แชร์

Perjalanan Yang Mendebarkan
Perjalanan Yang Mendebarkan
ผู้แต่ง: Ungu

Bab 1

ผู้เขียน: Ungu
Saat masih kuliah semester enam, aku baru saja mendapatkan SIM. Kebetulan libur hari buruh, jadi aku mengajak dua teman dekatku untuk pergi berlibur.

Keduanya gadis yang cantik, namanya Tina dan Mona.

Mereka berdua sangat antusias, bahkan Tina sampai mengajak ibunya untuk ikut bersama.

Awalnya, aku merasa agak malas karena ada orang tua yang ikut. Tapi, begitu menyetir sampai ke bawah apartemen Tina untuk menjemputnya, rasa malas di hatiku langsung sirna.

Ibu Tina terlihat sangat muda, wajahnya awet muda seperti masih berusia tiga puluhan. Fitur wajahnya proposional, kulitnya putih bersih dan kalau berdiri di samping Tina, mereka berdua terlihat seperti kakak adik.

Dia tak terlalu tinggi, kurang dari 160 cm, membuatnya terlihat mungil dan menggemaskan. Dia mengenakan atasan rajut longgar dan rok span, menonjolkan lekuk tubuhnya yang sangat memikat.

Aku segera turun dari mobi dan menyapanya, “Halo, tante!”

Ibu Tina tersenyum manis, “Kamu Paul, ya? Aku sering dengar Tina menceritakanmu. Wah, aslinya tampan sekali!”

Tina menyenggol lengan ibunya pelan dengan wajah yang merona, “Ibu!”

Barang bawaan kedua gadis itu sangat banyak, sampai-sampai bagasi mobil penuh. Sebagian barang bahkan harus diletak di kursi belakang. Setelah semuanya dimasukkan, mobil itu hanya pas-pasan untuk diduduki dua orang.

Awalnya aku menyetir dengan tenang. Tapi, karena satu dan lain hal, aku malah berakhir dipindahkan ke kursi belakang dan terpaksa berdesakan dengan Ibu Tina.

Mobilku dasarnya memang kecil, ditambah lagi kursi belakang penuh dengan barang bawaan. Aku terpaksa duduk miring dengan sebelah bokong mengganjal di dekat pintu, berguncang-guncang sepanjang perjalanan menuju Gunung Merpat.

Sejujurnya, meski bokongku terasa pegal dan tak nyaman, jauh di dalam lubuk hatiku ada rasa senang yang tersembunyi. Ibu Tina duduk tepat di sampingku, tubuhnya yang lembut bersandar pada tubuhku dan aroma tubuhnya yang harum membuat hatiku terasa berdesir seperti digelitiki semut.

Tubuhnya yang lembut sesekali bergesekan dengan lenganku. Seiring dengan guncangan mobil, tubuh Ibu Tina ikut bergoyang, membuat posisinya terlihat seolah-olah tak bisa duduk tenang akibat doronganku.

Perlahan-lahan, area di antara selangkanganku mulai bereaksi akibat gesekan itu. Bahkan dari balik celana pun, siluetnya yang menegang sudah mulai tercetak jelas.

Saat mobil mendadak berguncang, wanita itu reflek bertumpu pada area di sampingnya dan tangannya tepat memegang bagian tubuhku yang sedang menegang keras itu.

Tangannya terasa sangat lembut. Begitu menyadari apa yang baru saja disentuh, dia langsung menarik tangannya seperti tersengat listrik.

Namun setelah tersadar, dia tampak agak bimbang sambil menggesek-gesek jarinya. Matanya yang malu-malu melirik ke mana-mana, hingga akhirnya tak tahan untuk kembali melirik ke tempat yang baru saja dia sentuh tadi.

Tatapan Ibu Tina padaku terasa agak bergairah, membuatku yang dasarnya sudah menahan panas menjadi semakin bergairah.

Tangannya lembut sekali.

Aku jadi penasaran apakah seluruh tubuhnya juga selembut itu, terutama bagian yang tampak bergoyang menonjol setiap kali mobil berguncang….

