LOGIN"Nenek harus sehat!""Harus! Karena Nenek ingin menyaksikan pernikahanmu dengan Mas Elzeren-mu." Luisa berkata penuh semangat. Kaina lagi-lagi cengengesan, kali ini tampak canggung dan kaku. Setelah pamitan pada nenek Elzeren, Kaina akhirnya diantar ke bandara oleh Elzeren dan orang tua pria itu. Lagi-lagi Kaina merasa sangat terharu karena dia benar-benar seperti seorang anak kandung yang ingin bepergian. ****"Ya Ampun, Kai!!" horor Aluna ketika putrinya pulang dengan segala bawaan yang begitu banyak. Mulut Aluna menganga, menatap tumpukan barang yang putrinya bawa pulang. "I-ini kamu habis liburan atau apa?""Ouh, sudah pulang ternyata," ucap Kaizen yang baru datang dari ruang kerjanya, "Daddy kira kau pulang sambil membawa cucu," tambahnya dengan nada menyindir. "Heh, Mas! Mulutnya yah!" peringat Aluna, melotot galak pada suaminya. Sedangkan Kaina, dia menatap muram pada daddynya. "Kai lagi cape, nggak ada tenaga buat berantem dengan Daddy," gumam Kaina pelan, melirik berang
"Eiren bilang Ina suka strawberry. Jadi Nenek sudah siapkan sedikit strawberry untukmu. Nah, bawa ini pulang," ucap Luisa, menyerahkan tiga kotak strawberry premium pada Kaina. Saat ini Kaina akan pulang ke kotanya. Kali ini benar-benar pulang dan dia sangat senang akan hal itu. Namun, yang membuat Kaina sakit dan terharu adalah nenek Elzeren serta orang tua pria itu datang ke sini khusus untuk bertemu dengannya sebelum benar-benar pulang. Tadi, tantenya memasak makanan kesukaannya. Katanya Kaina harus makan sebelum pulang. Setelah itu, pamannya membawakan banyak oleh-oleh untuknya dibawa pulang. Sekarang, nenek Elzeren yang tiba-tiba saja memberikan tiga kotak strawberry padanya. Ugh! Dia merasa seperti putri dari keluarga ini yang akan pergi ke luar kota untuk kuliah. Semua makanan disiapkan untuk dibawa olehnya!"Ini juga. Permen susu strawberry, coklat strawberry, keripik strawberry, dan mochi strawberry. Ina juga harus bawa ini," ucap Luisa, sibuk mempersiapkan apa saja yang K
"Aku masih mau nonton, Bu. Di kamar nggak ada televisi.""Tap--" Maid tersebut ingin menegur Kaina lagi supaya secepatnya ke kamar. Akan tetapi ucapannya berhenti karena handphonenya berdering. Yang menghubungi asisten Elzeren, akan tetapi dia tahu jika tuannya lah yang nantinya akan berbicara. "Nyonya, Tuan menghubungi," ucap maid dengan wajah cemas, "sepertinya ingin memastikan kalau Nyonya sudah tidur atau belum.""Angkat saja, Bu. Nanti bilang aku sudah tidur," ucap Kaina santai sambil menurunkan volume televisi. "Takutnya Tuan sedang memantau dari CCTV, Nyonya. Umm … gajiku bisa tidak selamat jika berani berbohong pada Tuan," gugup maid tersebut. "Haih. Yaudah deh aku tidur," jawab Kaina muram, pada akhirnya kembali ke kamar. Setelah di kamar, Kaina tak langsung tidur. Dia duduk di sofa dekat balkon, menyalakan ponsel lalu membuka sosial medianya. Ada pemberitahuan di akun sosial media Kaina, di mana akun itu bernama ElFre_. Kaina mengerutkan kening, awalnya dia kira pemili
