Share

Bab 8

Author: Piemar
last update publish date: 2026-07-23 18:40:56

“Jingga, kamu tidak apa-apa, kan?” 

Suara Abimana memecah lamunan Jingga. Ia mendongak, mendapati pria tampan itu tengah menatapnya dengan raut khawatir. 

“Eh, tidak apa-apa, Abi.” Sahut Jingga dengan cengiran tipis khasnya, berusaha menormalkan perasaan yang tengah kalang kabut. Ingatannya masih tertinggal di ruang perawatan pasca operasi. 

Teringat percakapan singkat dengan ibunya yang membahas soal pinjaman jangka panjang yang merupakan hasil karangan bebas miliknya. Sungguh, ia merasa bersalah karena telah berbohong pada ibunya. 

Demi menjaga rahasia pernikahan kontraknya dengan Arjuna, ia mengatakan pada ibunya bahwa biaya pengobatan ibunya termasuk bayar utang di Bank itu merupakan pinjaman jangka panjang. Jingga akan mencicilnya dengan penghasilannya sebagai seniman mural yang terlibat dalam proyek spesial di WK Art Space.

“Kenapa malah melamun? Pakai helmmu!” seru Abimana sembari mengambil helm yang tergantung di kaca spion dan memasangkannya ke kepala kekasihnya. 

Namun, Abimana cukup kesulitan dalam memasangkannya—mengaitkan tali di bawah dagunya Jingga. Entah karena ukuran kepala Jingga yang besar atau helmnya kekecilan. 

“Pelan-pelan, Bi, sakit,” keluh Jingga.

“Ah, maaf, Jingga. Sepertinya helmnya kekecilan. Aku harus membelikan yang baru.” Abimana menepuk helm itu pelan lalu tersenyum manis. 

Jingga merapikan kerah kemeja putih terbaiknya yang dipadukan jeans dark blue yang sempat ia sambar dari lemari setelah menanggalkan dres brukat bekas akad nikah tadi. 

Tatapan Jingga terpacak pada motor sport milik Abimana. “Tumben kamu bawa motor, Bi,”

“Pengen aja. Biar dipeluk sama pacar. Kalau bawa mobil, rasanya makin berjarak,” kekeh Abimana dengan kerlingan nakal. 

Mendengar gurauan manis itu, ada rasa nyeri yang berdenyut di dadanya. Perasaan seperti ia sedang berselingkuh. Padahal, pria di depannya ini adalah kekasih yang ia cintai, tetapi secara hukum, statusnya saat ini sudah resmi menyandang Nyonya Widjayakusuma.

Malam itu, rencana awal Abimana untuk makan malam di resto lesehan langganan mereka di daerah Salemba harus batal sebab ibunya menghubunginya dan ingin bertemu dengan Jingga. Oleh karena itu, Abimana langsung mengubah haluan menuju resto seafood mewah di kawasan Thamrin. Ia baru menyadari satu hal, ibunya tidak terbiasa makan di tempat lesehan. 

Perjalanan menunggangi kuda besi memakan waktu hampir dua puluh menit menembus jalanan Kwitang yang lumayan lenggang. 

Ketika mereka tiba di pelataran resto yang megah, Abimana memarkirkan motornya. Dan, saat Jingga turun dari motor, dengan gerakan lembut, seperti biasa, Abimana menggamit tangan kekasihnya reflek. Namun, Jingga langsung melepas tangannya secara halus.  

“Kenapa?” Abimana mengernyitkan keningnya.  

“Tidak apa-apa. Tanganku cuma agak dingin,” tukas Jingga beralasan,  menggosok ke dua tangannya seolah menunjukan gerakan menghalau rasa dingin di tubuhnya. 

“Sebentar,” 

Abimana mengambil sesuatu dari dalam tas punggungnya. Sebuah syal rajut berbahan katun bambu miliknya. Kemudian, ia melilitkan syal itu di leher Jingga dengan perhatian. “Nah, begini kan hangat.”

Sikap manis Abimana justru membuat lubuk hati Jingga semakin terhimpit rasa bersalah. 

