تسجيل الدخولZailyn memejamkan mata, mengabaikan rasa mual yang melanda. Di luar kamarnya, kehidupan istana berdengung samar, bisikan-bisikan tentang dirinya, tentang nasibnya yang malang, mengalir seperti racun lain yang tak terlihat. Tapi di dalam benaknya, ada pertarungan yang jauh lebih penting. Ia seorang dokter forensik. Otaknya terlatih untuk menganalisis, mengidentifikasi, dan memecahkan misteri, bahkan misteri yang terjadi di dalam tubuhnya sendiri.
"Baiklah, Selir Ling," ia bergumam pada dirinya sendiri, suaranya hanya terdengar dalam benaknya, "mari kita mulai diagnosis."
**
Ia secara internal memindai tubuhnya, seolah-olah ia sedang melakukan pemeriksaan fisik pada pasien. Denyut nadi. Ia mencoba merasakannya di pergelangan tangannya. Lemah, cepat, tidak teratur. Jelas tanda-tanda tubuh yang berjuang melawan sesuatu yang mematikan. Kulitnya pucat, bahkan di bawah lapisan tipis riasan yang mungkin pernah dikenakan Selir Ling. Matanya terasa cekung, garis-garis kelelahan terlihat jelas.
"Xiao Li bilang ada ruam," pikir Zailyn. Ia mencoba mengangkat sedikit selimut dan melihat lengannya. Memang, ada bercak-bercak merah kecil, seperti alergi atau iritasi kulit, yang tersebar di beberapa area. Ini bukan ruam tipikal dari penyakit menular, melainkan lebih seperti reaksi toksik yang sedang berlangsung.
Selanjutnya, perut. Rasa sakit yang melilit itu. Bukan nyeri tajam yang tiba-tiba, melainkan nyeri tumpul, konstan, yang sesekali memburuk menjadi kejang. Ini menunjukkan kerusakan organ internal yang lambat, kemungkinan besar pada sistem pencernaan dan hati. Mual dan pusing adalah gejala umum dari banyak keracunan, tetapi yang ini terasa lebih persisten, seolah-olah racun itu terus-menerus mengganggu keseimbangan kimiawi dalam otaknya, menyebabkan vertigo dan disorientasi.
Ia mengingat semua yang ia pelajari tentang toksikologi. Racun bisa berasal dari mana saja: tanaman, mineral, hewan, atau bahkan kombinasi. Di dunia modern, identifikasi bisa dilakukan dengan tes laboratorium yang canggih, kromatografi gas-spektrometri massa, atau tes immunoassay. Di sini? Ia hanya punya otaknya dan ingatannya. Tidak ada peralatan canggih, tidak ada reagen, bahkan tidak ada mikroskop. Ini adalah pertarungan antara pengetahuan abad ke-21 dan keterbatasan abad pertengahan.
"Racun herbal lambat," Zailyn menyimpulkan, memperkuat dugaan awalnya. "Bukan racun yang membunuh seketika, tetapi yang mengikis vitalitas secara bertahap, meniru penyakit kronis atau kelemahan bawaan."
Ini menjelaskan mengapa tabib istana tidak dapat menemukan penawarnya. Mereka mungkin melihat gejala, tetapi tidak dapat mengidentifikasi penyebab pastinya. Mereka mungkin menduga racun, tetapi racun herbal bisa sangat kompleks, dan pengetahuannya di dunia ini mungkin terbatas pada ramuan tradisional tanpa pemahaman mendalam tentang mekanisme molekuler. Mereka mungkin hanya fokus pada pengobatan gejala, bukan akarnya.
Apa saja yang bisa menyebabkan gejala seperti ini?
Zailyn mulai menyusun daftar dalam benaknya, memanggil kembali setiap memori dari buku teks medis dan kasus-kasus forensik. Alkaloid seperti atropin atau skopolamin bisa menyebabkan pusing dan mual, tetapi biasanya dengan efek neurologis yang lebih jelas. Glikosida jantung dari tanaman seperti digitalis akan mempengaruhi jantung secara langsung. Saponin bisa menyebabkan iritasi lambung. Senyawa sianida akan membunuh dengan cepat.
Racun ini terasa lebih halus, lebih licik. Mirip dengan keracunan thallium dalam dosis rendah, yang menyebabkan kelelahan, nyeri perut, dan kerontokan rambut – meskipun rambut Selir Ling masih utuh, mungkin belum mencapai tahap itu. Atau perhaps, racun yang mengandung logam berat seperti timbal atau merkuri, yang bisa menyebar ke seluruh tubuh dan menyebabkan kerusakan saraf dan organ secara perlahan. Namun, Xiao Li menyebutkan "racun herbal", yang mengarahkan dugaannya pada senyawa organik dari tanaman.
"Penyakit kuning? Tidak, kulitku tidak menguning, hanya pucat. Gagal ginjal? Mungkin, ada tanda-tanda kerusakan, tapi belum pada tahap terminal," gumamnya dalam hati.
"Racun ini dirancang untuk membunuh secara perlahan, tanpa jejak yang terlalu mencolok, agar kematian Selir Ling tampak alami atau akibat penyakit yang sudah lama dideritanya. Sebuah pembunuhan yang sempurna di mata intrik harem."
"Xiao Li bilang racun ini dimulai setelah jamuan teh Permaisuri Agung," Zailyn berpikir.
"Itu berarti racun itu dikonsumsi secara oral. Mungkin dalam makanan atau minuman, atau bahkan melalui kontak yang tidak disengaja."
Ia mencoba mengingat kembali sensasi makanan atau minuman di tubuh Selir Ling. Ada rasa pahit yang samar di lidah, yang sering dianggap sebagai rasa obat tradisional atau rempah-rempah yang aneh. Itu bisa jadi cara racun itu disamarkan, dicampur dalam teh, sup, atau bahkan manisan yang disajikan di jamuan. Atau, mungkin racun itu tidak sekali dosis, melainkan diberikan secara berulang dalam jumlah kecil. Itu akan lebih sulit dilacak.
Bagaimana cara mendetoksifikasi diri?
Di dunianya, ia akan memberikan arang aktif untuk menyerap racun di saluran pencernaan, cairan infus untuk rehidrasi dan membantu ginjal, obat-obatan penawar spesifik jika ada, atau bahkan melakukan dialisis jika ginjal sudah gagal. Di sini, ia tidak punya apa-apa. Tidak ada laboratorium. Tidak ada farmasi modern. Hanya herbal, air, dan mungkin beberapa bahan dapur.
Keputusasaan mulai merayapi. Rasa takut akan kematian kedua kalinya kembali mencengkeram. Apa gunanya semua pengetahuannya jika ia tidak memiliki alat untuk menerapkannya? Apa gunanya menjadi dokter forensik jika ia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri? Ia merasa seperti seorang jenderal yang memiliki strategi perang brilian tetapi tidak punya pasukan atau senjata.
Namun, Zailyn bukan tipe orang yang mudah menyerah. Ia telah menghadapi kematian berkali-kali di ruang autopsi, melihat betapa rapuhnya kehidupan, dan betapa berharganya setiap detik. Ia adalah seorang penyintas, seorang pejuang di hati.
"Aku punya waktu," ia bergumam pelan. "Xiao Li bilang racun ini lambat. Itu berarti aku belum sepenuhnya kalah. Ada jendela kesempatan."
Waktu. Itu adalah aset dan musuh. Racun itu terus menggerogoti, merusak sel demi sel, tetapi memberinya jendela kesempatan untuk melawan. Setiap detik adalah pertaruhan, setiap keputusan adalah hidup atau mati.
Apa yang bisa aku gunakan di sini?
Ia mulai memikirkan tanaman-tanaman yang memiliki sifat detoksifikasi umum, yang mungkin dikenal dalam pengobatan tradisional Tiongkok atau herbalisme kuno. Di dunia modern, banyak obat berasal dari tanaman. Beberapa herbal memiliki sifat diuretik, yang dapat membantu mengeluarkan racun melalui urine. Beberapa bersifat laksatif ringan, yang dapat membantu membersihkan sistem pencernaan. Beberapa lainnya mengandung antioksidan atau senyawa yang mendukung fungsi hati, seperti kurkumin dari kunyit atau silymarin dari milk thistle.
