LOGINPintu apartemen kecil itu tertutup dengan bunyi pelan.
Jessica menjatuhkan tasnya begitu saja di dekat sofa usang yang juga berfungsi sebagai tempat tidurnya. Ruangan sempit itu hanya memiliki sebuah dapur mungil, kamar mandi, dan jendela kecil yang menghadap deretan bangunan tua di London. Ia merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit yang catnya mulai mengelupas. "Kenapa harus dia..." Nama itu kembali memenuhi pikirannya. Darius Raymond. Dari sekian banyak dosen di Blackwood University, mengapa justru pria yang pernah ia bully habis-habisan yang menjadi dosen pembimbingnya? Jessica mengusap wajahnya kasar. Ia masih bisa mengingat tatapan dingin Darius siang tadi. Tatapan yang seolah berkata bahwa semua penderitaan yang kini ia alami belum seberapa dibanding luka yang pernah ia tinggalkan. "Uh... dasar pendendam." Jessica bangkit mengambil laptopnya di atas meja lipat. Jemarinya bergerak cepat membuka portal akademik kampus. Pengajuan Pergantian Dosen Pembimbing. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengisi formulir perpindahan. Klik. Terkirim. Beberapa menit kemudian, sebuah notifikasi masuk. [Permohonan ditolak. Dosen pembimbing telah ditetapkan oleh fakultas dan tidak dapat diganti tanpa alasan akademik yang sah.] Jessica mendecakkan lidah. Ia mencoba lagi. Mengajukan kepada dosen lain. Ditolak. Ia mengirim permohonan ketiga dengan alasan ketidakcocokan. Jawabannya tetap sama. Ditolak. Jessica menutup laptopnya dengan kesal. "Kalau begini... apa aku harus mengulang lagi tahun depan? Aku tidak boleh di drop out lagi." Kalimat itu keluar begitu saja. Namun sesaat kemudian ia tertawa hambar. Mengulang? Dengan uang apa? Biaya kuliahnya saja belum lunas. Tagihan apartemen bulan depan sudah menunggu. Belum lagi biaya makan, listrik, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari. Tiba-tiba ponselnya berdering. Nomor yang sama. Untuk ketujuh kalinya hari itu. Jessica mengembuskan napas panjang sebelum mengangkat panggilan tersebut. Suara petugas penagihan terdengar tegas, mengingatkan bahwa cicilan layanan pay later miliknya telah menunggak selama tiga bulan. Jika ia tidak segera melakukan pembayaran, denda akan terus bertambah dan datanya berpotensi dilaporkan kepada biro kredit. Jessica hanya mampu meminta tambahan waktu. Begitu panggilan berakhir, ia memejamkan mata. Isi rekeningnya bahkan tidak cukup untuk menutup setengah dari tagihan tersebut. Belum sempat ia menenangkan diri, alarm di ponselnya berbunyi. Shift kerja dimulai pukul 15.00. Jessica segera bangkit. Ia membuka lemari kecil yang isinya tak lagi sebanyak dulu. Tidak ada gaun mahal, tas bermerek, ataupun sepatu keluaran terbaru. Yang tersisa hanyalah beberapa potong pakaian kerja yang mulai pudar warnanya. Ia mengenakan seragam yang telah disediakan perusahaan tempatnya bekerja paruh waktu. Roknya di atas lutut dipadukan dengan kemeja yang ketat agar tampak menarik bagi calon pelanggan. Jessica sempat menarik bagian bawah rok itu beberapa kali, berusaha membuatnya terasa lebih nyaman. Dulu ia tak pernah membayangkan akan mengenakan pakaian seperti ini demi mencari nafkah. *** Beberapa menit kemudian, ia tiba di sebuah pusat perbelanjaan yang ramai. Seorang supervisor menyerahkan setumpuk brosur promosi