تسجيل الدخولSelamat membaca dan semoga suka, MyRe. Sehat selalu buat kalian semua yah ... Papai ... IG:@deasta18
Namun …- "Argk." jerit Kaina tertahan. Tiba-tiba saja Xavier kembali menjewer telinganya. "Siapa?! Katakan siapa pria yang kau sukai agar kupenggal kepalanya! Katakan!" geram Xavier, jauh lebih marah dari yang sebelumnya. Jewerannya di telinga Kaina juga lebih kuat. "A-aaargk, sakit!" horor Kaina. Matanya sudah berair karena kesakitan, "enggak ada, Kak. Maksudnya aku ini normal lah!" pekik Kaina. Sera bangkit dari tempatnya lalu menarik tangan Xavier supaya menjauh dari telinga sahabatnya. "Mas, stop!" tegur Sera pelan, tetapi melotot penuh peringatan pada Xavier. "Huh." Xavier mendengus. Dia melepas tangannya dari daun telinga adiknya lalu duduk di kursi yang bersebelahan dengan Sera. Sedangkan Aiden, dia sudah duduk di sebelah Kaina. "Ck." Kaina mengusap daun telinganya yang sudah memerah sambil menatap kesal setengah mati pada kakaknya. Sedangkan Sera, dia meraih tasnya, mencari-cari kompres instan. Setelah menemukannya, dia menempelkannya pada daun telinga Kaina. Sa
"Ser, kamu tahu nggak kalau bentar lagi Kak Xavier bakalan ulang tahun?" tanya Kaina, di mana saat ini dia dan Sera sedang makan siang di sebuah restoran cepat saji terdekat. Sera menganggukkan kepala sambil senyum cerah. "Tahu dong! Kan suamiku, ya kali ulang tahunnya nggak aku tahu." "Semangat banget," ucap Kaina sambil melirik curiga pada Sera, "hadiah udah kamu siapain?" "Udah." Sera menganggukkan kepala secara antusias. "Awalnya aku mau kasih satu hadiah, udah aku pesan ke Ayah. Soalnya Ayah yang pergi ke acara lelang waktu kemarin." "Wow! Hadiah apa tuh sampe ke lelang dapetinnya?" gumam Kaina. "Rahasia." Sera cengar-cengir, "trus karena kebetulan … ekhem, jadi aku masukin dia ke list hadiah. Jadi hadiahku ada dua." "Ekhem? Apaan tuh?" Kaina mengerutkan kening. "Rahasia lagi." Sera cengengesan pada akhir kalimat, "eih, hadiahnya ada tiga, Pung. Satunya rekomendasi Mama mertua." "Cieee … udah panggil Mama mertua." Kaina menaik turukan alis, menggoda Sera yang terlihat
"Masih betah yah manggil mama mertua sendiri dengan sebutan Tante," ucap Kaina, menggiring Sera untuk masuk ke dalam mobilnya. "Maaf," guman Sera pelan. Kaina tak langsung menjawab. Dia menyalakan mesin mobil lalu segera pergi dari sana. "Kata Mommy, kamu berhasil bikin Kak Safara paham dan mulai menerima diri sendiri. Tapi … anehnya kamu kok enggak," ucap Kaina santai, melirik Sera sejenak karena dia sedang mengemudi. "Hehehe …." Sera cengengesan. "Coba cerita ke aku, masalah kamu dengan Mama kamu apa? Aku sebenarnya nggak mau maksa karena aku paham luka itu harus dibungkus agar tidak tercemar oleh bankeri dan debu. Cuma, untuk mengobati luka, perbannya harus dibuka kan?" ucap Kaina panjang lebar. Nadanya rendah dan ekspresinya tenang. Sera senyum tipis sambil menatap hangat pada Sera. "Jangan sekarang yah, Kai. Aku masih belum cukup kuat untuk bisa menceritakannya padamu. Tapi aku janji, aku akan menceritakannya."Kaina menoleh pada Sera, dia menganggukkan kepala secara pelan
