Permainan Berbahaya Sang Dosen

Permainan Berbahaya Sang Dosen

last updateLast Updated : 2026-07-09
By:  RAINOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
2 ratings. 2 reviews
5Chapters
174views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Jessica Victoria Sterling pernah memiliki segalanya. Hingga skandal korupsi ayahnya menghancurkan hidupnya dalam semalam. Kini, satu-satunya harapannya adalah lulus kuliah. Namun takdir mempertemukannya dengan dosen pembimbing yang tak pernah ia duga. Darius Raymond, pria yang dulu ia jadikan korban perundungan hingga meninggalkan London. Darius tidak melupakan masa lalu. Jessica tidak bisa lari darinya. Di antara revisi tanpa akhir, penyesalan, dan dendam yang belum padam, keduanya dipaksa menghadapi luka yang telah mengubah hidup mereka. Saat kesempatan kedua datang, akankah mereka memilih membalas, atau memaafkan?

View More

Chapter 1

Chapter 1

Suara lirih terdengar dari bibir tipis berwarna pink itu. Jessica menatap wajah tampan Dosen pembimbingnya. Tak pernah berpikir jika dirinya dan Darius, kini berada di atas ranjang membagi kehangatan.

Bibir Darius kembali mencium bibir Jessica, lebih dalam, lebih hangat dan liar. Jessica tak bisa menahan diri saat tangan Darius mengusap punggungnya, memeluknya lebih dalam hingga tak ada jarak antara keduanya.

Ciuman itu turun ke leher jenjang Jessica membuatnya memejamkan mata merasakan sensasi yang menebarkan.

Sesaat Darius menghentikan ciumannya, jemarinya membelai lembut pipi Jessica lalu perlahan turun untuk melepaskan kancing blouse yang dikenakan Jessica. Saat kancing-kancing itu mulai terlepas, Jessica memejamkan mata.

Pikirannya melayang saat semua ini belum terjadi. Tepatnya enam bulan lalu ....

"Apa? Tidak mungkin..."

Suara Jessica Victoria nyaris pecah ketika matanya terpaku pada layar ponselnya. Jemarinya yang masih memegang secangkir kopi perlahan gemetar. Daftar dosen pembimbing skripsi yang baru saja diumumkan memenuhi layar, tetapi hanya satu nama yang membuat seluruh tubuhnya membeku.

Dr. Darius Raymond.

Untuk sesaat Jessica mengira dirinya salah membaca. Ia mengusap layar ponsel, lalu membacanya lagi.

Tetap sama. Nama itu Darius Raymond. Nama yang selama bertahun-tahun berusaha ia lupakan.

"Jess, kenapa?" tanya salah satu teman sekelasnya sambil melirik layar ponselnya. "Dosen pembimbingmu killer?"

Jessica tidak menjawab. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat daripada biasanya.

Darius Raymond.

Anak laki-laki pendiam berkacamata yang dulu selalu duduk di bangku paling depan kelas.

Anak kutu buku yang tak pernah melawan ketika ia dan teman-temannya menjadikannya bahan lelucon.

Anak laki-laki yang akhirnya menghilang dari Westminster Academy setelah dua tahun menjadi korban perundungan mereka.

Jessica masih mengingat wajahnya saat itu yang pucat dan ketakutan. Selalu menunduk setiap kali berpapasan dengannya.

Ia juga masih mengingat bagaimana semuanya bermula.

Darius melaporkannya kepada guru setelah memergoki dirinya merokok bersama teman-temannya di belakang gedung sekolah.

Akibat laporan itu, Jessica mendapat skors selama beberapa hari.

Ia marah. Sejak hari itulah Darius menjadi target balas dendamnya.

Kini... Anak laki-laki itu telah berubah menjadi seorang doktor. Dan menjadi dosen pembimbing skripsinya.

Jessica menelan ludah.

"Tolong bilang ini cuma kebetulan."

Namun semakin lama ia menatap nama itu, semakin ia sadar bahwa hidup memang sedang mempermainkannya.

***

Blackwood University pagi itu dipenuhi mahasiswa tingkat akhir yang berlalu-lalang membawa map skripsi. Lorong Fakultas Ilmu Sosial terasa lebih ramai dibanding biasanya. Sebagian tampak gugup menghadapi bimbingan pertama, sementara yang lain sibuk membandingkan dosen pembimbing masing-masing.

Jessica berdiri cukup lama di depan pintu ruang dosen. Tangannya berkeringat. Di pintu itu terpasang sebuah papan nama berwarna hitam.

Dr. Darius Raymond

Ia mengembuskan napas panjang. Sepuluh tahun. Sudah sepuluh tahun sejak terakhir kali ia melihat nama itu.

Apa Darius masih mengingatnya?

Pertanyaan itu langsung dijawab oleh suara langkah kaki yang semakin mendekat.

Jessica menoleh.

Seorang pria tinggi mengenakan jas abu-abu berjalan menyusuri koridor dengan beberapa berkas di tangannya.

Rambut hitamnya tertata rapi. Kacamata tipis menggantikan bingkai tebal yang dulu selalu dikenakannya.

Wajahnya jauh lebih dewasa. Tatapannya tajam. Tenang. Sulit ditebak.

Beberapa mahasiswa yang berpapasan langsung menyapanya dengan hormat.

"Selamat pagi, Doktor Darius."

Darius hanya membalas dengan anggukan kecil. Saat melewati Jessica, langkahnya sempat berhenti.

Tatapan mereka bertemu. Hanya beberapa detik.

Namun cukup untuk membuat Jessica merasa seolah kembali menjadi gadis tujuh belas tahun yang berdiri di lorong Westminster Academy.

Tidak ada keterkejutan di wajah Darius. Tidak ada kemarahan. Tidak ada senyum. Ekspresinya begitu datar hingga sulit ditebak apakah ia mengenal Jessica atau tidak.

Ia mengalihkan pandangan, membuka pintu ruang dosennya, lalu masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Jessica mengembuskan napas yang sejak tadi ia tahan.

"Mungkin... dia sudah lupa."

Harapan itu hanya bertahan beberapa menit.

Ketika Jessica memasuki ruang dosen sesuai jadwal bimbingan, Darius duduk di balik meja kerjanya sambil membuka map berisi data mahasiswa.

Ia membalik satu halaman. Lalu halaman berikutnya. Hingga akhirnya berhenti pada satu nama.

Jessica Victoria.

Tatapan dinginnya perlahan terangkat. Sejak kembali ke London, sudut bibirnya membentuk senyum yang nyaris tak terlihat.

Senyum yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.

"Silakan duduk, Jessica Victoria."

Nada suaranya tenang. Profesional. Tetapi cukup untuk membuat bulu kuduk Jessica meremang.

Darius menutup map di hadapannya perlahan. Jemarinya saling bertaut di atas meja, sementara tatapannya tetap tertuju pada Jessica yang duduk kaku di seberang.

Keheningan memenuhi ruangan.

Jessica menggenggam ujung map skripsinya semakin erat. Selama beberapa detik, ia berharap Darius hanya mengenalinya sebagai mantan teman sekolah. Atau mungkin... benar-benar telah melupakan masa lalu mereka.

Harapan itu sirna ketika Darius akhirnya membuka suara.

"Jessica."

Jessica mengangkat kepala.

"Kita pernah bertemu sebelumnya, bukan?"

Tenggorokan Jessica terasa tercekat. Ia memaksakan senyum tipis.

"Sepertinya... iya."

"Sepertinya?"

Nada suara Darius tetap datar, nyaris tanpa emosi.

Jessica menarik napas panjang. "Kita satu sekolah."

Darius mengangguk pelan, seolah sedang memastikan sesuatu yang sebenarnya sudah ia ketahui sejak awal.

"Westminster Academy."

"Iya."

"Hm."

Hanya itu tanggapannya.

Bukannya merasa lega, Jessica justru semakin gelisah. Darius terlalu tenang. Terlalu sulit ditebak.

Pria itu kembali membuka map di depannya.

"Usia dua puluh tujuh tahun."

Jessica menunduk.

"Sudah beberapa kali pindah universitas."

Ia tetap diam.

"Pernah cuti. Pernah di drop out. Sering buat kasus."

Jessica menggigit bibir bawahnya.

"Lalu sekarang mendapat kesempatan terakhir dari universitas ini untuk menyelesaikan skripsi, sebelum di drop out lagi?"

Kalimat itu terdengar seperti pembacaan fakta, tetapi entah mengapa terasa jauh lebih menyakitkan.

"Ada yang ingin kamu jelaskan mengenai riwayat akademikmu?"

Jessica menggeleng pelan. "Tidak ada, Pak. Semuanya benar."

"Oke." Darius menutup kembali berkas itu. "Aku hanya ingin memastikan satu hal."

Tatapannya kembali bertemu dengan Jessica.

"Kali ini... kau benar-benar ingin lulus?"

Jessica mengangguk tanpa ragu.

"Iya, Pak."

"Kenapa?"

Pertanyaan sederhana itu justru membuat Jessica terdiam. Beberapa tahun lalu, ia mungkin akan menjawab karena ayahnya menginginkannya.

Atau karena gelar itu hanya formalitas.

Namun sekarang... Ayahnya berada di balik jeruji besi. Ibunya menghilang. Rumahnya disita. Teman-temannya lenyap.

Ia bahkan harus menghitung setiap lembar uang untuk membayar sewa apartemen.

"Aku..." Suaranya lirih. "Aku butuh pekerjaan."

Darius memperhatikannya tanpa berkedip.

"Dan ijazah adalah satu-satunya jalan?"

Jessica mengangguk.

"Kalau aku tidak lulus tahun ini... aku sudah tidak punya apa-apa lagi, Pak."

Ruangan kembali sunyi.

"Pernahkah kau memikirkan... bahwa seseorang juga pernah merasa hidupnya tidak punya apa-apa lagi karena ulahmu?"

Jessica membeku.

Jantungnya berdegup keras. Ia tahu pertanyaan itu bukan sekadar tentang masa lalu. Melainkan sebuah penghakiman yang telah menunggu bertahun-tahun.

Perlahan Darius mengangkat wajahnya. Tatapannya dingin, tetapi kali ini menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada kebencian.

"Kalau begitu, aku menolak menjadi dosen pembimbingmu, kecuali..." Darius berhenti sejenak.

Jessica menatap dengan jantung yang berdetak lebih cepat. Ia bahkan hampir kesulitan menelan salivanya.

Darius mendekatkan wajahnya, hingga hanya beberapa cm dengan wajah Jessica. Senyum sinis muncul di sudut bibirnya.

“Kau harus menuruti semua mauku!”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Tety Yusuf
Tety Yusuf
drama yang begitu bagus
2026-09-24 16:17:29
0
0
Vanilla Ice Creamm
Vanilla Ice Creamm
wuah.... karya baru! semangat utk lembaran barunya!
2026-09-03 17:24:52
0
0
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status