produk kecantikan kepadanya. "Tersenyum pada setiap pelanggan. Sapa mereka dengan ramah. Semakin banyak orang yang menerima brosur dan mampir ke stan, semakin besar peluangmu mendapatkan bonus." Jessica mengangguk pelan. Ia berdiri di depan pintu masuk pusat perbelanjaan, memaksakan senyum kepada setiap orang yang lewat. "Selamat sore. Silakan lihat promo terbaru kami." Sebagian besar orang bahkan tidak meliriknya. Ada yang mengambil brosur tanpa mengucapkan terima kasih. Ada pula yang menepis tangannya begitu saja. Jessica hanya menarik napas panjang dan kembali mengulurkan brosur kepada orang berikutnya. Beberapa tahun lalu, ia adalah putri seorang politikus yang datang ke pusat perbelanjaan untuk berbelanja. Kini, ia berdiri berjam-jam hanya agar cukup uang untuk membayar makan malamnya. Jessica terus memaksakan senyum meski kedua kakinya mulai terasa kebas. Sudah hampir tiga jam ia berdiri di depan pintu masuk pusat perbelanjaan sambil membagikan brosur kepada setiap orang yang lewat. Tenggorokannya kering, bibirnya pecah-pecah, tetapi ia tak berani meninggalkan posisinya. "Minum dulu." Jessica menoleh. Seorang gadis berambut pendek menyodorkan sebotol air mineral dingin sambil tersenyum. "Kesha..." Jessica menerima botol itu, tetapi langsung menoleh ke arah stan mereka. "Kalau Supervisor Martin lihat, kita bisa dimarahin." Kesha mendengus pelan. "Kalau nggak minum sekarang, sebelum dimarahin kau keburu mati kehausan." Jessica terkekeh tipis. Ia membuka tutup botol dan meneguk air itu dengan lahap. Air dingin mengalir melewati tenggorokannya yang kering, membuat tubuhnya terasa sedikit lebih ringan. "Ah... hidup lagi rasanya." "Kan?" Kesha menyandarkan bahunya ke dinding. "Kadang aku mikir, kalau kita punya gelar sarjana, mungkin kita nggak bakal berdiri seharian begini." Jessica terdiam. Tatapannya perlahan jatuh pada brosur-brosur di tangannya. "Kita bakal kerja di kantor," lanjut Kesha. "Duduk di depan komputer, ada AC, pulang tepat waktu. Bukan senyum terus sama orang yang bahkan nggak mau lihat muka kita." Jessica menggigit bibirnya pelan. Ucapan itu menusuk lebih dalam daripada yang dibayangkannya. Ia masih memiliki skripsi. Kalau ia berhasil lulus tahun ini... Setidaknya hidupnya bisa berubah. Ia tak perlu lagi berdiri berjam-jam seperti ini, menjadi pajangan hidup demi menarik perhatian pelanggan. Apa pun yang terjadi... Ia tidak boleh menyerah. Bahkan jika itu berarti harus menghadapi Darius setiap minggu. "Kau melamun lagi." Suara Kesha membuyarkan pikirannya. Jessica menggeleng kecil. "Nggak apa-apa." "Semangat, Jess. Tinggal bertahan." Jessica mengangguk. "Ya." Beberapa saat kemudian, pusat perbelanjaan mulai semakin ramai. Orang-orang berdatangan memenuhi lorong utama. Musik dari toko-toko terdengar saling bersahutan. Jessica kembali menjalankan tugasnya. "Selamat malam, silakan lihat promo terbaru kami." Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh tambun dengan setelan jas mahal menghampirinya. Aroma parfum yang terlalu menyengat langsung menusuk hidung Jessica. "Promonya apa, cantik?" Jessica tetap tersenyum profesional. "Silakan, Pak." Pria itu menerima brosur tersebut, lalu sengaja menjatuhkannya ke lantai. "Oh." Ia tersenyum menyebalkan. "Jatuh. Ambilin dong, cantik ..." Jessica menarik napas pelan. Tak ingin membuat keributan di depan pelanggan, ia segera berjongkok untuk mengambil brosur itu. “Eh ... jangan jongkok gitu dong, agak nungging dikit boleh lahh,” tahan pria itu dengan nada menggoda. Jessica mengepalkan rahangnya. Ia tahu. Pria itu sedang melecehkannya. Meski begitu, ia tetap menungging dan mulai mengumpulkan brosur yang berserakan. Tatapan pria itu tak pernah lepas darinya. Matanya menjelajah dari ujung rambut hingga ke kaki Jessica yang sebagian terlihat karena posisi tubuhnya saat memungut kertas. Senyumnya semakin menjijikkan. Tanpa rasa malu, ia mengeluarkan ponselnya. Lalu mengarahkan ponselnya ke bawah rok Jessica yang tersingkap karena posisinya yang menungging. Pria itu terlihat semakin blingsatan. Ia bahkan menjulurkan lidah, seolah terangsang akan sesuatu. Kilatan kamera terdengar pelan. Jessica membeku. Pria itu baru saja mengambil fotonya. "Wah ... kau putih sekali sayang. Andai bisa lihat lebih dalam lagi." Belum sempat Jessica bereaksi, terdengar suara seseorang mengaduh kesakitan. "Aaargh!" Ponsel pria itu jatuh ke lantai. Tangannya dipelintir ke belakang dengan keras hingga tubuhnya ikut membungkuk. "Akh... sakit! Lepaskan!" Jessica kembali berdiri dan menoleh cepat. Seorang pria berdiri di belakang pria tambun itu dengan wajah datar. Tatapannya sedingin musim dingin London. Darius Raymond . Jemarinya mencengkeram pergelangan tangan pria itu tanpa sedikit pun terlihat kesulitan. "Apa begini caramu bekerja?" ucapnya tenang kepada Jessica tanpa mengalihkan pandangan.Jessica memilih menjauh dari keramaian. Dia berdiri di sudut ballroom yang paling sepi, memandangi cairan merah di dalam gelas wine yang terus diputarnya perlahan. Sesekali ia menyesapnya sedikit, berharap rasa hangat itu mampu meredakan sesak di dadanya. Namun setiap kali mengangkat kepala, Jessica kembali menemukan tatapan orang-orang yang berbisik sambil melirik ke arahnya."Oh. Jadi begini rasanya..."Dulu Jessica sangat senang ketika orang lain menjadi bahan pembicaraan. Kini dia sendiri yang menjadi tontonan."Jessica ya?"Suara perempuan yang terdengar familier membuatnya menoleh.Cristina berdiri di hadapannya dengan senyum tipis. Di belakangnya menyusul Bella dan Angel, tiga sahabat yang dulu selalu berada di sisinya saat masa sekolah.Namun kini, tak ada lagi kehangatan di wajah mereka. Hanya rasa ingin tahu... dan ejekan.Cristina menyilangkan kedua tangannya. "Aku heran. Bagaimana kau bisa tahu ada reuni malam ini?"Jessica terdiam.Cristina tertawa kecil. "Aku yakin kau s
Keesokan paginya, Jessica berdiri di depan ruang dosen dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Matanya tampak sembap karena semalaman hampir tidak tidur. Setelah menarik napas panjang, ia mengetuk pintu pelan."Masuk."Jessica mendorong pintu perlahan.Darius sedang membaca beberapa jurnal di balik mejanya. Ia bahkan tidak mengangkat kepala ketika Jessica masuk.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Jessica melangkah ke depan mejanya.Lalu... Ia berlutut.Barulah Darius mengangkat pandangan.Tatapannya berubah dingin ketika melihat perempuan yang dulu selalu berdiri paling tinggi di hadapannya kini menundukkan kepala."Aku mohon..." suara Jessica bergetar. "Beri aku satu kesempatan lagi."Darius tetap diam."Apa pun akan kulakukan."Jessica mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih."Aku akan menerima semua syaratmu. Meski harus menjatuhkan harga diriku sendiri."Ia mengangkat wajahnya perlahan."Asalkan... aku bisa wisuda tahun ini."Senyum tipis muncul di sudut
"Apa begini caramu bekerja?" Suara Darius terdengar tenang, tetapi cukup membuat Jessica membeku.Ia masih mencengkeram pergelangan tangan pria bertubuh tambun itu. Tatapannya dingin, nyaris tanpa emosi.Perlahan Darius melepaskan pelintirannya.Pria itu langsung mengusap pergelangan tangannya yang memerah sambil memaki pelan.Namun sebelum ia sempat mengambil ponselnya yang terjatuh, Darius sudah lebih dulu memungutnya.Jessica mengernyit. "Apa yang sedang kau lakukan?"Darius tidak menjawab.Dengan tenang ia membuka galeri ponsel itu. Jemarinya bergerak cepat menghapus seluruh foto yang baru saja diambil diam-diam.Pria itu sontak berteriak."Hei! Itu ponselku!"Darius menutup layar ponsel tersebut, lalu menatap pria itu tanpa sedikit pun mengubah ekspresinya."Benar."Brak!Ponsel itu dibanting keras ke lantai marmer. Layarnya langsung retak. Pecahannya berhamburan ke mana-mana.Suasana pusat perbelanjaan mendadak sunyi. Pria bertubuh tambun itu melotot tak percaya."Ponselku!"D
Pintu apartemen kecil itu tertutup dengan bunyi pelan.Jessica menjatuhkan tasnya begitu saja di dekat sofa usang yang juga berfungsi sebagai tempat tidurnya. Ruangan sempit itu hanya memiliki sebuah dapur mungil, kamar mandi, dan jendela kecil yang menghadap deretan bangunan tua di London.Ia merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit yang catnya mulai mengelupas."Kenapa harus dia..."Nama itu kembali memenuhi pikirannya.Darius Raymond.Dari sekian banyak dosen di Blackwood University, mengapa justru pria yang pernah ia bully habis-habisan yang menjadi dosen pembimbingnya?Jessica mengusap wajahnya kasar. Ia masih bisa mengingat tatapan dingin Darius siang tadi.Tatapan yang seolah berkata bahwa semua penderitaan yang kini ia alami belum seberapa dibanding luka yang pernah ia tinggalkan."Uh... dasar pendendam."Jessica bangkit mengambil laptopnya di atas meja lipat. Jemarinya bergerak cepat membuka portal akademik kampus.Pengajuan Pergantian Dosen Pembimbing.Tanpa berpikir
Suara lirih terdengar dari bibir tipis berwarna pink itu. Jessica menatap wajah tampan Dosen pembimbingnya. Tak pernah berpikir jika dirinya dan Darius, kini berada di atas ranjang membagi kehangatan.Bibir Darius kembali mencium bibir Jessica, lebih dalam, lebih hangat dan liar. Jessica tak bisa menahan diri saat tangan Darius mengusap punggungnya, memeluknya lebih dalam hingga tak ada jarak antara keduanya.Ciuman itu turun ke leher jenjang Jessica membuatnya memejamkan mata merasakan sensasi yang menebarkan.Sesaat Darius menghentikan ciumannya, jemarinya membelai lembut pipi Jessica lalu perlahan turun untuk melepaskan kancing blouse yang dikenakan Jessica. Saat kancing-kancing itu mulai terlepas, Jessica memejamkan mata.Pikirannya melayang saat semua ini belum terjadi. Tepatnya enam bulan lalu ...."Apa? Tidak mungkin..."Suara Jessica Victoria nyaris pecah ketika matanya terpaku pada layar ponselnya. Jemarinya yang masih memegang secangkir kopi perlahan gemetar. Daftar dosen pe







