تسجيل الدخولZailyn menghela napas, rasa sakit di perutnya kembali menusuk. Ini adalah langkah pertama. Kecil, tapi krusial. Ia tidak bisa menyembuhkan dirinya sepenuhnya hanya dengan jahe dan krisan, tetapi ini akan memberikan detoksifikasi awal, meredakan gejala, dan yang paling penting, membeli waktu. Waktu untuk menganalisis, waktu untuk merencanakan, waktu untuk menemukan penawar yang sebenarnya, dan waktu untuk membalikkan keadaan.
Ia memikirkan kembali kelemahan tubuh Selir Ling. Racun itu telah menggerogoti selama dua bulan. Ini berarti organ-organnya pasti sudah mengalami kerusakan signifikan. Hati, ginjal, sistem pencernaan... semua akan membutuhkan dukungan. Jahe, krisan, dan kunyit adalah permulaan yang baik untuk melindungi dan memperbaiki organ-organ tersebut secara perlahan.
"Aku harus juga mencari sumber serat dan protein. Tubuh ini sangat kekurangan gizi."
Sayuran hijau, biji-bijian, dan daging—jika ia bisa mendapatkannya—akan sangat membantu. Tapi itu akan menjadi langkah berikutnya, setelah ia berhasil menstabilkan kondisi racunnya.
"Apakah ada buah-buahan atau sayuran yang sering disajikan di istana?" Zailyn bertanya lagi, mencoba terdengar santai.
"Ada, Nyonya," Xiao Li menjawab. "Sawi hijau, bayam, lobak. Buah-buahan seperti apel dan pir juga sering ada, terutama di musimnya."
"Bagus. Sawi hijau dan bayam kaya akan vitamin dan mineral, juga serat. Apel dan pir juga merupakan sumber serat yang baik. Ini akan membantu membersihkan sistem pencernaan dan memberikan nutrisi penting. Kalau begitu, bisakah kau juga meminta agar supku selalu ada banyak sayuran hijau?" Zailyn meminta. "Aku merasa tubuhku membutuhkan itu."
"Tentu, Nyonya!" Xiao Li berseru, senang dengan ide-ide baru Selir Ling. "Saya akan pastikan koki melakukannya!"
Zailyn mengangguk. Ia harus memanfaatkan kepercayaan dan kesetiaan Xiao Li, tapi juga melindunginya. Xiao Li adalah asetnya yang paling berharga di harem yang kejam ini.
"Dan Xiao Li," Zailyn menambahkan, nadanya lebih lembut. "Jangan pernah membicarakan apa yang kita bicarakan ini dengan siapa pun. Bahkan dengan pelayan lain yang kau rasa bisa dipercaya. Ini adalah rahasia kita. Jika ada yang tahu bahwa aku mencoba melawan racun ini, hidup kita berdua bisa dalam bahaya."
Xiao Li menelan ludah, matanya membesar karena ketakutan, namun juga tekad. "Saya mengerti, Nyonya. Saya tidak akan memberitahu siapa pun."
"Bagus," Zailyn tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Sekarang, pergilah. Aku butuh istirahat. Tapi ingat, besok pagi, teh krisan dan jahe. Dan sup dengan banyak sayuran hijau."
Xiao Li bangkit, membungkuk hormat, lalu bergegas keluar dari kamar, meninggalkan Zailyn sendirian lagi.
**
Zailyn menutup matanya, merasakan kepalanya berdenyut. Ini adalah pertarungan yang panjang. Ia harus merencanakan setiap langkah dengan hati-hati, seolah-olah ia sedang memecahkan kasus pembunuhan paling rumit dalam karirnya. Hanya saja kali ini, korban dan detektifnya adalah orang yang sama.
