Share

Chapter 4

Author: RAIN
last update publish date: 2026-07-09 12:01:05

Keesokan paginya, Jessica berdiri di depan ruang dosen dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Matanya tampak sembap karena semalaman hampir tidak tidur. Setelah menarik napas panjang, ia mengetuk pintu pelan.

"Masuk."

Jessica mendorong pintu perlahan.

Darius sedang membaca beberapa jurnal di balik mejanya. Ia bahkan tidak mengangkat kepala ketika Jessica masuk.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Jessica melangkah ke depan mejanya.

Lalu... Ia berlutut.

Barulah Darius mengangkat pandangan.

Tatapannya berubah dingin ketika melihat perempuan yang dulu selalu berdiri paling tinggi di hadapannya kini menundukkan kepala.

"Aku mohon..." suara Jessica bergetar. "Beri aku satu kesempatan lagi."

Darius tetap diam.

"Apa pun akan kulakukan."

Jessica mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

"Aku akan menerima semua syaratmu. Meski harus menjatuhkan harga diriku sendiri."

Ia mengangkat wajahnya perlahan.

"Asalkan... aku bisa wisuda tahun ini."

Senyum tipis muncul di sudut bibir Darius. Senyum yang sama sekali tidak mengandung belas kasihan.

Akhirnya... Perempuan yang dahulu menghancurkan hidupnya kini berada di titik terendah, memohon kesempatan kepadanya.

Pemandangan itu menghadirkan kepuasan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

"Mulai hari ini," ucap Darius datar, "kau akan membuktikan bahwa permintaanmu bukan sekadar kata-kata."

Dan sejak hari itu, hidup Jessica menjadi jauh lebih melelahkan.

Setiap pagi sebelum matahari terbit, ia sudah keluar dari apartemennya. Pukul enam, ia harus mengambil jas Darius di sebuah binatu.

Setelah itu, ia menuju kedai kopi yang selalu ramai untuk membeli segelas kopi favorit Darius dengan tiga shot espresso tanpa gula.

Perjalanan belum selesai.

Jessica masih harus mengantri lebih dari tiga puluh menit di sebuah toko roti hanya untuk membeli sekotak macaron dengan rasa yang selalu berubah sesuai keinginan Darius.

Begitu semua selesai, ia berlari menuju kampus agar tiba tepat pukul delapan pagi.

Tak boleh terlambat. Tak boleh salah. Tak boleh ada yang kurang.

Sesampainya di ruang dosen, Jessica meletakkan kopi di atas meja. Jas yang baru selesai dicuci digantung rapi di lemari.

Kotak macaron disimpan di sudut meja kerja. Darius bahkan tidak menoleh. Tanpa ucapan terima kasih, tanpa ekspresi menghargai.

Ia hanya membalik halaman jurnal di tangannya.

Darius memutup file skripsi yang Jessica kirimkan semalam.

"Ganti judulnya."

Jessica menggigit bibirnya.

"Baik."

Namun keesokan harinya, setelah judul baru selesai dibuat, Darius hanya melihatnya beberapa detik.

"Ganti lagi."

Hari berikutnya...

"Masih belum."

"Ulang."

Dan hari berikutnya lagi...

"Ganti."

Begitu terus berulang.

Satu minggu.

Dua minggu.

Jessica bahkan belum diizinkan membahas isi skripsinya. Ia hanya terus mengubah judul sesuai arahan Darius yang selalu berubah-ubah.

Setiap malam ia tidur hanya beberapa jam.

Pagi-pagi menjadi asisten Darius.

Siang menghadiri kuliah. Sore membagikan brosur di pusat perbelanjaan. Malam bekerja sebagai bartender.

Lalu dini hari mengerjakan revisi yang belum tentu akan diterima. Tubuhnya mulai kelelahan. Tetapi setiap kali ia hampir menyerah, satu kalimat selalu terngiang di kepalanya.

