แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Ungu
“Tit tit….”

Tiba-tiba, ponselku bergetar. Aku melihat ada pesan masuk dari tante. Begitu dibuka, pesannya berbunyi, [Gerakanmu terlalu kelihatan! Kalau Mona menoleh ke belakang, dia bisa lihat rokku bergerak-gerak! Apalagi tanganmu terlihat menonjol di balik rok!]

Aku menjulurkan kepala untuk melihat, ternyata benar. Di kedua sisi rok tante, tampak ada benda yang menggembung dan bergerak-gerak di dalam sana.

Setelah berpikir sejenak, aku membalas, [Tante, bantu aku, dong.]

Setelah menerima pesan itu, tante tampak ragu cukup lama, lalu akhirnya bertanya pada Tina, “Tina, kamu bawa selimut?”

“Ibu, kamu dingin? Aku kecilkan saja AC-nya!”

“Nggak… nggak perlu. Paul saja masih kepanasan. Aku hanya merasa posisi dudukku terlalu tinggi, jadi angin AC membuat kepalaku agak pusing!”

Sebenarnya alasan yang dibuat tante ini sangat mudah dicurigai. Udara panas naik ke atas, sedangkan udara dingin turun ke bawah. Saat AC sedang mendinginkan ruangan, udara dingin akan bergerak ke bawah. Karena posisi duduknya lebih tinggi, kepalanya sebenarnya tidak terkena angin AC.

Untungnya Tina dan Mona terlalu khawatir sehingga tidak terpikir sampai ke sana!

“Tante, aku bawa selimut, kok! Biar kuambilkan!” Mona membongkar tumpukan tas di bawah kakinya cukup lama, hingga akhirnya mengeluarkan sebuah selimut tipis!

Setelah menerimanya, tante langsung menyampirkan selimut itu di atas pinggangnya, lalu mengangkat kedua kakinya untuk menumpu selimut tersebut. Dengan begitu, sebesar apapun gerakanku, orang di depan tidak akan bisa menyadarinya!

Terkadang hidup memang seajaib ini. Saat kamu melangkah maju sedikit dan orang lain juga ikut bekerja saja, maka hal-hal yang jauh lebih menarik akan mulai terjadi!

Mendapat lampu hijau dari tante, tentu saja aku langsung mengambil langkah lebih jauh. Tanganku tidak lagi hanya bermain di area paha, melainkan mulai sesekali menyentuh kedua sisi pinggulnya!

Hingga akhirnya, tanganku berhasil menyentuh bagian yang paling penting, pantat tante yang padat dan montok!

Begitu telapak tanganku bersentuhan dengan bagian itu, rasanya sangat puas sampai-sampai diriku hampir saja kelepasan mengerang sangking senangnya.

Di momen ini, aku baru benar-benar paham mengapa ada begitu banyak pria yang menyukai wanita dewasa. Pertama, tentu karena ada sensasi menantang. Kedua, daging di pantat wanita dewasa ini benar-benar luar biasa lembut!

Begitu ditekan dengan jari, langsung terbentuk lekukan kecil yang cukup dalam. Setelah bermain-main selama sekitar lima menit, aku mulai bisa mendengar desahan halus keluar dari mulut tante.

Wanita di pelukanku tampak gemetar dan pantatnya mulai bergerak-gerak gelisah menggesek perutku. Matanya yang agak berkaca-kaca melirik ke arah tanganku yang berada di bawah sana.

Aku tahu diriku sudah bisa bertindak lebih nekat lagi sekarang. Jadi, aku pun mengangkat sedikit pinggul tante, lalu menyelipkan tanganku mengikuti lekukan bokongnya menuju ke area yang paling intim.

Telapak tanganku langsung basah. Dia sudah benar-benar pasrah.

Aku agak mendorong pinggangku ke depan, menggunakan benda milikku yang kembali menegang keras untuk menggesek area basahnya secara perlahan.

Ternyata benar, aku melihat tante langsung meremas sandaran kepala kursi kemudi di depannya sambil mengangkat sedikit pantatnya ke atas. Itu sinyal bahwa dia merespon tindakanku.