Pikiranku melayang ke mana-mana dan respon bagian bawahku sangat jujur. Saat kami tiba di area istirahat, bentuknya sudah benar-benar tak bisa disembunyikan lagi.

Wanita itu menatapku dengan pandangan yang linglung, wajahnya memerah seperti hampir terbakar.

Sadar bahwa bagaimanapun juga dirinya adalah orang tua temanku, akhirnya aku langsung turun begitu mobil tiba di area istirahat. Aku berjalan secepat mungkin ke kamar mandi untuk menuntaskan kebutuhan biologisku.

Saat bermain dengan asetku, bayangan wanita yang berguncang di dalam mobil tadi terus terngiang-ngiang di kepalaku. Tubuhnya yang lembut, kulitnya yang halus, tubuhnya yang terus menempel erat ke tubuhku setiap kali mobi berguncang, serta wajahnya yang merona dan berkeringat….

Mengingat itu semua, aku mendesah pelan. Aku bergerak seolah-olah sedang menyodok wanita dalam halusinasiku itu, membiarkan benda milikku mencapai puncak kenikmatan di dalam kehangatan tubuhnya.

Aku bersandar di dinding sambil terengah-engah. Saat mendongak, aku seperti melihat bayangan wanita itu, seolah-olah dia benar-benar sedang mengintipku dari suatu tempat.

Tanpa berpikir panjang, aku segera merapikan pakaianku dan kembali berkumpul dengan yang lain.

Kedua gadis itu tampak kesal karena tidak sabar menunggu, tapi Ibu Tina hanya bersandar di dekat mobil dengan wajah linglung. Begitu melihatku, dia langsung memalingkan wajahnya, sementara pipinya tampak merona.

Jangan-jangan… tadi bukan halusinasi?

Belum sempat aku mencernanya, Tina sudah mulai mengeluh, “Kok lama sekali? Dasar lambat!”

Aku pun asal membuat alasan, bagaimanapun posisiku duduk di mobil tadi sangat tidak nyaman.

Mendengar itu, mereka merasa agak tidak enak hati, tapi juga bingung harus melakukan apa. Untuk sesaat, mereka hanya saling pandang.

“Hmm… aku punya ide, tapi nggak tahu bisa atau nggak!” ujar Mona tiba-tiba menimpali dari samping.

“Cepat bilang!” desak Tina.

“Bagaimana kalau Paul memangku tante saja di belakang? Tubuh tante juga cukup mungil, jadi pasti ruangannya bakal terasa lebih luas, ‘kan?”

Tina bergantian menatapku dan ibunya, lalu berkata padaku, “Kamu coba dulu!”

Wajah wanita bertubuh mungil itu merona merah. Dia menatapku dengan malu-malu, tapi akhirnya tidak mengatakan kata penolakan sama sekali.

Setelah aku duduk, dia perlahan-lahan menggeser tubuhnya mendekat. Pantatnya yang lembut sempat ragu-ragu sejenak di depanku, hingga akhirnya dia memantapkan hati dan duduk di pangkuanku.

Seketika, seluruh tubuhku bergetar. Asetku yang baru saja dituntaskan tadi samar-samar mulai menunjukkan tanda-tanda akan bangkit lagi.

Tebakanku tidak salah, tubuhnya memang sangat lembut dan mungil, bahkan satu lenganku saja sudah cukup untuk memeluknya dengan erat.

Mobil kembali melaju dan tante pun mulai berguncang naik turun di atas pangkuanku.

Demi menenangkan pikiranku yang kacau, aku memejamkan mata dan memutuskan untuk mengabaikan rangsangan fisik tersebut dan mencoba tidur.

Dalam kondisi setengah sadar, aku bermimpi sedang bercinta dengan Tina. Tubuh yang lembut menempel erat padaku dan jarak di antara kami hanya terhalang oleh selembar kain tipis.

Dia yang tampak tidak puas terus bergerak menyodokku, membuatku akhirnya tak bisa menahan diri lagi dan mulai balas menyodok area sensitifnya yang lembut dari balik pakaian….

Padahal realitanya, tante yang sedang duduk di pangkuanku, menoleh ke belakang melihatku dengan kaget. Wajahnya merona dan dia mencoba menggeser sedikit posisi duduknya.

