Share

Bab 10

Author: Elyssa
Darlene refleks menangkap celemek yang dilemparkan padanya. Gerakannya begitu alami, bahkan tanpa berpikir, seolah-olah tubuhnya sudah terbiasa melakukannya.

Namun kali ini, celemek kotor itu hanya dia pegang di tangan. Tidak seperti dulu ketika dia langsung mengikatkannya di pinggang dan masuk ke dapur.

Setiap kali jamuan makan malam Keluarga Bramantyo diadakan, Darlene selalu menjadi orang yang paling sibuk. Ada lebih dari 30 hidangan. Mulai dari mencuci sayur, memotong bahan, memasak, sampai menata hidangan di meja, semuanya dikerjakan oleh Darlene seorang diri.

Harold sebenarnya selalu merasa kasihan padanya. Dia sering berkata, "Nggak perlu terlalu capek, di rumah lama ini 'kan ada koki profesional dan pembantu."

Namun, Darlene tahu Harold lebih menyukai masakan buatannya sendiri. Jadi setiap kali, dia selalu berebut untuk turun tangan membantu di dapur.

Kerabat lain yang melihat hal itu hanya akan memberikan pujian basa-basi, sekadar menjaga perasaan Harold. Setelah makan selesai, mencuci piring dan membereskan dapur untuk seluruh keluarga besar juga dikerjakan oleh Darlene.

Karena ibu mertuanya bilang perempuan itu harus bisa mengurus rumah tangga, baru bisa disebut istri yang baik.

Darlene memang lelah, tetapi setiap kali Kenward mengucapkan terima kasih, semua rasa lelahnya seolah-olah terhapus. Sekarang dia sadar, dulu dirinya benar-benar bodoh.

"Ngapain bengong saja di situ? Cepat bantu!" desak Whitney.

Darlene tidak bergerak, malah melempar celemek itu ke samping. "Di dapur sudah ada koki dan pembantu. Kalau aku ikut malah cuma ganggu kerjaan mereka."

Whitney menatapnya dengan heran. "Kamu bilang apa barusan? Mana ada menantu Keluarga Bramantyo yang nggak bantu di dapur?"

"Bibi juga menantu Keluarga Bramantyo, 'kan? Kenapa Bibi nggak bantu?"

Pertanyaan itu membuat Whitney hampir menggigit lidahnya sendiri. "Kamu ini gimana sih? Nggak tahu sopan santun! Aku ini senior, kamu itu junior. Bisa disamakan?"

"Justru karena Bibi lebih tua, seharusnya bisa lebih bijak. Kalau Bibi mau kasih contoh yang baik, seharusnya Bibi duluan yang turun tangan di dapur, biar jadi teladan buat yang muda-muda."

Kata-kata Darlene membuat Whitney melongo. Selama ini dia tak pernah tahu kalau Darlene bisa berbicara setajam itu.

"Kamu kenapa sih hari ini? Vida! Sini, lihat menantu kesayanganmu ini!" Whitney segera memanggil Vida, ibu Kenward sekaligus ibu mertua Darlene.

Pertengkaran kecil mereka langsung menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Darlene menoleh sekilas. Tatapan pertamanya bertemu dengan mata Kenward, mata yang dipenuhi kekecewaan.

"Ribut apa lagi kalian?" Suara berat penuh wibawa terdengar dari lantai dua. Darlene mengangkat kepala. Sesuai dugaannya, yang muncul adalah Harold.

Kalau masih ada satu alasan yang membuat Darlene ragu untuk bercerai, itu hanyalah karena Harold. Dia merasa bersalah pada satu-satunya orang di Keluarga Bramantyo yang benar-benar tulus padanya.

"Darlene, akhirnya kamu datang! Ayo sini, temani Kakek ngobrol sebentar." Harold melambai padanya dengan senyuman lembut.

Di seluruh Keluarga Bramantyo, hanya Darlene yang bisa membuat wajah tegang Harold memunculkan senyuman hangat seperti itu.

Setelah berbincang sebentar, Harold menoleh ke Whitney dan berkata dengan nada tegas, "Kalau orang di dapur kurang, suruh tambah dua pembantu lagi."

Whitney langsung bungkam. Vida pun tak berani berbicara sepatah kata pun. Setelah itu, tak ada satu pun dari Keluarga Bramantyo yang berani lagi menyuruh-nyuruh Darlene.

Gianna mendekat ke sisi Kenward, berbisik, "Nggak nyangka ya, Darlene punya pengaruh sebesar itu di Keluarga Bramantyo. Sampai para senior pun harus lihat sikapnya."