Ia teringat sebuah kasus lama di mana seorang pasien keracunan jamur, dan mereka menggunakan ekstrak silymarin dari milk thistle untuk melindungi hati. Apakah ada padanan milk thistle di dunia ini? Atau tanaman lain dengan sifat serupa, seperti dandelion atau akar burdock, yang dikenal memiliki sifat pembersih darah?
"Aku harus bertanya pada Xiao Li," Zailyn memutuskan.
"Secara tidak langsung. Aku tidak bisa menunjukkan bahwa aku tahu terlalu banyak, atau mereka akan curiga."
Ia harus berhati-hati. Jika orang yang meracuninya tahu bahwa ia sedang berusaha melawan, mereka mungkin akan meningkatkan dosis atau menggunakan racun yang lebih cepat. Ia harus bertindak diam-diam, seolah-olah ia hanyalah Selir Ling yang lemah, yang mencoba mencari sedikit kenyamanan atau obat tradisional untuk penyakitnya yang "tak tersembuhkan."
Rasa sakit di perutnya kembali memuncak, membuat Zailyn mengerang. Keringat dingin membasahi keningnya. Ia merasa sangat lemah, sangat rapuh. Tubuh Selir Ling ini benar-benar di ambang kematian.
Aku harus hidup. Aku harus hidup.
Tekad itu menjadi mantra, mengusir keputusasaan. Ia tidak bisa membiarkan kematiannya sia-sia lagi. Ia punya kehidupan kedua, dan ia akan berjuang untuk itu. Ia akan menggunakan setiap ons pengetahuan, setiap tetes kecerdasan, untuk membalikkan keadaan.
Ia mulai merencanakan langkah-langkahnya.
**
Identifikasi lebih lanjut, meskipun ia menduga racun herbal lambat, ia perlu mencari tahu lebih banyak tentang jenis spesifiknya jika memungkinkan. Ini mungkin melalui pengamatan gejala yang lebih detail, mencari informasi tentang racun lokal, atau bahkan mencoba menguji reaksi tubuhnya terhadap makanan tertentu.
Detoksifikasi awal, menggunakan bahan-bahan yang mungkin tersedia di istana untuk membersihkan sistem tubuh secara umum. Air, herbal dengan sifat diuretik atau pencernaan, serat makanan.
Perlindungan organ, mencari herbal yang dapat mendukung fungsi hati dan ginjal, yang kemungkinan besar menjadi target racun, dan juga untuk memulihkan sistem pencernaan.
Nutrisi, tubuh ini sangat kurus dan lemah. Ia butuh nutrisi untuk membangun kembali kekuatannya, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan mempercepat pemulihan sel.
Kerahasiaan, semua harus dilakukan secara rahasia. Tidak ada yang boleh tahu bahwa ia sedang melawan.
**
Zailyn membuka matanya. Pandangannya masih sedikit kabur, tetapi fokusnya jauh lebih jelas. Ia melihat ke sekeliling kamar yang megah namun dingin itu. Sebuah vas bunga di sudut. Sebuah piring buah di meja samping ranjang. Semuanya adalah potensi sumber daya. Bahkan debu di sudut kamar bisa menjadi petunjuk forensik.
Ia meraih piring buah. Ada beberapa buah plum yang tampak segar. Buah-buahan, terutama yang kaya serat dan vitamin C, bisa membantu detoksifikasi dan memberikan energi. Ia menggigit plum itu. Rasanya manis, sedikit asam. Ini adalah makanan padat pertamanya sejak ia terbangun. Tubuhnya bereaksi, sedikit mual, tetapi ia memaksakan diri untuk menelannya.
"Setiap gigitan adalah pertarungan," pikirnya.
Ia melihat ke arah jendela, di mana cahaya matahari sore mulai memudar. Dunia ini adalah penjara yang indah, tetapi juga medan perang yang mematikan. Ia adalah Selir Ling yang lemah, tetapi di dalam tubuh itu, ada jiwa Zailyn, seorang wanita yang menolak untuk menjadi korban.
Zailyn menghela napas panjang, menahan gelombang mual yang naik ke tenggorokannya. Ia tahu ini akan menjadi pertarungan yang panjang dan sulit. Tapi ia tidak pernah gentar menghadapi tantangan. Sebagai dokter forensik, ia seringkali harus mencari kebenaran di tengah kebohongan dan ilusi. Kali ini, ia adalah subjeknya sendiri, dan kebenaran adalah kelangsungan hidupnya.
"Aku akan hidup," bisiknya pelan, suaranya dipenuhi tekad yang membara. "Aku harus hidup."
Janji itu, diucapkan di tengah kamar yang sunyi, adalah sumpah pertama Zailyn di dunia barunya. Sebuah sumpah untuk berjuang, untuk bertahan, dan untuk membalikkan nasib Selir Ling yang malang. Ia akan mengubah neraka ini menjadi tempat di mana ia bisa berdiri tegak, dan orang-orang yang meracuninya akan menyesal telah meremehkan seorang dokter forensik dari dunia lain.
Ia mulai memikirkan ramuan sederhana yang bisa ia buat. Teh jahe untuk mual. Air madu untuk energi dan sifat antibakterinya. Mungkin sedikit cuka apel, jika ada, untuk keseimbangan pH dan detoksifikasi. Ia harus mulai dari yang paling dasar, menggunakan apa pun yang ia bisa dapatkan.
Rasa sakit masih ada, tetapi sekarang ada tujuan. Ada harapan. Harapan yang rapuh, tetapi nyata. Pengetahuannya adalah satu-satunya senjatanya, dan ia akan menggunakannya dengan setiap tetes kemampuannya.
"Aku akan hidup," bisiknya sekali lagi, suaranya kini dipenuhi tekad yang tak tergoyahkan. "Aku harus hidup."
Itu adalah janji. Dan Zailyn, si dokter forensik, selalu menepati janjinya.
Zailyn menghela napas, rasa sakit di perutnya kembali menusuk. Ini adalah langkah pertama. Kecil, tapi krusial. Ia tidak bisa menyembuhkan dirinya sepenuhnya hanya dengan jahe dan krisan, tetapi ini akan memberikan detoksifikasi awal, meredakan gejala, dan yang paling penting, membeli waktu. Waktu untuk menganalisis, waktu untuk merencanakan, waktu untuk menemukan penawar yang sebenarnya, dan waktu untuk membalikkan keadaan.Ia memikirkan kembali kelemahan tubuh Selir Ling. Racun itu telah menggerogoti selama dua bulan. Ini berarti organ-organnya pasti sudah mengalami kerusakan signifikan. Hati, ginjal, sistem pencernaan... semua akan membutuhkan dukungan. Jahe, krisan, dan kunyit adalah permulaan yang baik untuk melindungi dan memperbaiki organ-organ tersebut secara perlahan."Aku harus juga mencari sumber serat dan protein. Tubuh ini sangat kekurangan gizi."Sayuran hijau, biji-bijian, dan daging—jika ia bisa mendapatkannya—akan sangat membantu. Tapi itu akan menjadi langkah berikut
Cahaya matahari pagi menyusup dari celah tirai sutra. Zailyn membuka mata perlahan. Rasa mual itu masih ada, tetapi tidak lagi seintens semalam. Tekadnya membara, mengalahkan setiap denyutan sakit di perutnya. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk bertahan hidup, dan seorang dokter forensik tidak pernah mengingkari janji. Terutama janji pada dirinya sendiri."Xiao Li," panggil Zailyn, suaranya masih serak, namun kini lebih stabil.Xiao Li, yang tertidur pulas di bangku sudut, terlonjak bangun. Matanya yang sembab menunjukkan betapa khawatirnya ia semalam. "Nyonya! Anda sudah bangun? Apa yang Nyonya butuhkan?"Zailyn tersenyum tipis, senyum yang jarang terlihat di wajah Selir Ling. "Aku haus. Dan aku butuh kau untuk membantuku berpikir."Xiao Li bergegas menuangkan air hangat ke dalam cangkir porselen. "Tentu, Nyonya. Apa pun untuk Nyonya."Zailyn meneguk air itu perlahan, merasakan kelegaan yang instan di tenggorokannya. Otaknya mulai bekerja, memanggil kembali setiap pelajaran
Zailyn memejamkan mata, mengabaikan rasa mual yang melanda. Di luar kamarnya, kehidupan istana berdengung samar, bisikan-bisikan tentang dirinya, tentang nasibnya yang malang, mengalir seperti racun lain yang tak terlihat. Tapi di dalam benaknya, ada pertarungan yang jauh lebih penting. Ia seorang dokter forensik. Otaknya terlatih untuk menganalisis, mengidentifikasi, dan memecahkan misteri, bahkan misteri yang terjadi di dalam tubuhnya sendiri."Baiklah, Selir Ling," ia bergumam pada dirinya sendiri, suaranya hanya terdengar dalam benaknya, "mari kita mulai diagnosis."**Ia secara internal memindai tubuhnya, seolah-olah ia sedang melakukan pemeriksaan fisik pada pasien. Denyut nadi. Ia mencoba merasakannya di pergelangan tangannya. Lemah, cepat, tidak teratur. Jelas tanda-tanda tubuh yang berjuang melawan sesuatu yang mematikan. Kulitnya pucat, bahkan di bawah lapisan tipis riasan yang mungkin pernah dikenakan Selir Ling. Matanya terasa cekung, garis-garis kelelahan terlihat jelas.
Zailyn membuka mata, tatapannya tajam, jauh berbeda dari Selir Ling yang selalu murung. Dua pelayan di sudut, yang tadi berbisik sinis, kini tampak gelisah. Xiao Li masih memegang cangkir air kosong, matanya membesar karena terkejut."Aku tidak akan mati sia-sia lagi," Zailyn mengulang, suaranya lebih jelas, meskipun masih parau. Ia menatap Xiao Li. "Kau bilang kau setia?"Xiao Li mengangguk cepat, air mata menggenang di pelupuk matanya. "Ya, Nyonya! Saya bersumpah! Saya... saya sangat khawatir Nyonya tidak akan bangun lagi!""Bagus," Zailyn berbisik. Ia melirik dua pelayan lainnya. Mereka, yang bernama Mei Hua dan Qing Qing, kini tampak menghindari tatapannya, pura-pura merapikan tirai yang sudah rapi. "Kalian berdua," Zailyn memanggil, suaranya lemah tapi tegas. "Pergilah. Aku ingin bicara pribadi dengan Xiao Li."Mei Hua, yang lebih tua dan tampak lebih berani, mengangkat dagunya. "Tapi, Nyonya, Permaisuri Agung memerintahkan kami untuk mengawasi Anda.""Mengawasi atau menguping?"
"Ah, uhuk!" seorang gadis menelan ludah dengan kesakitan.Napasnya tersengal, merobek tenggorokan yang terasa hangus. Rasa sakit itu, seperti bara api di ulu hati, membakar tanpa ampun. Zailyn, gadis yang telah lulus dari maut. Ia mengerang, berusaha membuka mata, namun hanya kegelapan dan siluet buram yang menyambutnya. Kepalanya berdenyut, berat, seolah baru saja dihantam palu godam."Dia bergerak?" Suara bisikan, samar, jauh."Jangan sentuh dia. Biarkan saja. Tabib sudah bilang, tidak akan lama." Suara lain, lebih dingin, penuh ketidakpedulian.Zailyn mencoba fokus. Suara-suara itu... bukan suara yang ia kenal. Bukan suara mesin rumah sakit. Bukan suara keluarganya."Air..." desisnya. Bibirnya kering, pecah-pecah."Dengar? Dia bicara.""Biarkan saja. Untuk apa? Dia sudah merepotkan."Sebuah tangan menyentuh keningnya. Dingin. Bukan tangan yang lembut. Bukan tangan perawat."Panas sekali," kata suara itu lagi. "Apa yang terjadi padanya?"Zailyn mengerahkan seluruh tenaganya, mencoba







