Mag-log in"Tapi karena ingin fokus pada tujuannya dia memilih memendam rasa." "Oke." Kaina bergumam pelan, lebih serius dari yang sebelumnya. "Kemungkinan paling besar bagian paling benar itu cuma di 'Fokus dan memilih memendam rasa. Selebihnya banyak cela." "Hah?" Kaina mengerutkan kening, bingung dan merasa pusing. "Begini, Beib. Orang yang memang ingin fokus pada dirinya, biasanya memang akan mengesampingkan urusan lain. Jika ada cinta, mungkin dia akan memendamnya. Namun, di sinilah letak celanya. Kita benarkan lah kalau Kak El suka pada Freza, tapi suka tidak cukup membuat Freza istimewa." "Apasih? Aku nggak paham sama sekali. Mending bahas statistik yuk," ucap Kaina sambil menggaruk kepala, pusing karena teori rumit Sera. "Hais! Singkatnya sekalipun benar Kak Eiren suka pada si Freza, tetap si Freza bukan hal penting buat Kak El. Soalnya dia bukan salah satu tujuan hidup Kak El, makanya dikesampingkan." Sera mendengus pelan. "Iya kah?" Kaina senyum cerah sambil menatap penuh ha
"Nyebut, Dewi Bulan!" ucap Kaina pada mommynya, menatap horor campur dongkol. Kaizen lagi-lagi hanya bagian menertawakan. "Siapa tahu kan, Daddy?" Aluna menatap ke arah suaminya, di mana Kaizen menganggukkan kepala sambil menatap geli pada putrinya yang terlihat menahan sebal. "Daddy dan Mommy sama-sama bikin bete," ucap Kaina berang, bersedekap di dada sambil menunjukkan ekspresi cemberut, "untung Nenek Luisa kasih teh anti bete," ucapnya kemudian, di mana wajahnya kembali sumringah ketika mengingat teh pemberian nenek Elzeren.Kaina segera mengambil teh tersebut lalu langsung menyuruh maid untuk membuatkan teh itu padanya, juga pada orang tuanya. "Apa saja sih yang Adek bawa dari rumah Paman dan Tante Aeliza?" tanya Aluna, ikut grusak-grusuk membuka barang-barang putrinya. "Ada strawberry dari Nenek, Mochi juga dari Nenek, permen dari Nenek, pokoknya segala makanan dari Nenek," ucap Kaina, membuka satu kotak strawberry lalu memberikannya pada sang Mommy. Namun, saat daddynya i
"Nenek harus sehat!""Harus! Karena Nenek ingin menyaksikan pernikahanmu dengan Mas Elzeren-mu." Luisa berkata penuh semangat. Kaina lagi-lagi cengengesan, kali ini tampak canggung dan kaku. Setelah pamitan pada nenek Elzeren, Kaina akhirnya diantar ke bandara oleh Elzeren dan orang tua pria itu. Lagi-lagi Kaina merasa sangat terharu karena dia benar-benar seperti seorang anak kandung yang ingin bepergian. ****"Ya Ampun, Kai!!" horor Aluna ketika putrinya pulang dengan segala bawaan yang begitu banyak. Mulut Aluna menganga, menatap tumpukan barang yang putrinya bawa pulang. "I-ini kamu habis liburan atau apa?""Ouh, sudah pulang ternyata," ucap Kaizen yang baru datang dari ruang kerjanya, "Daddy kira kau pulang sambil membawa cucu," tambahnya dengan nada menyindir. "Heh, Mas! Mulutnya yah!" peringat Aluna, melotot galak pada suaminya. Sedangkan Kaina, dia menatap muram pada daddynya. "Kai lagi cape, nggak ada tenaga buat berantem dengan Daddy," gumam Kaina pelan, melirik berang
"Eiren bilang Ina suka strawberry. Jadi Nenek sudah siapkan sedikit strawberry untukmu. Nah, bawa ini pulang," ucap Luisa, menyerahkan tiga kotak strawberry premium pada Kaina. Saat ini Kaina akan pulang ke kotanya. Kali ini benar-benar pulang dan dia sangat senang akan hal itu. Namun, yang membuat Kaina sakit dan terharu adalah nenek Elzeren serta orang tua pria itu datang ke sini khusus untuk bertemu dengannya sebelum benar-benar pulang. Tadi, tantenya memasak makanan kesukaannya. Katanya Kaina harus makan sebelum pulang. Setelah itu, pamannya membawakan banyak oleh-oleh untuknya dibawa pulang. Sekarang, nenek Elzeren yang tiba-tiba saja memberikan tiga kotak strawberry padanya. Ugh! Dia merasa seperti putri dari keluarga ini yang akan pergi ke luar kota untuk kuliah. Semua makanan disiapkan untuk dibawa olehnya!"Ini juga. Permen susu strawberry, coklat strawberry, keripik strawberry, dan mochi strawberry. Ina juga harus bawa ini," ucap Luisa, sibuk mempersiapkan apa saja yang K
"Aku masih mau nonton, Bu. Di kamar nggak ada televisi.""Tap--" Maid tersebut ingin menegur Kaina lagi supaya secepatnya ke kamar. Akan tetapi ucapannya berhenti karena handphonenya berdering. Yang menghubungi asisten Elzeren, akan tetapi dia tahu jika tuannya lah yang nantinya akan berbicara. "Nyonya, Tuan menghubungi," ucap maid dengan wajah cemas, "sepertinya ingin memastikan kalau Nyonya sudah tidur atau belum.""Angkat saja, Bu. Nanti bilang aku sudah tidur," ucap Kaina santai sambil menurunkan volume televisi. "Takutnya Tuan sedang memantau dari CCTV, Nyonya. Umm … gajiku bisa tidak selamat jika berani berbohong pada Tuan," gugup maid tersebut. "Haih. Yaudah deh aku tidur," jawab Kaina muram, pada akhirnya kembali ke kamar. Setelah di kamar, Kaina tak langsung tidur. Dia duduk di sofa dekat balkon, menyalakan ponsel lalu membuka sosial medianya. Ada pemberitahuan di akun sosial media Kaina, di mana akun itu bernama ElFre_. Kaina mengerutkan kening, awalnya dia kira pemili
"Kak, aku harus pulang!" ucap Kaina dengan ekspresi wajah cemas campur kesal. "Ini sudah malam," jawab Elzeren santai, "kau pulang besok saja.""Kak, aku pulang naik pesawat loh." Kaina menatap horor pada Elzeren, "di langit nggak bakalan ada begal. Batman nggak mungkin tiba-tiba nongol habis tuh malak pilot sama penumpangnya. Lagian aku pake jet pribadi Daddy," protesnya, menatap berang pada Elzeren. Sungguh, Kaina sangat benci dan dongkol pada Elzeren. Pria ini menikahinya atas dasar bakti pada daddy Kaina, bukan karena perasaan atau keinginan sendiri. Padahal Kaina sudah memberi kesempatan pada Elzeren untuk membatalkan pernikahan ini, akan tetapi Elzeren tidak mau—mungkin saking patuh dan baktinya pada daddynya Kaina. Memang, daddy Kaina sering membantu keluarga Smith. Daddynya Elzeren dulu belajar bisnis pada daddynya. Sedangkan Elzeren, urusan bisnisnya di kota Kaina menjadi sangat mudah karena dukungan dan bantuan keluarga Adam. Namun, seharusnya ini bukan jadi alasan untuk
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak







