LOGINSelamat membaca dan semoga suka dengan bab ini, MyRe. Yuk, dukung novel kita dengan cara vote gems, hadiah, dan ulasan manis yah. Sehat selalu buat kalian semua dan tetap semangat dalam menjalani hari-hari .... IG:@deasta18
"Di sini panas, Na. Lebih baik, kau di sana dengan Nyonya Muda," ucap Aiden, kembali mengambil handuk yang sudah sempat diambil oleh Nakilla tersebut lalu meletakkan handuk tersebut ke atas kepala Nakilla—sebagai pelindung supaya Nakilla terlindung dari panas. "Kau baik-baik saja?" tanya Elzeren tiba-tiba, sudah berada di sebelah kembarannya. Nakilla menatap Elzeren lalu menganggukkan kepala secara pelan. "Aku nggak apa-apa kok, Eiren.""Tapi kau memang lebih baik duduk di sana dengan Sera. Kau ini lemah," datar Elzeren, menatap santai pada kembarannya tetsebut. "Iya!" kesal Nakilla. Dia menghentakkan kaki lalu berjalan menuju tempat Sera. Seperginya Naikla, Elzeren langsung meminta salah satu bodyguard untuk ikut bermain dengan mereka—ganti Nakilla. "Kau ingin berhenti, Sweetheart?" tanya Xavier pada adiknya. Hari semakin terik dan panas, Xavier cukup khawatir pada adiknya. "Nggak ah. Ini duniaku," ujar Kaina tegas. "Humm." Xavier mengusap pucuk kepala Kaina lalu kembali ke
Deg deg deg''Mas katanya?' batin Sera, diam mematung dengan jantung yang berdebar sangat kencang. Namun, debaran itu sama sekali tak mengganggu, malah terasa menyenangkan hingga rasanya Sera ingin menjerit kegirangan. 'Mas Izin main.' Kalimat Xavier tersebut kembali mengulang dalam kepala Sera, membuat pipinya terasa semakin panas. Tanpa sadar, Sera senyum-senyum tak jelas. Padalah di tempat Sera ini sangat sejuk, tetapi wajahnya terasa sangat panas. Selain itu, dia rasa hatinya sedang meleleh layaknya butter dipanaskan. 'Aku nggak tahu kalau Mas Xavier itu … selain mahir bikin kepanasan, dia juga mahir bikin meleleh. Argkkk … aku pengen menjerit!' batin Sera, meraih bantalan kecil untuk leher lalu menggunakan bantalan tersebut untuk menutupi wajahnya yang sudah memerah. Dia melakukan itu saat Xavier menoleh dan menatap ke arahnya. Sedangkan Xavier, dia menyunggingkan smirk tipis ketika menatap ke arah istri dan mendapati istrinya sedang senyum-senyum. Fix, Sera Ghazalah Adam—is
"Tadi malam, kau …-" Xyron menatap Xavier dengan ekspresi wajah datar, akan tetapi sorot matanya penuh pancaran rasa penasaran, "kenapa bisa jatuh di tangga?" lanjutnya. Saat ini mereka semua sedang sarapan bersama, di mana setelah ini mereka akan lanjut bermain di pantai. Untuk masalah pesta, mereka sudah sepakat akan melaksanakannya jam 19.00, nanti. Sera yang juga penasaran kenapa suaminya bisa jatuh di tangga, seketika mendongak pada Xavier. Xavier melirik sejenak pada istrinya lalu menatap pada Xyron. "Tak ada yang jatuh," jawanya santai, memotong ikan dipiringnya lalu meletakkannya di piring Sera. "Jadi yang tadi malam itu …- kau kenapa?" Darian memicingkan mata, menatap bingung campur aneh pada Xavier. Jelas-jelas dia melihat Xavier jatuh. Dia bahkan mengira pria ini dalam kondisi berbahaya karena Xavier terus memegang dadanya. "Ouh." Xavier ber-oh-ria, kali ini meletakkan beberapa potongan alpukat ke atas piring istrinya. 'Mas ini kenapa yah? Semua makanan di piringnya
