Se connecterSelamat membaca dan semoga suka, MyRe.
"Kau ini seperti mommymu saja, pembuktian harus dengan salto," ucap Kaizen dari tempatnya, geleng-geleng kepala sambil menatap tak habis pikir pada sang menantu. Ah, sepertinya perempuan di rumah ini … semuanya gemar salto. Istri, purtinya, dan sekarang menantunya. Mungkin hanya keponakannya perempuan yang normal di rumah ini. "Jangan dengarkan dia, Sayang." Aluna berbisik pelan pada Sera. Satu tangannya memeluk lengan Sera, lalu satu lagi berdiri di dekat sudut bibir—sebagai penghalang saat berbisik supaya gerakan bibirnya tak terbaca, "si tua sok ketampanan tapi memang tampan itu suka bohong. Bukan! Suka fitnah lebih tepatnya, Nak. Kamu tahu?! Mommy habis difitnah sama dia.""Hehehe … i-iya, Mom. Aku kan di sana saat Kai cerita soal itu," cengenges Sera. "Tukang fitnah!" sinis Aluna, memutar bola mata secara jengah lalu menatap sinis pada suaminya. "Aku berniat bercanda, Aimee. Timee yang terlalu serius. Bukan salahku," jawab Kaizen, membela diri sekalipun dia sudah terdakwa ber
"Jangan punya perasaan padanya."Sera menoleh ke arah ayahnya, menatap sayu dengan pancaran mata yang penuh kesedihan. "Cintamu terlalu murah untuk kau berikan padanya, Nak. Lupakan dia dan jangan pernah punya perasaan padanya," ucap Diego lagi. Awal, nadanya begitu lembut, akan tetapi diakhir kalimat nadanya berubah dingin dan penuh peringatan. Saat ini mereka masih di mobil, di mana Diego menyandar di mobil sambil memegang dada yang rasa sakitnya perlahan reda. Akibat kemarahan tadi, dadanya terasa sesak dan sakit. Debaran jantungnya juga tak normal. Diego sudah meminum obat dan sekarang kondisinya berangsur membaik. Sera menatap iba pada ayahnya, bibirnya terkunci rapat dan wajahnya penuh perasaan bersalah. Tes'Sebulir kristal jatuh dari pelupuk mata Sera. Tadi ayahnya kesakitan, Sera sangat takut. Di sisi lain, ucapan ayahnya seperti sosok yang hatinya telah mati, terasa menohok dan menampar hati Sera. "Dia bukan ibumu, Nak. Dia bukan ibumu!" ucap Diego lagi, di akhir kalim
"Argkk …." Jeritan sakit Bunga juga memekik kencang. Perempuan paruh baya itu terjatuh setelah di tampar, tubuh tuanya tak bisa menopang—dengan mudah roboh, bagai gubuk lama yang diterpa topan. Sera yang melihat itu langsung memegang pipi, meringis dan ngilu. Hatinya tak enak melihat Bunga ditampar secara tak manusiawi oleh suaminya. Akan tetapi, Sera sekuat mungkin menekan perasaan iba itu. Dia memilih tutup mata, tak mau tahu, dan mencoba menon-aktifkan simpati di hati. Sedangkan ketiga perias, mereka sangsung berpelukan. Mereka merasa ngeri melihat ini. Di sisi lain, Diego sejujurnya berniat memeluk Sera. Akan tetapi emosinya tengah menguasai dirinya, rasa marahnya pada mantan istrinya tersebut sungguh meluap-luap. Diego langsung menghampiri perempuan jalang itu, berteriak memaki untuk mengungkapkan kemarahannya. "Dasar wanita sialan!" maki Diego, langsung menjambak rambut Bunga dengan sangat kencang lalu menamparnya secara berulang kali. Plak' plak' plak'"Ahgkk …." Bunga han
