LOGIN"Hehehe …." Kaina tertawa canggung saat mendengar kalimat 'lahirlah daddymu si 'tampam akhir. "Dulu, Nenekmu sering bercerita betapa nakalnya Daddymu saat kecil. Bahkan setelah diculik penjahatpun, tak ada tobat-tobatnya. Tetap bandel!""Hah?" Kaina cukup kaget mendengar daddy-nya pernah diculik. Masalah daddy-nya nakal saat kecil, neneknya sudah sering menceritakan itu. Hanya saja, masalah diculik, Kaina baru dengar. "Hu'um. Setelah penculikan yang … entah keberapa yah. Ah, Nenek mulai pikun sepertinya. Intinya, setelah penculikan itu, senyuman Daddymu langsung hilang. Dia menjadi pribadi yang sangat berbeda. Ketika Daddymu sudah dewasa, Nenekmu mulai panik karena Daddymu tak pernah dekat dengan perempuan manapun. Ada satu perempuan yang jadi teman Daddymu, tetapi si perempuan ini sudah punya pasangan dan Daddymu juga menolak menikah dengan perempuan itu. Nenek lupa namanya."'Ouh, Mama tirinya Sera.' batin Kaina, senyum tipis karena dia sedikit tahu kisah orang tuanya."Nenekmu s
"Kaizen?" gumam Luisa dengan nada pelan, matanya tampak melebar dan begitupun dengan pupilnya yang membesar—takjub dan tak percaya pada wajah gadis cantik di depannya. Kaina senyum tipis—cukup kaku. 'Haisz! Nama itu lagi.' batinnya. "Aku purtinya, Nenek," ucap Kaina sambil tersenyum manis. "Kamu putrinya Kaizen si Tampan Akhir itu?" tanya Luisa untuk memastikan. Kaina menganggukkan kepala sambil senyum manis. Di sisi lain, Luisa langsung bergegas duduk, di mana Calean dengan cekatan membantu mamanya untuk duduk. "I-ini putrinya si Kaizen yah, Nak?" tanya Luisa, senyum girang sambil menatap putranya penuh ekspresi wajah yang senang. "Iya, Maa." Calean menganggukkan kepala secara pelan. "Si Kaizen yang … yang itu-- yang anaknya pendiam tapi baik? Yang tampan itu yah? Yang selalu bantu kamu itu kan?" tanya Luisa antusias. Sekalipun sudah jelas, tetapi dia terus memastikan karena saking tak percayanya dia akan bertemu dengan putri dari keponakannya yang pendiam namun tampan itu. D
Elzeren paling benci orang arogan yang suka merendahkan orang lain, sedangkan Kaina menunjukkan kalau dia orang seperti itu. "Kayaknya Kak Freza ini beneran baik yah, Kak. Soalnya sejak dia datang, dia terus-terusan mengotot buat bantuin aku. Padahal aku sama sekali nggak butuh bantuan. Tapi Karena kasihan Kakaknya terus minta-minta supaya aku biarin dia bantuin aku, jadi aku nyuruh dia buat buang tisu bekasku," ucap Kaina, mendongak sedikit pada Elzeren sambil senyum tipis. "Humm." Elzeren berdehem rendah, menatap intens pada Kaina, setelah itu dia menoleh ke arah Freza. "silahkan buang tisunya ke tempat sampah," ucap Elzeren datar. Kemudian dia menggenggam tangan Kaina lalu menarik perempuan itu untuk ikut masuk dengannya. Kaina menoleh sejenak pada Freza dan Sabela, dia senyum manis sambil menatap riang pada kedua perempuan menyedihkan itu. Freza nengepalkan tangan, menatap Kaina dengan wajah marah dan penuh dendam. Dadanya terasa panas, tak terima karena Elzeren malah iku