Ia membayangkan peta racun di dalam tubuhnya, dan bagaimana setiap herbal akan bekerja. Jahe untuk meredakan mual dan peradangan. Krisan untuk detoksifikasi hati dan menenangkan. Kunyit sebagai anti-inflamasi dan pelindung sel. Sayuran hijau untuk nutrisi dan serat. Ini adalah resep detoksifikasi pertamanya, resep rahasia yang ia ciptakan di tengah keterbatasan.
"Bisakah kau membawakan teh krisan dan beberapa irisan jahe besok pagi?" tanya Zailyn, nada suaranya lebih kuat dari sebelumnya, bergema di kamar yang sunyi. Itu bukan lagi pertanyaan, melainkan sebuah perintah. Sebuah janji untuk dirinya sendiri. Sebuah langkah pertama dalam perjalanannya untuk merebut kembali hidupnya. Dan di balik janji itu, tersembunyi tekad baja seorang dokter forensik yang menolak untuk mati.
***
Cahaya pagi kembali menyapa Istana Naga, namun bagi Zailyn, setiap fajar adalah kesempatan baru, sebuah penanda dimulainya pertarungan lain. Ia telah memutuskan. Tidak ada lagi penundaan. Resep detoksifikasi pertamanya harus segera dimulai.
"Nyonya, teh krisan dan jahe hangat Anda," Xiao Li berbisik, meletakkan cangkir porselen di samping ranjang. Wajahnya tampak sedikit lebih cerah, mungkin karena ia melihat Zailyn membuka mata dengan tatapan yang lebih hidup.
Zailyn mengangguk, tersenyum tipis. "Terima kasih, Xiao Li. Kau sangat sigap." Ia menyesap teh itu perlahan. Aroma krisan yang menenangkan bercampur dengan sentuhan pedas jahe yang menghangatkan tenggorokannya. Rasanya tidak terlalu buruk, bahkan cukup menyegarkan. "Apakah koki tidak curiga?"
Xiao Li menggelengkan kepala. "Tidak, Nyonya. Saya bilang Nyonya ingin mencoba ramuan baru untuk menenangkan perut. Mereka hanya mengangguk. Mereka mungkin sudah terbiasa dengan permintaan aneh dari para selir." Xiao Li membungkuk, wajahnya sedikit memerah. "Dan saya juga sudah meminta mereka menambahkan kunyit dan sayuran hijau ke dalam sup makan siang Nyonya."
"Bagus sekali," Zailyn memuji. "Kau sangat cerdik, Xiao Li." Pujian itu membuat Xiao Li tersenyum malu-malu.
Zailyn menghabiskan tehnya, merasakan kehangatan menjalar di perutnya. Ini bukan obat ajaib, ia tahu, tetapi ini adalah langkah awal. Sepanjang hari itu, ia memastikan untuk meminum air sebanyak mungkin dan mencoba makan sedikit sup yang telah "diperkaya" itu. Setiap suapan adalah perjuangan melawan mual, tetapi ia memaksakan diri.
Dua hari berlalu. Kemudian tiga. Lalu empat.
Setiap pagi, Zailyn memulai harinya dengan teh krisan dan jahe. Setiap makan, supnya penuh dengan sayuran hijau dan kunyit. Ia berpura-pura bahwa ia masih sangat lemah, sering berbaring di ranjang, tetapi diam-diam ia mengamati tubuhnya.
**
Pada hari kelima, Zailyn merasakan perubahan kecil yang signifikan.
"Nyonya, apakah Nyonya merasa lebih baik?" Xiao Li bertanya suatu sore, saat ia membantu Zailyn duduk di tepi ranjang. "Wajah Nyonya terlihat tidak sepucat kemarin."
Zailyn tersenyum, kali ini senyumnya lebih tulus. "Sedikit, Xiao Li. Mualnya... sedikit berkurang. Dan kepalaku tidak terlalu pusing."
Ini adalah sebuah kelegaan yang luar biasa. Rasa mual yang konstan, yang telah menjadi teman setianya sejak ia terbangun, kini mereda menjadi gelombang yang lebih ringan dan tidak terlalu sering. Pusingnya juga tidak lagi membuat dunia berputar setiap kali ia mencoba bergerak.
