LOGINJessica memilih menjauh dari keramaian. Dia berdiri di sudut ballroom yang paling sepi, memandangi cairan merah di dalam gelas wine yang terus diputarnya perlahan. Sesekali ia menyesapnya sedikit, berharap rasa hangat itu mampu meredakan sesak di dadanya. Namun setiap kali mengangkat kepala, Jessica kembali menemukan tatapan orang-orang yang berbisik sambil melirik ke arahnya.
"Oh. Jadi begini rasanya..." Dulu Jessica sangat senang ketika orang lain menjadi bahan pembicaraan. Kini dia sendiri yang menjadi tontonan. "Jessica ya?" Suara perempuan yang terdengar familier membuatnya menoleh. Cristina berdiri di hadapannya dengan senyum tipis. Di belakangnya menyusul Bella dan Angel, tiga sahabat yang dulu selalu berada di sisinya saat masa sekolah. Namun kini, tak ada lagi kehangatan di wajah mereka. Hanya rasa ingin tahu... dan ejekan. Cristina menyilangkan kedua tangannya. "Aku heran. Bagaimana kau bisa tahu ada reuni malam ini?" Jessica terdiam. Cristina tertawa kecil. "Aku yakin kau sudah nggak ada di grup alumni." Bella ikut terkekeh. "Setelah tiga bulan lalu jatuh miskin, siapa juga yang masih mau memasukkan tikus menjijikan sepertimu ke grup?" Jessica baru saja membuka mulut. Namun sebuah suara lain lebih dulu terdengar. "Memang seharusnya Jessica ada di sini." Semua orang menoleh. Darius berjalan mendekat dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Tatapannya berhenti pada Jessica. "Bukankah dulu dia penguasa Westminster Academy?" Ucapan itu terdengar datar. Namun justru membuat Jessica merasa semakin dipermalukan. Cristina langsung tersenyum kepada Darius. "Maaf ya, Darius." Perempuan itu menggeleng pelan. "Aku masih ingat bagaimana Jessica memperlakukanmu dulu." Bella menimpali. "Iya. Dia bahkan hampir menghancurkan masa depanmu." Angel mengangguk setuju. "Untung saja kau bisa bangkit." Jessica hanya menggenggam gelasnya lebih erat. Bella melirik Jessica dari ujung kepala hingga kaki. "Lucu juga. Dulu kau sok jadi perempuan paling sok mahal." Jessica mengangkat pandangan. "Kau selalu jual mahal sama semua cowok." Bella tertawa. "Katanya cuma mau disentuh pria yang sanggup mengajakmu keliling Eropa." Angel menambahkan sambil tersenyum sinis. "Naik kapal pesiar. Tapi setelah ada yang sanggup memenuhi itu..." Bella kembali menyambung. "...kau malah menaikkan syarat lagi." Ketiganya tertawa bersamaan. Jessica menarik napas panjang sebelum akhirnya menatap mereka satu per satu. "Memangnya kenapa?" Suasana langsung hening. Jessica tersenyum tipis. "Setidaknya aku dijauhkan dari penyakit akibat pergaulan bebas." Senyum Bella langsung menghilang. Angel mengepalkan rahangnya. Sementara Cristina hanya tertawa kecil. "Apa hebatnya jadi perempuan suci?" Dia melangkah semakin dekat. "Sikapmu dan keluargamu saja sudah busuk sejak dulu." Tatapan Cristina berubah tajam. "Lagipula... ayahmu koruptor." Ia sengaja mengeraskan suaranya agar orang-orang di sekitar ikut mendengar. Jessica membeku. "Dan ibumu?" Cristina lanjut mencibir. "Bukankah dia kabur dengan pria lain? Setelah ayahmu dipenjara." Ia menggeleng pelan dengan senyum penuh kemenangan. "Benar-benar keluarga sampah." Ucapan Cristina membuat kesabaran Jessica runtuh. Tanpa berpikir panjang, ia mengangkat gelas wine di tangannya. Byur! Cairan merah itu langsung membasahi wajah, rambut, hingga gaun putih Cristina. Ballroom mendadak hening. "Aaaah!" Cristina menjerit histeris sambil menutup wajahnya. "Jessica!" Dalam hitungan detik, ia menerjang Jessica