แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Ungu
Tante… tante sedang mengajakku bermesraan?

Aku sempat tertegun sejenak, tak tahu pasti apa sebenarnya maksud Tante Fani. Tapi, sebagai seorang pria, kalau di saat seperti ini tidak maju, bukankah sama saja menyia-nyiakan kesempatan emas?!

Mengenai apakah usaha ini akan berhasil atau tidak, yang penting dicoba dulu. Kalau memulainya saja tidak berani, bagaimana bisa berhasil?!

Pikiranku langsung direspon dengan sangat jujur oleh tubuhku. Benda di dalam celana ini kembali menegang tinggi dan menyodok tepat di pantat tante.

Kali ini tante tak menghindar sama sekali. Dia membiarkan benda milikku yang sedang bereaksi itu menekan pantatnya.

Aku yang berada di posisi belakang berpikir dalam hati, ‘kalau ini masih dalam batas yang diizinkan, mari dicoba yang lain!’

Aku pun mendekatkan hidungku ke punggungnya. Setelah mengendus beberapa kali, aku menggeser posisinya ke arah tali bra, mengusapkan hidungku di sana beberapa kali, lalu mengendusnya lagi. Setelah itu, aku diam-diam mengirimkan pesan, [Tante, badanmu wangi sekali!]

Rasanya seperti menunggu selama satu abad sampai dia membalas pesan. Aku sempat agak kecewa, tapi nyali nakalku belum mati. Bagaimanapun, dia tak menghindar atau memprotes, ‘kan?!

Aku pun jadi semakin berani. Tak hanya mengusapkan hidung, aku bahkan mulai mendaratkan kecupan di sana-sini pada punggungnya. Setiap kali napas hangatku menerpa kulitnya, tubuhnya langsung bergetar karena sensasi itu.

Beberapa saat kemudian, ponselku bergetar. Aku melihat layar, ternyata ada pesan masuk dari tante, [Jangan kelewatan… masih ada orang lain di sini!]

Begitu pesan itu masuk, aku langsung tahu ada kesempatan. Aku juga tahu kalau sebenarnya tante tak berniat menolak. Aku pun buru-buru membalas, [Diam-diam saja, nggak akan ada yang tahu!]

Tante membaca pesan di ponselnya dan tak membalas lagi, tapi aku tahu diamnya adalah bentuk persetujuan.

Tentu saja hal itu membuatku girang setengah mati. Tindakanku menjadi semakin berani, tangan yang tadinya hanya memegang pinggangnya, kini mulai perlahan menyelinap ke balik bajunya, meremas kulitnya yang lembut di area pinggang!

Melihat dia tak berontak sama sekali, aku berniat menaikkan posisi tanganku lebih atas lagi. Tapi, pesan dari tante kembali masuk, [Jangan ke atas lagi, nanti Mona bisa lihat kalau dia menoleh ke belakang!]

Aku pun berpikir dalam hati, ‘baru sampai sini saja!’

Tanganku bahkan belum melewati pinggangnya. Tapi karena tante sudah menolak, aku juga tak ingin membuatnya marah. Kalau tak boleh ke atas, artinya ke bawah tak masalah, ‘kan?

Aku menjulurkan tangan untuk meremas betisnya, dia tak melakukan perlawanan. Setelah bermain beberapa saat di sana, aku perlahan meraba ke atas menuju lipatan lutut dan mulai membelainya.

Wanita di pelukanku itu tampak bergetar. Dia menggigit bibirnya demi menahan desahan yang hampir lolos, tapi sama sekali tak ada gerakan untuk mendorongku menjauh.

Aku berpikir dalam hati, ‘kesempatan sudah datang!’

Kalau aku bermain di bagian bawah, orang di depan pasti tak akan bisa melihat. Kali ini, mari kita lihat bagaimana dia menolakku!

Rok panjang punya keuntungan. Saat duduk, rok itu akan melebar seperti selimut. Selama aku tak merabanya dari arah depan, seberapa berantakan pergerakan di belakang rok itu, tidak akan terlihat dari depan!

