LOGIN"Apa begini caramu bekerja?"
Suara Darius terdengar tenang, tetapi cukup membuat Jessica membeku. Ia masih mencengkeram pergelangan tangan pria bertubuh tambun itu. Tatapannya dingin, nyaris tanpa emosi. Perlahan Darius melepaskan pelintirannya. Pria itu langsung mengusap pergelangan tangannya yang memerah sambil memaki pelan. Namun sebelum ia sempat mengambil ponselnya yang terjatuh, Darius sudah lebih dulu memungutnya. Jessica mengernyit. "Apa yang sedang kau lakukan?" Darius tidak menjawab. Dengan tenang ia membuka galeri ponsel itu. Jemarinya bergerak cepat menghapus seluruh foto yang baru saja diambil diam-diam. Pria itu sontak berteriak. "Hei! Itu ponselku!" Darius menutup layar ponsel tersebut, lalu menatap pria itu tanpa sedikit pun mengubah ekspresinya. "Benar." Brak! Ponsel itu dibanting keras ke lantai marmer. Layarnya langsung retak. Pecahannya berhamburan ke mana-mana. Suasana pusat perbelanjaan mendadak sunyi. Pria bertubuh tambun itu melotot tak percaya. "Ponselku!" Darius melangkah mendekat hingga hanya berjarak satu langkah. Tatapannya begitu tajam hingga pria itu refleks mundur. "Sekali lagi aku melihatmu melakukan hal seperti itu... bukan cuma ponselmu yang hancur." Ia berhenti sejenak. "Kepalamu juga." Pria itu menelan ludah. Belum sempat suasana mereda, terdengar langkah kaki tergesa-gesa mendekat. "Hei! Ada apa ini?" Martin, supervisor stan promosi, datang dengan wajah panik. Ia memandang bergantian ke arah Darius, Jessica, dan ponsel yang telah hancur. "Jessica! Ada apa ribut-ribut begini?" Pria tambun itu langsung menunjuk Jessica. "Wanita itu yang mulai duluan!" Jessica terbelalak. "Apa?" "Dia menggodaku. Pacarnya nggak terima, terus menghancurkan ponselku!" "Pak, itu tidak benar!" Jessica langsung membela diri. Namun pria itu terus berbicara tanpa memberi kesempatan. "Apa kau nggak bisa mengurus pegawaimu dengan benar? Pegawai kalian malah menggoda pelanggan!" Martin langsung menoleh tajam kepada Jessica. "Apa benar begitu?" "Tidak!" Jessica menggeleng kuat-kuat. "Dia yang—" "Mari kita lihat rekaman CCTV." Suara Darius memotong penjelasannya. Semua orang menoleh kepadanya. "Kita cari tahu siapa yang sebenarnya berbohong." Ekspresi pria tambun itu berubah seketika. Ia mendecakkan lidah kesal. "Sudahlah!" Ia menunjuk logo perusahaan di seragam Jessica. "Aku akan melaporkan pelayanan buruk ini ke kantor pusat Electrik Motor! Pegawai kalian benar-benar nggak kompeten!" Setelah berkata demikian, ia berbalik dan pergi sambil mengumpat. Martin mengembuskan napas panjang. Namun bukannya lega, wajahnya justru dipenuhi amarah. Ia langsung menatap Jessica. "Kalau kantor pusat tahu ada keributan seperti ini, bukan cuma kamu yang dipecat." Ia menunjuk seluruh rekan kerja Jessica. "Tapi semua pegawai di stan ini bisa kena imbas!" Jessica menundukkan kepala. "Maaf, Pak." "Kenapa sih kamu selalu bikin masalah?" Martin mendengus sinis. "Hanya karena dulu pernah jadi orang kaya, bukan berarti kamu bisa seenaknya." Jessica mengepalkan kedua tangannya. Martin sama sekali tidak berhenti. "Anak pejabat korupsi masih saja angkuh." Beberapa pegawai mulai saling berpandangan. Martin tertawa kecil. "Aku bahkan dengar ibumu kabur sama selingkuhannya." Ia menggeleng pelan. "Wah... hidupmu benar-benar hancur." Napas Jessica tercekat. Kata-kata itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada tatapan merendahkan pelanggan tadi. Ia menundukkan kepala semakin dalam. "Maaf, Pak." Suaranya