Share

Permainan Berbahaya Sang Dosen
Permainan Berbahaya Sang Dosen
Author: RAIN

Chapter 1

Author: RAIN
last update publish date: 2026-07-09 11:59:54

Suara lirih terdengar dari bibir tipis berwarna pink itu. Jessica menatap wajah tampan Dosen pembimbingnya. Tak pernah berpikir jika dirinya dan Darius, kini berada di atas ranjang membagi kehangatan.

Bibir Darius kembali mencium bibir Jessica, lebih dalam, lebih hangat dan liar. Jessica tak bisa menahan diri saat tangan Darius mengusap punggungnya, memeluknya lebih dalam hingga tak ada jarak antara keduanya.

Ciuman itu turun ke leher jenjang Jessica membuatnya memejamkan mata merasakan sensasi yang menebarkan.

Sesaat Darius menghentikan ciumannya, jemarinya membelai lembut pipi Jessica lalu perlahan turun untuk melepaskan kancing blouse yang dikenakan Jessica. Saat kancing-kancing itu mulai terlepas, Jessica memejamkan mata.

Pikirannya melayang saat semua ini belum terjadi. Tepatnya enam bulan lalu ....

"Apa? Tidak mungkin..."

Suara Jessica Victoria nyaris pecah ketika matanya terpaku pada layar ponselnya. Jemarinya yang masih memegang secangkir kopi perlahan gemetar. Daftar dosen pembimbing skripsi yang baru saja diumumkan memenuhi layar, tetapi hanya satu nama yang membuat seluruh tubuhnya membeku.

Dr. Darius Raymond.

Untuk sesaat Jessica mengira dirinya salah membaca. Ia mengusap layar ponsel, lalu membacanya lagi.

Tetap sama. Nama itu Darius Raymond. Nama yang selama bertahun-tahun berusaha ia lupakan.

"Jess, kenapa?" tanya salah satu teman sekelasnya sambil melirik layar ponselnya. "Dosen pembimbingmu killer?"

Jessica tidak menjawab. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat daripada biasanya.

Darius Raymond.

Anak laki-laki pendiam berkacamata yang dulu selalu duduk di bangku paling depan kelas.

Anak kutu buku yang tak pernah melawan ketika ia dan teman-temannya menjadikannya bahan lelucon.

Anak laki-laki yang akhirnya menghilang dari Westminster Academy setelah dua tahun menjadi korban perundungan mereka.

Jessica masih mengingat wajahnya saat itu yang pucat dan ketakutan. Selalu menunduk setiap kali berpapasan dengannya.

Ia juga masih mengingat bagaimana semuanya bermula.

Darius melaporkannya kepada guru setelah memergoki dirinya merokok bersama teman-temannya di belakang gedung sekolah.

Akibat laporan itu, Jessica mendapat skors selama beberapa hari.

Ia marah. Sejak hari itulah Darius menjadi target balas dendamnya.

Kini... Anak laki-laki itu telah berubah menjadi seorang doktor. Dan menjadi dosen pembimbing skripsinya.

Jessica menelan ludah.

"Tolong bilang ini cuma kebetulan."

Namun semakin lama ia menatap nama itu, semakin ia sadar bahwa hidup memang sedang mempermainkannya.

***

Blackwood University pagi itu dipenuhi mahasiswa tingkat akhir yang berlalu-lalang membawa map skripsi. Lorong Fakultas Ilmu Sosial terasa lebih ramai dibanding biasanya. Sebagian tampak gugup menghadapi bimbingan pertama, sementara yang lain sibuk membandingkan dosen pembimbing masing-masing.

Jessica berdiri cukup lama di depan pintu ruang dosen. Tangannya berkeringat. Di pintu itu terpasang sebuah papan nama berwarna hitam.

Dr. Darius Raymond

Ia mengembuskan napas panjang. Sepuluh tahun. Sudah sepuluh tahun sejak terakhir kali ia melihat nama itu.

Apa Darius masih mengingatnya?

Pertanyaan itu langsung dijawab oleh suara langkah kaki yang semakin mendekat.

Jessica menoleh.

Seorang pria tinggi mengenakan jas abu-abu berjalan menyusuri koridor dengan beberapa berkas di tangannya.

Rambut hitamnya tertata rapi. Kacamata tipis menggantikan bingkai tebal yang dulu selalu dikenakannya.

Wajahnya jauh lebih dewasa. Tatapannya tajam. Tenang. Sulit ditebak.

Beberapa mahasiswa yang berpapasan langsung menyapanya dengan hormat.

"Selamat pagi, Doktor Darius."

Darius hanya membalas dengan anggukan kecil. Saat melewati Jessica, langkahnya sempat berhenti.

Tatapan mereka bertemu. Hanya beberapa detik.

Namun cukup untuk membuat Jessica merasa seolah kembali menjadi gadis tujuh belas tahun yang berdiri di lorong Westminster Academy.

Tidak ada keterkejutan di wajah Darius. Tidak ada kemarahan. Tidak ada senyum. Ekspresinya begitu datar hingga sulit ditebak apakah ia mengenal Jessica atau tidak.

Ia mengalihkan pandangan, membuka pintu ruang dosennya, lalu masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Jessica mengembuskan napas yang sejak tadi ia tahan.

"Mungkin... dia sudah lupa."

Harapan itu hanya bertahan beberapa menit.

Ketika Jessica memasuki ruang dosen sesuai jadwal bimbingan, Darius duduk di balik meja kerjanya sambil membuka map berisi data mahasiswa.

Ia membalik satu halaman. Lalu halaman berikutnya. Hingga akhirnya berhenti pada satu nama.

Jessica Victoria.

Tatapan dinginnya perlahan terangkat. Sejak kembali ke London, sudut bibirnya membentuk senyum yang nyaris tak terlihat.

Senyum yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.

"Silakan duduk, Jessica Victoria."

Nada suaranya tenang. Profesional. Tetapi cukup untuk membuat bulu kuduk Jessica meremang.

Darius menutup map di hadapannya perlahan. Jemarinya saling bertaut di atas meja, sementara tatapannya tetap tertuju pada Jessica yang duduk kaku di seberang.

Keheningan memenuhi ruangan.

Jessica menggenggam ujung map skripsinya semakin erat. Selama beberapa detik, ia berharap Darius hanya mengenalinya sebagai mantan teman sekolah. Atau mungkin... benar-benar telah melupakan masa lalu mereka.

Harapan itu sirna ketika Darius akhirnya membuka suara.

"Jessica."

Jessica mengangkat kepala.

"Kita pernah bertemu sebelumnya, bukan?"

Tenggorokan Jessica terasa tercekat. Ia memaksakan senyum tipis.

"Sepertinya... iya."

"Sepertinya?"

Nada suara Darius tetap datar, nyaris tanpa emosi.

Jessica menarik napas panjang. "Kita satu sekolah."

Darius mengangguk pelan, seolah sedang memastikan sesuatu yang sebenarnya sudah ia ketahui sejak awal.

"Westminster Academy."

"Iya."

"Hm."

Hanya itu tanggapannya.

Bukannya merasa lega, Jessica justru semakin gelisah. Darius terlalu tenang. Terlalu sulit ditebak.

Pria itu kembali membuka map di depannya.

"Usia dua puluh tujuh tahun."

Jessica menunduk.

"Sudah beberapa kali pindah universitas."

Ia tetap diam.

"Pernah cuti. Pernah di drop out. Sering buat kasus."

Jessica menggigit bibir bawahnya.

"Lalu sekarang mendapat kesempatan terakhir dari universitas ini untuk menyelesaikan skripsi, sebelum di drop out lagi?"

Kalimat itu terdengar seperti pembacaan fakta, tetapi entah mengapa terasa jauh lebih menyakitkan.

"Ada yang ingin kamu jelaskan mengenai riwayat akademikmu?"

Jessica menggeleng pelan. "Tidak ada, Pak. Semuanya benar."

"Oke." Darius menutup kembali berkas itu. "Aku hanya ingin memastikan satu hal."

Tatapannya kembali bertemu dengan Jessica.

"Kali ini... kau benar-benar ingin lulus?"

Jessica mengangguk tanpa ragu.

"Iya, Pak."

"Kenapa?"

Pertanyaan sederhana itu justru membuat Jessica terdiam. Beberapa tahun lalu, ia mungkin akan menjawab karena ayahnya menginginkannya.

Atau karena gelar itu hanya formalitas.

Namun sekarang... Ayahnya berada di balik jeruji besi. Ibunya menghilang. Rumahnya disita. Teman-temannya lenyap.

Ia bahkan harus menghitung setiap lembar uang untuk membayar sewa apartemen.

"Aku..." Suaranya lirih. "Aku butuh pekerjaan."

Darius memperhatikannya tanpa berkedip.

"Dan ijazah adalah satu-satunya jalan?"

Jessica mengangguk.

"Kalau aku tidak lulus tahun ini... aku sudah tidak punya apa-apa lagi, Pak."

Ruangan kembali sunyi.

"Pernahkah kau memikirkan... bahwa seseorang juga pernah merasa hidupnya tidak punya apa-apa lagi karena ulahmu?"

Jessica membeku.

Jantungnya berdegup keras. Ia tahu pertanyaan itu bukan sekadar tentang masa lalu. Melainkan sebuah penghakiman yang telah menunggu bertahun-tahun.

Perlahan Darius mengangkat wajahnya. Tatapannya dingin, tetapi kali ini menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada kebencian.

"Kalau begitu, aku menolak menjadi dosen pembimbingmu, kecuali..." Darius berhenti sejenak.

Jessica menatap dengan jantung yang berdetak lebih cepat. Ia bahkan hampir kesulitan menelan salivanya.

Darius mendekatkan wajahnya, hingga hanya beberapa cm dengan wajah Jessica. Senyum sinis muncul di sudut bibirnya.

“Kau harus menuruti semua mauku!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Permainan Berbahaya Sang Dosen   Chapter 5

    Jessica memilih menjauh dari keramaian. Dia berdiri di sudut ballroom yang paling sepi, memandangi cairan merah di dalam gelas wine yang terus diputarnya perlahan. Sesekali ia menyesapnya sedikit, berharap rasa hangat itu mampu meredakan sesak di dadanya. Namun setiap kali mengangkat kepala, Jessica kembali menemukan tatapan orang-orang yang berbisik sambil melirik ke arahnya."Oh. Jadi begini rasanya..."Dulu Jessica sangat senang ketika orang lain menjadi bahan pembicaraan. Kini dia sendiri yang menjadi tontonan."Jessica ya?"Suara perempuan yang terdengar familier membuatnya menoleh.Cristina berdiri di hadapannya dengan senyum tipis. Di belakangnya menyusul Bella dan Angel, tiga sahabat yang dulu selalu berada di sisinya saat masa sekolah.Namun kini, tak ada lagi kehangatan di wajah mereka. Hanya rasa ingin tahu... dan ejekan.Cristina menyilangkan kedua tangannya. "Aku heran. Bagaimana kau bisa tahu ada reuni malam ini?"Jessica terdiam.Cristina tertawa kecil. "Aku yakin kau s

  • Permainan Berbahaya Sang Dosen   Chapter 4

    Keesokan paginya, Jessica berdiri di depan ruang dosen dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Matanya tampak sembap karena semalaman hampir tidak tidur. Setelah menarik napas panjang, ia mengetuk pintu pelan."Masuk."Jessica mendorong pintu perlahan.Darius sedang membaca beberapa jurnal di balik mejanya. Ia bahkan tidak mengangkat kepala ketika Jessica masuk.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Jessica melangkah ke depan mejanya.Lalu... Ia berlutut.Barulah Darius mengangkat pandangan.Tatapannya berubah dingin ketika melihat perempuan yang dulu selalu berdiri paling tinggi di hadapannya kini menundukkan kepala."Aku mohon..." suara Jessica bergetar. "Beri aku satu kesempatan lagi."Darius tetap diam."Apa pun akan kulakukan."Jessica mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih."Aku akan menerima semua syaratmu. Meski harus menjatuhkan harga diriku sendiri."Ia mengangkat wajahnya perlahan."Asalkan... aku bisa wisuda tahun ini."Senyum tipis muncul di sudut

  • Permainan Berbahaya Sang Dosen   Chapter 3

    "Apa begini caramu bekerja?" Suara Darius terdengar tenang, tetapi cukup membuat Jessica membeku.Ia masih mencengkeram pergelangan tangan pria bertubuh tambun itu. Tatapannya dingin, nyaris tanpa emosi.Perlahan Darius melepaskan pelintirannya.Pria itu langsung mengusap pergelangan tangannya yang memerah sambil memaki pelan.Namun sebelum ia sempat mengambil ponselnya yang terjatuh, Darius sudah lebih dulu memungutnya.Jessica mengernyit. "Apa yang sedang kau lakukan?"Darius tidak menjawab.Dengan tenang ia membuka galeri ponsel itu. Jemarinya bergerak cepat menghapus seluruh foto yang baru saja diambil diam-diam.Pria itu sontak berteriak."Hei! Itu ponselku!"Darius menutup layar ponsel tersebut, lalu menatap pria itu tanpa sedikit pun mengubah ekspresinya."Benar."Brak!Ponsel itu dibanting keras ke lantai marmer. Layarnya langsung retak. Pecahannya berhamburan ke mana-mana.Suasana pusat perbelanjaan mendadak sunyi. Pria bertubuh tambun itu melotot tak percaya."Ponselku!"D

  • Permainan Berbahaya Sang Dosen   Chapter 2

    Pintu apartemen kecil itu tertutup dengan bunyi pelan.Jessica menjatuhkan tasnya begitu saja di dekat sofa usang yang juga berfungsi sebagai tempat tidurnya. Ruangan sempit itu hanya memiliki sebuah dapur mungil, kamar mandi, dan jendela kecil yang menghadap deretan bangunan tua di London.Ia merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit yang catnya mulai mengelupas."Kenapa harus dia..."Nama itu kembali memenuhi pikirannya.Darius Raymond.Dari sekian banyak dosen di Blackwood University, mengapa justru pria yang pernah ia bully habis-habisan yang menjadi dosen pembimbingnya?Jessica mengusap wajahnya kasar. Ia masih bisa mengingat tatapan dingin Darius siang tadi.Tatapan yang seolah berkata bahwa semua penderitaan yang kini ia alami belum seberapa dibanding luka yang pernah ia tinggalkan."Uh... dasar pendendam."Jessica bangkit mengambil laptopnya di atas meja lipat. Jemarinya bergerak cepat membuka portal akademik kampus.Pengajuan Pergantian Dosen Pembimbing.Tanpa berpikir

  • Permainan Berbahaya Sang Dosen   Chapter 1

    Suara lirih terdengar dari bibir tipis berwarna pink itu. Jessica menatap wajah tampan Dosen pembimbingnya. Tak pernah berpikir jika dirinya dan Darius, kini berada di atas ranjang membagi kehangatan.Bibir Darius kembali mencium bibir Jessica, lebih dalam, lebih hangat dan liar. Jessica tak bisa menahan diri saat tangan Darius mengusap punggungnya, memeluknya lebih dalam hingga tak ada jarak antara keduanya.Ciuman itu turun ke leher jenjang Jessica membuatnya memejamkan mata merasakan sensasi yang menebarkan.Sesaat Darius menghentikan ciumannya, jemarinya membelai lembut pipi Jessica lalu perlahan turun untuk melepaskan kancing blouse yang dikenakan Jessica. Saat kancing-kancing itu mulai terlepas, Jessica memejamkan mata.Pikirannya melayang saat semua ini belum terjadi. Tepatnya enam bulan lalu ...."Apa? Tidak mungkin..."Suara Jessica Victoria nyaris pecah ketika matanya terpaku pada layar ponselnya. Jemarinya yang masih memegang secangkir kopi perlahan gemetar. Daftar dosen pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status