LOGINBritne Hogan dan Alvaro Cooper berteman sejak kecil, saat dewasa Britne memiliki perasaan pada Alvaro yang dia pendam karena tidak ingin merusak persahabatan mereka. Suatu hari, Geena saudara kembar Britne yang menghilang puluhan tahun ditemukan kembali dan orang tuanya menjodohkan Geena dengan Alvaro. Tak disangka Alvaro menyambut baik perjodohan tersebut sehingga Britne mengalah dan merelakan Alvaro menikah dengan saudara kembarnya. Namun di hari pernikahan, Geena melarikan diri dan meminta Britne menggantikannya. Britne yang tahu jika Alvaro mencintai saudara kembarnya, tidak ingin terjebak dalam pernikahan palsu sehingga menolak pernikahan tersebut. Dia pun kemudian melarikan diri setelah melakukan kesalahan fatal yang tak termaafkan. Tiga tahun kemudian, Britne pulang ke keluarganya dan mendapati kabar jika keluarga Hogan dan Cooper saling bersitegang. Demi menghilangkan ketegangan tersebut, dirinya dan Alvaro kembali dijodohkan. Akankah Britne menerima perjodohan tersebut? Apalagi keadaannya kini sudah berbeda, dia telah memiliki seorang putra yang mungkin akan sulit untuk diterima oleh Alvaro. Catatan : Disarankan membaca novel “Istri Tuan Muda Lumpuh” by Dera Tresna untuk lebih memahami alur, tokoh dan karakter Love To The End.
View More"Raka! Rakana! Keluar kamu! Jangan sembunyi, atau kubakar pelaminan di depan sana!"
Suara wanita yang amat kukenali terdengar menggema. Aku yang baru saja selesai dirias oleh make up artist terkejut bukan main. Brakkk! Aku makin terkesiap, kala pintu ruangan make up di gedung tempat pernikahanku akan berlangsung hari ini, didobrak amat kencang. "Faula?" gumamku pada sosok perempuan yang berhasil menggebrak pintu tadi. Dia adalah sahabatku sejak sekolah SMA. Dulu rumahnya tepat di depan rumahku, tapi sejak satu tahun lalu dia tinggal di luar kota karena mendapatkan pekerjaan di sana. Meski begitu, kami masih sering bertukar kabar melalui ponsel. "Kamu pulang juga akhirnya," ucapku merasa senang sekaligus tak percaya. Dua minggu sebelumnya, Faula mengabarkan tidak bisa datang untuk menjadi Bridesmaids di pernikahanku karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. "Kamu tidak bisa menikah dengan Raka!" ucapnya dengan tangan yang bersilang di depan dada. Matanya seolah memindai penampilanku dari atas hingga ke bawah. "A—apa maksudnya?" Aku bertanya tidak mengerti. Dia bahkan tahu hubunganku selama tujuh tahun ini bersama Raka. Dia yang selalu menjadi tempatku bercerita saat hubunganku dan Raka bermasalah. Dia tahu betapa aku mencintai laki-laki hitam manis itu. Kenapa tiba-tiba dia datang dan mengatakan demikian? "Karena ... aku hamil anaknya Raka!" Hah? Mataku melotot sempurna mendengarnya. Menatap Faula penuh selidik dan ia mengangguk tanpa ragu. "Iya. Aku hamil anak dari Raka. Sudah tiga bulan. Dia harus menikahiku, bukan kamu, Chia!" "Jangan bercanda kamu, Fau!" hardikku keras. Jari telunjukku berada tepat di depan wajah perempuan tinggi semampai dengan dress merah marun tanpa lengan ini. Faula menepis jariku kasar, lantas ia merogoh ke dalam tas hitam yang dipakainya. Mengeluarkan hampir lima testpack bergaris dua, amplop berlogo rumah sakit swasta, lalu terakhir fotonya bersama calon suamiku. Foto mereka berdua ... di atas ranjang. Melihat itu, jantungku seakan ingin melompat dari tempatnya. "Ini buktinya! Aku positif hamil. Surat hasil pemeriksaan dari rumah sakit. Dan ini, fotoku bersama Raka di kamar hotel. Masih