"Kalau aku gagal tahun ini... hidupku benar-benar selesai."

***

Seminggu lebih telah berlalu.

File skripsi Jessica kembali berada di email terbaru Darius. Ia berdiri sambil menggigit bibir, menunggu komentar yang sudah bisa ditebak.

Darius membuka email tersebut, membaca beberapa detik, lalu menggeleng pelan.

"Ganti."

Jessica akhirnya tidak mampu lagi menahan emosinya.

"Sampai kapan Pak Darius terus menyuruhku ganti judul?"

Darius mengangkat pandangan.

"Waktuku hampir habis."

Jessica mengepalkan kedua tangannya.

"Aku bahkan belum mulai penelitian karena terus diminta mengganti judul."

Darius menutup laptopnya perlahan.

Klik.

Suara penutup laptop itu terdengar begitu jelas di tengah keheningan.

Ia menyandarkan tubuh pada kursinya.

"Apa kau benar-benar nggak tahu apa kesalahanmu?"

Jessica terdiam. Tatapannya bertemu dengan mata Darius.

Beberapa detik berlalu tanpa suara. Lalu Jessica mengembuskan napas panjang.

"Kalau begitu... Boleh aku minta satu pilihan?" Ia memberanikan diri.

Darius mengangkat sebelah alisnya.

"Pilihan?"

Jessica mengangguk.

"Berikan aku dua pilihan judul."

Ia melangkah mendekati meja.

"Kalau semua yang aku buat selalu salah, setidaknya berikan dua judul yang menurut Bapak layak. Aku akan memilih salah satunya dan mengerjakan penelitian berdasarkan itu."

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Beberapa saat kemudian... Darius justru tertawa pelan.

Jessica mengernyit. Ia tidak menyangka pria itu masih bisa tertawa.

"Kau cerdik juga."

Darius menyandarkan punggungnya.

"Oke, kau bisa memakai judul yang pertama."

Jessica memandangnya bingung.

"Itu yang terbaik. Jauh lebih baik daripada semua judul lain yang kau ajukan setelahnya."

Jessica membeku. Lalu perlahan menarik napas panjang.

Jadi... Selama lebih dari seminggu... Ia diminta mengganti judul hanya untuk kembali pada judul pertamanya.

Rahangnya mengeras. Dalam hati, ia benar-benar ingin memukul wajah Darius. Namun ia hanya memejamkan mata beberapa detik, berusaha menelan emosinya.

"Baik, Pak."

Suaranya terdengar kaku.

"Aku akan mulai menyusun proposal penelitian."

Jessica membungkukkan badan singkat.

"Kalau begitu aku permisi."

Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu.

"Jessica."

Ia menghentikan langkah.

"Sabtu malam, apa kau sibuk?"

Jessica menoleh.

"Aku libur kerja."

"Kau punya gaun, kan?"

Jessica mengernyit.

"Punya."

"Pakai itu."

Jessica semakin bingung.

"Lalu temui aku."

"Di mana?"

"Di depan Hotel Yellow Star jam tujuh malam."

Jessica masih berdiri mematung.

"Untuk apa?"

"Itu bagian dari tugasmu."

Jessica ingin menolak. Namun mengingat posisinya saat ini, ia hanya mampu menelan semua pertanyaan yang memenuhi kepalanya.

"Baik, Pak."

Dengan langkah berat, Jessica keluar dari ruangan itu.

***

Sabtu malam akhirnya tiba.

Jessica berdiri seorang diri di depan Hotel Yellow Star sambil menggenggam tas kecil berwarna hitam. Ia mengenakan gaun hitam panjang tanpa lengan dengan rok tulle yang jatuh anggun hingga menyentuh lantai.

Gaun itu adalah satu-satunya gaun pesta yang masih ia miliki, peninggalan masa ketika hidupnya masih dipenuhi kemewahan. Kini, gaun itu terasa seperti pengingat bahwa semua yang pernah ia miliki telah hilang.