Setelah berkata begitu, Gianna menatap alis Kenward yang semakin tegang. Rasa puas di hatinya pun semakin dalam.

Darlene menemani Harold berbincang sampai waktu makan tiba. Di meja makan panjang itu, puluhan anggota keluarga duduk mengelilingi meja besar. Di sisi kiri Kenward duduk Darlene, di sisi kanannya duduk Gianna.

Darlene terasa seperti udara. Tak seorang pun yang menyapanya. Semua perhatian tertuju pada Gianna.

Mereka bertanya tentang gelar doktornya di luar negeri, lalu tentang pekerjaannya di FY. Gianna dengan sabar menjawab satu per satu.

Darlene mengetahui sebagian besar tentang Gianna hanya dari perbandingan yang dibuat Kenward. Gianna adalah lulusan luar negeri, calon bintang di dunia desain perhiasan, pianis berbakat, dan segalanya yang sempurna. Sementara dirinya hanyalah ibu rumah tangga yang bahkan tak sempat menyelesaikan kuliah.

Jadi, Darlene pun mengakui, Gianna memang sangat luar biasa.

"Waktu itu aku nulis tesis tentang konsep ketidaksadaran kolektif. Di tahun 1923, dia sempat bahas teori gunung es. Katanya kesadaran manusia terbagi menjadi tiga, yaitu sadar, pra-sadar, dan bawah sadar ...."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Dengan CEO Kandas Setelah Matinya Buah Hati   Bab 433

    Di mata Bradly, orang-orang Keluarga Bramantyo memang seperti itu. Mereka hanya mengejar keuntungan dan berhati dingin."Memang aku juga nggak lebih baik dari Kenward, tapi seperti kata pepatah, orang yang nggak tahu itu nggak bisa disalahkan. Waktu itu aku benar-benar nggak tahu apa-apa. Waktu aku tahu, kamu sudah jadi Maestro BYC."Darlene bisa merasakan bahwa Bradly benar-benar tulus meminta maaf padanya.Namun pada saat yang sama, dia juga menangkap bahwa di balik kata-kata Bradly, Bradly tetap menegaskan bahwa dirinya lebih baik daripada Kenward."Nggak apa-apa. Entah kamu tahu atau nggak, aku nggak nyalahin kamu."Kalimat penuh pengertian dari Darlene itu malah membuat sudut bibir Bradly yang semula terangkat perlahan turun. "Darlene, kamu benar-benar nggak punya harapan sedikit pun sama aku ya?""Apa?"Untuk sesaat, Darlene tidak memahami maksud tersembunyi dalam ucapan Bradly.Bradly tersenyum pahit sambil mendorong kacamata berbingkai emasnya. Dari balik lensa, tatapannya bera

  • Pernikahan Dengan CEO Kandas Setelah Matinya Buah Hati   Bab 432

    Kenward berdiri. Beberapa saat kemudian, dia kembali dengan membawa seikat besar mawar merah yang segar. "Aku nggak tahu kamu suka bunga apa, jadi aku beli yang menurutku paling cocok denganmu."Widya melirik bunga yang diberikan Kenward. Semuanya mawar merah yang cerah dan mencolok, memang sangat cocok dengannya. "Terima kasih, aku sangat menyukainya.""Nggak perlu berterima kasih," balas Kenward.Melihat senyuman di wajah Widya dan tatapan Widya pada Kenward, Vida diam-diam menghela napas lega. Sepertinya Kenward masih mengerti maksudnya, setidaknya masih tahu untuk inisiatif memberikan Widya hadiah demi memulihkan hubungan kedua keluarga.Di meja sebelah, Bradly melihat Kenward memberikan seikat besar bunga pada Widya. Tanpa menunjukkan ekspresi apa pun, dia mendorong pelan kacamata berbingkai emasnya. Bunga itu memang terlihat mencolok, tetapi perbedaan nilainya terlalu jauh jika dibandingkan dengan sisir rambut yang tadi diberikan pada Darlene.Setidaknya menurut Bradly, jika Darl

  • Pernikahan Dengan CEO Kandas Setelah Matinya Buah Hati   Bab 431

    Namun, mengingat lelang kali ini diadakan untuk amal, barang yang Darlene sumbangkan bisa terjual dengan harga begitu tinggi sebenarnya tidak berdampak buruk.Kenward yang berdiri di samping Darlene sejak tadi tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Darlene. Dia awalnya berpikir setelah mengalahkan semua pesaing dan menghabiskan 500 juta dolar untuk membeli sisir rambut sebagai hadiah untuk, Darlene akan terharu hingga meneteskan air mata.Dia berpikir tidak ada wanita yang bisa menolak perhiasan senilai 500 juta dolar. Tidak ada wanita yang tidak tersentuh oleh pria yang menghadiahkan perhiasan begitu mahal juga. Namun, reaksi Darlene malah sangat berbeda dari yang bayangannya.Dengan memakai sisir rambut bernilai 500 juta dolar itu, Darlene berdiri di hadapan banyak orang dan menghadap Kenward.Saat itu, Kenward menyadari riasan Darlene hari ini memang terlihat alami dan dipadukan dengan gaun polos yang sederhana. Namun, setelah memakai sisir rambut ekor burung phoenix berwarna emas

  • Pernikahan Dengan CEO Kandas Setelah Matinya Buah Hati   Bab 430

    Tepat ketika semua orang mengira pelelangan ini akan terus berlanjut, Kenward menyebutkan harga tertinggi yang belum pernah ada sebelumnya."Lima ratus juta dolar."Dalam sekejap, seluruh aula utama sunyi senyap. Lima ratus juta dolar?!Darlene menatap Kenward, matanya membelalak tak percaya.Duduk satu meja dengan Kenward, Francis, Vida, Jeffry, Shenina, dan Christo pun tercengang.Sebaliknya, sebagai anak angkat, Widya justru terlihat paling tenang. Bibir merah menyala itu melengkung membentuk senyuman cerah dan penuh percaya diri, seolah-olah Kenward menghabiskan 500 juta dolar untuknya bukanlah hal yang luar biasa. Memang dia layak dihargai sebesar itu.Lima ratus juta dolar bagi Darlene adalah angka yang seperti di luar jangkauan logika. Bahkan setelah mengakui identitas sebagai Maestro BYC, dia pun tak pernah berani membayangkan bahwa suatu hari desainnya bisa terjual seharga 500 juta dolar.Di sampingnya, Bradly bukan hanya tidak marah, malah mendorong kacamata berbingkai emasny

  • Pernikahan Dengan CEO Kandas Setelah Matinya Buah Hati   Bab 429

    Dia tidak menyangka Bradly juga ada di acara lelang amal ini. Bradly duduk tepat di samping Darlene. Darlene bisa melihat bahwa Bradly ingin mengatakan sesuatu padanya, tetapi bukan sekarang."Enam puluh juta dolar." Dari meja sebelah, Kenward kembali menaikkan harga. Nadanya terdengar santai."Kenward ...." Francis ingin menghentikan Kenward.Seingin apa pun memberi kesan baik pada Keluarga Larasati, tidak perlu sampai menghabiskan 60 juta dolar hanya untuk membeli sebuah sirkam. Itu bukan nominal kecil. Nominal sebesar itu sudah cukup untuk berinvestasi pada beberapa proyek kecil-menengah atau satu proyek besar.Namun, tak peduli bagaimana Francis memberi isyarat dengan mata, Kenward seolah-olah tak melihatnya sama sekali.Harga lelang yang sudah mencapai 60 juta dolar membuat banyak tamu mulai penasaran. Sirkam rancangan Darlene memang indah dan kreatif. Bahan yang digunakan pun terbuat dari logam mulia dan batu permata.Namun, bagaimanapun, itu tetap hanya sebuah sirkam, sebuah per

  • Pernikahan Dengan CEO Kandas Setelah Matinya Buah Hati   Bab 428

    Begitu mendengar ucapan Vida, Jeffry dan Shenina langsung menunjukkan ekspresi terkejut."Putramu terlalu sungkan, nggak perlu sampai mengeluarkan biaya sebesar itu." Jeffry berkata kepada Vida.Vida melirik ke arah Kenward. Wajah Kenward tanpa ekspresi, seolah-olah sama sekali tidak mendengar percakapan mereka.Sebenarnya di dalam hati, Vida pun tidak yakin untuk apa sebenarnya Kenward menawar setinggi itu demi karya desain Darlene. Bagaimanapun, Kenward sendiri tidak mungkin menggunakan sirkam emas ekor foniks itu.Jika dia rela mengeluarkan uang sebesar itu, seratus persen pasti untuk diberikan kepada wanita yang dia sukai. Orang pertama yang terlintas di benak Vida adalah Gianna.Bagaimanapun juga, Gianna adalah cinta pertama Kenward. Setelah kembali ke tanah air, Kenward juga sangat memperhatikannya.Hanya saja belakangan ini, dengan mata telanjang pun terlihat sikap Kenward terhadap Gianna mulai mendingin.Kalau tidak, Kenward juga tidak mungkin setuju datang bersama mereka untuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status