LOGINJulian menaikkan sebelah alisnya, mencoba tersenyum tampan untuk melunakkan amarah sang kekasih. "Aku cuma ingin menemuimu, Sayang."
"Kamu itu masih pasien rawat inap!" sahut Elena tanpa tegas, suaranya meninggi gemas."Kamu baru bangun dari koma, infusmu dicabut paksa, dan kamu malah berkeliaran pakai jas menutupi piyama rumah sakit! Kamu pikir tubuhmu itu terbuat dari besi?!"Elena terus mengoceh tanpa henti, sambil merapikan kerah coat Julian seraya menunjKepanikan Amanda memuncak hingga batas maksimal. Ia tahu betul reputasi kejam Julian Wardana yang tidak pernah memberi ampun pada musuh-musuhnya."T-tidak, Julian, tolong jangan!" pekik Amanda dengan air mata ketakutan yang mulai menetes.Leon melangkah mendekat seraya membuka sebuah kotak perak di atas meja. Dari dalam kotak itu, ia mengeluarkan sebuah suntikan medis berukuran sedang yang sudah terisi penuh oleh cairan bening beracun.Cairan itu adalah zat kimia kotor yang sama dengan yang disuntikkan Amanda pada Julian. Namun dengan dosis tiga kali lipat lebih tinggi dan mematikan."Julian! Kamu gila!" histeris Amanda, matanya membulat melihat jarum suntik yang berkilat dingin di tangan Leon. "Kamu mau membunuhku?!"Julian menyunggingkan senyum miring yang sangat kejam. "Membunuhmu? Coba kamu pikirkan sendiri apa yang sudah kamu lakukan padaku kemarin. Bagaimana pikiran kotormu saat memasukkan cairan itu ke tubuhku, hm?""Aku mohon, Julian! Ampuni aku!" ratap Amanda bersimpuh mesk
Julian tidak menjawab pertanyaan beracun yang dilontarkan Amanda. Tatapan matanya yang dingin hanya menatap datar ke arah dua wanita di ambang pintu. "Masuklah," ujar pria itu singkat, suaranya tenang tanpa nada emosi. Amanda dan Helena melangkah masuk ke dalam kamar VVIP dengan raut penuh ketegangan. Begitu kedua wanita itu melewati ambang pintu, Leon yang berdiri di dekat pintu segera menutupnya rapat dan menguncinya dari dalam. "Julian, kenapa kamu membiarkan wanita ini duduk di sebelahmu?" tanya Helena dengan suara ketus, menunjuk Elena yang duduk tenang di sisi ranjang. Dia seolah lupa apa yang terakhir kali terjadi. "Dia tidak pantas ada di sini saat kita sedang berkumpul." Amanda mengangguk cepat, menyunggingkan senyum memelas yang dibuat-buat. "Benar, Julian. Perempuan ini hanya mengincar hartamu dan memanfaatkan keadaanmu yang baru bangun." "Begitukah?" sahut Julian santai. Ia menaikkan sebelah alisnya dengan gurat ketertarikan palsu. "Lalu menurut kalian, siapa
Mata Julian yang tadinya tampak redup karena kelelahan seketika menajam. Aura dingin yang mencekam mendadak menyeruak memenuhi seluruh sudut kamar VVIP tersebut."Siapa pelakunya?" tanya pria itu dengan suara berat yang teramat dingin.Brian menatap Julian dan Elena secara bergantian dengan raut wajah serius. "Amanda."Seketika itu juga, suasana kamar menjadi hening mencekam. Elena menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membulat tak percaya mendengar nama wanita yang selama ini begitu gigih mengejar kekasihnya."Amanda?!" tanya Elena syok luar biasa. "Dokter Brian, Anda tidak sedang bercanda, kan?""Aku sama sekali tidak bercanda," jawab Brian tegas. "Semua bukti mengarah padanya."Elena menoleh menatap Julian dengan gurat kebingungan dan amarah yang bercampur aduk. "Julian, kenapa Amanda tega melakukan hal sejahat itu padamu?Bukankah dia bilang sangat menyukaimu? Jika dia menyukaimu, harusnya dia tidak akan pernah tega membahayakan nyawamu!"Julian menyunggingkan senyum yang
Julian menaikkan sebelah alisnya, mencoba tersenyum tampan untuk melunakkan amarah sang kekasih. "Aku cuma ingin menemuimu, Sayang.""Kamu itu masih pasien rawat inap!" sahut Elena tanpa tegas, suaranya meninggi gemas. "Kamu baru bangun dari koma, infusmu dicabut paksa, dan kamu malah berkeliaran pakai jas menutupi piyama rumah sakit! Kamu pikir tubuhmu itu terbuat dari besi?!"Elena terus mengoceh tanpa henti, sambil merapikan kerah coat Julian seraya menunjuk-nunjuk dada tegap pria itu. "Kalau kondisimu memburuk lagi bagaimana? Kalau lukamu terbuka lagi bagaimana? Kamu selalu saja sembrono dan tidak mau menuruti kata dokter!"Di tengah rentetan omelan pedas itu, Julian hanya menatap wajah cantik Elena yang berseri merah karena marah. Tanpa peringatan, pria itu maju merengkuh tengkuk kekasihnya dan langsung mendaratkan ciuman dalam di bibir manis gadis itu."Mmph ... Ju—"Ciuman itu menghenti
Melihat tatapan mata Julian yang tertuju pada buket mawar merah yang hancur di tanah, barulah Elena tersadar sepenuhnya. Kesadaran itu menghantam kepalanya bagai petir.Rasa cemburu buta. Julian senekat ini, hanya karena terbakar cemburu melihat ada pria lain yang mendekatinya.Elena menghela napas pasrah, dadanya berdesir antara gemas dan jengkel. Kekasihnya ini memang pria berkuasa yang ditakuti di dunia bisnis, tetapi jika sudah menyangkut dirinya, akal sehatnya seolah menguap tak berbekas. Namun, Elena tahu betul tabiat Julian. Jika ia tidak mengendalikan situasi ini sekarang, kekasihnya itu bisa saja menghancurkan hidup Ryan dalam hitungan detik."Julian, tenang dulu," bisik Elena pelan, mengusap lengan pria itu untuk meredam aura membunuh yang menguar pekat.Gadis itu memutar tubuhnya sedikit, menatap Ryan yang masih mematung dengan raut canggung. Elena berdehem pelan untuk mengurai ketegangan di udara."Ryan, kenalkan, ini Julian ... pacarku," ujar gadis itu memperkenalkan, me
Langkah Elena terhenti. Gadis itu menoleh, dan seketika gurat kegembiraan di wajahnya meluntur, berganti menjadi ekspresi malas.Seorang pria berpenampilan rapi dengan kemeja kasual melangkah menghampirinya sambil tersenyum lebar. Itu adalah Ryan.'Aduh, kenapa harus ketemu Ryan, sih?' batin Elena meringis.Ia melirik ke arah mobil hitam di area parkir, menyadari Leon berdiri tak jauh dari sana. Elena tahu betul betapa protektifnya sekretaris Julian itu. Jika Leon melaporkan interaksi ini, kekasihnya yang berdarah dingin itu pasti akan terbakar cemburu. Kejadian di kampung neneknya saja sudah membuat heboh.Namun, karena Ryan sudah berdiri di hadapannya, Elena tidak mungkin mengabaikannya begitu saja."Eh, Ryan, ada apa?" sapa gadis itu sekadarnya, menjaga jarak aman dua langkah ke belakang."Selamat ya, El!" ujar Ryan penuh antusias. Tanpa ragu, pria itu menyodorkan sebuah buket bunga mawar me