Tanpa ragu lagi, aku langsung membuka seluruh bagian belakang rok panjang tante hingga ke pinggangnya. Aku menyenggol tubuhnya memberi kode dan tepat saat tante menurunkan tubuhnya untuk duduk kembali, aku menyentakkan pinggangku untuk menyambutnya….

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Perjalanan Yang Mendebarkan   Bab 11

    Tante bersandar di pundakku dan menangis sepanjang malam.Keesokan harinya dalam perjalanan pulang, suasana di dalam mobil begitu hening sampai-sampai suara napas pun terdengar.Tina tak berbicara sama sekali, tante juga memilih diam saja. Sementara itu, Mona yang tak tahu apa-apa mengira kami semua hanya kelelahan setelah mendaki gunung, jadi dia pun tak banyak bertanya.Sambil menyetir, sesekali aku melirik tante melalui spion tengah. Dia terus menunduk dan kantong matanya masih terlihat memerah.Aku berjanji dalam hati, begitu balik dari sini, aku harus membereskan masalah ini.Cerita setelah itu, kalau diingat kembali memang penuh lika-liku.Aku membawa tante pulang ke rumah untuk menemui orang tuaku. Ibuku langsung marah, dia memaki-maki tante, menyebutnya wanita tua yang tak tahu malu.Sangking marahnya, ayahku juga menggebrak meja. Dia mengancam kalau aku nekat menikahi wanita yang usianya dua puluh tahun lebih tua dariku, dia akan memutuskan hubungan denganku.Namun, aku tak ge

  • Perjalanan Yang Mendebarkan   Bab 10

    Kepalaku langsung berdengung dan tante pun panik setengah mati. Dia kelabakan mencari pakaiannya yang berserakan.Aku menyuruhnya segera bersembunyi di dalam lemari pakaian. Dengan tubuh telanjang sambil memeluk pakaiannya, dia langsung menyelinap masuk ke dalam.Aku asal memakai celana pendekku, menarik napas dalam-dalam, lalu membuka pintu.Tina berdiri di depan pintu dengan mata berkaca-kaca dan sisa air mata di wajahnya terlihat kalau dia baru saja menangis.Dia menatapku, lalu menyapu pandangannya ke dalam kamar. Sambil menggigit bibir, dia bertanya, “Ibuku ada di kamarmu, ‘kan?”“Nggak ada, kok. Bukannya ibumu ada di kamar kalian?” Aku terpaksa berbohong.“Aku sudah dengar semuanya!” Dia langsung mendorongku, menerobos masuk dan memeriksa sekeliling kamar. Hingga akhirnya, tatapan matanya tertuju pada lemari pakaian itu.Pintu lemari memang tertutup, tapi di bagian bawahnya terselip sepotong kain merah muda, itu tali gaun tidur tante.Tina berjalan mendekat, lalu membuka pintu le

  • Perjalanan Yang Mendebarkan   Bab 9

    Aku menghabiskan dua jam lebih untuk menunggu.Sekali-kali aku memeriksa ponsel, lalu beralih mendengarkan suara di luar. Aku benar-benar gelisah seperti semut di atas wajan panas.Lama-kelamaan aku sudah tak sanggup menahan kantuk. Tepat saat aku mulai tak sadar dan hampir terlelap, tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan di pintu sebanyak dua kali.Seketika, aku langsung terlompat dari ranjang dan berlari dengan kaki telanjang untuk membuka pintu.Begitu pintu terbuka, tante sudah berdiri di luar. Rambutnya dibiarkan terurai dan dia mengenakan gaun tidur bertali tipis berwarna merah muda. Bahannya yang tipis melekat erat di tubuhnya dan dari siluetnya yang bulat berisi, terlihat jelas kalau dia tak memakai apa-apa di dalamnya.Wajahnya tampak merona dan tatapan matanya agak salah tingkah. Dia berkata dengan pelan, “Tina sudah tidur.”Aku menariknya masuk, menutup pintu dan memeluknya.Tubuh tante rasanya sangat lembut dan wangi. Saat bersandar di pelukanku, aku bisa merasakan detak j