lirih. "Saya akan bertanggung jawab." Martin mendengus sebelum akhirnya berlalu meninggalkan mereka. Jessica tetap berdiri di tempatnya. Tangannya masih mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di sampingnya, Darius memandang punggung Martin yang menjauh. Rahangnya mengeras. Ini bukan Jessica yang ia kenal. Perempuan yang dulu selalu berdiri paling depan saat merendahkan orang lain... Kini hanya mampu menundukkan kepala ketika dirinya dihina. Ia mengembuskan napas pelan, lalu berbalik hendak meninggalkan tempat itu. "Darius... apa kau puas?" Suara Jessica terdengar lantang dari belakangnya. Beberapa pengunjung yang melintas spontan menoleh. Darius menghentikan langkahnya. Jessica menatapnya dengan mata yang mulai memerah. "Kau sudah lihat sendiri hidupku hancur." Napasnya mulai memburu. "Ayahku dipenjara. Ibuku kabur. Aku kerja berdiri seharian di sini cuma buat bayar tagihan dan makan." Ia tertawa hambar. "Apa itu masih belum cukup?" Darius tetap diam. "Apa kau masih ingin aku jadi pelayanmu?" Kalimat itu membuat tatapan Darius berubah. Rasa iba yang sempat muncul beberapa detik lalu lenyap seketika. Yang tersisa hanyalah bayangan masa lalu. Dua tahun. Dua tahun ia datang ke sekolah dengan kepala tertunduk. Dua tahun buku-bukunya dibuang, seragamnya dicoret, dan harga dirinya diinjak tanpa seorang pun membelanya. Luka itu... Tak pernah benar-benar sembuh. Darius berbalik perlahan. Tatapannya kembali sedingin biasanya. Ia mengambil beberapa lembar brosur yang masih tersisa di lantai. Tanpa sepatah kata, ia mengembalikannya. Jessica refleks mengulurkan tangan untuk menerima. Namun sesaat kemudian... Darius menangkap pergelangan tangannya dengan kuat. Jessica tersentak. Tarikan itu membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan hingga hampir menabrak dada Darius. Jarak mereka kini hanya terpaut beberapa sentimeter. Suara bising pusat perbelanjaan seakan menghilang. Dengan nada rendah yang hanya bisa didengar Jessica, Darius berbisik, "Kalau kau ingin terus bekerja seperti ini..." Tatapannya turun sekilas pada seragam promosi yang dikenakan Jessica. "...lanjutkan saja." Rahangnya mengeras. "Cari dosen lain yang bersedia menerimamu." Jessica menggigit bibirnya. "Karena aku..." Darius melepaskan pergelangan tangan Jessica perlahan. "...tidak akan menerimamu lagi." Jessica membeku. "Aku sudah memberimu satu kesempatan. Dan kau menyia-nyiakannya." Ia menatap Jessica untuk terakhir kalinya. "Mulai sekarang, jangan pernah datang mencariku lagi." Setelah mengucapkan kalimat itu, Darius berbalik. Tanpa menoleh sedikit pun, ia berjalan meninggalkan Jessica yang masih berdiri mematung di tengah keramaian. Di tangannya, brosur-brosur promosi kembali berhamburan tertiup angin. Namun kali ini... Jessica bahkan tidak memiliki tenaga untuk memungutnya. *** Musik menghentak memenuhi ruangan bar yang mulai dipadati pengunjung malam itu. Lampu-lampu redup berwarna jingga memantulkan bayangan gelas-gelas kaca yang berjejer rapi di belakang meja bartender. Jessica berdiri sambil menuangkan minuman ke dalam gelas pelanggan. Senyum tipis terus ia paksakan meski pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Bayangan Darius terus memenuhi kepalanya. Jessica menggertakkan giginya. "Brengsek..." Ia mengelap meja bar dengan gerakan kasar. "Mentang-mentang sekarang jadi dosen." Saat hendak membuang gelas kosong yang ditinggalkan pelanggan, matanya tertuju pada sisa bir yang