"Ini aku, Ser …-" Ucapan Sera langsung berhenti, menatap mobil yang terlihat berhenti di seberang jalan—tepat di depannya. 'Sera? I-ini kamu? Kamu di mana sekarang, Ra? Ra?' Di seberang sana, Kiana tampak senang campur panik mendapat telepon dari Sera. Dia sudah tahu kabar hilangnya Sera dan sekarang Sera menghubunginya, Kaina senang. Namun, mendengar suara Sera berhenti begitu saja, Kaina kembali panik. 'Sera, kamu baik-baik saja?'Sera mengerjap beberapa kali, senyum tipis lalu refleks menganggukkan kepala. "Aku nggak apa-apa. Aku baik-baik saja sekarang, Kai. Mas Xavier datang …." ucap Sera pelan, setelah itu segera mematikan ponsel. Sera mengembalikan ponsel pada si penata rias, lalu dia menatap ke arah depan—lebih tepatnya pada seorang pria yang saat ini sedang berjalan terburu-buru ke tempatnya. "Waahh … ta-tampan sekali!" pekik ke-tiga perias, menatap ke arah seorang pria yang saat ini berjalan menghampiri mereka. Sedangkan Sera, semakin dekat sosok itu, jantung Sera semaki
"De-demi uang, Kak," jawab Sera gugup. "Maaf yah, Dek. Kami tidak berani melakukan apa-apa. Soalnya keluarga Wijaya bukan orang sembarangan. Kami hanya orang biasa, kami takut melawannya." Sera diam sejenak karena sedikit panik. Namun, detik berikutnya dia kembali bersuara. Ah, otaknya terlalu encer untuk buntuh dalam waktu cepat. "Tenang, Kak. Keluarga suamiku jauh di atas keluarga Wijaya. Kalau aku selamat, kalian pasti juga bakalan selamat. Bahkan kalian akan mendapatkan hadiah dari keluarga suamiku. Soalnya aku ini berharga untuk keluarga suamiku, aku ini … umm … istilahnya penjinak bom. Hanya aku yang bisa menjinakkan suamiku yang gila, soalnya dia cuma dengerin kata-kataku." Di akhir kalimat, Sera senyum lebar dan cerah pada ketiga perempuan penata rias ini. "Apa yang bisa kami bantu, Dek?" ucap si penyiap gaun pengantin. Dia mulai tergiur karena hadiah yang Sera iming-imingkan. "Boleh pinjam HP?" Sera menatap penuh harap pada ketiganya. Ketiganya serentak menggelengkan kep
"Katakan, di mana kau menyembunyikan putriku?!" marah Diego pada Vanessa, mencengkeram kuat lengan perempuan itu sambil mengatupkan rangan. "A-aku tidak tahu menahu soal Sera, Mas. De-Demi Tuhan!" ucap Vanessa panik. Xavier berdecak pelan, menatap Vanessa campur aduk. Mereka semua memang curiga pada Vanessa karena mendadak perempuan ini ingin berlibur ke luar negeri. Vanessa mereka temukan di bandara, dan saat ini mereka ada di rumah Diego. Xavier cukup putus asa, CCTV halte memang menunjukkan kalau Sera diculik oleh sebuah mobil yang ditutup platnya. Oleh karena itu mobil tersebut sulit dicari dan saat ini masih dalam pencarian. Xavier menduga mobil yang Sera gunakan ditukar di sebuah tempat yang tak ada CCTV-nya karena rekaman CCTV terakhir yang mereka temukan mobil itu mengarah ke jalan menuju desa. Sedangkan, HP Sera ditemukan masih di kota ini—di trotoar menuju kota selatan. "Sepertinya memang bukan dia pelakunya, Ayah," ucap Xavier, duduk di sofa ruang tamu sambil menatap d
"Karena Mas Zen sudah baik padaku, membantuku untuk mengantar bukti rekaman CCTV, hari ini aku mau masakin serba udang buat dia. Umm … sepertinya udang garlic butter enak," monolog Aluna, berjalan antusias ke dalam rumah. Dia baru pulang dari tempat kerja. Sekalipun wajahnya sudah terlihat lelah aka
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m







