LOGIN"Dan Mas tahu nggak siapa awal mula yang mencomblangkan kami?" tanya Sera, mulai berbicara lugas. Xavier mendengarnya dan pria ini tak terlihat ilfeel padanya. "Siapa, Darling?" Xavier bertanya rendah. Dia menarik Sera supaya duduk lebih rapat dengan tubuhnya. Setelah itu dia memiringkan sedikit tubuh istrinya, begitupun dengan tubuhnya. Posisinya Sera sedikit membelakanginya. Dia melakukan itu supaya bisa memijat pundak Sera, agar perempuan ini lebih rileks bercerita padanya. "Lana, pacar sekaligus tunangan Rangga sendiri." Sera berkata pelan, mengembungkan pipi sejenak untuk mengekpresikan rasa marah dan kesal yang melandanya saat ini. "Hell! Mereka pantas mati," ucap Xavier, memijat pelan pundak istrinya. Sesekali dia mencium belakang kepala istrinya. "Jangan dulu, Mas. Ceritanya belum habis," ucap Sera menoleh ke arah suaminya sambil mendongak—ke arah belakang. Setelah itu dia kembali menghadap depan dan kembali bercerita, "setelah kami dekat kurang lebih satu tahun, kup
Mendoakannya hingga pelaminan? Tidak! Xavier merampasnya! "Salah satu mata-mataku, mengatakan kalau kalian pernah pacaran." Xavier berkata dingin. Mata-mata? Dialah mata-matanya. Untuk Sera, Xavier terlalu posesif. Dia mandiri mencari tahu sebisa mungkin, dia tak ingin melibatkan siapapun! Jika dia menyuruh mata-mata untuk mencari tahu informasi yang banyak tentang Sera, bukankah mata-mata itu juga akan tahu banyak tentang perempuan favoritnya ini?! Bagaimana jika mata-matanya malah berakhir jatuh cinta pada Sera? Cih, Xavier tidak akan membiarkan, oleh karena ituebih baik dia mencari tahu sendiri sekalipun dia sering gila sendiri. "Mata-mataku bertanya langsung pada Si Bajingan itu. Dia bilang kalian memang pernah pacaran," tambah Xavier, tiba-tiba mencengkeram lengan Sera dengan cukup kuat. "Mas, tolong! Lenganku sakit," cicit Sera, mencoba melepas tangan Xavier dari lengannya. Untungnya pria itu mau melepas, "aku beneran tidak pernah pacaran, Mas. Kalau memang Rangga mengaku
"Aku ingin menciummu!" Sera menaikkan kedua alis, melebarkan mata sambil menatap gelisah pada pria ini. Sebenarnya kata 'Nagos tidak muncul sama sekali, hanya saja … tumben sekali Xavier mendadak sopan. Biasanya pria ini tidak pernah bilang-bilang kalau ingin mencium Sera. Gaya Xavier kan nyosor, paksa, lalu terkam sampai terkulai lemas. "Ya, si-silahkan, Mas." Sera berkata tak enak, menggaruk daun telinga sambil menatap canggung pada Xavier, "biasanya … biasanya juga nggak bilang-bilang," gumam Sera pelan. "Tidak jadi!" ketus Xavier tiba-tiba. Mata Sera melotot, tangannya yang menggaruk daun telinga langsung berhenti. Dia menatap Xavier cengang campur aneh. Apa-apaan makhluk es ini? "Jelaskan tentang Rangga," dingin Xavier kemudian. Sekalipun bingung dengan sikap Xavier—tiba-tiba izin mencium lalu tiba-tiba juga batal mencium, Sera tetap menganggukkan kepala. "Rangga menang temanku …-" "Jangan berbohong!" geram Xavier, ekspresinya kembali terlihat menyeramkan di mata Se