Tak lama kemudian mereka tiba di ruangan VIP berarsitektur Tionghoa modern yang tenang. Di atas kursi beludru, telah duduk seorang wanita paruh baya berpenampilan anggun ala sosialita. 

Abimana segera mendekat dan mencium kedua pipi ibunya penuh kasih. Di belakangnya Jingga berdiri canggung ikut mendekat dan hendak menyalami wanita itu. 

“Mama, ini pacar Abi, Jingga,”

Wanita bernama Wida itu terdiam agak lama. Tatapan matanya yang dilapisi eyeliner tebal menyapu Jingga dari pucuk kepala, kemeja putih sederhananya hingga ujung sepatu kanvas yang dikenakannya. Seolah sedang menaksir harga sebuah barang yang akan dijual. 

“Abi sering membicarakanmu, Jingga,” ucap Wida meski terdengar kaku. Namun, ia berusaha menyunggingkan senyuman formal. 

Jingga tersenyum hangat mendapat sambutan yang menurutnya cukup baik di awal pertemuan mereka. Ia membungkuk santun. “Selamat malam, Tante Wida.”

Tak lama kemudian Abimana menarik kursi untuk Jingga duduk. Semua gerak gerik penuh perhatian dari putra semata wayangnya tak luput dari pengawasan ketat sang ibu. 

“Mama, sudah pesan makanan belum?” Abimana melirik menu hidangan yang tergolek di atas meja. 

“Sudah. Mama sudah pesan bebek panggang dan sup bibir ikan.” Jawab Wida singkat kemudian ia menatap Jingga. “Jingga, tidak apa-apa ya makanannya disamakan dengan Abimana,”

Jingga tersenyum canggung. “Tidak apa-apa, Tante. Saya makan apa saja suka, kok,”

“Tapi, kamu tahu kan sup bibir ikan?” tanya Wida dengan nada menguji secara halus. 

“Um, tahu, Tante. Saya juga pernah makan kok,” jawab Jingga santun. Ia berusaha tenang dan menjaga kesan pertemuan pertama mereka. 

“Tapi, Ma, Jingga gak suka bebek. Dia lebih suka makan udang,” sela Abimana spontan.

Dengan cepat, Jingga menepuk punggung tangan kekasihnya di bawah meja. Seolah memberikan isyarat bahwa dia tidak keberatan memakan menu yang sama dengannya. Lagipula, ia tidak mau memicu perdebatan di pertemuan mereka hanya karena hal kecil. “Gak apa-apa kok, Abi. Lagian tanggung sudah pesan. Aku bisa makan kok. “

Abimana mengerutkan keningnya mendengar jawaban Jingga yang lebih penurut dari biasanya. 

Sambil menunggu pesanan datang, mereka pun mengobrol ringan. Wida sebagai orang tua memulai lebih dulu percakapan. “Jadi, kamu mahasiswa seni rupa biasa?”

“Euh?” Jingga mendongak lalu mengangguk. “Betul, Tante saya mahasiswa seni rupa.”

Wida mengangkat sebelah alisnya, lalu mengangguk kecil. “Kalau sudah lulus nanti kamu kerja apa?”

“Mama, kenapa bahas pekerjaan sih?” potong Abimana cepat. “Kalau nanti sudah menikah, aku gak mau Jingga kerja. Aku mau Jingga melukis saja di rumah sambil jagain anak-anak kita. Benar kan, Babe?”

Jingga mengerjap. Ia terkesiap melihat betapa seriusnya Abimana merencanakan masa depan mereka. 

“Cita-cita saya memang menjadi seniman profesional, Tante. Kalau melukis bisa di manapun,” jawab Jingga penuh percaya diri. Ia sama sekali tidak terprovokasi oleh pernyataan demi pernyataan Wida kepadanya. Anggaplah, itu adalah sebuah tes untuknya sebagai calon menantu.

