MasukNamun, karena Aluna tak tahu benda bagian mana yang Kaizen pasang chip pelacak, akhirnya dia mutuskan meninggalkan cincin pernikahannya, handphone, dompet, gelang, dan benda lainnya. "Lukamu … apa Om Kaizen yang …-" Aluna menggelengkan kepala dengan cepat sambil melebarkan mata pada kakaknya. "Lukaku karena tadi siang aku tertabrak, Kak," ucap Aluna pelan. "Kua tertabrak?" Kening Raigen mengerut, seketika menatap adiknya dengan lekat. "Ya Tuhan! Aluna! Kenapa kau bisa ditabrak? Kau pecicilan di jalan, Hum? Kenapa kau tidak memberitahu Kakak, Aluna?" "Iya, salah Aluna karena menyeberang tidak hati-hati," jawab Aluna sambil memperlihatkan cengiran pada kakaknya, "aku tidak memberitahu Kakak karena takut Kakak marah." "Ck, tidak mungkin Kakak marah. Yang ada Kakak khawatir," jawab Raigen, mengganti luka adiknya yang ada di telapak tangan. Dari yang dia perhatikan, ini memang luka akibat kecelakaan. Namun, karena tadi Aluna datang dalam keadaan mengenaskan, pikiran Raigen
"Di mana tiketnya?" tanya Kaizen, kembali masuk ke kamar dan melihat tidak ada tiket bulan madu di atas meja nakas. Aluna tak menjawab, menatap Kaizen dengan raut muka was-was dan gugup. Awalnya, dia lebih kemarahan melempar meremukkan tiket tersebut karena yakin kalau tiket itu dari Vanessa. Akan tetapi seseorang dia menyesal. Bagaimana jika tiket bulan madu itu bukan dari Vanessa? Kaizen menoleh ke arah lain, mencoba mencari tiket tersebut. Hingga akhirnya dia menemukannya, di depan pintu kamar mandi–dalam keadaan kertas yang diremas. "Kau yang melemparnya?" tanya Kaizen, kini menatap tajam ke arah Aluna. Aluna menganggukkan kepala. "Aku tidak mau bulan madu," ucap Aluna, terkesan ketus. Rahang Kaizen seketika mengatup, tatapannya berubah tajam dan ekspresinya langsung dingin. Namun, sekelipun begitu, dia tetap mencoba menahan diri untuk tak meledak. "Ambil kembali," titah Kaizen dengan nada dingin dan terkesan marah. Aluna berdiri, segera mengambil tiket terseb
Kaizen menepuk pelan pucuk kepala Aluna, lalu pergi dari kamar—tanpa mengatakan apa-apa.Aluna langsung menyandar lemas ke sofa. Tubuhnya seperti kehilangan energi akan tetapi dia begitu lega karena Kaizen pergi dari kamar ini. Namun, otak Aluna kini penuh tanda tanya. Salu_02, nama akun sosial media yang pernah menerornya. Terakhir kali! Darling yang terucap dari bibir Kaizen tadi, disebut dengan nada dingin yang menyeramkan, itu membuat Aluna langsung teringat dengan si akun peneror. AMW_20 dan Salu_02! "Mas Kaizen ya-yang punya akun itu?" gumam Aluna dengan nada pelan kembali diselimuti ketakutan. Aluna mencoba bangkit, berjalan ke arah ranjang secara perlahan. Setelah itu, Aluna di pinggir ranjang–meraih handphone lalu buru-buru mengecek sosial medianya. Hal yang pertama kali dia cek adalah akun sosial medianya sendiri. Aluna kembali panas dingin, menatap bio-nya yang kembali …-'Istrinya Kaizen Xavier Tercinta.' Padahal seingat Aluna, dia sudah mengganti bio-nya. Tapi kenap
"A-asjsjassw …." Sza mendadak sulit berkata-kata. Dia ingin mengumpat karena Aluna menangis bukan disebabkan oleh kata-kata bijaknya, akan tetapi dia juga khawatir pada telapak tangan Aluna. Bahkan dia ngilu melihatnya! Perban tangan Aluna terbuka, memperlihatkan daging berdarah segar. "A-aku harus gimana, Al? Aku bukan dokter lagi. Apa kita balik ke rumah sakit saja?" Aluna menggelengkan kepala, terus menangis karena luka di telapak tangannya sangat perih dan sakit luar biasa. Hal tersebut bersamaan dengan sebuah mobil yang berhenti di depan halte. Seseorang keluar dengan terburu-buru, cepat-cepat menghampiri Aluna. Melihat sosok itu, Aluna berusaha untuk tak menangis. Dia merapatkan bibir supaya suara tangisan tak keluar dari mulutnya. Hanya saja, air matanya terus jatuh. "Kenapa menangis, Aimee?" tanya Kaizen dengan nada rendah dan berat, penuh perhatian dan khawatir. Aluna tak mengatakan apa-apa akan tetapi menunjukkan telapak tangannya yang terluka–di mana perbannya ter
"Dagumu kenapa, Aluna?" tanya Liam, penasaran dengan kondisi Aluna yang cukup memprihatikan. Aluna yang terlihat tegang sebab takut Kaizen mendengar obrolannya dengan Sza, langsung mengalihkan tatapan dari suaminya kepada Liam. "Kena aspal, Kak. Tertabrak," jawab Aluna singkat dan terkesan ramah. "Sayang, aku mau bicara dengan Kak Kaizen. Kamu diam dulu yah. Bentar kok," pinta Vanessa pada Liam, cukup kesal dan tak suka ketika calon suaminya berbicara dengan Aluna. Sebetulnya dia cukup kaget sebab Liam juga memanggil nama Aluna–seolah mereka sudah akrab dan dekat. "Hum." Liam menggaruk tengkuk, berdehem rendah tetapi terkesan tak suka. Pandangannya langsung ia jauhkan dari Kaizen. "Kak, aku sebenarnya ingin datang ke rumah Kakak untuk memberikan sesuatu pada Kakak. Tapi karena Kakak kembali ke sini, aku kasih di sini saja," ucap Vanessa, "untuk semalam, aku sangat berterima kasih pada Kakak karena Kakak bersedia datang untuk membantuku mencari Laudia. Sekarang Laudia sudah dit
"Elleh." Sza menatap Aluna dengan mata berang, "katanya mau cerai?" ucapnya. Saat ini Aluna dan Sza berada di kursi tunggu rumah sakit. Kaizen sedang menemui dokter yang memeriksa Aluna untuk menanyakan kondisi Aluna agar lebih pasti dan meyakinkan. "Syuut! Pelan-pelan! Ada Pak Alan," bisik Aluna, memperingati Sza supaya sahabatnya tersebut berbicara dengan nada pelan. "Intinya itu." Sza melirik sejenak pada Alan yang duduk di kursi seberang, di mana pria itu terlihat tengah fokus pada ponselnya. Setelah itu, dia kembali menatap sang sahabat. "Orang mau cerai itu … menatap pasangan pun nggak sudi. Sedangkan kamu? Cakiiiiiit …! Manja pro max eih," ucapnya dengan nada lebih pelan dan berbisik. "Ya-ya … kakiku memang sakit, Nyet!" Aluna menggembungkan pipi, menatap muram pada Sza yang meledeknya. "Sesakit apapun kalau yang namanya orang mau cerai, nggak bakalan manja, Al. Apalagi tadi … Pak Kaizen juga begitu lembut ke kamu. Perhatian banget. Sekhawatir itu loh tadi dia ke kamu, Al