  • Perjalanan Yang Mendebarkan   Bab 8

    Wajah tante langsung memerah, dia membalas, [Menurutmu? Tentu saja langsung kutelan. Coba kamu pikir, kita berdua sedang jongkok di sana entah lagi berbuat apa, kalau sampai Tina nggak sengaja melirik ke arah bawah, tamatlah riwayat kita! Meskipun aku ceroboh, jangan pernah sepelekan insting wanita dalam urusan seperti ini!][Tante, Tina nggak akan berpikir macam-macam, kok. Bagaimanapun kamu itu ibu kandungnya!][Kamu masih ingat aku itu ibu kandungnya?! Sejak pagi tanganmu sudah nggak bisa diam meraba-raba tubuhku… entah apa yang kamu suka dari wanita tua sepertiku?!][Tante, kamu nggak tua sama sekali! Kamu kelihatan awet muda sekali!]“Aku tahun ini sudah 43 tahun, lho!][Apa? Nggak kelihatan sama sekali, mirip seperti kakaknya Tina. Seharusnya aku panggil kamu kakak!]“Dasar si mulut manis! Sudahlah, aku nggak mau meladenimu lagi, makin dibahas makin menjadi-jadi!] Setelah itu kami berdua tidak lagi saling berkirim pesan. Dia tetap duduk di pangkuanku, sementara aku reflek memelu

  • Perjalanan Yang Mendebarkan   Bab 7

    Meskipun apa yang dilakukannya ini terasa cukup mendebarkan, seiring berjalannya waktu, rasanya tubuhku mulai terbiasa dengan rangsangan tersebut.Tante pun mulai panik dan bertanya berapa lama lagi waktu yang kubutuhkan.Aku tersenyum pahit, “Tante, kalau begini saja rasanya agak kurang. Bagaimana kalau kamu ganti cara lain?”“Dasar kamu, kamu mau ambil kesempatan lagi dengan tante?” ujarnya sambil melotot tajam ke arahku.Aku buru-buru membela diri, “Bukan begitu maksudku. Kalau hanya pakai tangan rasanya agak kurang, bagaimana kalau kamu pakai….”Sambil berbicara, pandanganku tertuju pada bibir merah Tante Fani.Tante langsung paham maksudku. Wajahnya langsung merona dan dia mencubit pahaku, lalu langsung menundukkan kepala dan mendekatkan mulut mungilnya ke arah benda milikku.Seluruh tubuhku bergetar hebat, membuatku tak tahan untuk mendesah pelan.“Tante hebat sekali!”Namun, dia tampak melambaikan tangan padaku menunjuk ke arah belakang mobil. Aku yang terlanjur kegirangan seger

  • Perjalanan Yang Mendebarkan   Bab 6

    [Hehe, nanti kamu ganti celana dalam saja saat di area istirahat, pakai yang basah begitu pasti rasanya nggak nyaman sekali!][Sudahlah, semua pakaian ada di dalam koper, posisinya tertimpa di paling bawah bagasi, susah diambil. Biarkan saja!][Atau kamu lepas saja sekalian?!][Aku nggak pakai apa-apa, dong?! Nggak mau!][Nggak masalah, malah lebih baik daripada harus pakai yang basah!][Nggak apa-apa, nanti aku pakai pantyliner saja!]Melihat tante yang bersikeras menolak, aku tahu kalau saat ini diriku tak akan bisa membujuknya. Jadi, aku harus mencari cara lain lagi begitu sampai di area istirahat berikutnya![Ya sudah kalau begitu, kamu tahan sebentar, ya. Nanti di area istirahat depan, aku coba lihat ada menjual pakaian dalam, nggak?!][Iya, barangmu masih menegang?]Aku berkata dalam hati, ‘tentu saja, kamu puas sendiri, sedangkan aku harus menahannya dari tadi!’[Belum apa-apain, sudah pasti bakal tegang terus, dong! Bagaimana kalau tante bantu aku menuntaskannya?] Aku membalasn

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status