Hot lagi. Tapi … yang di foto tadi, wajahnya terlalu AI. Itu pasti Kaina sendiri yang dia edit dalam versi laki-laki. Percaya deh." Lana meyakinkan. Rangga diam, berusaha untuk berpikir jernih. Setelah beberapa menit, akhirnya dia bersuara. "Kau yakin foto di postingan Kaina itu bukan Kakak Kaina?" "Jelas dong." Lana berkata tegas, "kamu tahu kan saat ini aku dekat dengan keluarga Adam. Aku bekerja di perusahaan Des'Art, milik keluarga Adam. CEO dari perusahaan itu Kakak Kaina dan lagi dekat denganku. Kamu tahu itu kan?" "Ah, aku hampir lupa kalau kau sedang dekat dengan CEO dari Des' Art," gumam Rangga dengan nada pelan sambil menyunggingkan smirk tipis. Jika memang benar Kaina menyimpang dan Sera belum menikah, bukankah dia punya kesempatan lebih besar untuk mendapatkan Sera? Kasus Kaina ini bisa ia jadikan senjata! *** Ceklek' Sera memasuki kamar dengan langkah riang. Senyumannya lebar karena senang bisa berbicara lugas di hadapan Rangga. Sudah dua tahun berlalu sejak kej
"Ma-maksudmu?" Rangga menatap campur aduk pada Sera. "Sajak awal, kamu dan Lana menjadikanku mainan. Layaknya layangan. Kalian mempertaruhkanku pada tiupan angin. Lalu ketika aku diputus oleh angin, kenapa kamu repot mengejar? Itu kan tujuan permainannya. Dan ketika aku ditiup oleh angin dan sampai pada pemilik yang sebenarnya, kenapa kamu yang masih mengejar menyebutnya sebuah keterlambatan? Itu namanya mengejar kesia-siaan bukan terlambat," ucap Sera panjang lebar, dia berdiri dan berniat pergi. Begitupun dengan Kaina. Namun, Lana dan Rangga menghadang. "Tunggu dulu, Ra." Rangga menghadang Sera dan Kaina, "kamu salah paham. Waktu itu, aku tidak menjadikanmu sebagai permainan. A-aku hanya sedang menguji perasaanku. Aku salah dan aku meminta maaf!" Sera mengedikkan pundak, acuh tak acuh pada Rangga. Awalnya Sera kira dia tak bisa menghadapi pria ini—ada ketakutan karena pria ini pernah mematahkan hatinya. Namun, ternyata dia bisa. Malah dia bisa bersikap santai! "Dalam uji co
"Ngapain kamu duduk di situ?" tanya Kaina sinis, menatap pria tersebut dengan ekspresi marah. "Apa sih, Kaina? Ini kan sofa Hotel, bukan punya kamu. Ya, terserah Rangga dong kalau mau duduk di situ," ucap seorang perempuan, tak lain adalah Lana. Yah, yang duduk di sebelah Sera tersebut adalah Rangga dan perempuan yang berbicara tadi adalah Lana. Sera menatap Rangga sekilas, setelah itu dia memalingkan wajah dengan ekspresi yang gugup. Jujur saja, jantungnya berdebar kencang saat bertemu kembali dengan Rangga. Tubuhnya terasa membeku beberapa detik dan hatinya terasa tak nyaman. Kaina tak menjawab ucapan Lana, dia memilih mengamati Sera yang terlihat gugup. 'Apa Sera masih suka dan menaruh perasaan pada Rangga?' batin Kaina, cukup cemas kalau Sera masih suka pada Rangga. 'Ck, ini salahku! Ini kebodohanku. Seharusnya aku tak mengajak Sera ke acara ini. Aku lupa kalau Rangga itu seangkatan dengan kami.' batin Kaina lagi, mendadak diam untuk terus mengamati Sera yang masih gugu
"Elleh." Sza menatap Aluna dengan mata berang, "katanya mau cerai?" ucapnya. Saat ini Aluna dan Sza berada di kursi tunggu rumah sakit. Kaizen sedang menemui dokter yang memeriksa Aluna untuk menanyakan kondisi Aluna agar lebih pasti dan meyakinkan. "Syuut! Pelan-pelan! Ada Pak Alan," bisik Aluna
"Karena Mas Zen sudah baik padaku, membantuku untuk mengantar bukti rekaman CCTV, hari ini aku mau masakin serba udang buat dia. Umm … sepertinya udang garlic butter enak," monolog Aluna, berjalan antusias ke dalam rumah. Dia baru pulang dari tempat kerja. Sekalipun wajahnya sudah terlihat lelah aka
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e