masih menggenang di dasar gelas. Jessica melirik ke kanan dan kiri. Tak ada yang memperhatikannya. Dengan cepat ia mengangkat gelas itu, lalu menenggaknya hingga tandas. Cairan dingin itu mengalir melewati tenggorokannya. Ia mengembuskan napas panjang. Setidaknya untuk beberapa detik, kepalanya terasa sedikit lebih ringan. "Jessica!" Suara berat seseorang membuatnya tersentak. Ia buru-buru meletakkan gelas itu. "Ya, Bos." Bos bar itu menganggukkan kepala ke arah ruang penyimpanan di belakang. "Ikut aku." Jessica menelan ludah sebelum mengikuti pria paruh baya itu. Begitu pintu tertutup, suasana langsung berubah sunyi. Pria itu menyandarkan tubuhnya pada meja sambil melipat kedua tangan. "Kapan kau mau membayar hutangmu?" Jessica mengepalkan kedua tangannya. "Tolong beri aku sedikit waktu lagi." Pria itu terkekeh pelan. "Waktu?" Ia mengangkat dagu Jessica dengan ujung jarinya, memaksanya menatap wajahnya. "Kau cantik, sayang." Jessica refleks mundur, tetapi punggungnya sudah membentur rak penyimpanan. Pria itu kembali membelai pelan pipinya. "Tubuhmu juga seksi." Jessica menahan napas. "Kenapa kau nggak menjual saja tubuhmu?" Senyumnya semakin lebar. "Dengan wajah dan tubuh seperti ini, hutangmu akan lunas dalam waktu singkat." Jessica merasakan seluruh tubuhnya bergetar. "Bahkan hidupmu akan jauh lebih nyaman daripada bekerja siang malam seperti sekarang." Jessica menepis perlahan tangan pria itu. Matanya mulai memerah. "Tolong..." Suaranya bergetar. "Berikan aku sedikit waktu." Ia menundukkan kepala dalam-dalam. "Aku janji akan melunasi semuanya." Pria itu menatap Jessica beberapa saat, lalu tersenyum tipis sebelum melangkah mundur. "Aku harap kau nggak membuatku menunggu terlalu lama, Jessica sayang." Pintu ruang penyimpanan kembali terbuka. Jessica tetap berdiri di tempatnya. Kedua tangannya mengepal erat, sementara air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh tanpa suara.Jessica memilih menjauh dari keramaian. Dia berdiri di sudut ballroom yang paling sepi, memandangi cairan merah di dalam gelas wine yang terus diputarnya perlahan. Sesekali ia menyesapnya sedikit, berharap rasa hangat itu mampu meredakan sesak di dadanya. Namun setiap kali mengangkat kepala, Jessica kembali menemukan tatapan orang-orang yang berbisik sambil melirik ke arahnya."Oh. Jadi begini rasanya..."Dulu Jessica sangat senang ketika orang lain menjadi bahan pembicaraan. Kini dia sendiri yang menjadi tontonan."Jessica ya?"Suara perempuan yang terdengar familier membuatnya menoleh.Cristina berdiri di hadapannya dengan senyum tipis. Di belakangnya menyusul Bella dan Angel, tiga sahabat yang dulu selalu berada di sisinya saat masa sekolah.Namun kini, tak ada lagi kehangatan di wajah mereka. Hanya rasa ingin tahu... dan ejekan.Cristina menyilangkan kedua tangannya. "Aku heran. Bagaimana kau bisa tahu ada reuni malam ini?"Jessica terdiam.Cristina tertawa kecil. "Aku yakin kau s
Keesokan paginya, Jessica berdiri di depan ruang dosen dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Matanya tampak sembap karena semalaman hampir tidak tidur. Setelah menarik napas panjang, ia mengetuk pintu pelan."Masuk."Jessica mendorong pintu perlahan.Darius sedang membaca beberapa jurnal di balik mejanya. Ia bahkan tidak mengangkat kepala ketika Jessica masuk.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Jessica melangkah ke depan mejanya.Lalu... Ia berlutut.Barulah Darius mengangkat pandangan.Tatapannya berubah dingin ketika melihat perempuan yang dulu selalu berdiri paling tinggi di hadapannya kini menundukkan kepala."Aku mohon..." suara Jessica bergetar. "Beri aku satu kesempatan lagi."Darius tetap diam."Apa pun akan kulakukan."Jessica mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih."Aku akan menerima semua syaratmu. Meski harus menjatuhkan harga diriku sendiri."Ia mengangkat wajahnya perlahan."Asalkan... aku bisa wisuda tahun ini."Senyum tipis muncul di sudut