"Syukurlah, Nyonya!" Xiao Li berseru, matanya berbinar. "Saya sangat senang mendengarnya!"
"Aku juga," Zailyn mengakui, napasnya terasa sedikit lebih ringan. Ia bisa merasakan sedikit peningkatan nafsu makan. Bukan selera makan yang menggebu-gebu, tetapi ia bisa menelan makanan tanpa merasa ingin muntah. Ini adalah kemajuan besar.
Malam itu, Zailyn meminta Xiao Li untuk membawakan sepiring nasi putih dengan sedikit lauk ikan yang dimasak sederhana. Ia makan perlahan, setiap butir nasi terasa seperti kemenangan kecil. Dan yang paling penting, ia berhasil menghabiskan setengah porsi tanpa muntah.
Momen kunci.
Zailyn merasakan gelombang kelegaan yang luar biasa. Ini adalah tanda bahwa racun itu mulai sedikit terkendali, atau setidaknya, tubuhnya mulai membangun pertahanan. Detoksifikasi perlahan-lahan bekerja.
"Nyonya makan banyak sekali malam ini!" Xiao Li berkomentar, terkejut namun senang. "Biasanya Nyonya hanya makan beberapa suap saja."
"Aku merasa sedikit lebih lapar," Zailyn menjawab, mempertahankan nada santainya. "Mungkin karena ramuan herbal yang kau buat."
Xiao Li tersenyum bangga. "Saya senang Nyonya menyukainya!"
Zailyn menghela napas, rasa sakit di perutnya kembali menusuk. Ini adalah langkah pertama. Kecil, tapi krusial. Ia tidak bisa menyembuhkan dirinya sepenuhnya hanya dengan jahe dan krisan, tetapi ini akan memberikan detoksifikasi awal, meredakan gejala, dan yang paling penting, membeli waktu. Waktu untuk menganalisis, waktu untuk merencanakan, waktu untuk menemukan penawar yang sebenarnya, dan waktu untuk membalikkan keadaan.Ia memikirkan kembali kelemahan tubuh Selir Ling. Racun itu telah menggerogoti selama dua bulan. Ini berarti organ-organnya pasti sudah mengalami kerusakan signifikan. Hati, ginjal, sistem pencernaan... semua akan membutuhkan dukungan. Jahe, krisan, dan kunyit adalah permulaan yang baik untuk melindungi dan memperbaiki organ-organ tersebut secara perlahan."Aku harus juga mencari sumber serat dan protein. Tubuh ini sangat kekurangan gizi."Sayuran hijau, biji-bijian, dan daging—jika ia bisa mendapatkannya—akan sangat membantu. Tapi itu akan menjadi langkah berikut
Cahaya matahari pagi menyusup dari celah tirai sutra. Zailyn membuka mata perlahan. Rasa mual itu masih ada, tetapi tidak lagi seintens semalam. Tekadnya membara, mengalahkan setiap denyutan sakit di perutnya. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk bertahan hidup, dan seorang dokter forensik tidak pernah mengingkari janji. Terutama janji pada dirinya sendiri."Xiao Li," panggil Zailyn, suaranya masih serak, namun kini lebih stabil.Xiao Li, yang tertidur pulas di bangku sudut, terlonjak bangun. Matanya yang sembab menunjukkan betapa khawatirnya ia semalam. "Nyonya! Anda sudah bangun? Apa yang Nyonya butuhkan?"Zailyn tersenyum tipis, senyum yang jarang terlihat di wajah Selir Ling. "Aku haus. Dan aku butuh kau untuk membantuku berpikir."Xiao Li bergegas menuangkan air hangat ke dalam cangkir porselen. "Tentu, Nyonya. Apa pun untuk Nyonya."Zailyn meneguk air itu perlahan, merasakan kelegaan yang instan di tenggorokannya. Otaknya mulai bekerja, memanggil kembali setiap pelajaran
Zailyn memejamkan mata, mengabaikan rasa mual yang melanda. Di luar kamarnya, kehidupan istana berdengung samar, bisikan-bisikan tentang dirinya, tentang nasibnya yang malang, mengalir seperti racun lain yang tak terlihat. Tapi di dalam benaknya, ada pertarungan yang jauh lebih penting. Ia seorang dokter forensik. Otaknya terlatih untuk menganalisis, mengidentifikasi, dan memecahkan misteri, bahkan misteri yang terjadi di dalam tubuhnya sendiri."Baiklah, Selir Ling," ia bergumam pada dirinya sendiri, suaranya hanya terdengar dalam benaknya, "mari kita mulai diagnosis."**Ia secara internal memindai tubuhnya, seolah-olah ia sedang melakukan pemeriksaan fisik pada pasien. Denyut nadi. Ia mencoba merasakannya di pergelangan tangannya. Lemah, cepat, tidak teratur. Jelas tanda-tanda tubuh yang berjuang melawan sesuatu yang mematikan. Kulitnya pucat, bahkan di bawah lapisan tipis riasan yang mungkin pernah dikenakan Selir Ling. Matanya terasa cekung, garis-garis kelelahan terlihat jelas.
Zailyn membuka mata, tatapannya tajam, jauh berbeda dari Selir Ling yang selalu murung. Dua pelayan di sudut, yang tadi berbisik sinis, kini tampak gelisah. Xiao Li masih memegang cangkir air kosong, matanya membesar karena terkejut."Aku tidak akan mati sia-sia lagi," Zailyn mengulang, suaranya lebih jelas, meskipun masih parau. Ia menatap Xiao Li. "Kau bilang kau setia?"Xiao Li mengangguk cepat, air mata menggenang di pelupuk matanya. "Ya, Nyonya! Saya bersumpah! Saya... saya sangat khawatir Nyonya tidak akan bangun lagi!""Bagus," Zailyn berbisik. Ia melirik dua pelayan lainnya. Mereka, yang bernama Mei Hua dan Qing Qing, kini tampak menghindari tatapannya, pura-pura merapikan tirai yang sudah rapi. "Kalian berdua," Zailyn memanggil, suaranya lemah tapi tegas. "Pergilah. Aku ingin bicara pribadi dengan Xiao Li."Mei Hua, yang lebih tua dan tampak lebih berani, mengangkat dagunya. "Tapi, Nyonya, Permaisuri Agung memerintahkan kami untuk mengawasi Anda.""Mengawasi atau menguping?"
"Ah, uhuk!" seorang gadis menelan ludah dengan kesakitan.Napasnya tersengal, merobek tenggorokan yang terasa hangus. Rasa sakit itu, seperti bara api di ulu hati, membakar tanpa ampun. Zailyn, gadis yang telah lulus dari maut. Ia mengerang, berusaha membuka mata, namun hanya kegelapan dan siluet buram yang menyambutnya. Kepalanya berdenyut, berat, seolah baru saja dihantam palu godam."Dia bergerak?" Suara bisikan, samar, jauh."Jangan sentuh dia. Biarkan saja. Tabib sudah bilang, tidak akan lama." Suara lain, lebih dingin, penuh ketidakpedulian.Zailyn mencoba fokus. Suara-suara itu... bukan suara yang ia kenal. Bukan suara mesin rumah sakit. Bukan suara keluarganya."Air..." desisnya. Bibirnya kering, pecah-pecah."Dengar? Dia bicara.""Biarkan saja. Untuk apa? Dia sudah merepotkan."Sebuah tangan menyentuh keningnya. Dingin. Bukan tangan yang lembut. Bukan tangan perawat."Panas sekali," kata suara itu lagi. "Apa yang terjadi padanya?"Zailyn mengerahkan seluruh tenaganya, mencoba