"Kak, aku harus pulang!" ucap Kaina dengan ekspresi wajah cemas campur kesal. "Ini sudah malam," jawab Elzeren santai, "kau pulang besok saja.""Kak, aku pulang naik pesawat loh." Kaina menatap horor pada Elzeren, "di langit nggak bakalan ada begal. Batman nggak mungkin tiba-tiba nongol habis tuh malak pilot sama penumpangnya. Lagian aku pake jet pribadi Daddy," protesnya, menatap berang pada Elzeren. Sungguh, Kaina sangat benci dan dongkol pada Elzeren. Pria ini menikahinya atas dasar bakti pada daddy Kaina, bukan karena perasaan atau keinginan sendiri. Padahal Kaina sudah memberi kesempatan pada Elzeren untuk membatalkan pernikahan ini, akan tetapi Elzeren tidak mau—mungkin saking patuh dan baktinya pada daddynya Kaina. Memang, daddy Kaina sering membantu keluarga Smith. Daddynya Elzeren dulu belajar bisnis pada daddynya. Sedangkan Elzeren, urusan bisnisnya di kota Kaina menjadi sangat mudah karena dukungan dan bantuan keluarga Adam. Namun, seharusnya ini bukan jadi alasan untuk
"Hehehe …." Kaina tertawa canggung saat mendengar kalimat 'lahirlah daddymu si 'tampam akhir. "Dulu, Nenekmu sering bercerita betapa nakalnya Daddymu saat kecil. Bahkan setelah diculik penjahatpun, tak ada tobat-tobatnya. Tetap bandel!""Hah?" Kaina cukup kaget mendengar daddy-nya pernah diculik. Masalah daddy-nya nakal saat kecil, neneknya sudah sering menceritakan itu. Hanya saja, masalah diculik, Kaina baru dengar. "Hu'um. Setelah penculikan yang … entah keberapa yah. Ah, Nenek mulai pikun sepertinya. Intinya, setelah penculikan itu, senyuman Daddymu langsung hilang. Dia menjadi pribadi yang sangat berbeda. Ketika Daddymu sudah dewasa, Nenekmu mulai panik karena Daddymu tak pernah dekat dengan perempuan manapun. Ada satu perempuan yang jadi teman Daddymu, tetapi si perempuan ini sudah punya pasangan dan Daddymu juga menolak menikah dengan perempuan itu. Nenek lupa namanya."'Ouh, Mama tirinya Sera.' batin Kaina, senyum tipis karena dia sedikit tahu kisah orang tuanya."Nenekmu s
"Kaizen?" gumam Luisa dengan nada pelan, matanya tampak melebar dan begitupun dengan pupilnya yang membesar—takjub dan tak percaya pada wajah gadis cantik di depannya. Kaina senyum tipis—cukup kaku. 'Haisz! Nama itu lagi.' batinnya. "Aku purtinya, Nenek," ucap Kaina sambil tersenyum manis. "Kamu putrinya Kaizen si Tampan Akhir itu?" tanya Luisa untuk memastikan. Kaina menganggukkan kepala sambil senyum manis. Di sisi lain, Luisa langsung bergegas duduk, di mana Calean dengan cekatan membantu mamanya untuk duduk. "I-ini putrinya si Kaizen yah, Nak?" tanya Luisa, senyum girang sambil menatap putranya penuh ekspresi wajah yang senang. "Iya, Maa." Calean menganggukkan kepala secara pelan. "Si Kaizen yang … yang itu-- yang anaknya pendiam tapi baik? Yang tampan itu yah? Yang selalu bantu kamu itu kan?" tanya Luisa antusias. Sekalipun sudah jelas, tetapi dia terus memastikan karena saking tak percayanya dia akan bertemu dengan putri dari keponakannya yang pendiam namun tampan itu. D
"Karena Mas Zen sudah baik padaku, membantuku untuk mengantar bukti rekaman CCTV, hari ini aku mau masakin serba udang buat dia. Umm … sepertinya udang garlic butter enak," monolog Aluna, berjalan antusias ke dalam rumah. Dia baru pulang dari tempat kerja. Sekalipun wajahnya sudah terlihat lelah aka
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring







