Mag-log inSelamat membaca dan semoga suka, MyRe. Papai ... IG:@deasta18
"Tapi Mommy dan Daddy nikahnya memang karena itu yah, Mom? Karena Mommy dan Daddy begituan?" ucap Kaina tiba-tiba. Uhuk' uhuk' Aluna langsung terbatuk-batuk, padahal dia sudah selesai minum! Gara-gara batuk, Aluna kembali minum. Setelah itu, dia menatap gugup dan cukup malu pada putrinya. Seharusnya Aluna tak menceritakan ini. Namun … sepertinya harus karna seseorang yang menginginkan keluarga ini hancur, bisa saja mengatakan hal yang buruk pada putrinya. "Bu-bukan, Sayang. Iya … ta-tapi bukan juga," jawab Aluna gugup. "Bukan apa iya, Mom?" Kaina mengerutkan kening, "dan … sebenarnya hubungan mantan pengasuh Sera sama Mommy apa sih? Aku jadi bertanya-tanya dan … bingung sendiri," tambahnya dengan pertanyaan lainnya. "Vanessa orang jahat kah, Mom, dulunya?" Sera ikut bertanya. Dia juga penasaran apa hubungan antara mertua dan Vanessa sang mantan pengasuh yang diangkat jadi istri oleh ayahnya. "Oke, Mommy cerita. Tapi jangan bagi tahu ke siapa-siapa yah? Ini rahasia!" peringat Al
"Achk." Vanessa meringis sakit saat tubuhnya jatuh setelah didorong oleh perempuan yang datang tersebut. "Kurang ajar sekali kamu, Aluna!" pekik Vanessa. Aluna mengabaikan Vanessa, memilih menghampiri putri-putrinya. "Kalian tidak apa-apa, Sayang?" tanya Aluna lembut dan penuh perhatian. Kaina dan Sera menganggukkan kepala secara kompak. "Kami tidak kenapa-napa, Mommy," jawab Kaina pelan, mendadak lembut dan manis karena sudah ada mommynya di sini. "Syukurlah," gumam Aluna pelan. Di sisi lain, perempuan yang datang bersama Aluna—Inggita, hanya diam sambil menatap sinis pada Vanessa. Aluna membalikkan badan lalu menatap murka pada Vanessa. "Heh, Tante, sudah lupa yah kamu dengan hukuman yang suami dan kakakku kasih ke kamu?! Mau lagi kamu, Hah?!" ucap Aluna, nadanya cukup stabil akan tetapi tatapannya cukup tajam. "Aku tidak punya urusan denganmu, Aluna. Urusan masa lalu sudah selesai!" dingin Vanessa, dia sudah berdiri dan dibantu oleh putrinya, "aku punya urusannya dengan pu
"Sera," ketus seorang perempuan, dia bersedekap di dada sambil menatap dingin pada Sera. Sera mendongak untuk menatap perempuan itu. Ketika melihat siapa yang memanggilnya, Sera langsung memutar bola mata secara jengah. "Kamu!" kesal Vanessa, berjalan mendekat pada Sera lalu mendorong pundak Sera. Andai saja Kaina tak menahan tubuh Sera, mungkin Sera sudah jatuh. Untung ada Kaina. "Heh, Tua! Jaga sikap yah kamu ke iparku, jangan sampe kugali kuburan buat kamu yah!" marah Kaina, berkata cukup lantang tanpa perduli pada sekitar. Vanessa dan Wilona menoleh ke arah Kaina. Alis Vanessa tampak naik dan wajahnya terlihat kaget. Perempuan ini … mirip dengan pria yang ia harapkan di masa lalu—Kaizen Xavier Adam. Ada sedikit kemiripan dengan Aluna, dan itulah yang membuatnya benci pada gadis ini. 'Bukan hanya bibirnya yang sama dengan Aluna, bahkan cara bicara mereka sama. Sama-sama sialan!' batin Vanessa, mengepalkan tangan karena menahan marah. Ingin sekali dia menampar Kaina, akan tet