Setelah melewati lipatan lutut, target berikutnya tentu saja adalah paha. Tante masih muda dan perawatan tubuhnya sangat baik. Kulit pahanya terasa sangat halus dan mulus, bahkan tak ada bulu halus yang terasa. Ditambah lagi karena bentuk tubuhnya yang berisi, daging pahanya terasa begitu empuk dan sangat nyaman dielus.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Perjalanan Yang Mendebarkan   Bab 11

    Tante bersandar di pundakku dan menangis sepanjang malam.Keesokan harinya dalam perjalanan pulang, suasana di dalam mobil begitu hening sampai-sampai suara napas pun terdengar.Tina tak berbicara sama sekali, tante juga memilih diam saja. Sementara itu, Mona yang tak tahu apa-apa mengira kami semua hanya kelelahan setelah mendaki gunung, jadi dia pun tak banyak bertanya.Sambil menyetir, sesekali aku melirik tante melalui spion tengah. Dia terus menunduk dan kantong matanya masih terlihat memerah.Aku berjanji dalam hati, begitu balik dari sini, aku harus membereskan masalah ini.Cerita setelah itu, kalau diingat kembali memang penuh lika-liku.Aku membawa tante pulang ke rumah untuk menemui orang tuaku. Ibuku langsung marah, dia memaki-maki tante, menyebutnya wanita tua yang tak tahu malu.Sangking marahnya, ayahku juga menggebrak meja. Dia mengancam kalau aku nekat menikahi wanita yang usianya dua puluh tahun lebih tua dariku, dia akan memutuskan hubungan denganku.Namun, aku tak ge

  • Perjalanan Yang Mendebarkan   Bab 10

    Kepalaku langsung berdengung dan tante pun panik setengah mati. Dia kelabakan mencari pakaiannya yang berserakan.Aku menyuruhnya segera bersembunyi di dalam lemari pakaian. Dengan tubuh telanjang sambil memeluk pakaiannya, dia langsung menyelinap masuk ke dalam.Aku asal memakai celana pendekku, menarik napas dalam-dalam, lalu membuka pintu.Tina berdiri di depan pintu dengan mata berkaca-kaca dan sisa air mata di wajahnya terlihat kalau dia baru saja menangis.Dia menatapku, lalu menyapu pandangannya ke dalam kamar. Sambil menggigit bibir, dia bertanya, “Ibuku ada di kamarmu, ‘kan?”“Nggak ada, kok. Bukannya ibumu ada di kamar kalian?” Aku terpaksa berbohong.“Aku sudah dengar semuanya!” Dia langsung mendorongku, menerobos masuk dan memeriksa sekeliling kamar. Hingga akhirnya, tatapan matanya tertuju pada lemari pakaian itu.Pintu lemari memang tertutup, tapi di bagian bawahnya terselip sepotong kain merah muda, itu tali gaun tidur tante.Tina berjalan mendekat, lalu membuka pintu le

  • Perjalanan Yang Mendebarkan   Bab 9

    Aku menghabiskan dua jam lebih untuk menunggu.Sekali-kali aku memeriksa ponsel, lalu beralih mendengarkan suara di luar. Aku benar-benar gelisah seperti semut di atas wajan panas.Lama-kelamaan aku sudah tak sanggup menahan kantuk. Tepat saat aku mulai tak sadar dan hampir terlelap, tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan di pintu sebanyak dua kali.Seketika, aku langsung terlompat dari ranjang dan berlari dengan kaki telanjang untuk membuka pintu.Begitu pintu terbuka, tante sudah berdiri di luar. Rambutnya dibiarkan terurai dan dia mengenakan gaun tidur bertali tipis berwarna merah muda. Bahannya yang tipis melekat erat di tubuhnya dan dari siluetnya yang bulat berisi, terlihat jelas kalau dia tak memakai apa-apa di dalamnya.Wajahnya tampak merona dan tatapan matanya agak salah tingkah. Dia berkata dengan pelan, “Tina sudah tidur.”Aku menariknya masuk, menutup pintu dan memeluknya.Tubuh tante rasanya sangat lembut dan wangi. Saat bersandar di pelukanku, aku bisa merasakan detak j

  • Perjalanan Yang Mendebarkan   Bab 8

    Wajah tante langsung memerah, dia membalas, [Menurutmu? Tentu saja langsung kutelan. Coba kamu pikir, kita berdua sedang jongkok di sana entah lagi berbuat apa, kalau sampai Tina nggak sengaja melirik ke arah bawah, tamatlah riwayat kita! Meskipun aku ceroboh, jangan pernah sepelekan insting wanita dalam urusan seperti ini!][Tante, Tina nggak akan berpikir macam-macam, kok. Bagaimanapun kamu itu ibu kandungnya!][Kamu masih ingat aku itu ibu kandungnya?! Sejak pagi tanganmu sudah nggak bisa diam meraba-raba tubuhku… entah apa yang kamu suka dari wanita tua sepertiku?!][Tante, kamu nggak tua sama sekali! Kamu kelihatan awet muda sekali!]“Aku tahun ini sudah 43 tahun, lho!][Apa? Nggak kelihatan sama sekali, mirip seperti kakaknya Tina. Seharusnya aku panggil kamu kakak!]“Dasar si mulut manis! Sudahlah, aku nggak mau meladenimu lagi, makin dibahas makin menjadi-jadi!] Setelah itu kami berdua tidak lagi saling berkirim pesan. Dia tetap duduk di pangkuanku, sementara aku reflek memelu

  • Perjalanan Yang Mendebarkan   Bab 7

    Meskipun apa yang dilakukannya ini terasa cukup mendebarkan, seiring berjalannya waktu, rasanya tubuhku mulai terbiasa dengan rangsangan tersebut.Tante pun mulai panik dan bertanya berapa lama lagi waktu yang kubutuhkan.Aku tersenyum pahit, “Tante, kalau begini saja rasanya agak kurang. Bagaimana kalau kamu ganti cara lain?”“Dasar kamu, kamu mau ambil kesempatan lagi dengan tante?” ujarnya sambil melotot tajam ke arahku.Aku buru-buru membela diri, “Bukan begitu maksudku. Kalau hanya pakai tangan rasanya agak kurang, bagaimana kalau kamu pakai….”Sambil berbicara, pandanganku tertuju pada bibir merah Tante Fani.Tante langsung paham maksudku. Wajahnya langsung merona dan dia mencubit pahaku, lalu langsung menundukkan kepala dan mendekatkan mulut mungilnya ke arah benda milikku.Seluruh tubuhku bergetar hebat, membuatku tak tahan untuk mendesah pelan.“Tante hebat sekali!”Namun, dia tampak melambaikan tangan padaku menunjuk ke arah belakang mobil. Aku yang terlanjur kegirangan seger

  • Perjalanan Yang Mendebarkan   Bab 6

    [Hehe, nanti kamu ganti celana dalam saja saat di area istirahat, pakai yang basah begitu pasti rasanya nggak nyaman sekali!][Sudahlah, semua pakaian ada di dalam koper, posisinya tertimpa di paling bawah bagasi, susah diambil. Biarkan saja!][Atau kamu lepas saja sekalian?!][Aku nggak pakai apa-apa, dong?! Nggak mau!][Nggak masalah, malah lebih baik daripada harus pakai yang basah!][Nggak apa-apa, nanti aku pakai pantyliner saja!]Melihat tante yang bersikeras menolak, aku tahu kalau saat ini diriku tak akan bisa membujuknya. Jadi, aku harus mencari cara lain lagi begitu sampai di area istirahat berikutnya![Ya sudah kalau begitu, kamu tahan sebentar, ya. Nanti di area istirahat depan, aku coba lihat ada menjual pakaian dalam, nggak?!][Iya, barangmu masih menegang?]Aku berkata dalam hati, ‘tentu saja, kamu puas sendiri, sedangkan aku harus menahannya dari tadi!’[Belum apa-apain, sudah pasti bakal tegang terus, dong! Bagaimana kalau tante bantu aku menuntaskannya?] Aku membalasn

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status