LOGINSepasang suami istri setengah baya berpenampilan necis menerobos masuk tanpa memedulikan para pelayan rumah yang berusaha menahan mereka. Mereka adalah orang tua Amanda.
Wajah ibu Amanda tampak sembap dan merah karena terus menangis, sementara ayahnya menatap Helena dengan pandangan membunuh yang sangat pekat."Di mana putri kami, Helena?!" amuk ayah Amanda dengan suara menggelegar di ruang tamu. "Sampai detik ini kami tidak bisa menemukan Amanda sama sekali!"Satu potong kayu jatuh menimpa tanah bersalju, sangat dekat dengan wajah Leon. Elena menyenggol dada suaminya karena terkejut. Namun Julian dengan cepat membekap bibir lembut istrinya dengan jemarinya. Membungkam teriakan yang hampir lolos dari mulut istrinya. Mereka bertiga menahan napas. Suasana di dalam celah sempit itu mendadak mati total, hanya diisi oleh keheningan yang amat menyiksa saraf. "Tidak ada siapa-siapa di gubuk ini!" teriak penyerang di luar setelah membedah bagian dalam gubuk. "Mereka pasti menerobos masuk lebih dalam ke arah hutan pinus!" "Cepat kejar ke sana sebelum mereka kehilangan jejak!" sahut komandannya. Derap langkah kaki berat itu perlahan-lahan mulai menjauh, bergerak membelah tumpukan salju menuju area hutan pinus yang lebih dalam. Suara teriakan mereka kian menghilang ditelan angin dingin Harbin. Meski begitu, Julian tidak langsung mengendurkan kewaspadaannya. Pria berkuasa itu tetap menahan posisi mereka. Membungkam Elena dalam dekapanny
Restoran yang tadinya tenang seketika menjadi neraka kecil saat pecahan kaca menyambar ke segala arah. Julian bertindak secepat kilat. Ia merengkuh tubuh istrinya dan membawanya berguling ke balik meja batu yang tebal tepat sebelum rentetan peluru berikutnya menghantam dinding kayu di belakang mereka.Tak-tak-tak-tak!Debu kayu dan serpihan kristal beterbangan di udara, menciptakan kepulan asap tipis berselimut bau mesiu yang amat menyengat. Leon merayap cepat ke sudut ruangan, melesakkan beberapa tembakan balasan dari senjata berperedam miliknya."Tuan! Mereka terlalu banyak!" ucap Leon dengan napas memburu, peluh dingin menetes di pelipisnya. "Kita tidak membawa tim pengawal lengkap atas permintaan Anda!"Julian mengepalkan tangannya erat-erat. Menarik Elena rapat dalam pelukannya. Pria berkuasa itu dengan cepat membaca situasi yang sama sekali tidak menguntungkan bagi mereka."Berapa banyak orang di lu
"Iya, biasanya selalu ada surat pemberitahuan resmi satu bulan sebelumnya!" sahut staf lainnya panik. "Direktur Utama sedang berada di luar negeri, siapa yang akan menemui mereka?!"Para auditor pajak itu melangkah masuk ke ruangan divisi keuangan dengan angkuh. Mengacak-acak dokumen dan melakukan penyegelan sementara pada beberapa komputer utama. Mereka memanfaatkan wewenang atas perintah pejabat kerabat orang tua Amanda demi mencari celah untuk menjatuhkan Wardana Group.Manajer keuangan segera menghubungi nomor pribadi Leon dengan tangan gemetar ketakutan."Pak Leon! Kantor pusat diserbu puluhan tim audit pajak!" lapor manajer keuangan dengan suara hampir menangis. "Mereka menyegel berkas dan mengancam akan membekukan rekening utama jika kita tidak menyerahkan laporan rahasia siang ini!"Di area parkir wahana es Harbin, Leon menerima panggilan tersebut dengan raut wajah yang tenang, sesuai dengan inst
"Buka seluruh berkas rahasia pejabat pajak tersebut," perintah Julian dingin. "Cari tahu ke mana saja aliran dana suap dan rekening rahasia miliknya di luar negeri.""Siap, Tuan," jawab Leon mantap."Serahkan bukti kepemilikan aset ilegalnya langsung ke lembaga anti korupsi sore ini juga," sambung Julian seraya menyunggingkan senyum kemenangan. "Kita hancurkan karir dan hidupnya dalam satu malam.""Bagaimana dengan keluarga Amanda?" desak Leon lagi."Sita seluruh saham dan hancurkan pasokan bisnis keluarga Amanda melalui jaringan mitra kita," titah Julian tanpa belas kasihan. "Aku ingin besok pagi mereka dinyatakan bangkrut total tanpa sisa!"Leon membungkuk dalam-dalam, mengagumi kekejaman dan kecepatan berpikir tuannya dalam membalas serangan. "Perintah dilaksanakan, Tuan."“Oh ya, satu lagi. Bila perlu, jebak petugas pajak itu. Biarkan mereka menemukan kesalahan palsu, agar merasa di atas aw
Sepasang suami istri setengah baya berpenampilan necis menerobos masuk tanpa memedulikan para pelayan rumah yang berusaha menahan mereka. Mereka adalah orang tua Amanda.Wajah ibu Amanda tampak sembap dan merah karena terus menangis, sementara ayahnya menatap Helena dengan pandangan membunuh yang sangat pekat."Di mana putri kami, Helena?!" amuk ayah Amanda dengan suara menggelegar di ruang tamu. "Sampai detik ini kami tidak bisa menemukan Amanda sama sekali!"Helena berusaha mempertahankan keanggunan dan wibawa sosialitanya meski dadanya berdebar panik. "Jaga sikap kalian di rumahku! Ini tidak sopan!""Masa bodoh dengan kesopanan!" jerit ibunya Amanda. Ia melangkah maju dan menunjuk wajah Helena dengan jari gemetar. "Anakmu, Julian, dia yang sudah menculik Amanda! Dia membuang putri kami ke tempat antah-berantah!""Kalian tidak punya bukti!" balas Helena membela diri, walau di dalam hati ia tahu persis tuduhan itu b
Daniel tiba-tiba tersenyum. “Saya tahu, Tuan Wardana tidak akan suka jika saya yang memberikannya secara langsung. Makanya saya ingin minta tolong Pak Leon.”“Begitu, ya?” Leon masih ragu/“Iya. Saya harap Pak Leon bisa memberikan ini. Anggap saja ini welcome snack dari villa kami,” tutur Daniel.“Baiklah.” Akhirnya Leon mengalah. Dia mengambil kudapan itu. Daniel pun pamit lagi.Langkah kaki Leon terhenti tepat di depan pintu kamar VIP Suite. Di tangannya, tersaji sebuah nampan kayu berisi kotak bingkisan berhias pita merah. Kudapan manis khas Harbin yang baru saja diantarkan oleh Daniel.Leon sempat menimbang-nimbang keputusannya. Ia menelan saliva, teringat betul tatapan membunuh sang atasan saat berhadapan dengan pemilik vila itu beberapa jam lalu.‘Mati aku kalau Tuan makin mengamuk,’ batin Leon ragu. Tapi tidak enak juga kalau menolak niat baik orang lain secara terang-terangan.Dengan men







