LOGINUcapan Daven barusan membuat hampir sebagian wartawan yang ada di sana, bungkam. Mereka saling menatap satu sama lain seolah ucapan itu tak bisa langsung dipercaya karena sangat mengejutnya.
“Apa ... Anda serius?” tanya salah satu wartawan di mana ia masih menyiarkan secara langsung, apa yang terjadi di depan lobby gedung Callister Grup ini.
“Apa saya terlihat bercanda?” tanya Daven dengan senyumnya yang tenang. “Saya tak berniat menarik ucapan yang
“Berlebihan sekali,” gerutunya. Vanessa berdiri di depan cermin besar kamarnya. Sekali lagi mematut penampilannya di depan cermin. Ia mengenakan mantel hitam panjang untuk menutupi perbannya. Selain itu untuk menyembunyikan dirinya dari wartawan.“Aku tak mungkin keluar tanpa pengawalan.” Ia pun berinisiatif mengambil ponselnya dan menghubungi satu-satunya orang yang masih bisa dimintai bantuan—ajudan ayahnya.“Aku butuh pengawalan,” katanya cepat. “Cepat suruh beberapa orang untuk menjemputku di rumah.”Di ujung sana, terdengar suara helaan pelan serta nada bicara yang sopan. “Maafkan saya, Nona Vanessa, tapi Tuan Theo melarang Anda keluar rumah sementara waktu. Ada banyak risiko yang harus dihada—““Aku harus menemui agensiku. Ada banyak hal yang harus dibicarakan. Apa itu juga tak bisa dilakukan?” tannya Vanessa dengan nada mendesak. “Katakan pada ayahku, aku tak
“Jam berapa ini?” lenguh Vanessa dengan rasa pening yang masih mendera kepalanya cukup kuat. Membuat ia meringis kesakitan. Hal terakhir yang dia ingat, dia menenggak wine langsung dari botolnya. Menggumamkan banyak hal termasuk memaki Daven dan Althea serta ...“Di mana James?” Ia mencari keberadaan pria yang dianggap ada di sekitarnya namun ... tidak ada. Yang ada hanya pemandangan kamarnya yang sunyi.Pagi itu cahaya matahari menembus tirai kamar, membuat Vanessa terpaksa membuka mata. Perih terasa di tangannya yang diperban, juga pergelangan kakinya yang ditutupi balutan putih. Pening yang melanda kepalanya juga masih menyiksa. Ia tak tahu siapa yang merawatnya semalam—perawat bayaran ayahnya, atau mungkin pelayan—dan jujur saja, ia tak peduli.Pintu kamar berderit pelan. Seorang pelayan masuk sambil menenteng nampan sarapan.“Selamat pagi, Nona Vanessa,” sapanya ramah.Atau mungkin berusaha ramah
“Apa harus seperti ini?” tanya Althea bingung.Ruang rapat di SunCity sore itu dipenuhi ketegangan. Althea duduk di samping Chase Miller, dikelilingi beberapa pengacara yang direkomendasikan keluarga Miller. Daniel Miller, dengan wibawanya yang tak terbantahkan, berdiri di ujung meja. Sementara beberapa staf hukum menyiapkan berkas-berkas yang sudah dikumpulkan.“Tentu saja, Sayang.” Chase terkekeh. “Yang akan kita lawan adalah wanita licik dan ... ya, tak bisa dimungkiri kalau dia adalah salah satu selebriti yang cukup populer. Berita yang menyangkut namanya pasti sangat diminati banyak orang. Kau bisa melihat sendiri dampaknya, kan?”Althea menghela panjang. “Kuharap aku tak melakukan kesalahan.”Daniel Miller menoleh padanya. “Kau tak perlu takut, Althea.” Suara itu cukup menenangkan bagi Althea. Selayaknya seorang ayah yang berdiri di sisi anaknya, membela sang anak, dan melakukan apa pun apa
Althea terdiam.“Diammu kuanggap ... itulah kebenarannya. Iya, kan?”Suara Daven terdengar putus asa, ada sendu yang sangat besar serta penyesalan yang tak bisa ditanggulangi dengan mudah. “Kenapa ... kau—““Apa dengan mengatakannya saat itu, kau akan percaya?” tanya Althea dengan sinisnya. “Bukankah saat itu, kau bahagia akhirnya bisa menikahi pujaan hatimu? Menyingkirkan aku yang bukan apa-apa dalam hidupmu?”Daven terdiam tapi Althea tahu pria itu mendengar sebagian luapan emosi yang pernah ia tahan selama ini.“Aku tak butuh sokongan darimu. Aku juga tak butuh pengakuan darimu mengenai anakku. Aku hanya ingin hidup tenang bersamanya. Jika kau sudah mengetahui Josh adalah putramu, pahami satu hal. Kau yang membuat kami meninggalkanmu. Bukan kami, Daven.” Althea mengepalkan tangan menahan gemuruh emosi yang semakin memuncak. “Jadi ... sebagai orang yang sudah kau buang, tolon
SunCity, siang hari selepas pernyataan resmi dari pihak Althea.“Terima kasih sudah menemaniku tadi, Chase,” kata Althea yang menerima botol minum dari Chase.Selepas pernyataan resminya di depan puluhan wartawan yang sengaja diundang ke lobby TnC Grup, Althea tak lantas kembali ke rumahnya. Sudah hampir satu minggu sejak berita yang berkaitan dengannya mencuat, Althea dan putranya, Josh, tinggal di rumah kediaman keluarga Miller.Di sana wanita itu sangat disambut dengan hangat dan gembira, seolah Althea dan Josh adalah bagian dari keluarga Miller. Dan ide Cale Miller ini lah yang membuat Althea akhirnya memutuskan untuk menyanggah dan membalikkan fakta seputar tuduhan yang dialamatkan Vanessa padanya.“Kau tak perlu mengatakan hal itu, Sayang,” kata Chase yang mengambil duduk di samping Althea. “Apa yang kau lakukan adalah yang terbaik. Wanita licik itu harus tahu dan paham, jika Althea yang mungkin dia kenal dulu, berbeda
“Sial!” maki Vanessa sembari mengusap air matanya yang masih terus membasahi pipi. “Berengsek!”Tapi tak ada satu orang pun berada di dekatnya. Keheningan itu menyesakkan. Vanessa jatuh terduduk, tangannya gemetar, tubuhnya terguncang hebat. Ia menatap sekeliling: kursi terbalik, kaca berserakan, darah dari kakinya membuat lantai penuh bercak merah.“Tidak! Ini tak boleh terjadi. Aku tak mau sendirian,” bisiknya.Semua kekacauan ini adalah perbuatannya tapi rasa sesak serta amarah di hati belum juga mereda. Ia masih mengingat dengan jelas, apa yang baru saja ia alami. Bagaimana keadaan yang seharusnya memihak padanya, justru menjadi bumerang yang menyerangnya dengan telak. Tanpa bisa ia kendalikan lagi. Tanpa bisa ia hentikan semua pergolakan yang berbalik ke arahnya.“Kenapa ini terjadi padaku?” tanya Vanessa sembari tertunduk dalam. “Dan kenapa sekarang justru aku sendirian?”Biasanya ..







