Share

Bab 226

Author: Just Mommy
last update Petsa ng paglalathala: 2026-11-01 14:49:00

Suara berat nan dingin yang menggelegar di lorong lift itu seketika menghentikan percekcokan sengit di antara kedua wanita tersebut.

Suasana di sekitar area eksekutif mendadak merosot beku.

Wanita senior itu terperanjat kaget. Namun, begitu ia menoleh dan mendapati sosok tinggi tegap Julian Wardana melangkah ke arah mereka.

Matanya seketika berbinar cerah. Ia tidak menyadari aura membunuh yang menguar dari tubuh presdirnya.

Bukannya merasa takut, w
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nur mutia Azzahra
lanjutannya langsung 10 bab kak
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 227

    Julian sempat terperanjat kaget mendengar nada teguran sang istri. Namun, ketegangan itu menguap dalam sekejap, digantikan oleh senyuman genit yang begitu menggoda.Pria itu melangkah maju seolah tanpa beban. "Aku hanya bertindak sebagai Presdir yang adil, Piccola. Apa salahnya menyelamatkan calon karyawan berbakat dari intimidasi senior yang menyebalkan?"Elena mendengkus kesal, menyilangkan kedua tangan di depan dada sambil merengut. "Tindakanmu itu terlalu mencolok, Sayang. Kamu malah sengaja memancing perhatian!"Gadis itu mendongak, melayangkan tatapan jengkel yang tak terbendung. "Belum juga resmi bekerja, aku sudah dituduh main belakang oleh staf tadi! Kalau orang-orang sampai tahu aku ini istri Presdir, mereka pasti menganggapku tidak kompeten dan mengandalkan orang dalam!"Julian justru terkekeh serak, melangkah mengikis jarak hingga aroma maskulinnya mengungkung Elena. "Orang dalam? Jangan mere

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 226

    Suara berat nan dingin yang menggelegar di lorong lift itu seketika menghentikan percekcokan sengit di antara kedua wanita tersebut. Suasana di sekitar area eksekutif mendadak merosot beku.Wanita senior itu terperanjat kaget. Namun, begitu ia menoleh dan mendapati sosok tinggi tegap Julian Wardana melangkah ke arah mereka.Matanya seketika berbinar cerah. Ia tidak menyadari aura membunuh yang menguar dari tubuh presdirnya.Bukannya merasa takut, wanita itu justru mengira Julian sedang meluruskan ketertiban dan akan membela dirinya sebagai staf senior. Dengan gerakan cepat, ia menyibak rambutnya ke belakang, lalu memasang raut wajah terzalimi dengan nada suara yang dibuat-buat genit dan manja."Aduh, Tuan Wardana, syukurlah Anda muncul tepat waktu," rengek wanita senior itu seraya mengerdipkan matanya manja. Melangkah mendekati Julian dengan senyuman menggoda. "Wanita muda ini benar-benar tidak sopan. Di

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 225

    Dada Elena berdesir hangat dipenuhi rasa kesal yang membakar. Namun, ia menarik napas dalam-dalam. Berusaha menahan diri untuk tetap menjaga profesionalisme di hari pertamanya melangkah ke kantor ini."Saya tidak salah alamat, Mbak," jawab Elena dengan nada suara yang diusahakan tetap tenang dan sopan. "Saya datang ke sini karena mendapat undangan wawancara resmi dari Manajer HRD."Wanita senior itu tertawa tipis, terdengar kentara sekali merendahkan. Ia tetap bersikap angkuh, memiringkan kepala dengan tatapan menilai yang sangat sinis."Undangan resmi dari Manajer HRD?" cibirnya sambil melipat kedua tangan di depan dada. "Aduh, Dek, kalau mau bohong itu pikir-pikir dulu, pakai logika sedikit. Pelamar baru yang gak punya pengalaman seperti kamu biasanya cuma diproses sama staf magang atau HRD tingkat bawah. Gak ada sejarahnya Manajer HRD turun tangan langsung ngundang anak kemarin sore!"Elena menatap wanita itu dengan tatapan dingin. Berusaha mempertahankan senyum tipis di wajahn

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 224

    Elena tertegun membeku. Ancaman mutlak dari suaminya yang posesif itu seketika meruntuhkan seluruh argumen di kepalanya. Gadis itu menghembuskan napas pasrah, menatap Julian dengan raut ketus yang menggemaskan."Dasar pemaksa," cibir Elena pelan."Tapi kamu tetap mencintai pria pemaksa ini," balas Julian menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Pria itu membungkuk singkat, mendaratkan ciuman manis di bibir istrinya sebelum membukakan pintu mobil. "Semoga sukses wawancaramu hari ini, Istriku."Elena mendengus pasrah, melangkah masuk ke dalam kabin sedan mewah tersebut. Leon dengan sigap menutup pintu rapat-rapat, lalu melesat memimpin iring-iringan kendaraan menuju kantor pusat Wardana Group.Di sepanjang perjalanan, suasana di dalam kabin sedan mewah itu terasa begitu tenang namun dipenuhi ketegangan tersendiri bagi Elena. Jemarinya bergerak lincah membalikkan halaman demi halaman buku tebal b

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 223

    Julian memutar otak secepat kilat. Raut wajahnya yang sempat membeku seketika mencair, digantikan senyuman tipis yang tenang dan meyakinkan. Pria itu mengusap lembut kedua bahu istrinya."Maafkan aku, Piccola," tutur Julian lembut dengan nada penuh penyesalan yang dibuat-buat. "Semalam aku sempat tidak sengaja membaca draf CV yang ada di laptopmu saat kamu sudah tidur. Di sana tertulis tujuan divisimu. Jadi, apa kamu benar-benar melamar ke divisi itu?"Elena menyipitkan mata, masih menatap suaminya dengan sisa-sisa kecurigaan. Namun, penjelasan Julian terdengar cukup masuk akal. "Iya, aku melamar ke divisi kreatif."Pria itu mengangguk-angguk paham. Ia sengaja membelokkan arah pembicaraan demi mengalihkan fokus istrinya. "Ngomong-ngomong, di Wardana Group, kadang-kadang meskipun seorang pelamar dinyatakan lolos, penempatannya tidak selalu sesuai dengan divisi tujuan awal. Apa kamu keberatan jika hal seperti itu terjadi?"Perhatian Elena seketika teralih dari tuduhan awal. Dahi gadi

  • Permainan Berbahaya Kakak Ipar   Bab 222

    Elena menatap layar ponselnya cukup lama. Rasa curiga yang menggelitik hatinya tak bisa dibiarkan begitu saja. Tanpa membuang waktu, jemarinya menekan nomor kontak suaminya.Deringan pertama baru saja berbunyi ketika suara berat Julian menjawab dari seberang sambungan."Ada apa, Piccola? Kamu merindukanku?" goda pria itu dengan nada santai yang kental akan percaya diri.Elena mendengus pelan, menolak terpancing godaan itu. "Julian, aku baru saja mendapat telepon dari Wardana Group.""Oh ya?" Pria itu pura-pura terkejut. Dia menyunggingkan senyum yang tipis. "Lalu bagaimana hasilnya?""Manajer HRD-mu, Pak Sam, meneleponku secara pribadi. Dia memintaku datang untuk wawancara kerja besok pagi jam sepuluh," terang Elena antusias."Selamat, Istriku. Langkah awal yang sangat bagus, bukan?" sahut suaminya hangat."Jangan senang dulu, Julian Wardana," ucap wanita itu dengan intonasi menuduh yang sangat

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status