"Kamu siapa?" Kaina mengerutkan kening, menatap salah satu perempuan di depannya. Perempuan yang berbicara padanya. "Kaina, akhirnya kamu datang," ucap Freza, senyum lembut pada Kaina, "dia ini … Sabela, sepupu Elzeren dari pihak Tante Aeliza," tambahnya, memperkenalkan Sabela pada Kaina. "Cih." Sabela berdecih pelan, bersedekap di dada sambil menatap sinis pada Kaina, "hanya karena Kak El ingin menikahimu, bukan berarti kamu akan jadi Nyonya Smith. Keluarga Smith tidak menerimamu! Nenek juga tidak menyukaimu, yang Nenek Luisa harapkan jadi istri Kak Elzeren itu adalah Kak Freza, bukan kamu. Jadi lebih baik kamu mundur!" Kaina menaikkan sebelah alis, menatap datar pada Sabela yang menurutnya terlalu berisik. Setelah itu, dia melirik ke arah Freza. Sekilas dia bisa melihat perempuan itu senyum sinis. Akan tetapi saat dia menoleh, Freza buru-buru menunjukkan ekspresi wajah murung dan tak enak hati. 'Muka dua.' batin Kaina. "Kaina, kamu nggak usah dengerin Sabela." Freza berka
Ugh! Kaina cukup salah fokus pada pundak lebar pria itu. Da-dan matanya yang nakal beberapa kali mencuri pandang pada perut sosok itu. Namun, mengingat sesuatu, Kaina kembali histeris."Ka-Kak Elzeren ngapain di sini?" tanya Kaina dengan nada shock, matanya masih melotot dan mimik wajahnya sangat tegang. Sebelum Elzeren menjawab, dengan gerakan kaku dan sambil meneguk saliva secara kasar, Kaina menyibak selimut dibagian Elzeren. Dia ingin memastikan sesuatu. "Tidur." Elzeren menjawab santai. "Haih." Kaina sendiri mengabaikan jawaban Elzeren, memilih menghela napas lega sambil mengusap-usap dada. Syukurlah! Elzeren mengenakan celana. Di-dia kira …-Tunggu!Puk'Kaina menepuk jidat sendiri, menatap tubuhnya yang mengenakan piyama lengkap. Ck, pakaiannya utuh dan itu berarti Elzeren tidak melakukan apa-apa padanya kan? Jadi tadi untuk apa dia memeriksa Elzeren mengenakan celana atau tidak? "Kak Eiren tidur di sini?!" Kaina kembali histeris, menatap Elzeren melongo campur was-was.
"Freza tidak mungkin berani bertindak seperti yang kau katakan, Kai."Kaina mengedikkan pundak, acuh tak acuh pada perkataan Elzeren. 'Belalah sahabatmu itu sampai dia semakin meninggi.' batin Kaina. Wajahnya datar akan tetapi hatinya dongkol setengah mati. "Tapi besok aku akan memperingatinya." Elzeren menambahi, "dan jika suatu saat dia seperti yang kau katakan, maka aku akan menghukumnya tepat di hadapanmu," tambahnya lagi. "Whatever." Kaina menjawab acuh tak acuh. Sepertinya Elzeren mencoba menyakinkannya akan tetapi sayang sekali Kaina merasa tak puas. Namun, Kaina mewajarkan tindakan Elzeren. Bagaimanapun Elzeren dan Freza sudah bersahabat sejak lama, tentu Elzeren sulit mempercayai jika sahabatnya punya niatan jahat. Apalagi di sini posisinya Kaina masih orang luar, sangat tak mungkin Elzeren langsung memihak padanya. "Pergi tidur," titah Elzeren kemudian. "Aku ingin pulang." Kaina berdiri lalu segera mengemasi barangnya—hanya memasukkan handphone dan beberapa strawberry k
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring
"Karena Mas Zen sudah baik padaku, membantuku untuk mengantar bukti rekaman CCTV, hari ini aku mau masakin serba udang buat dia. Umm … sepertinya udang garlic butter enak," monolog Aluna, berjalan antusias ke dalam rumah. Dia baru pulang dari tempat kerja. Sekalipun wajahnya sudah terlihat lelah aka
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e