"Dude, kau baik-baik saja?" Darian berkata hati-hati lalu mendekat dengan pelan-pelan pada Xavier. Tak ada jawaban atau sahutan. "Tuan, an-anda kenapa?" panik Aiden, melangkah cepat mendekati Xavier lalu membantu Xavier untuk bangkit. Saat Aiden menyentuh pundak Xavier, barulah Darian, Xyron dan Rezvan berani ikut membantu Xavier. Bukan apa-apa, tadi Xavier marah besar dan mereka cukup takut mendekatinya. Saat mereka berhasil membantu Xavier duduk, mereka semakin panik karena Xavier memegang dadanya. Di sisi lain, wajah Xavier sangat tegang, wajahnya cukup pucat, dan pria ini hanya diam. "Xa-Xavier," panggil Xyron pelan, melambaikan tangan di depan wajah Xavier. Dia sangat khawatir karena Xavier tak menjawab dan pria ini masih memegang dadanya. Sepertinya ada luka dalam. "Panggilkan dokter. Cepat! Panggil dokter!" pinta Xyron dengan nada seperti membentak pada Arlond ataupun Gavin, itu efek panik. Arlond berniat pergi memanggil dokter di bangunan lain. Namun, tiba-tiba saja Ser
"To-tolong. Argkk …!" Gavin menyeru cukup kencang. Pukulan Xavier begitu kuat dan sakit. Dia berniat membalas, akan tetapi Gavin seperti tak punya kesempatan. Si iblis ini memukulnya bertubi-tubi. "Xavier, sudah!" tegur Xyron, menarik Xavier supaya menjauh dari Gavin. Tak hanya dia, Darian dan Elzeren ikut membantu menarik Xavier. "Istriku sama dengan tubuhku yang lain, Sialan! Jika tubuhku yang lain sakit, berarti aku harus merawatnya hingga benar-benar pulih, bukan malah berpesta. Stupid!" maki Xavier, begitu marah dan kesal pada Gavin. Gavin hanya diam, menatap ke arah lain karena tak berani menatap mata Xavier. Wajahnya sepertinya sudah hancur, dan sakit akibat pukulan Xavier telah menyebar hingga ke batang lehernya. Tenaga Xavier memang gila! Dan dia lebih gila karena memancing kemarahan Xavier. "Tenangkan dirimu," ucap Darian pelan, mencoba menenangkan Xavier. Nakilla yang menundukkan kepala, mendongak pada Xavier. Sekalipun kakak sepupunya tersebut sangat mengerikan dan m
"Ya, karena kamu drop lah." Kaina berkata santai, "ya kali Kak Xavier tetap merayakan ulang tahun di saat istrinya sedang tidak enak badan. Itu namanya brengsek," tambahnya. "Ta-tapi aku kan baik-baik saja, Kai. Aku bahkan udah sanggup salto belakang loh," ujarnya cukup ngaur demi meyakinkan Kaina kalau dia tidak kenapa-napa. Yang Sera khawatirkan, teman-teman suaminya marah pada Xavier karena perayaan tersebut diundur. Bukan hanya Sera yang ikut ke sini, ada banyak orang. Faktanya, mereka ke sini juga karena permintaan teman-teman suaminya yang ingin merayakan ulang tahun Xavier di pulau ini. Jadi, Sera merasa bersalah jika perayaan ulang tahun suaminya diundur gara-gara dia. "Ya, karna itu." Kaina kini membuka coklat yang ia bawa dari kamarnya, miliknya sendiri. Sepotong coklat ia berikan pada Sera, "kamu kan baru mendingan, makanya jangan langsung diajak party-party nanti kamu sakit lagi, gimana?" "Aku jarang sakit, Kai." Sera berkata malas, "tadi saja … itu gara-gara sediki
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e
"Elleh." Sza menatap Aluna dengan mata berang, "katanya mau cerai?" ucapnya. Saat ini Aluna dan Sza berada di kursi tunggu rumah sakit. Kaizen sedang menemui dokter yang memeriksa Aluna untuk menanyakan kondisi Aluna agar lebih pasti dan meyakinkan. "Syuut! Pelan-pelan! Ada Pak Alan," bisik Aluna
"Karena Mas Zen sudah baik padaku, membantuku untuk mengantar bukti rekaman CCTV, hari ini aku mau masakin serba udang buat dia. Umm … sepertinya udang garlic butter enak," monolog Aluna, berjalan antusias ke dalam rumah. Dia baru pulang dari tempat kerja. Sekalipun wajahnya sudah terlihat lelah aka