Namun, pergeseran itu malah berakibat fatal. Benda yang tadinya tertekan di bawah pantatnya langsung berdiri menegang! Benda milikku langsung menekan keras ke arah pantatnya, membuat wanita itu panik hingga berkeringat dingin. Dia melirik dan melihatku tampak masih tertidur. Akhirnya, sambil berpura-pura merapikan roknya, dia menjulurkan tangan dan langsung menggenggam benda milikku, berniat untuk menekannya ke bawah!

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Perjalanan Yang Mendebarkan   Bab 11

    Tante bersandar di pundakku dan menangis sepanjang malam.Keesokan harinya dalam perjalanan pulang, suasana di dalam mobil begitu hening sampai-sampai suara napas pun terdengar.Tina tak berbicara sama sekali, tante juga memilih diam saja. Sementara itu, Mona yang tak tahu apa-apa mengira kami semua hanya kelelahan setelah mendaki gunung, jadi dia pun tak banyak bertanya.Sambil menyetir, sesekali aku melirik tante melalui spion tengah. Dia terus menunduk dan kantong matanya masih terlihat memerah.Aku berjanji dalam hati, begitu balik dari sini, aku harus membereskan masalah ini.Cerita setelah itu, kalau diingat kembali memang penuh lika-liku.Aku membawa tante pulang ke rumah untuk menemui orang tuaku. Ibuku langsung marah, dia memaki-maki tante, menyebutnya wanita tua yang tak tahu malu.Sangking marahnya, ayahku juga menggebrak meja. Dia mengancam kalau aku nekat menikahi wanita yang usianya dua puluh tahun lebih tua dariku, dia akan memutuskan hubungan denganku.Namun, aku tak ge

  • Perjalanan Yang Mendebarkan   Bab 10

    Kepalaku langsung berdengung dan tante pun panik setengah mati. Dia kelabakan mencari pakaiannya yang berserakan.Aku menyuruhnya segera bersembunyi di dalam lemari pakaian. Dengan tubuh telanjang sambil memeluk pakaiannya, dia langsung menyelinap masuk ke dalam.Aku asal memakai celana pendekku, menarik napas dalam-dalam, lalu membuka pintu.Tina berdiri di depan pintu dengan mata berkaca-kaca dan sisa air mata di wajahnya terlihat kalau dia baru saja menangis.Dia menatapku, lalu menyapu pandangannya ke dalam kamar. Sambil menggigit bibir, dia bertanya, “Ibuku ada di kamarmu, ‘kan?”“Nggak ada, kok. Bukannya ibumu ada di kamar kalian?” Aku terpaksa berbohong.“Aku sudah dengar semuanya!” Dia langsung mendorongku, menerobos masuk dan memeriksa sekeliling kamar. Hingga akhirnya, tatapan matanya tertuju pada lemari pakaian itu.Pintu lemari memang tertutup, tapi di bagian bawahnya terselip sepotong kain merah muda, itu tali gaun tidur tante.Tina berjalan mendekat, lalu membuka pintu le

  • Perjalanan Yang Mendebarkan   Bab 9

    Aku menghabiskan dua jam lebih untuk menunggu.Sekali-kali aku memeriksa ponsel, lalu beralih mendengarkan suara di luar. Aku benar-benar gelisah seperti semut di atas wajan panas.Lama-kelamaan aku sudah tak sanggup menahan kantuk. Tepat saat aku mulai tak sadar dan hampir terlelap, tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan di pintu sebanyak dua kali.Seketika, aku langsung terlompat dari ranjang dan berlari dengan kaki telanjang untuk membuka pintu.Begitu pintu terbuka, tante sudah berdiri di luar. Rambutnya dibiarkan terurai dan dia mengenakan gaun tidur bertali tipis berwarna merah muda. Bahannya yang tipis melekat erat di tubuhnya dan dari siluetnya yang bulat berisi, terlihat jelas kalau dia tak memakai apa-apa di dalamnya.Wajahnya tampak merona dan tatapan matanya agak salah tingkah. Dia berkata dengan pelan, “Tina sudah tidur.”Aku menariknya masuk, menutup pintu dan memeluknya.Tubuh tante rasanya sangat lembut dan wangi. Saat bersandar di pelukanku, aku bisa merasakan detak j

