Masuk“Kau masih saja mendiami-ku, Paman. Aku minta maaf soal Moreau. Tapi, bisakah jangan menghapus namaku dari daftar pemegang proyek besar? Itu sedikit membuatku kurang konsentrasi, karena aku tidak akan mendapat kesempatan untuk selangkah lebih maju. Mengertilah ... semua kulakukan karena—“
Froy tidak cukup yakin apakah ini adalah saat – saat yang tepat mengungkapkan hal yang belakangan menjadi akar permasalahan. Namun, salinan email sudah menegaskan beberapa bagian sebagai bencana besarTidak tahu alasan seperti apa yang dapat Abihirt gunakan ketika pria itu memutuskan gaun merah untuk melengkapi acara makan malam mereka. Moreau selalu ingin bertanya langsung, meski sering kali menahan diri dari hasrat tersebut.Bagaimanapun, dia juah lebih mengagumi selera Abihirt dan betapa telitinya pria itu mengenai ukuran yang tepat. Dress merah ini ... membuat Moreau merasa sangat sempurna dalam balutan begitu pas. Perutnya memang masih belum menunjukkan perubahan signifikan. Mungkin beberapa minggu ke depan. Dia tak bisa membayangkan akan sebesar apa nanti. Mengandung dua bayi sudah cukup kewalahan, apalagi kembar tiga.Moreau menelan ludah kasar sambil berusaha menyingkirkan pelbagai perasaan tak terduga yang menyeretnya sampai ke dasar jurang. Anak – anak sedang makan dengan lahap. Sebuah restoran di mana mereka hanya berempat; memungkinkan Moreau mengingat bahwa Abihirt menyewa seisi gedung.Privasi.Ya, mereka menghargai privasi. Meski bukan saat – s
“Aku bisa jalan sendiri, Abi.”Perubahan Abihirt nyaris tidak bisa dimengerti, tetapi Moreau tak berdaya sekadar menolak setiap detil tindakan yang pria itu lakukan. Tiba – tiba mengangkat tubuhnya setelah mereka sampai di halaman depan rumah, sementara anak – anak dititipkan kepada Emma.“Kau dengar aku bicara atau tidak, Abi?” tanya Moreau sedikit tidak sabar. Dia memang lelah. Namun, di balik semua itu ... merasa baik – baik saja. Tidak perlu menganggap kehamilan ini akan bermasalah dan tak harus menanggapi suasana di antara mereka secara berlebihan.“Aku mendengarmu, Mommy. Kau sangat cerewet saat sedang hamil.”Moreau memutar mata malas. Itu jelas tidak benar. Dia tidak cerewet. Hanya merasa tak nyaman karena sikap Abihirt yang cenderung membuat kebebasan terasa seperti ruang kecil yang makin menyempit. Kendati, dia masih belum memiliki kesempatan untuk sekadar melakukan perlawanan lebih besar.Mereka sedang dalam perjalanan melewati undakan tangga. Akan men
Mereka sudah berada di mobil setelah pembicaraan serius bersama dokter kandungan. Ntahlah, Moreau nyaris tak bisa menafsirkan mana berita bagus dan tidak saat ini. Semua masih begitu mengejutkan. Dia tahu bagaimana rasanya mengandung anak kembar, tetapi seakan yakin bahwa tubuhnya mungkin tak sanggup membawa tiga bayi sekaligus. Siapa yang perlu disalahkan terhadap situasi seperti ini? Sungguh, Moreau masih begitu buntu sekadar mencari jawaban. Mungkin butuh waktu lebih panjang untuk merenungi hasil akhir; bagaimana jika ternyata kehamilan ini bukan apa – apa? Situasi di antara mereka akan baik – baik saja? Dan dia bisa menjadi kuat terhadap apa pun? Moreau sempat tersentak merasakan seseorang menyentuh punggung tangannya. Dia menunduk; menemukan siapa pelaku terduga, lalu dengan cepat menepis lengan Abihirt. Napas pria itu terdengar berembus kasar. “Dokter bilang suasana hati ibu hamil memang akan berubah – ubah. Tapi kau tak menyalahkanku karena membuatmu ham