tanpa pikir panjang. Brak! Keduanya terjatuh ke lantai. Cristina langsung mencengkeram rambut Jessica sekuat tenaga. "Kau gila!" Jessica meringis kesakitan, tetapi ia membalas dengan menarik rambut Cristina sama kerasnya. "Kau yang mulai duluan!" "Aku akan membunuhmu!" "Silakan coba!" Orang-orang di sekitar hanya berteriak panik. Beberapa pria berusaha melerai, tetapi kedua perempuan itu sama-sama tidak mau melepaskan cengkeramannya. Rambut berantakan. Gaun mereka kusut. Kuku-kuku panjang Cristina beberapa kali menggores pipi Jessica hingga meninggalkan garis kemerahan. Jessica pun membalas dengan mendorong tubuh Cristina hingga keduanya kembali berguling di atas lantai ballroom. Di tengah keributan itu... Darius hanya berdiri beberapa meter dari mereka. Senyum kecil terukir di sudut bibirnya. Entah mengapa... Pemandangan itu memberinya kepuasan yang aneh. Seolah Jessica akhirnya merasakan bagaimana rasanya dipermalukan di depan banyak orang. Beberapa menit kemudian... Jessica keluar dari hotel dengan langkah terseok. Rambutnya acak-acakan. Sudut bibirnya sedikit terluka. Bekas goresan kuku tampak jelas di pipi kirinya. Ia bahkan sudah tidak peduli lagi dengan gaun hitam yang kini kusut dan sedikit robek di bagian bawah. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh begitu saja. "Jessica." Suara Darius terdengar dari belakang. Jessica menghentikan langkah. Darius berjalan menghampirinya dengan tenang. "Kenapa kau kabur?" Jessica berbalik perlahan. Tatapannya dipenuhi kemarahan. "Apa sekarang kau puas?" Suaranya mulai bergetar. "Kau bukan cuma menginjak harga diriku di kampus..." Ia menunjuk hotel di belakang mereka. "...tapi juga sengaja membawaku ke neraka." Darius tidak mengalihkan pandangan. Jessica melangkah mendekat. "Kenapa hanya aku?" Air matanya terus mengalir. "Kenapa cuma aku yang kau balas?" Napasnya mulai memburu. "Mereka juga ikut membullymu!" "Cristina. Bella. Angel. Mereka semua ada di sana." Jessica menatap lurus ke mata Darius. "Kenapa hanya aku yang kau jadikan sasaran?" Rahangan Darius langsung mengeras. Ia melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa sentimeter. Tatapannya berubah dingin. "Apakah kau lupa... siapa yang memulainya?" Jessica membeku. "Kalau bukan karena kau... mereka tidak akan pernah ikut membullyku." Jessica menunduk. Darius terus menatapnya. "Bagaimana rasanya? Apa kau sudah mengerti sekarang?" Jessica menggigit bibirnya. Kenangan itu kembali muncul. Dirinya yang tertawa paling keras. Dirinya yang pertama kali menyebut Darius si kutu buku. Dirinya yang memancing teman-temannya untuk ikut mengejek. Dan setelah itu... Semua menjadi di luar kendali. Air mata Jessica kembali jatuh. "Aku tahu aku salah." Jessica mengangkat wajahnya yang sudah dipenuhi air mata. Tatapannya benar-benar kehilangan semua kesombongan yang dulu pernah dimilikinya. "Tapi sampai kapan, Darius?" Suaranya pecah. "Sampai kapan kau akan terus membalasku?" Ia mengepalkan kedua tangannya. "Apa lagi yang harus kulakukan? Apa aku harus kehilangan pekerjaanku? Keluar dari kampus? Atau menghilang dari hidupmu?" Jessica menatap Darius dengan putus asa. "Katakan padaku... Harus bagaimana supaya kau berhenti merendahkanku seperti ini?" "Hahaha..." Jessica mengangkat kepala. Darius tertawa terbahak-bahak. Bahkan sampai ia harus memegangi perutnya sendiri karena terlalu lama tertawa. "Hahaha... astaga....aku tertawa sampai menangis mendengarnya..." Ia menggeleng-gelengkan kepala, seolah baru