"Sudah pulang," jawab Xavier pelan. "Hah." Sera seketika menghela napas secara lega."Kau kenapa, Ghazalah?" tanya Xavier pelan sambil mengusap pucuk kepala Sera. Sera mendongak pada Xavier lalu menggelengkan kepala secara pelan. "Aku tidak kenapa-napa."'Kau berbohong.' batin Xavier pelan, menundukkan kepala sambil mengamati wajah istrinya secara lekat dan intens. Dari tatapan mata perempuan ini, Xavier tahu kalau Sera memendam sesuatu—berupaya menutupi perasaan atau masalah yang dia punya. "Aku mau mandi," ucap Sera tiba-tiba. "Humm." Xavier melonggarkan pelukannya pada Sera dan membiarkan perempuan itu turun dari ranjang. Namun, dia ikut turun dari ranjang dan bahkan ikut masuk ke dalam kamar mandi. Sera menatap Xavier dengan ekspresi wajah muram. Hais! Kenapa makhluk ini ikut masuk ke dalam kamar mandi. Padahal Sera tidak sedang bermain jailangkung, tapi entah kenapa dedemit satu ini terpanggil untuk datang."Dari tatapanmu, sepertinya kau sudah tidak sabar mandi bersamaku,"
"Mungkin karena melihat Ayah berlutut, Tuan Xavier akhirnya luluh. Namun, dia tak langsung membantu karena menurutnya perusahaan kita sudah tidak layak untuk dipercayai. Oleh karena itu dia ingin jaminan berupa harta berharga dan hal yang sulit Ayah lepas dari hidup Ayah." Sera masih diam, tetapi dia benar-benar mencerna. "Sebenarnya, itu cara halus Tuan Xavier untuk mengusir Ayah. Di saat itu, jangankan harga berharga, tetap bisa makan saja kita sudah syukur. Tapi Ayah tidak mau menyerah begitu saja, Ayah harus dapat bantuan untuk bangkit dan mengalahkan Bunga. Dititik itu, Ayah teringat padamu dan … tanpa sadar Ayah menawarkanmu sebagai jaminan. Dan ajaibnya, Tuan Xavier bersedia menjadikanmu sebagai jaminan." Sera mengerjap berulang kali, menatap ayahnya dengan ekspresi wajah campur aduk. "Saat Ayah menikahkanmu dengan Tuan Xavier, Ayah langsung menanam janji pada diri Ayah sendiri. Dalam satu tahun, Ayah harus sudah bangkit, Ayah harus menebus utang secepatnya supaya Ayah bi
"Ya Tuhan!" ucap Diego sambil menatap putrinya yang sudah tidur di sofa dengan memijat pelipis. Xavier yang juga ada di sana—ingin pulang ke Adam'Group, senyum geli melihat kelakuan istrinya. Bagiamana tidak? Tadi perempuan ini makan begitu banyak dan sekarang dia tertidur. Apa setiap hari begini kelakuan istrinya selama bekerja di sini? Ck, menggemaskan!! "Sera!" panggil Diego dengan suara menggeram rendah. Sera mengangkat kepala lalu menoleh ke arah ayahnya. "U-udah jam makan siang yah, Yah?" ucap Sera dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka. Dia mengambil posisi duduk di sofa—menyandar sambil menggaruk tangan, masih mengumpulkan nyawa. "Makan siang kepalamu!" geram Diego lagi, "sana cuci muka." "Huaaah ...." Sera menguap cukup lebar, setelah itu kembali membaringkan tubuhnya di atas sofa. "Jangan tidur lagi, Sera Ghazalah!" peringat Diego, "ini masih jam kerja!" ucapnya lagi sambil mendekat pada putrinya. "Biarkan saja, Ayah Mertua," ucap Xavier tiba-tiba. Dia masi
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring







