تسجيل الدخول
"Ah, uhuk!" seorang gadis menelan ludah dengan kesakitan.
Napasnya tersengal, merobek tenggorokan yang terasa hangus. Rasa sakit itu, seperti bara api di ulu hati, membakar tanpa ampun. Zailyn, gadis yang telah lulus dari maut. Ia mengerang, berusaha membuka mata, namun hanya kegelapan dan siluet buram yang menyambutnya. Kepalanya berdenyut, berat, seolah baru saja dihantam palu godam.
"Dia bergerak?" Suara bisikan, samar, jauh.
"Jangan sentuh dia. Biarkan saja. Tabib sudah bilang, tidak akan lama." Suara lain, lebih dingin, penuh ketidakpedulian.
Zailyn mencoba fokus. Suara-suara itu... bukan suara yang ia kenal. Bukan suara mesin rumah sakit. Bukan suara keluarganya.
"Air..." desisnya. Bibirnya kering, pecah-pecah.
"Dengar? Dia bicara."
"Biarkan saja. Untuk apa? Dia sudah merepotkan."
Sebuah tangan menyentuh keningnya. Dingin. Bukan tangan yang lembut. Bukan tangan perawat.
"Panas sekali," kata suara itu lagi. "Apa yang terjadi padanya?"
Zailyn mengerahkan seluruh tenaganya, mencoba meraih tangan itu. Kekuatan di tubuhnya lenyap. Otot-ototnya terasa seperti agar-agar.
"Lepaskan! Jangan sentuh aku!" teriaknya dalam hati, namun yang keluar hanya rintihan lemah.
Aku di mana?
Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya. Terakhir kali, ia ingat... ruang operasi. Bau antiseptik. Lampu terang. Lalu... kegelapan. Kematian. Ia seorang dokter forensik, Zailyn. Ia meninggal di meja bedah setelah kecelakaan mobil.
Ini mimpi?
"Selir Ling yang malang," bisik suara pertama, penuh kepalsuan. "Pantas saja Kaisar tidak pernah mengunjunginya."
"Selir Ling?" Zailyn mengulang nama itu dalam benaknya. Siapa Selir Ling?
Kilasan gambar menerjang otaknya, bukan miliknya. Sebuah kamar yang megah namun sepi. Gaun sutra. Wajah seorang gadis, pucat, mata penuh ketakutan. Ada rasa getir di lidah. Rasa pahit yang tak tertahankan.
Racun.
Jantung Zailyn berdebar kencang. Ia tahu rasa racun. Ia tahu gejalanya. Mual. Pusing. Nyeri perut yang melilit. Ini... ini gejala yang sama.
"Air! Aku butuh air!" Ia mencoba bicara lagi, kali ini sedikit lebih jelas.
Keheningan sesaat. Lalu, tawa kecil yang sinis. "Masih sempat-sempatnya meminta air. Bukankah dia sudah hampir mati?"
Sialan! Darah Zailyn mendidih. Ia tidak mati! Ia hidup! Tapi di tubuh siapa ini?
Matanya terbuka paksa. Penglihatan masih kabur, tapi ia bisa membedakan siluet. Dua wanita berdiri di dekat ranjangnya. Pakaian mereka... bukan pakaian modern. Kimono? Hanfu? Terlalu mewah untuk sekadar gaun tidur.
"Siapa kalian?" desis Zailyn. Suaranya serak, parau, bukan suaranya sendiri.
Kedua wanita itu terkesiap. Salah satunya mundur selangkah.
"Lihat! Dia sudah sadar!"
"Tapi... tabib bilang..."
Zailyn mencoba menggerakkan jari-jarinya. Sulit. Setiap gerakan terasa menyakitkan. Tulang-tulangnya seperti rapuh. Tubuh ini... sangat lemah.
"Ini bukan tubuhku. Ini tubuh gadis itu. Selir Ling?" tanyanya dalam hati.
Ingatan-ingatan asing menyerbu. Nama-nama. Wajah-wajah. Sebuah istana megah. Hierarki yang kejam. Kaisar. Harem. Kepalanya mendadak penuh dengan semua memori lampau yang tidak ia kenal sebelumnya.
"Ya Tuhan. Ini benar-benar terjadi!" Diambang keraguannya, ia mencoba untuk mencerna dengan semua yang telah terjadi.
Ia bereinkarnasi. Ke dalam tubuh Selir Ling, seorang selir rendahan yang diracun. Racun yang lambat, menggerogoti. Racun yang sama yang ia rasakan sekarang.
"Nyonya... Anda sudah sadar?" Suara yang lebih muda, lebih lembut, kini mendekat. Itu bukan salah satu dari dua wanita yang tadi bicara sinis.
Zailyn menoleh perlahan. Seorang gadis muda, wajahnya polos, mata penuh kekhawatiran. Xiao Li? Ya, Xiao Li. Pelayan pribadi Selir Ling.
"Air..." Zailyn mengulang, kali ini dengan nada yang lebih mendesak.
Xiao Li bergegas. "Tentu, Nyonya! Sebentar!"
Dua wanita yang tadi sinis saling pandang. "Dasar wanita lemah," bisik salah satu dari mereka, cukup keras untuk didengar Zailyn. "Berpura-pura mati saja masih tidak becus."
Zailyn mengepalkan tangannya. Kemarahan membara. Ini bukan pura-pura. Ini nyata. Rasa sakit ini nyata. Kematian yang nyaris ia alami, juga nyata.
Xiao Li kembali dengan cangkir kecil berisi air. Zailyn meneguknya rakus. Cairan dingin itu terasa seperti surga di tenggorokannya yang terbakar.
"Pelan-pelan, Nyonya." Xiao Li membantu menopang kepalanya.
Pandangan Zailyn mulai sedikit jernih. Kamar ini... megah, tapi terasa dingin. Tirai sutra, ukiran naga di tiang-tiang, perabotan kayu yang diukir rumit. Tapi tidak ada kehangatan. Tidak ada kehidupan. Hanya kemewahan yang sunyi.
"Apa yang terjadi padaku?" Zailyn bertanya, suaranya masih parau. Ia harus berpura-pura. Ia tidak boleh menunjukkan bahwa ia tahu.
Xiao Li menunduk, gemetar. "Nyonya... Anda... Anda sakit. Tabib bilang... Anda diracun."
Diracun.
Konfirmasi itu menghantamnya seperti gelombang dingin. Racun. Harem. Intrik. Ia, seorang dokter forensik dari abad ke-21, terdampar di dunia fantasi yang kejam ini, sekarat karena racun.
"Siapa yang meracuniku?" Zailyn mendesis, suaranya lebih tajam dari yang ia duga.
Xiao Li terkesiap, lalu melirik ke arah dua pelayan yang masih berdiri di sudut, pura-pura sibuk. "Nyonya... saya tidak tahu. Tidak ada yang tahu pasti. Tapi... ada rumor..."
"Rumor apa?"
"Rumor bahwa... Selir Mei... tidak suka dengan Nyonya." Xiao Li berbisik, takut-takut.
Selir Mei. Ingatan Selir Ling berkelebat. Wanita cantik, ambisius, kejam. Peringkatnya tinggi. Selalu menganggap Selir Ling sebagai duri dalam daging.
Jadi, dia pelakunya?
Zailyn menatap langit-langit. Ini bukan mimpi. Ini bukan lelucon. Ia tidak lagi Zailyn, si dokter forensik. Ia adalah Selir Ling, yang lemah, yang diracun, yang tidak diinginkan, bahkan dianggap tidak berguna dan tidak memiliki harga diri.
Rasa sakit kembali menyerbu, lebih kuat dari sebelumnya. Perutnya melilit. Mual. Kepalanya berputar.