saja mendengar lelucon paling lucu dalam hidupnya. Perlahan tawa Darius mereda. Ia mengusap sudut matanya yang mulai basah akibat terlalu banyak tertawa. Lalu menatap Jessica kembali. "Baru sebulan kau mengalami semua itu." Jessica mengepalkan kedua tangannya. "Bayangkan... apa yang kurasakan selama dua tahun." "Setiap hari aku datang ke sekolah dengan rasa takut. Setiap hari aku dipermalukan." Bahu Darius perlahan menegang. "Kau membuat hidupku seperti neraka." Jessica menundukkan kepala. "Kau membuatku menjadi tontonan seluruh sekolah. Semua orang tertawa. Tidak ada satu pun yang membelaku." Ia tertawa hambar. "Teman-temanku diam. Guru-guruku diam. Bahkan pihak sekolah pun memilih diam." Tatapannya menusuk tepat ke mata Jessica. "Karena kau... adalah penguasa. Putri keluarga terhormat. Anak politikus yang semua orang takuti." Jessica menggigit bibirnya hingga terasa nyeri. "Dan sekarang... setelah kau kehilangan semuanya... kau pikir aku akan puas? dan berhenti begitu saja? " Darius mendengus pelan. "Aku tidak akan pernah puas." Ia melangkah semakin dekat. "Sampai kau benar-benar merasakan semua yang pernah kurasakan." Jessica tak sanggup lagi menahan air matanya. Seketika ia berlutut, tubuhnya bergetar menahan tangis. "Maaf..." Suaranya pecah. "Aku benar-benar minta maaf. Aku tahu aku salah. Aku tahu semua ini salahku." Ia menangis semakin keras. "Tolong... Aku sudah nggak kuat lagi. Aku akan lakukan apapun." Darius hanya memandangnya tanpa ekspresi. Beberapa detik berlalu. Lalu ia mengembuskan napas panjang. "Ini mulai tidak seru." Darius berbalik meninggalkannya. Namun tiba-tiba ia berhenti. Tanpa menoleh, ia berdiri beberapa detik, seolah sedang memikirkan sesuatu. Senyum Darius mengembang. "Apapun kan?" Lalu ia kembali berjalan ke arah Jessica. Darius membungkukkan tubuh hingga wajah mereka sejajar. Tatapannya kini jauh lebih tenang daripada sebelumnya. "Tidur denganku." Jessica mengernyit. "Apa?" "Serahkan keperawananmu padaku.”Jessica memilih menjauh dari keramaian. Dia berdiri di sudut ballroom yang paling sepi, memandangi cairan merah di dalam gelas wine yang terus diputarnya perlahan. Sesekali ia menyesapnya sedikit, berharap rasa hangat itu mampu meredakan sesak di dadanya. Namun setiap kali mengangkat kepala, Jessica kembali menemukan tatapan orang-orang yang berbisik sambil melirik ke arahnya."Oh. Jadi begini rasanya..."Dulu Jessica sangat senang ketika orang lain menjadi bahan pembicaraan. Kini dia sendiri yang menjadi tontonan."Jessica ya?"Suara perempuan yang terdengar familier membuatnya menoleh.Cristina berdiri di hadapannya dengan senyum tipis. Di belakangnya menyusul Bella dan Angel, tiga sahabat yang dulu selalu berada di sisinya saat masa sekolah.Namun kini, tak ada lagi kehangatan di wajah mereka. Hanya rasa ingin tahu... dan ejekan.Cristina menyilangkan kedua tangannya. "Aku heran. Bagaimana kau bisa tahu ada reuni malam ini?"Jessica terdiam.Cristina tertawa kecil. "Aku yakin kau s
Keesokan paginya, Jessica berdiri di depan ruang dosen dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Matanya tampak sembap karena semalaman hampir tidak tidur. Setelah menarik napas panjang, ia mengetuk pintu pelan."Masuk."Jessica mendorong pintu perlahan.Darius sedang membaca beberapa jurnal di balik mejanya. Ia bahkan tidak mengangkat kepala ketika Jessica masuk.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Jessica melangkah ke depan mejanya.Lalu... Ia berlutut.Barulah Darius mengangkat pandangan.Tatapannya berubah dingin ketika melihat perempuan yang dulu selalu berdiri paling tinggi di hadapannya kini menundukkan kepala."Aku mohon..." suara Jessica bergetar. "Beri aku satu kesempatan lagi."Darius tetap diam."Apa pun akan kulakukan."Jessica mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih."Aku akan menerima semua syaratmu. Meski harus menjatuhkan harga diriku sendiri."Ia mengangkat wajahnya perlahan."Asalkan... aku bisa wisuda tahun ini."Senyum tipis muncul di sudut