"Apa begini caramu bekerja?" Suara Darius terdengar tenang, tetapi cukup membuat Jessica membeku.Ia masih mencengkeram pergelangan tangan pria bertubuh tambun itu. Tatapannya dingin, nyaris tanpa emosi.Perlahan Darius melepaskan pelintirannya.Pria itu langsung mengusap pergelangan tangannya yang memerah sambil memaki pelan.Namun sebelum ia sempat mengambil ponselnya yang terjatuh, Darius sudah lebih dulu memungutnya.Jessica mengernyit. "Apa yang sedang kau lakukan?"Darius tidak menjawab.Dengan tenang ia membuka galeri ponsel itu. Jemarinya bergerak cepat menghapus seluruh foto yang baru saja diambil diam-diam.Pria itu sontak berteriak."Hei! Itu ponselku!"Darius menutup layar ponsel tersebut, lalu menatap pria itu tanpa sedikit pun mengubah ekspresinya."Benar."Brak!Ponsel itu dibanting keras ke lantai marmer. Layarnya langsung retak. Pecahannya berhamburan ke mana-mana.Suasana pusat perbelanjaan mendadak sunyi. Pria bertubuh tambun itu melotot tak percaya."Ponselku!"D
Pintu apartemen kecil itu tertutup dengan bunyi pelan.Jessica menjatuhkan tasnya begitu saja di dekat sofa usang yang juga berfungsi sebagai tempat tidurnya. Ruangan sempit itu hanya memiliki sebuah dapur mungil, kamar mandi, dan jendela kecil yang menghadap deretan bangunan tua di London.Ia merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit yang catnya mulai mengelupas."Kenapa harus dia..."Nama itu kembali memenuhi pikirannya.Darius Raymond.Dari sekian banyak dosen di Blackwood University, mengapa justru pria yang pernah ia bully habis-habisan yang menjadi dosen pembimbingnya?Jessica mengusap wajahnya kasar. Ia masih bisa mengingat tatapan dingin Darius siang tadi.Tatapan yang seolah berkata bahwa semua penderitaan yang kini ia alami belum seberapa dibanding luka yang pernah ia tinggalkan."Uh... dasar pendendam."Jessica bangkit mengambil laptopnya di atas meja lipat. Jemarinya bergerak cepat membuka portal akademik kampus.Pengajuan Pergantian Dosen Pembimbing.Tanpa berpikir
Suara lirih terdengar dari bibir tipis berwarna pink itu. Jessica menatap wajah tampan Dosen pembimbingnya. Tak pernah berpikir jika dirinya dan Darius, kini berada di atas ranjang membagi kehangatan.Bibir Darius kembali mencium bibir Jessica, lebih dalam, lebih hangat dan liar. Jessica tak bisa menahan diri saat tangan Darius mengusap punggungnya, memeluknya lebih dalam hingga tak ada jarak antara keduanya.Ciuman itu turun ke leher jenjang Jessica membuatnya memejamkan mata merasakan sensasi yang menebarkan.Sesaat Darius menghentikan ciumannya, jemarinya membelai lembut pipi Jessica lalu perlahan turun untuk melepaskan kancing blouse yang dikenakan Jessica. Saat kancing-kancing itu mulai terlepas, Jessica memejamkan mata.Pikirannya melayang saat semua ini belum terjadi. Tepatnya enam bulan lalu ...."Apa? Tidak mungkin..."Suara Jessica Victoria nyaris pecah ketika matanya terpaku pada layar ponselnya. Jemarinya yang masih memegang secangkir kopi perlahan gemetar. Daftar dosen pe







