LOGIN“Yang Mulia sudah jelas bahwa anda sangat dihargai Yang Mulia Kaisar, lihat, anda bahkan dihadiahi burung pipit!”Yiyi dengan semangat berceloteh di belakang Rhanora.Kini Rhanora dan rombongan sudah berada di kediaman tempat Rhanora tinggal.Rhanora hanya mengangguk acuh tak acuh pada ucapan Yiyi, tidak terlalu memperhatikan apa yang baru saja diucapkan oleh dayang kecil itu, pikirannya melayang entah kemana. Dayang Chu yang menyadari bahwa Rhanora sedang tidak berminat pun menyuruh Yiyi untuk diam. “Hush, Yiyi, lebih baik gunakan energimu untuk merapikan tempat tidur Yang Mulia.”Yiyi memajukan bibirnya sebal namun ia tetap mengangguk dan pergi untuk merapikan tempat tidur Rhanora. Lalu Dayang Chu juga pamit untuk pergi memberitahu dapur untuk memasak makan malam.Kini di dalam ruang untuk menyambut tamu hanya Linlin dan Rhanora.“Apa yang sedang anda bingungkan Yang Mulia?” tanya Linlin dengan suara pelan. Ia dengan telaten menuangkan teh hangat ke cangkir.Rhanora menghela napas.
“Tentu, Selir Agung Wen.”Pada akhirnya Rhanora hanya membalas seperti itu dan meski begitu, sang Selir Agung nampak puas dengan jawaban Rhanora.Selir Agung Wen tersenyum lebih lembut namun kata-kata selanjutnya membuat Rhanora termenung.“Yang Mulia, anda tentu tahu kalau Kaisar Naga tidak bisa hanya ditemani oleh satu orang wanita saja.” Ah akhirnya menuju ke pokok pembahasan utama, pikir Rhanora dalam hati, meski begitu perempuan pemilik surai rambut emas ini masih menyunggingkan senyum tipis tanpa ada perubahan ekspresi yang berarti.“Tentu saja, Permaisuri adalah kekasih jiwa Kaisar Naga sementara wanita lain adalah.. permata yang menghias jiwa Kaisar.” Lanjut sang Selir Agung dengan nada yang terbilang tenang. Sang Selir Agung menelisik ekspresi Rhanora.Tanpa permata pun seorang Kaisar bisa hidup, lagi Rhanora hanya bisa membalas dalam hati sambil berpura-pura mendengarkan dengan saksama. Melihat bahwa Rhanora tidak mengubah ekspresinya namun juga tidak mengiyakan atau memba
Dayang Chu mempersilakan Rhanora maju terlebih dulu, sementara Linlin dan Yiyi mengikuti di belakang dengan membawa kotak hadiah —sebuah tradisi kecil sebagai ramah tamah ketika mengunjungi seseorang yang lebih tua.Lorong menuju paviliun Selir Agung Wen tenang namun atmosfernya berbeda jauh dari area kediaman Rhanora. Semakin jauh mereka melangkah, semakin banyak pelayan yang berhenti, membungkuk dalam-dalam, lalu menyingkir ke samping. Status calon Permaisuri benar-benar terasa di sini.Namun, Rhanora tidak membiarkan hal itu memengaruhi langkahnya.Begitu mereka berhenti di depan pintu besar berlapis kayu gelap, Dayang Mi membungkuk dalam sebelum berbicara.“Yang Mulia, Selir Agung Wen telah menanti kehadiran anda.”Rhanora mengangguk, tangan halusnya mengepal kecil di balik lengan hanfu untuk meredakan gugup yang tak ingin ia tunjukkan.Dayang Mi mengetuk dua kali lalu mendorong pintu perlahan.Aroma bunga osmanthus lembut keluar dari dalam ruangan.Rhanora melangkah masuk dengan
“Yang Mulia, hamba Dayang Chu mulai sekarang akan menjadi kepala dayang yang akan melayani anda. Saya juga membawa beberapa dayang dan kasim atas perintah Yang Mulia Kaisar.”Keesokan paginya ketika Rhanora sedang sarapan pagi, Dayang Chu datang membawa beberapa dayang dan kasim yang berjajar rapi di belakang Dayang Chu.Sesaat setelah Dayang Chu berkata, para dayang dan kasim yang dikirim melayani Rhanora pun berlutut dan berkowtow memberi salam kepada calon Permaisuri Kekaisaran Thagon.“Salam kepada kekasih jiwa Kaisar Naga, panjang umur ratusan tahun!”Mau sampai kapanpun Rhanora tidak akan terbiasa dengan cara penghormatan seperti ini.Seperti yang diajarkan oleh Dayang Chu, Rhanora menunggu sebentar sebelum membiarkan para pelayan untuk berdiri. Rhanora lalu menatap Dayang Chu, “kau bisa mengatur mereka sesuai keahlian mereka masing-masing.”“Hamba mengerti Yang Mulia.”****“Yang Mulia bagaimana dengan warna kain ini?”“Yang Mulia bunga-bunga yang dikirim Perbendaharaan sudah d
“Yang mulia.”Suara Linlin membuat Rhanora yang melamun menatap ramainya ibukota Kekaisaran Thagon pun menoleh. Setelah pelajaran tata krama yang melelahkan itu, akhirnya Rhanora pun diizinkan untuk menapaki kaki ke Istana Dalam dan bersiap untuk pernikahannya yang hanya tinggal menghitung hari saja.Pernikahan yang tidak didasari cinta.Sungguh mahal sekali kata cinta itu di kehidupan Rhanora. “Sebentar lagi kita akan memasuki Istana.” Linlin mengingatkan dengan lembut meski wajahnya masih sedatar biasanya, ada kekhawatiran yang terpampang jelas di manik mata segelap tinta itu. Rhanora tersenyum kecil. Senyum yang lebih seperti pengakuan pahit daripada ketenangan, ia menarik napas dan membuangnya perlahan. Ia mengangguk. “Aku tahu Linlin.”Rhanora mengerti dengan jelas begitu melewati gerbang utama itu, kebebasannya akan berakhir. Ia tidak akan bisa keluar lagi tanpa izin dari sang Kaisar—lelaki yang bahkan belum benar-benar ia kenal.Kekaisaran Thagon jauh berbeda dari Valory. Di
Pada malam hari ketika semua orang tidur terlelap, beberapa hari setelah pelatihan tata krama yang dilakukan Rhanora. Di istana dalam Kekaisaran Thagon. Seorang pria duduk di kursi dengan pakaian berwarna hitam bersulam naga emas, sementara itu dihadapan meja kerjanya seorang wanita paruh baya menunduk dalam memberi laporan.“Hamba sudah melatih Yang Mulia kekasih jiwa Kaisar Naga mengenai tata krama, namun hamba belum yakin beliau sudah bisa masuk ke istana atau belum.”“Dayang Chu, kau adalah dayang senior istana dan juga dayang yang telah mengikuti mendiang ibunda semasa ia masih hidup, tapi bahkan kau tidak bisa melatih seseorang yang merupakan Putri Kekaisaran Valory dalam satu minggu?” Dayang Chu segera berkowtow, tubuhnya gemetar hebat. “Hamba memohon maaf Paduka Kaisar. Bukan karena hamba tidak berusaha, tetapi Yang Mulia Rhanora memiliki kebiasaan yang berbeda. Beliau tidak terbiasa dengan cara membungkuk sedalam yang dilakukan di Thagon, dan terkadang ia terlalu berani men