Jessica melirik jam tangannya. Tepat pukul tujuh.

Sebuah sedan hitam berhenti di depannya.

Darius keluar dari kursi pengemudi dengan setelan jas hitam yang pas di tubuhnya. Ia hanya melirik Jessica sekilas sebelum mengangguk tipis.

"Ayo."

Tidak ada pujian. Tidak ada senyuman.

Jessica hanya mengikutinya dalam diam. Mereka memasuki lobi hotel yang dipenuhi lampu kristal berkilauan. Para tamu berlalu-lalang mengenakan pakaian formal, sementara alunan musik klasik memenuhi ruangan.

Jessica masih bertanya-tanya untuk apa Darius membawanya ke tempat semewah ini. Namun langkahnya mendadak terhenti saat melihat sebuah papan besar di depan ballroom.

[WESTMINSTER ACADEMY

Annual Alumni Reunion Gala]

Wajah Jessica langsung pucat.

Reuni... Sekolah mereka. Ia spontan menoleh ke arah Darius.

"Kau..."

Namun Darius terus berjalan tanpa sedikit pun menoleh. Jessica merasakan telapak tangannya mulai berkeringat.

Ia ingin berbalik. Ingin pergi sejauh mungkin dari tempat itu. Tetapi langkah Darius tak pernah berhenti, memaksanya ikut masuk ke dalam ballroom.

Begitu pintu terbuka... sebuah suara lantang memecah ruangan.

"Wah... siapa ini?"

Seorang wanita cantik dengan gaun merah merona melangkah maju sambil tersenyum mengejek.

"Anak koruptor berani juga hadir di reuni kita?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Permainan Berbahaya Sang Dosen   Chapter 5

    Jessica memilih menjauh dari keramaian. Dia berdiri di sudut ballroom yang paling sepi, memandangi cairan merah di dalam gelas wine yang terus diputarnya perlahan. Sesekali ia menyesapnya sedikit, berharap rasa hangat itu mampu meredakan sesak di dadanya. Namun setiap kali mengangkat kepala, Jessica kembali menemukan tatapan orang-orang yang berbisik sambil melirik ke arahnya."Oh. Jadi begini rasanya..."Dulu Jessica sangat senang ketika orang lain menjadi bahan pembicaraan. Kini dia sendiri yang menjadi tontonan."Jessica ya?"Suara perempuan yang terdengar familier membuatnya menoleh.Cristina berdiri di hadapannya dengan senyum tipis. Di belakangnya menyusul Bella dan Angel, tiga sahabat yang dulu selalu berada di sisinya saat masa sekolah.Namun kini, tak ada lagi kehangatan di wajah mereka. Hanya rasa ingin tahu... dan ejekan.Cristina menyilangkan kedua tangannya. "Aku heran. Bagaimana kau bisa tahu ada reuni malam ini?"Jessica terdiam.Cristina tertawa kecil. "Aku yakin kau s

  • Permainan Berbahaya Sang Dosen   Chapter 4

    Keesokan paginya, Jessica berdiri di depan ruang dosen dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Matanya tampak sembap karena semalaman hampir tidak tidur. Setelah menarik napas panjang, ia mengetuk pintu pelan."Masuk."Jessica mendorong pintu perlahan.Darius sedang membaca beberapa jurnal di balik mejanya. Ia bahkan tidak mengangkat kepala ketika Jessica masuk.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Jessica melangkah ke depan mejanya.Lalu... Ia berlutut.Barulah Darius mengangkat pandangan.Tatapannya berubah dingin ketika melihat perempuan yang dulu selalu berdiri paling tinggi di hadapannya kini menundukkan kepala."Aku mohon..." suara Jessica bergetar. "Beri aku satu kesempatan lagi."Darius tetap diam."Apa pun akan kulakukan."Jessica mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih."Aku akan menerima semua syaratmu. Meski harus menjatuhkan harga diriku sendiri."Ia mengangkat wajahnya perlahan."Asalkan... aku bisa wisuda tahun ini."Senyum tipis muncul di sudut

