MasukJessica Victoria Sterling pernah memiliki segalanya. Hingga skandal korupsi ayahnya menghancurkan hidupnya dalam semalam. Kini, satu-satunya harapannya adalah lulus kuliah. Namun takdir mempertemukannya dengan dosen pembimbing yang tak pernah ia duga. Darius Raymond, pria yang dulu ia jadikan korban perundungan hingga meninggalkan London. Darius tidak melupakan masa lalu. Jessica tidak bisa lari darinya. Di antara revisi tanpa akhir, penyesalan, dan dendam yang belum padam, keduanya dipaksa menghadapi luka yang telah mengubah hidup mereka. Saat kesempatan kedua datang, akankah mereka memilih membalas, atau memaafkan?
Lihat lebih banyakJessica memilih menjauh dari keramaian. Dia berdiri di sudut ballroom yang paling sepi, memandangi cairan merah di dalam gelas wine yang terus diputarnya perlahan. Sesekali ia menyesapnya sedikit, berharap rasa hangat itu mampu meredakan sesak di dadanya. Namun setiap kali mengangkat kepala, Jessica kembali menemukan tatapan orang-orang yang berbisik sambil melirik ke arahnya."Oh. Jadi begini rasanya..."Dulu Jessica sangat senang ketika orang lain menjadi bahan pembicaraan. Kini dia sendiri yang menjadi tontonan."Jessica ya?"Suara perempuan yang terdengar familier membuatnya menoleh.Cristina berdiri di hadapannya dengan senyum tipis. Di belakangnya menyusul Bella dan Angel, tiga sahabat yang dulu selalu berada di sisinya saat masa sekolah.Namun kini, tak ada lagi kehangatan di wajah mereka. Hanya rasa ingin tahu... dan ejekan.Cristina menyilangkan kedua tangannya. "Aku heran. Bagaimana kau bisa tahu ada reuni malam ini?"Jessica terdiam.Cristina tertawa kecil. "Aku yakin kau s
Keesokan paginya, Jessica berdiri di depan ruang dosen dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Matanya tampak sembap karena semalaman hampir tidak tidur. Setelah menarik napas panjang, ia mengetuk pintu pelan."Masuk."Jessica mendorong pintu perlahan.Darius sedang membaca beberapa jurnal di balik mejanya. Ia bahkan tidak mengangkat kepala ketika Jessica masuk.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Jessica melangkah ke depan mejanya.Lalu... Ia berlutut.Barulah Darius mengangkat pandangan.Tatapannya berubah dingin ketika melihat perempuan yang dulu selalu berdiri paling tinggi di hadapannya kini menundukkan kepala."Aku mohon..." suara Jessica bergetar. "Beri aku satu kesempatan lagi."Darius tetap diam."Apa pun akan kulakukan."Jessica mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih."Aku akan menerima semua syaratmu. Meski harus menjatuhkan harga diriku sendiri."Ia mengangkat wajahnya perlahan."Asalkan... aku bisa wisuda tahun ini."Senyum tipis muncul di sudut
"Apa begini caramu bekerja?" Suara Darius terdengar tenang, tetapi cukup membuat Jessica membeku.Ia masih mencengkeram pergelangan tangan pria bertubuh tambun itu. Tatapannya dingin, nyaris tanpa emosi.Perlahan Darius melepaskan pelintirannya.Pria itu langsung mengusap pergelangan tangannya yang memerah sambil memaki pelan.Namun sebelum ia sempat mengambil ponselnya yang terjatuh, Darius sudah lebih dulu memungutnya.Jessica mengernyit. "Apa yang sedang kau lakukan?"Darius tidak menjawab.Dengan tenang ia membuka galeri ponsel itu. Jemarinya bergerak cepat menghapus seluruh foto yang baru saja diambil diam-diam.Pria itu sontak berteriak."Hei! Itu ponselku!"Darius menutup layar ponsel tersebut, lalu menatap pria itu tanpa sedikit pun mengubah ekspresinya."Benar."Brak!Ponsel itu dibanting keras ke lantai marmer. Layarnya langsung retak. Pecahannya berhamburan ke mana-mana.Suasana pusat perbelanjaan mendadak sunyi. Pria bertubuh tambun itu melotot tak percaya."Ponselku!"D
Pintu apartemen kecil itu tertutup dengan bunyi pelan.Jessica menjatuhkan tasnya begitu saja di dekat sofa usang yang juga berfungsi sebagai tempat tidurnya. Ruangan sempit itu hanya memiliki sebuah dapur mungil, kamar mandi, dan jendela kecil yang menghadap deretan bangunan tua di London.Ia merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit yang catnya mulai mengelupas."Kenapa harus dia..."Nama itu kembali memenuhi pikirannya.Darius Raymond.Dari sekian banyak dosen di Blackwood University, mengapa justru pria yang pernah ia bully habis-habisan yang menjadi dosen pembimbingnya?Jessica mengusap wajahnya kasar. Ia masih bisa mengingat tatapan dingin Darius siang tadi.Tatapan yang seolah berkata bahwa semua penderitaan yang kini ia alami belum seberapa dibanding luka yang pernah ia tinggalkan."Uh... dasar pendendam."Jessica bangkit mengambil laptopnya di atas meja lipat. Jemarinya bergerak cepat membuka portal akademik kampus.Pengajuan Pergantian Dosen Pembimbing.Tanpa berpikir






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.