Share

Bab 227

Author: Just Mommy
last update publish date: 2026-11-02 07:46:00

Julian sempat terperanjat kaget mendengar nada teguran sang istri. Namun, ketegangan itu menguap dalam sekejap, digantikan oleh senyuman genit yang begitu menggoda.

Pria itu melangkah maju seolah tanpa beban.

"Aku hanya bertindak sebagai Presdir yang adil, Piccola. Apa salahnya menyelamatkan calon karyawan berbakat dari intimidasi senior yang menyebalkan?"

Elena mendengkus kesal, menyilangkan kedua tangan di depan dada sambil merengut.

"Tindakanmu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 229

    Teguran langsung itu bagaikan petir di siang bolong bagi Pak Sam. Lidahnya mendadak kelu, dadanya berdegup kencang memikirkan nasib pekerjaannya jika sampai rahasia ini terbongkar di tangan Nyonya Presdir."Ah, m-maafkan saya, Nona Elena!" gagap Pak Sam buru-buru membetulkan letak kacamatanya yang sedikit melorot. "Saya, saya hanya terlalu antusias! Ya, betul, terlalu bersemangat sampai lupa menjalankan alur wawancara yang standar."Di dalam hatinya, Pak Sam berteriak pasrah. Pria paruh baya itu sebenarnya bingung setengah mati. Ia bingung harus menyusun pertanyaan seperti apa karena takut salah bicara, takut terkesan menekan, atau malah tak sengaja menyinggung sang istri bos besar.Namun, melihat tatapan Elena yang makin menuntut profesionalisme, Pak Sam tahu ia harus segera bertindak sebelum kebohongannya makin berantakan."Baiklah, kalau begitu mari kita mulai sesi wawancaranya," ujar Pak Sam seraya berdehem keras, berusaha mengembalikan raut wajah tegas khas Manajer HRD.Ia mer

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 228

    Pak Sam bergegas melangkah ke depan pintu, setengah berteriak pada sekretarisnya di luar untuk membawakan teh chamomile premium, kue-kue kering impor, serta dua botol air mineral dingin.Elena menatap gestur serba panik dan serba cepat itu dari sofa. Kecurigaan yang sempat melintas di benaknya kini membesar dua kali lipat. Kecanggungan merayapi seluruh tubuhnya. Ia yakin seratus persen ada yang tidak normal dengan sikap sang Manajer HRD.Pria paruh baya itu kembali ke area sofa, duduk di hadapan Elena dengan posisi tubuh sedikit membungkuk dan penuh keseganan."Pak Sam," panggil Elena perlahan. Gadis itu berusaha menguji respon Pak Sam tanpa membocorkan dugaan bahwa suaminya sudah ikut campur, secara terbuka."Maaf sebelumnya, tapi... apa memang lazim bagi Wardana Group menyambut pelamar baru seperti ini?"Pak Sam terkesiap. Pria itu buru-buru membetulkan letak kacamatanya, berusaha menutupi rasa gugup ya

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 227

    Julian sempat terperanjat kaget mendengar nada teguran sang istri. Namun, ketegangan itu menguap dalam sekejap, digantikan oleh senyuman genit yang begitu menggoda.Pria itu melangkah maju seolah tanpa beban. "Aku hanya bertindak sebagai Presdir yang adil, Piccola. Apa salahnya menyelamatkan calon karyawan berbakat dari intimidasi senior yang menyebalkan?"Elena mendengkus kesal, menyilangkan kedua tangan di depan dada sambil merengut. "Tindakanmu itu terlalu mencolok, Sayang. Kamu malah sengaja memancing perhatian!"Gadis itu mendongak, melayangkan tatapan jengkel yang tak terbendung. "Belum juga resmi bekerja, aku sudah dituduh main belakang oleh staf tadi! Kalau orang-orang sampai tahu aku ini istri Presdir, mereka pasti menganggapku tidak kompeten dan mengandalkan orang dalam!"Julian justru terkekeh serak, melangkah mengikis jarak hingga aroma maskulinnya mengungkung Elena. "Orang dalam? Jangan mere

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 226

    Suara berat nan dingin yang menggelegar di lorong lift itu seketika menghentikan percekcokan sengit di antara kedua wanita tersebut. Suasana di sekitar area eksekutif mendadak merosot beku.Wanita senior itu terperanjat kaget. Namun, begitu ia menoleh dan mendapati sosok tinggi tegap Julian Wardana melangkah ke arah mereka.Matanya seketika berbinar cerah. Ia tidak menyadari aura membunuh yang menguar dari tubuh presdirnya.Bukannya merasa takut, wanita itu justru mengira Julian sedang meluruskan ketertiban dan akan membela dirinya sebagai staf senior. Dengan gerakan cepat, ia menyibak rambutnya ke belakang, lalu memasang raut wajah terzalimi dengan nada suara yang dibuat-buat genit dan manja."Aduh, Tuan Wardana, syukurlah Anda muncul tepat waktu," rengek wanita senior itu seraya mengerdipkan matanya manja. Melangkah mendekati Julian dengan senyuman menggoda. "Wanita muda ini benar-benar tidak sopan. Di

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 225

    Dada Elena berdesir hangat dipenuhi rasa kesal yang membakar. Namun, ia menarik napas dalam-dalam. Berusaha menahan diri untuk tetap menjaga profesionalisme di hari pertamanya melangkah ke kantor ini."Saya tidak salah alamat, Mbak," jawab Elena dengan nada suara yang diusahakan tetap tenang dan sopan. "Saya datang ke sini karena mendapat undangan wawancara resmi dari Manajer HRD."Wanita senior itu tertawa tipis, terdengar kentara sekali merendahkan. Ia tetap bersikap angkuh, memiringkan kepala dengan tatapan menilai yang sangat sinis."Undangan resmi dari Manajer HRD?" cibirnya sambil melipat kedua tangan di depan dada. "Aduh, Dek, kalau mau bohong itu pikir-pikir dulu, pakai logika sedikit. Pelamar baru yang gak punya pengalaman seperti kamu biasanya cuma diproses sama staf magang atau HRD tingkat bawah. Gak ada sejarahnya Manajer HRD turun tangan langsung ngundang anak kemarin sore!"Elena menatap wanita itu dengan tatapan dingin. Berusaha mempertahankan senyum tipis di wajahn

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 224

    Elena tertegun membeku. Ancaman mutlak dari suaminya yang posesif itu seketika meruntuhkan seluruh argumen di kepalanya. Gadis itu menghembuskan napas pasrah, menatap Julian dengan raut ketus yang menggemaskan."Dasar pemaksa," cibir Elena pelan."Tapi kamu tetap mencintai pria pemaksa ini," balas Julian menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Pria itu membungkuk singkat, mendaratkan ciuman manis di bibir istrinya sebelum membukakan pintu mobil. "Semoga sukses wawancaramu hari ini, Istriku."Elena mendengus pasrah, melangkah masuk ke dalam kabin sedan mewah tersebut. Leon dengan sigap menutup pintu rapat-rapat, lalu melesat memimpin iring-iringan kendaraan menuju kantor pusat Wardana Group.Di sepanjang perjalanan, suasana di dalam kabin sedan mewah itu terasa begitu tenang namun dipenuhi ketegangan tersendiri bagi Elena. Jemarinya bergerak lincah membalikkan halaman demi halaman buku tebal b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status