  • Permainan Berbahaya Sang Dosen   Chapter 3

    "Apa begini caramu bekerja?" Suara Darius terdengar tenang, tetapi cukup membuat Jessica membeku.Ia masih mencengkeram pergelangan tangan pria bertubuh tambun itu. Tatapannya dingin, nyaris tanpa emosi.Perlahan Darius melepaskan pelintirannya.Pria itu langsung mengusap pergelangan tangannya yang memerah sambil memaki pelan.Namun sebelum ia sempat mengambil ponselnya yang terjatuh, Darius sudah lebih dulu memungutnya.Jessica mengernyit. "Apa yang sedang kau lakukan?"Darius tidak menjawab.Dengan tenang ia membuka galeri ponsel itu. Jemarinya bergerak cepat menghapus seluruh foto yang baru saja diambil diam-diam.Pria itu sontak berteriak."Hei! Itu ponselku!"Darius menutup layar ponsel tersebut, lalu menatap pria itu tanpa sedikit pun mengubah ekspresinya."Benar."Brak!Ponsel itu dibanting keras ke lantai marmer. Layarnya langsung retak. Pecahannya berhamburan ke mana-mana.Suasana pusat perbelanjaan mendadak sunyi. Pria bertubuh tambun itu melotot tak percaya."Ponselku!"D

  • Permainan Berbahaya Sang Dosen   Chapter 2

    Pintu apartemen kecil itu tertutup dengan bunyi pelan.Jessica menjatuhkan tasnya begitu saja di dekat sofa usang yang juga berfungsi sebagai tempat tidurnya. Ruangan sempit itu hanya memiliki sebuah dapur mungil, kamar mandi, dan jendela kecil yang menghadap deretan bangunan tua di London.Ia merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit yang catnya mulai mengelupas."Kenapa harus dia..."Nama itu kembali memenuhi pikirannya.Darius Raymond.Dari sekian banyak dosen di Blackwood University, mengapa justru pria yang pernah ia bully habis-habisan yang menjadi dosen pembimbingnya?Jessica mengusap wajahnya kasar. Ia masih bisa mengingat tatapan dingin Darius siang tadi.Tatapan yang seolah berkata bahwa semua penderitaan yang kini ia alami belum seberapa dibanding luka yang pernah ia tinggalkan."Uh... dasar pendendam."Jessica bangkit mengambil laptopnya di atas meja lipat. Jemarinya bergerak cepat membuka portal akademik kampus.Pengajuan Pergantian Dosen Pembimbing.Tanpa berpikir

  • Permainan Berbahaya Sang Dosen   Chapter 1

    Suara lirih terdengar dari bibir tipis berwarna pink itu. Jessica menatap wajah tampan Dosen pembimbingnya. Tak pernah berpikir jika dirinya dan Darius, kini berada di atas ranjang membagi kehangatan.Bibir Darius kembali mencium bibir Jessica, lebih dalam, lebih hangat dan liar. Jessica tak bisa menahan diri saat tangan Darius mengusap punggungnya, memeluknya lebih dalam hingga tak ada jarak antara keduanya.Ciuman itu turun ke leher jenjang Jessica membuatnya memejamkan mata merasakan sensasi yang menebarkan.Sesaat Darius menghentikan ciumannya, jemarinya membelai lembut pipi Jessica lalu perlahan turun untuk melepaskan kancing blouse yang dikenakan Jessica. Saat kancing-kancing itu mulai terlepas, Jessica memejamkan mata.Pikirannya melayang saat semua ini belum terjadi. Tepatnya enam bulan lalu ...."Apa? Tidak mungkin..."Suara Jessica Victoria nyaris pecah ketika matanya terpaku pada layar ponselnya. Jemarinya yang masih memegang secangkir kopi perlahan gemetar. Daftar dosen pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status