ANMELDEN"Siapa Rangga?!"Xavier bertanya dengan nada dingin. Ekspresi wajahnya kaku—menahan marah karena pemilik nama itu mengirim pesan pada istrinya. Sebenarnya Rangga sangat tahu siapa pemuda sampah itu. Rangga alasan Xavier nekat menyembunyikan Sera! Namun, Xavier ingin tahu tentang Rangga dari mulut istrinya sendiri."Ra-Rangga?" beo Sera dengan nada rendah dan serak, menatap gugup dan semakin panik pada suaminya. Kenapa Xavier tiba-tiba bertanya tentang Rangga? "Humm." Tatapan Xavier berubah tajam. Caranya berdehem itu seperti ancaman untuk Sera, "katakan, dia siapa?""Dia … teman saat kuliah, Mas," jawab Sera hati-hati. "Hanya teman?" Sera menganggukkan kepala. Xavier tiba-tiba meraih HP Sera, membuka room chet Rangga dengan Sera yang terlihat masih baru. Yah, percakapan di room chet tersebut rata kiri, hanya Rangga yang mengirim pesan dengan nomor baru pada Sera. Namun, pesan yang ia kirim sangat menyebalkan dan membuat darah Xavier mendidih. Semua pesan tersebut pesan suara dan
"Cepat cek ke sana. Sekarang juga!" titah Xyron, berkata dingin dan tak terbantahkan. Gavin meneguk saliva secara kasar lalu segera pergi, patuh pada perintah Xyron. "Caper lagi." Lily berkata pelan, melirik ke arah suaminya—ingin memastikan apakah suaminya akan menyusul Gabby atau tidak. "Dia kayaknya sengaja supaya dapat perhatian dari …- yah, yang tahu-tahu saja," ucap Nakilla, tiba-tiba ikut julit pada Gabby yang mendadak belum pulang ke Villa. Jelas perempuan itu caper! Setelah mereka pergi dari sana, Nakilla menyuruh bodyguard untuk mengambil barang-barang yang tertinggal di pantai bagian barat. Nakilla juga meminta pada bodyguard untuk memberitahu siapapun yang tertinggal di sana agar segera pulang karena badai akan turun. Bodyguard memang tidak memberikan laporan apapun. Akan tetapi, Nakilla yakin sekali jika memang Gabby masih di sana, bodyguard pasti sudah menyuruh Gabby pulang. "Si tukang caper memang begitu," ujar Ruby, tertawa kecil ke arah Nakilla dan Lily. N
"Kaina Ghazan Adam. "A-ampun, Kak, ampun," panik Kaina ketika melihat kakaknya menghampirinya. Namun, sejujurnya inilah niat Kaina. Karena insiden di pantai tadi, Kaina jadi tak berani menghadapi kakaknya. Untuk sekedar berbicara pun dia takut. Oleh karena itu dia memancing kakaknya dengan cara ini, supaya kakaknya bersuara dan berbicara padanya. "Coba ulangi sikapmu tadi di hadapan Kakak," dingin Xavier, menatap tajam dan penuh peringatan pada adiknya. Dia mencondongkan tubuh ke arah Kaina, mendekatkan wajahnya ke wajah Kaina. Satu tangannya di pundak sang adik, menekannya supaya Kaina tak kabur kemna-mana. "A-ampun, Kak, ampun. A-aku sudah bertobat. Ta-tadi hanya bercanda," gugup Kaina. Dia mengangkat tangan dengan jari yang membentuk huruf 'V, lalu memperlihatkan cengiran khas pada sang kakak, "cin-cinta damai, Kak," tambah Kaina. "Awas saja jika kau berani mengganggu istri Kakak, Kai," peringat Xavier, kini meletakkan tangan di atas pucuk kepala adiknya. Dia menepuk-nepu
"Kau suka padaku, Kaina Ghazan Adam?" Suara Elzeren terdengar dingin dan marah secara bersamaan. Deg'Jantung Kaina berdebar kencang, wajahnya pucat, dan dadanya bergemuruh hebat. Dia langsung membuka mata, menatap Elzeren dengan panik campur tegang. "Hah?" Suara meremehkan keluar dari bibir Kaina, satu-satunya pertahanan yang bisa menyelamatkannya dari situasi yang menurutnya menegangkan ini, "ya kali, Kak," tambah Kaina, terkekeh kecil dan bersikap biasa—mencoba menunjukan sikap natural. 'Yah, aku suka. Aku sangat suka pada Kak Elzeren. Aku bukan suka, tapi jatuh cinta. Kakak pria tang diam-diam kusimpan dalam hatiku, kucintai dan kukagumi sepanjang waktu.' batin Kaina, masih senyum jenaka seolah Elzeren sedang bercanda. Dia ingin menunjukkan sikap biasa pada pria agar Elzeren tidak bisa mendeteksi rasa sukanya pada pria ini. Elzeren diam, tak mengatakan apa-apa. Ekspresi wajahnya datar, dan tatapannya tetap sayu tetapi terasa menusuk. Tuk'HP Sera yang ada di tangan Kaina tib
Kaina berbaring di sofa kamarnya sambil mengotak-atik HP Sera yang ada padanya. Tadi, kakaknya langsung membawa Sera dan Sera lupa membawa HP-nya. Awalnya, Kaina hanya ingin meminjam hotspot Sera. Kuota internetnya sedang habis. Namun, saat dia menyalakan data internet Sera, tiba-tiba sebuah pesan masuk. Dari seseorang yang pernah disukai oleh sahabatnya tersebut. --Rangga--[Ra, bagiamana kabarmu sekarang?][Kita bisa bertemu? Ada yang ingin kukatakan padamu.][Ra, tolong balas pesanku. Aku benar-benar merindukanmu.]"Nih, anak masih nyimpan nomor si Bangsat. Kan aku sudah suruh supaya nomornya diblokir?" kesal Kaina saat membaca pesan dari Rangga. Alasan kenapa dia membenci Rangga, karena pria itu dulunya mempermainkan Sera. Saat mereka kuliah, semester tiga, Sera dan Rangga pernah dekat. Rangga salah satu famous di fakultas mereka, pria itu bukan hanya tampan akan tetapi kebanggaan para dosen. Kaina akui, Rangga memang punya visual yang charming. Selain itu juga punya citra yang
"Kalau begitu cium aku, Darling."Cup' Sera dengan cepat mendaratkan bibirnya di atas bibir Xavier, membuat pria itu terkejut dan mendadak diam. "Sudah, Mas," ucap Sera setelah mencium Xavier.Xavier menaikkan kedua alis. Dia menyunggingkan smirk tipis. Cup' Xavier mencium bibir istrinya. Awalnya cukup lama dan bertenaga karena gemas pada Sera. Lalu setelah itu dia mencium kembali pipi perempuan itu secara tertubi-tubi. Lagi-lagi karena gemas. "Sekarang perasaan Mas sudah jauh lebih baik?" tanya Sera naif, setelah suaminya berhenti mencium pipinya. "Sedikit," jawab Xavier, mengelus pipi Sera dengan lembut dan halus. "Sedikit?" beo Sera, "a-apalagi yang harus kulakukan supaya perasaan Mas jauh lebih baik?""Bercinta denganku," ucap Xavier enteng."Nanti malam saja kalau itu. Setelah kita kembali ke Villa," jawab Sera cepat. Cukup gugup tetapi nadanya masih tegas dan lugas. Xavier menaikkan sebelah alis. Ekspresi wajahnya berseri tetapi tatapan matanya geli pada istrinya. Xavier
"Elleh." Sza menatap Aluna dengan mata berang, "katanya mau cerai?" ucapnya. Saat ini Aluna dan Sza berada di kursi tunggu rumah sakit. Kaizen sedang menemui dokter yang memeriksa Aluna untuk menanyakan kondisi Aluna agar lebih pasti dan meyakinkan. "Syuut! Pelan-pelan! Ada Pak Alan," bisik Aluna
"Karena Mas Zen sudah baik padaku, membantuku untuk mengantar bukti rekaman CCTV, hari ini aku mau masakin serba udang buat dia. Umm … sepertinya udang garlic butter enak," monolog Aluna, berjalan antusias ke dalam rumah. Dia baru pulang dari tempat kerja. Sekalipun wajahnya sudah terlihat lelah aka
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e