"Siapa Rangga?!"Xavier bertanya dengan nada dingin. Ekspresi wajahnya kaku—menahan marah karena pemilik nama itu mengirim pesan pada istrinya. Sebenarnya Rangga sangat tahu siapa pemuda sampah itu. Rangga alasan Xavier nekat menyembunyikan Sera! Namun, Xavier ingin tahu tentang Rangga dari mulut istrinya sendiri."Ra-Rangga?" beo Sera dengan nada rendah dan serak, menatap gugup dan semakin panik pada suaminya. Kenapa Xavier tiba-tiba bertanya tentang Rangga? "Humm." Tatapan Xavier berubah tajam. Caranya berdehem itu seperti ancaman untuk Sera, "katakan, dia siapa?""Dia … teman saat kuliah, Mas," jawab Sera hati-hati. "Hanya teman?" Sera menganggukkan kepala. Xavier tiba-tiba meraih HP Sera, membuka room chet Rangga dengan Sera yang terlihat masih baru. Yah, percakapan di room chet tersebut rata kiri, hanya Rangga yang mengirim pesan dengan nomor baru pada Sera. Namun, pesan yang ia kirim sangat menyebalkan dan membuat darah Xavier mendidih. Semua pesan tersebut pesan suara dan
"Cepat cek ke sana. Sekarang juga!" titah Xyron, berkata dingin dan tak terbantahkan. Gavin meneguk saliva secara kasar lalu segera pergi, patuh pada perintah Xyron. "Caper lagi." Lily berkata pelan, melirik ke arah suaminya—ingin memastikan apakah suaminya akan menyusul Gabby atau tidak. "Dia kayaknya sengaja supaya dapat perhatian dari …- yah, yang tahu-tahu saja," ucap Nakilla, tiba-tiba ikut julit pada Gabby yang mendadak belum pulang ke Villa. Jelas perempuan itu caper! Setelah mereka pergi dari sana, Nakilla menyuruh bodyguard untuk mengambil barang-barang yang tertinggal di pantai bagian barat. Nakilla juga meminta pada bodyguard untuk memberitahu siapapun yang tertinggal di sana agar segera pulang karena badai akan turun. Bodyguard memang tidak memberikan laporan apapun. Akan tetapi, Nakilla yakin sekali jika memang Gabby masih di sana, bodyguard pasti sudah menyuruh Gabby pulang. "Si tukang caper memang begitu," ujar Ruby, tertawa kecil ke arah Nakilla dan Lily. N
"Kaina Ghazan Adam. "A-ampun, Kak, ampun," panik Kaina ketika melihat kakaknya menghampirinya. Namun, sejujurnya inilah niat Kaina. Karena insiden di pantai tadi, Kaina jadi tak berani menghadapi kakaknya. Untuk sekedar berbicara pun dia takut. Oleh karena itu dia memancing kakaknya dengan cara ini, supaya kakaknya bersuara dan berbicara padanya. "Coba ulangi sikapmu tadi di hadapan Kakak," dingin Xavier, menatap tajam dan penuh peringatan pada adiknya. Dia mencondongkan tubuh ke arah Kaina, mendekatkan wajahnya ke wajah Kaina. Satu tangannya di pundak sang adik, menekannya supaya Kaina tak kabur kemna-mana. "A-ampun, Kak, ampun. A-aku sudah bertobat. Ta-tadi hanya bercanda," gugup Kaina. Dia mengangkat tangan dengan jari yang membentuk huruf 'V, lalu memperlihatkan cengiran khas pada sang kakak, "cin-cinta damai, Kak," tambah Kaina. "Awas saja jika kau berani mengganggu istri Kakak, Kai," peringat Xavier, kini meletakkan tangan di atas pucuk kepala adiknya. Dia menepuk-nepu
"Elleh." Sza menatap Aluna dengan mata berang, "katanya mau cerai?" ucapnya. Saat ini Aluna dan Sza berada di kursi tunggu rumah sakit. Kaizen sedang menemui dokter yang memeriksa Aluna untuk menanyakan kondisi Aluna agar lebih pasti dan meyakinkan. "Syuut! Pelan-pelan! Ada Pak Alan," bisik Aluna
"Karena Mas Zen sudah baik padaku, membantuku untuk mengantar bukti rekaman CCTV, hari ini aku mau masakin serba udang buat dia. Umm … sepertinya udang garlic butter enak," monolog Aluna, berjalan antusias ke dalam rumah. Dia baru pulang dari tempat kerja. Sekalipun wajahnya sudah terlihat lelah aka
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e