  • Perjalanan Yang Mendebarkan   Bab 8

    Wajah tante langsung memerah, dia membalas, [Menurutmu? Tentu saja langsung kutelan. Coba kamu pikir, kita berdua sedang jongkok di sana entah lagi berbuat apa, kalau sampai Tina nggak sengaja melirik ke arah bawah, tamatlah riwayat kita! Meskipun aku ceroboh, jangan pernah sepelekan insting wanita dalam urusan seperti ini!][Tante, Tina nggak akan berpikir macam-macam, kok. Bagaimanapun kamu itu ibu kandungnya!][Kamu masih ingat aku itu ibu kandungnya?! Sejak pagi tanganmu sudah nggak bisa diam meraba-raba tubuhku… entah apa yang kamu suka dari wanita tua sepertiku?!][Tante, kamu nggak tua sama sekali! Kamu kelihatan awet muda sekali!]“Aku tahun ini sudah 43 tahun, lho!][Apa? Nggak kelihatan sama sekali, mirip seperti kakaknya Tina. Seharusnya aku panggil kamu kakak!]“Dasar si mulut manis! Sudahlah, aku nggak mau meladenimu lagi, makin dibahas makin menjadi-jadi!] Setelah itu kami berdua tidak lagi saling berkirim pesan. Dia tetap duduk di pangkuanku, sementara aku reflek memelu

  • Perjalanan Yang Mendebarkan   Bab 7

    Meskipun apa yang dilakukannya ini terasa cukup mendebarkan, seiring berjalannya waktu, rasanya tubuhku mulai terbiasa dengan rangsangan tersebut.Tante pun mulai panik dan bertanya berapa lama lagi waktu yang kubutuhkan.Aku tersenyum pahit, “Tante, kalau begini saja rasanya agak kurang. Bagaimana kalau kamu ganti cara lain?”“Dasar kamu, kamu mau ambil kesempatan lagi dengan tante?” ujarnya sambil melotot tajam ke arahku.Aku buru-buru membela diri, “Bukan begitu maksudku. Kalau hanya pakai tangan rasanya agak kurang, bagaimana kalau kamu pakai….”Sambil berbicara, pandanganku tertuju pada bibir merah Tante Fani.Tante langsung paham maksudku. Wajahnya langsung merona dan dia mencubit pahaku, lalu langsung menundukkan kepala dan mendekatkan mulut mungilnya ke arah benda milikku.Seluruh tubuhku bergetar hebat, membuatku tak tahan untuk mendesah pelan.“Tante hebat sekali!”Namun, dia tampak melambaikan tangan padaku menunjuk ke arah belakang mobil. Aku yang terlanjur kegirangan seger

  • Perjalanan Yang Mendebarkan   Bab 6

    [Hehe, nanti kamu ganti celana dalam saja saat di area istirahat, pakai yang basah begitu pasti rasanya nggak nyaman sekali!][Sudahlah, semua pakaian ada di dalam koper, posisinya tertimpa di paling bawah bagasi, susah diambil. Biarkan saja!][Atau kamu lepas saja sekalian?!][Aku nggak pakai apa-apa, dong?! Nggak mau!][Nggak masalah, malah lebih baik daripada harus pakai yang basah!][Nggak apa-apa, nanti aku pakai pantyliner saja!]Melihat tante yang bersikeras menolak, aku tahu kalau saat ini diriku tak akan bisa membujuknya. Jadi, aku harus mencari cara lain lagi begitu sampai di area istirahat berikutnya![Ya sudah kalau begitu, kamu tahan sebentar, ya. Nanti di area istirahat depan, aku coba lihat ada menjual pakaian dalam, nggak?!][Iya, barangmu masih menegang?]Aku berkata dalam hati, ‘tentu saja, kamu puas sendiri, sedangkan aku harus menahannya dari tadi!’[Belum apa-apain, sudah pasti bakal tegang terus, dong! Bagaimana kalau tante bantu aku menuntaskannya?] Aku membalasn

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status