Sambil berbicara, pandanganku tertuju pada bibir merah Tante Fani.Tante langsung paham maksudku. Wajahnya langsung merona dan dia mencubit pahaku, lalu langsung menundukkan kepala dan mendekatkan mulut mungilnya ke arah benda milikku.Seluruh tubuhku bergetar hebat, membuatku tak tahan untuk mendesah pelan.“Tante hebat sekali!”Namun, dia tampak melambaikan tangan padaku menunjuk ke arah belakang mobil. Aku yang terlanjur kegirangan seger

  • Perjalanan Yang Mendebarkan   Bab 6

    [Hehe, nanti kamu ganti celana dalam saja saat di area istirahat, pakai yang basah begitu pasti rasanya nggak nyaman sekali!][Sudahlah, semua pakaian ada di dalam koper, posisinya tertimpa di paling bawah bagasi, susah diambil. Biarkan saja!][Atau kamu lepas saja sekalian?!][Aku nggak pakai apa-apa, dong?! Nggak mau!][Nggak masalah, malah lebih baik daripada harus pakai yang basah!][Nggak apa-apa, nanti aku pakai pantyliner saja!]Melihat tante yang bersikeras menolak, aku tahu kalau saat ini diriku tak akan bisa membujuknya. Jadi, aku harus mencari cara lain lagi begitu sampai di area istirahat berikutnya![Ya sudah kalau begitu, kamu tahan sebentar, ya. Nanti di area istirahat depan, aku coba lihat ada menjual pakaian dalam, nggak?!][Iya, barangmu masih menegang?]Aku berkata dalam hati, ‘tentu saja, kamu puas sendiri, sedangkan aku harus menahannya dari tadi!’[Belum apa-apain, sudah pasti bakal tegang terus, dong! Bagaimana kalau tante bantu aku menuntaskannya?] Aku membalasn

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status