"Apa begini caramu bekerja?" Suara Darius terdengar tenang, tetapi cukup membuat Jessica membeku.Ia masih mencengkeram pergelangan tangan pria bertubuh tambun itu. Tatapannya dingin, nyaris tanpa emosi.Perlahan Darius melepaskan pelintirannya.Pria itu langsung mengusap pergelangan tangannya yang memerah sambil memaki pelan.Namun sebelum ia sempat mengambil ponselnya yang terjatuh, Darius sudah lebih dulu memungutnya.Jessica mengernyit. "Apa yang sedang kau lakukan?"Darius tidak menjawab.Dengan tenang ia membuka galeri ponsel itu. Jemarinya bergerak cepat menghapus seluruh foto yang baru saja diambil diam-diam.Pria itu sontak berteriak."Hei! Itu ponselku!"Darius menutup layar ponsel tersebut, lalu menatap pria itu tanpa sedikit pun mengubah ekspresinya."Benar."Brak!Ponsel itu dibanting keras ke lantai marmer. Layarnya langsung retak. Pecahannya berhamburan ke mana-mana.Suasana pusat perbelanjaan mendadak sunyi. Pria bertubuh tambun itu melotot tak percaya."Ponselku!"D
Pintu apartemen kecil itu tertutup dengan bunyi pelan.Jessica menjatuhkan tasnya begitu saja di dekat sofa usang yang juga berfungsi sebagai tempat tidurnya. Ruangan sempit itu hanya memiliki sebuah dapur mungil, kamar mandi, dan jendela kecil yang menghadap deretan bangunan tua di London.Ia merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit yang catnya mulai mengelupas."Kenapa harus dia..."Nama itu kembali memenuhi pikirannya.Darius Raymond.Dari sekian banyak dosen di Blackwood University, mengapa justru pria yang pernah ia bully habis-habisan yang menjadi dosen pembimbingnya?Jessica mengusap wajahnya kasar. Ia masih bisa mengingat tatapan dingin Darius siang tadi.Tatapan yang seolah berkata bahwa semua penderitaan yang kini ia alami belum seberapa dibanding luka yang pernah ia tinggalkan."Uh... dasar pendendam."Jessica bangkit mengambil laptopnya di atas meja lipat. Jemarinya bergerak cepat membuka portal akademik kampus.Pengajuan Pergantian Dosen Pembimbing.Tanpa berpikir
Suara lirih terdengar dari bibir tipis berwarna pink itu. Jessica menatap wajah tampan Dosen pembimbingnya. Tak pernah berpikir jika dirinya dan Darius, kini berada di atas ranjang membagi kehangatan.Bibir Darius kembali mencium bibir Jessica, lebih dalam, lebih hangat dan liar. Jessica tak bisa menahan diri saat tangan Darius mengusap punggungnya, memeluknya lebih dalam hingga tak ada jarak antara keduanya.Ciuman itu turun ke leher jenjang Jessica membuatnya memejamkan mata merasakan sensasi yang menebarkan.Sesaat Darius menghentikan ciumannya, jemarinya membelai lembut pipi Jessica lalu perlahan turun untuk melepaskan kancing blouse yang dikenakan Jessica. Saat kancing-kancing itu mulai terlepas, Jessica memejamkan mata.Pikirannya melayang saat semua ini belum terjadi. Tepatnya enam bulan lalu ...."Apa? Tidak mungkin..."Suara Jessica Victoria nyaris pecah ketika matanya terpaku pada layar ponselnya. Jemarinya yang masih memegang secangkir kopi perlahan gemetar. Daftar dosen pe







