Zailyn membuka mata, tatapannya tajam, jauh berbeda dari Selir Ling yang selalu murung. Dua pelayan di sudut, yang tadi berbisik sinis, kini tampak gelisah. Xiao Li masih memegang cangkir air kosong, matanya membesar karena terkejut."Aku tidak akan mati sia-sia lagi," Zailyn mengulang, suaranya lebih jelas, meskipun masih parau. Ia menatap Xiao Li. "Kau bilang kau setia?"Xiao Li mengangguk cepat, air mata menggenang di pelupuk matanya. "Ya, Nyonya! Saya bersumpah! Saya... saya sangat khawatir Nyonya tidak akan bangun lagi!""Bagus," Zailyn berbisik. Ia melirik dua pelayan lainnya. Mereka, yang bernama Mei Hua dan Qing Qing, kini tampak menghindari tatapannya, pura-pura merapikan tirai yang sudah rapi. "Kalian berdua," Zailyn memanggil, suaranya lemah tapi tegas. "Pergilah. Aku ingin bicara pribadi dengan Xiao Li."Mei Hua, yang lebih tua dan tampak lebih berani, mengangkat dagunya. "Tapi, Nyonya, Permaisuri Agung memerintahkan kami untuk mengawasi Anda.""Mengawasi atau menguping?"
Last Updated : 2026-04-14 Read more