Wida menegakkan punggungnya, menatap Jingga dengan sorot mata yang sukar diartikan. “Abimana sejak kecil tidak pernah menyusahkan Tante.” Ia menjeda kalimatnya sejenak. “Dia perfeksionis, kerja keras dan jarang sekali membawa teman apalagi wanita. Jadi, saat dia bilang ingin mengenalkan seseorang … berarti dia serius,”

Abimana tersenyum mendengar perkataan sang ibu. Di kolong meja, ia meremat lembut jemari Jingga. Tatapannya berbinar bagaikan kembang api. 

“Tante hanya ingin yang terbaik untuk Abimana,” lanjut Wida dengan nada dingin yang terselubung gengsi. “Kamu paham kan maksud Tante, Jingga?”

Abimana mewakili Jingga menjawab pertanyaan ibunya. “Jingga orangnya ramah dan perhatian, Mama. dia pekerja keras dan—-”

“Cukup, Abimana.” Seru Wida menyela ucapan putranya. Suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat pasokan udara di ruangan itu menipis. 

Wanita bersanggul itu mengangkat cangkir berisi teh krisan—yang sudah lebih dulu tersaji di atas meja, menyesapnya perlahan. Kemudian ia menaruhnya lagi di atas meja hingga menciptakan suara denting halus. 

Suasana meja makan mendadak sunyi. Jingga meremas ujung kemeja dengan gelisah. Ia menatap wanita paruh baya di depannya dengan dada yang terasa sesak. 

“Kita lihat saja nanti,” gumam Wida lirih tanpa sedikit pun menatap Jingga. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 27

    Keesokan harinya, Pagi hari, Jingga sudah membuat sarapan sederhana yakni nasi goreng orak arik telur kecap dilengkapi kerupuk. Harum aroma bumbu sudah mengusik pria dingin yang baru saja keluar dari kamarnya.Arjuna sudah memakai setelan kerja kasual rapi. Ia berangkat pagi sekali. Ketika melihat suami kontraknya berjalan melewati area pantry, Jingga langsung menyapanya dengan penuh ramah tamah. “Selamat pagi, Pak Arjuna!” sapanya dengan senyum yang selebar masalahnya. Arjuna menoleh dengan mata yang mimicking. Sebuah pertanyaan mencuat di kepalanya. Apa yang sedang gadis itu lakukan di pagi hari? Memasak? Bencana besar? Bukankah dia terluka?“Pagi, Pak Arjuna!” sapa Jingga kedua kalinya. “Pagi.” Jawab Arjuna irit. “Tenang, Pak. Anda tidak usah khawatir. Aku sudah membersihkan area dapur kotor kok. Aku gak banyak pakai perkakas dapur.” Jingga menjelaskan sebelum Arjuna bertanya. Ia berjalan menghampiri pria itu dengan sedikit canggung. “Pak, aku udah buat sarapan pagi. Bagaima

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 26

    Sembari menenteng kanvas berukuran besar, menggendong tas ransel di punggung dan tas tabung di pundak sebelah kirinya, Jingga menyeret kakinya ke pinggir jalan. Ia akan segera memesan taksi saja dari depan sebuah ruko yang terletak di pinggir jalan. Tanpa sepengetahuannya, sebuah mobil SUV berwarna Santorini Black baru saja melewatinya begitu saja. Sang pengemudi bahkan tak bersedia melirik sedikitpun pada Jingga yang sedang berjalan dengan wajah sendu dan kuyu. Ketika sebuah taksi konvensional lewat, Jingga langsung menghentikannya. Supir itu turun dan membantu Jingga memasukkan barangnya ke dalam bagasi mobil. “Mau kemana Mbak?” tanya sang supir sembari menutup bagasi. “Ke apartemen WK Grand Regency, Pak,” jawab Jingga malas. Sang supir taksi sempat terkejut mendengar alamat yang dituju penumpangnya. Bukankah apartemen itu adalah salah satu apartemen mewah di ibukota.Ketika Jingga naik, sang supir langsung menyalakan argometer kemudian mulai melajukan kendaraan beroda empat te