"Sial, apakah aku akan mati lagi?" gumamnya dalam hati.
Ketakutan itu, ketakutan akan kegelapan yang sama, mencengkeramnya. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada kemarahan. Kemarahan karena kematiannya yang pertama sia-sia. Kemarahan karena nasib Selir Ling yang malang.
Ia seorang dokter. Ia tahu cara bertahan hidup. Ia tahu racun. Ia tahu tubuh manusia.
"Tidak! Aku tidak akan mati. Aku tidak boleh mati!"
Tekad itu, tipis namun membara, mulai tumbuh. Ia tidak akan menyerah. Tidak di sini. Tidak lagi.
"Nyonya? Anda baik-baik saja?" Xiao Li bertanya, cemas.
Zailyn memejamkan mata, mengabaikan rasa sakit yang menggerogoti. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kekuatan. Ia harus berpikir. Ia harus merencanakan.
"Aku baik-baik saja," katanya, suaranya lebih tegas dari sebelumnya. "Xiao Li, aku butuh kau. Kau bisa percaya padaku?"
Xiao Li menatapnya, matanya berbinar. "Tentu, Nyonya! Saya selalu setia!"
"Bagus." Zailyn membuka matanya, menatap langit-langit asing itu dengan tatapan tajam dan meremas keras kain tebal yang menyelimuti tubuhnya saat ini, pancaran yang belum pernah ada di mata Selir Ling sebelumnya.
"Aku tidak akan mati sia-sia lagi." Bisikannya pelan, namun penuh janji. Janji yang akan mengubah takdir istana ini.
Zailyn menghela napas, rasa sakit di perutnya kembali menusuk. Ini adalah langkah pertama. Kecil, tapi krusial. Ia tidak bisa menyembuhkan dirinya sepenuhnya hanya dengan jahe dan krisan, tetapi ini akan memberikan detoksifikasi awal, meredakan gejala, dan yang paling penting, membeli waktu. Waktu untuk menganalisis, waktu untuk merencanakan, waktu untuk menemukan penawar yang sebenarnya, dan waktu untuk membalikkan keadaan.Ia memikirkan kembali kelemahan tubuh Selir Ling. Racun itu telah menggerogoti selama dua bulan. Ini berarti organ-organnya pasti sudah mengalami kerusakan signifikan. Hati, ginjal, sistem pencernaan... semua akan membutuhkan dukungan. Jahe, krisan, dan kunyit adalah permulaan yang baik untuk melindungi dan memperbaiki organ-organ tersebut secara perlahan."Aku harus juga mencari sumber serat dan protein. Tubuh ini sangat kekurangan gizi."Sayuran hijau, biji-bijian, dan daging—jika ia bisa mendapatkannya—akan sangat membantu. Tapi itu akan menjadi langkah berikut
Cahaya matahari pagi menyusup dari celah tirai sutra. Zailyn membuka mata perlahan. Rasa mual itu masih ada, tetapi tidak lagi seintens semalam. Tekadnya membara, mengalahkan setiap denyutan sakit di perutnya. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk bertahan hidup, dan seorang dokter forensik tidak pernah mengingkari janji. Terutama janji pada dirinya sendiri."Xiao Li," panggil Zailyn, suaranya masih serak, namun kini lebih stabil.Xiao Li, yang tertidur pulas di bangku sudut, terlonjak bangun. Matanya yang sembab menunjukkan betapa khawatirnya ia semalam. "Nyonya! Anda sudah bangun? Apa yang Nyonya butuhkan?"Zailyn tersenyum tipis, senyum yang jarang terlihat di wajah Selir Ling. "Aku haus. Dan aku butuh kau untuk membantuku berpikir."Xiao Li bergegas menuangkan air hangat ke dalam cangkir porselen. "Tentu, Nyonya. Apa pun untuk Nyonya."Zailyn meneguk air itu perlahan, merasakan kelegaan yang instan di tenggorokannya. Otaknya mulai bekerja, memanggil kembali setiap pelajaran