Pemandangan di depan sana ... seharusnya bukan kejutan besar. Moreau tidak tahu. Hanya terpaku, seolah butuh waktu lebih lama untuk mencerna situasi mendadak yang harus ditangani tanpa berusaha meledakkannya secara berlebihan. Dia hamil. Lagi. Kali ini dengan suasana berbeda. Si kembar meminta adik. Abihirt juga menginginkan bayi. Namun, terhadap hubungan rumit mereka ... apa yang bisa Moreau katakan?Semua seperti tiga dimensi yang begitu kabur. Dia berusaha tetap tenang dan akhirnya mengatur napas supaya tidak berdebar secara berlebihan.Kesalahan di masa lalu adalah menyembunyikan kehamilannya dari Abihirt. Moreau rasa, dia tidak punya hak untuk melakukan hal yang sama.Mereka perlu berbagi supaya Abihirt bisa lebih terbuka. Ingin pria itu tahu bahwa dia masih berusaha menaruh kepercayaan, meski sangat dibutuhkan pondasi yang kokoh mengenai prospek tersebut.Tidak terlalu buruk saat sudah mencobanya. Moreau tersenyum sambil memegang alat test pack sebagai tuj
Percikan air menjadi sumber suara paling keras di pagi hari. Moreau tidak tahu mengapa dia terbangun dan merasakan efek tidak nyaman di perutnya. Semua masih baik – baik saja semalam. Bukan seperti sekarang ini. Sensasi membakar yang juga sampai di ujung tenggorokan. Berulang kali Moreau membungkuk di depan wastafel. Berharap bisa memuntahkan sesuatu, meski itu nyaris terdengar percuma. “Ada apa denganmu?” Sebaliknya, suara serak dan dalam Abihirt meninggalkan sensasi mengejutkan. Moreau tidak akan mengatakan apa – apa, jika pria itu akhirnya menyadari sesuatu yang tidak biasa di antara mereka. Dia segera membasuh wajah dengan cepat, sambil memperhitungkan saat – saat ketika langkah Abihirt dibawa lebih dekat. Dari pantulan cermin, posisi mereka terlihat hampir tidak berjarak. Tidak ada penyangkalan. Lagi pula, Moreau kembali merasakan sesuatu yang membara panas di tubuhnya. Dia lagi – lagi membungkuk. Walau masih diliputi hasil yang sama. “Kau sakit, Moreau?” Kali ini sua
Moreau mengerang saat pinggul seksi itu terus menumbuknya. Tubuh mereka sudah licin berkeringat, tetapi Abihirt tidak akan berhenti sebelum keinginan pria tersebut benar – benar tuntas.Erangan mereka beradu bebas ke udara. Moreau menyukai saat – saat Abihirt menggeram kenikmatan, sementara kedua tangan pria itu tak tinggal diam. Terus meremas payudara dan memainkan puncaknya.Wajah Abihirt begitu sempurna dengan taburan keringat mengucur dari kening. Apa lagi, saat mata kelabu itu menatap serius ke arahnya.Moreau seperti tidak memiliki pilihan selain terjebak dengan pemandangan yang begitu menakjubkan. Kejantanan Abihirt terasa penuh dan sesak. Dia menengadah begitu mulut pria itu jatuh menyesap puting yang mengeras. Sesekali Abihirt memberi gigitan kecil. Mengirim sinyal ... betapa nikmatnya penyatuan mereka di bawah sana. Seperti membiarkan paket kombo menyerang, sedangkan dia sudah cukup kewalahan. Moreau tanpa sadar memindahkan jari – jari tangan ke bahu Abihi
Setelah menarik napas cukup dalam. Moreau menuntut diri supaya siap, lalu berkata, “Kau tahu dari awal kalau aku tidak pernah menginginkan ini. Mungkin kau membuatku terbiasa, atau aku tak akan pernah benar – benar terbiasa. Sesuatu membuatku mendapatkan sudut pandang yang buruk tentang seks.”
Tidak tahu mengapa Moreau seolah terjebak, nyaris tak dapat mengatakan apa – apa sekadar menjatuhkan pilihan yang membingungkan. Masih menatap ragu pada klip di tangan Abihirt, tetapi kemudian pria itu mengambil tindakan sekadar menyentuh lengannya lembut. Menuntun supaya dia menurut; menjatuhkan
“Kau mungkin memang sayang kepada Chicao. Tapi, ibuku dan Bibi Gloriya benar. Bukankah terlalu berbahaya membiarkan Froy sampai melukai bahumu seperti kemarin? Bagaimana jika kapak yang Froy gunakan malah membuat tanganmu putus? Bagaimana kalau—“ “Kenapa? Kau takut tidak ada lagi yang aka
“Bukankah bagus jika ibumu mantan figure skating. Kau bisa mempertemukanku dengannya dan aku bisa belajar lebih banyak—“ “Kau ingin bertemu dengannya di alam kubur?” Begitu saja. Mendesak Moreau diam beberapa saat. Dia sungguh tidak pernah bermaksud atau setidaknya sampai membuat Abihi