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 25

    Setelah kepergian Bude Ratih, Abimana menatap Jingga dengan cara yang tak biasa. “Katakan dengan jujur, Jingga. Kartu Black Card tadi punya siapa? Lalu siapa yang memberi pinjaman untuk operasi ibumu?” suara Abimana tidak tinggi tetapi cukup membuat suasana terasa menegangkan. Satu detik, dua detik, tiga detik berlalu …Jingga hanya mengatupkan bibirnya rapat. Haruskah ia bicara terus terang soal hal itu? Soal pinjaman dengan syarat pernikahan kontrak begitu? Abimana menghela panjang. Tatapannya masih tertuju Jingga dengan penuh telisik. Namun, detik berikutnya, ia mengembuskan napas kasar, memejamkan matanya sejenak sebelum melanjutkan interogasinya. “Jingga, katakan siapa orang ... yang membiayai operasi Ibumu? Apa ada hubungannya dengan pria kaya yang memberi kartu itu?”Jingga menelan salivanya dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun sahara. Matanya bergerak liar, memikirkan sejuta opsi kebohongan instan yang biasa ia rakit dalam hitungan detik.Ia mem

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 24

    Setelah keributan preman diredam oleh pihak RT setempat, kini Jingga dan Abimana duduk di teras rumah milik peninggalan ayah Jingga. Satu-satunya warisan harta yang ditinggalkan mendiang ayahnya.Alih-alih memikirkan tentang preman tadi, Abimana justru masih didera penasaran soal kartu Black Card yang dimiliki Jingga. Jingga mengatakan padanya bahwa kartu itu dummy atau kartu bohongan yang merupakan pementasan drama kampus milik temannya.Namun, ia menyangsikannya. Masalahnya kartu tersebut persis miliknya yang disita oleh ke dua orang tuanya. Kedua orang tua Abimana sangat tegas. Mereka tidak ingin putranya menghamburkan uang sebelum benar-benar berhasil mewujudkan cita-citanya sebagai dokter spesialis.Beberapa saat hening menyelimuti mereka. Jingga memilih bun

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 23

    Beberapa menit lalu, raut wajah Arjuna sedikit melunak. Meskipun kepalanya ingin meledak karena melihat kekacauan yang diciptakan oleh istri kontraknya, amarahnya perlahan menguap tergantikan rasa simpatik melihat gadis itu terluka. Jingga diam seribu bahasa tatkala Arjuna mengobati lukanya. Tatapannya kosong hingga Arjuna lebih dulu memanggilnya. “Kenapa?” Jingga menunduk. Matanya berkaca-kaca. Setiap kali mengingat kelakuan ayah tirinya, dadanya terasa sesak. Pria itu problematik. Ia selalu mengulangi kesalahan yang sama. Naasnya ibunya selalu saja memaafkannya. Semoga saja, perkataan ibunya yang akan menceraikannya tempo hari bisa terlaksana. “Enggak apa-apa.” Jingga mengusap sudut matanya dengan tangan yang tidak terluka. Ia tidak berniat berbagi kesedihan dengan pria di depannya. Cukup, ia menelan kepahitan hidup sendiri. Ia tidak mau berhutang budi lagi pada siapapun. Karena ia tahu, di dunia ini tidak ada yang gratis selain oksigen. Arjuna tidak bertanya lebih lanjut. Ia h

  • Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa   Bab 22

    Setelah berbelanja, satu jam setengah kemudian, Jingga tiba di penthouse. Di belakangnya, ke dua tangan asisten Wira penuh dengan goodie bag berisi belanjaan.“Apa perlu bantuan menyusun barang?” tawar pria berkumis tipis itu ketika mereka sudah berada tepat di ambang pintu penthouse.Jingga menelengkan kepalanya kemudian menyambar belanjaannya dari tangan Wira. “Gak usah, Pak. Aku bisa.”“Yakin?” Salah satu alis Wira naik, ragu.“Yakin.” Balas Jingga enteng. Ia membuka pintu kemudian membawa masuk belanjaannya meski tampak rempong bagi orang yang melihatnya.“Ingat ya Pak Arjuna itu sangat rapi. Dan, jangan pernah memindahkan barang apapun tanpa seijinnya.&rdq

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status