Zailyn memejamkan mata, mengabaikan rasa mual yang melanda. Di luar kamarnya, kehidupan istana berdengung samar, bisikan-bisikan tentang dirinya, tentang nasibnya yang malang, mengalir seperti racun lain yang tak terlihat. Tapi di dalam benaknya, ada pertarungan yang jauh lebih penting. Ia seorang dokter forensik. Otaknya terlatih untuk menganalisis, mengidentifikasi, dan memecahkan misteri, bahkan misteri yang terjadi di dalam tubuhnya sendiri."Baiklah, Selir Ling," ia bergumam pada dirinya sendiri, suaranya hanya terdengar dalam benaknya, "mari kita mulai diagnosis."**Ia secara internal memindai tubuhnya, seolah-olah ia sedang melakukan pemeriksaan fisik pada pasien. Denyut nadi. Ia mencoba merasakannya di pergelangan tangannya. Lemah, cepat, tidak teratur. Jelas tanda-tanda tubuh yang berjuang melawan sesuatu yang mematikan. Kulitnya pucat, bahkan di bawah lapisan tipis riasan yang mungkin pernah dikenakan Selir Ling. Matanya terasa cekung, garis-garis kelelahan terlihat jelas.
Zailyn membuka mata, tatapannya tajam, jauh berbeda dari Selir Ling yang selalu murung. Dua pelayan di sudut, yang tadi berbisik sinis, kini tampak gelisah. Xiao Li masih memegang cangkir air kosong, matanya membesar karena terkejut."Aku tidak akan mati sia-sia lagi," Zailyn mengulang, suaranya lebih jelas, meskipun masih parau. Ia menatap Xiao Li. "Kau bilang kau setia?"Xiao Li mengangguk cepat, air mata menggenang di pelupuk matanya. "Ya, Nyonya! Saya bersumpah! Saya... saya sangat khawatir Nyonya tidak akan bangun lagi!""Bagus," Zailyn berbisik. Ia melirik dua pelayan lainnya. Mereka, yang bernama Mei Hua dan Qing Qing, kini tampak menghindari tatapannya, pura-pura merapikan tirai yang sudah rapi. "Kalian berdua," Zailyn memanggil, suaranya lemah tapi tegas. "Pergilah. Aku ingin bicara pribadi dengan Xiao Li."Mei Hua, yang lebih tua dan tampak lebih berani, mengangkat dagunya. "Tapi, Nyonya, Permaisuri Agung memerintahkan kami untuk mengawasi Anda.""Mengawasi atau menguping?"
"Ah, uhuk!" seorang gadis menelan ludah dengan kesakitan.Napasnya tersengal, merobek tenggorokan yang terasa hangus. Rasa sakit itu, seperti bara api di ulu hati, membakar tanpa ampun. Zailyn, gadis yang telah lulus dari maut. Ia mengerang, berusaha membuka mata, namun hanya kegelapan dan siluet buram yang menyambutnya. Kepalanya berdenyut, berat, seolah baru saja dihantam palu godam."Dia bergerak?" Suara bisikan, samar, jauh."Jangan sentuh dia. Biarkan saja. Tabib sudah bilang, tidak akan lama." Suara lain, lebih dingin, penuh ketidakpedulian.Zailyn mencoba fokus. Suara-suara itu... bukan suara yang ia kenal. Bukan suara mesin rumah sakit. Bukan suara keluarganya."Air..." desisnya. Bibirnya kering, pecah-pecah."Dengar? Dia bicara.""Biarkan saja. Untuk apa? Dia sudah merepotkan."Sebuah tangan menyentuh keningnya. Dingin. Bukan tangan yang lembut. Bukan tangan perawat."Panas sekali," kata suara itu lagi. "Apa yang terjadi padanya?"Zailyn mengerahkan seluruh tenaganya, mencoba