kurang? Apa harus aku perdengarkan voice note mesra kami juga?!" cecar Faula berhasil membuat persendianku melemas. Aku tak kuasa lagi berdiri. Badanku sudah oleng, seseorang terasa menyangga dari belakang sampai tubuhku didudukkan. Tak terkira hancurnya hatiku mendapati kenyataan ini. Bagaimana mungkin? Aku sendiri masih sulit mempercayainya. Sejak kapan mereka berkhianat di belakangku? Sialan sekali. "Sekarang mana Rakana? Pernikahan kalian tidak boleh terjadi, Raka harus menikahiku. Dia harus bertanggung jawab atas kehamilanku!" lontar Faula tajam. Aku menggeleng menahan nyeri di hati yang teriris. Air mataku sudah ingin jebol dari tempatnya. "Di mana Raka?!" Faula bertanya membentak. "Rombongan calon pengantin pria belum datang!" Perias pengantin di sebelahku yang akhirnya menjawab. Perempuan cantik yang usianya sebaya denganku itu pun berlalu. Dia melangkah menuju pintu dan akhirnya keluar dari ruangan ini. Aku masih memikirkan apa yang terjadi saat ini. Hari pernikahanku bersama Rakana, hari yang aku impikan dan kurancang sedemikian rupa. Haruskah berakhir seperti ini? Bukti-bukti yang Faula beberkan masih teronggok di atas meja rias ruangan ini. Foto tak senonoh yang memuat kebersamaan mereka, berhasil membuat hati ini berdarah-darah dan patah sempurna. Akh ... Bagaimana bisa ...? Aku masih terus bertanya-tanya. Faula tidak sedang mengada-ada. Dia sedang memberikan bukti bahwa ia dan Rakana memang memiliki hubungan istimewa selama ini. Air mataku sudah lolos. Banjir membasahi pipi. Aku hanya bisa tergugu dengan gaun pengantin yang membalut indah di tubuh ini. "Chia, apa yang sebenarnya terjadi?" Suara Mama terdengar. Aku menengadah dengan wajah basah. Mama dan Papa memasuki ruangan. Mereka mendekat ke arahku dan Mama mendekapku. Saat itu juga, tangis ini tumpah ruah. Wajahku tenggelam di perut Mama. "Apa benar yang Faula katakan?" tanya Mama dan aku hanya bisa mengangguk lemah sambil terus terisak. "Rakana dan keluarganya baru saja datang, tapi Faula tiba-tiba berteriak. Mengancam akan membakar pelaminan jika Rakana tetap melanjutkan pernikahannya dengan kamu. Dia bahkan memegang pisau yang diarahkan tepat di depan perutnya. Dia juga mengancam akan menusuk perutnya yang sedang mengandung anak Raka," jelas Mama membuat hatiku semakin nyeri. "Benar begitu?" Aku masih tersedu. Tanganku lalu menunjuk pada meja rias di samping. Entah bagaimana reaksi Papa dan Mama setelahnya. "Kurang ajar Rakana!" geram Papa yang sepertinya sudah melihat bukti di meja rias itu. Terdengar derap langkah sedangkan Mama terasa mengusap punggung ini dengan lembut. ***** Aku sudah di aula. Meja yang seharusnya menjadi saksi ikrar suci ijab qobul, kini diisi oleh Rakana seorang diri. Lelaki dengan tuxedo hitam itu menunduk. Namun aku bisa melihat wajahnya babak belur dan sudut bibirnya berdarah. Sementara Faula berdiri di sampingnya tanpa rasa berdosa. Sepertinya, Raka kena hajar Papa. Aku berdiri diapit oleh Mama dan Mba Lin, kakakku. Riuh orang-orang yang sudah hadir terdengar memenuhi aula. "Memalukan sekali ini, Hans! Sia-sia aku menyiapkan pesta hari ini. Tapi seperti ini balasan kamu dan putramu?" hardik Papa kepada Om Hans, Ayah dari Rakana. "Iya. Jauh-jauh hari kami menyiapkan untuk hari ini. Semua yang terbaik kami berikan untuk perayaan pernikahan Chia dan Raka. Tapi apa? Putra kalian ternyata berselingkuh dengan Faula. Bagaimana sekarang? Semua keluarga dan kerabat sudah kami undang. Bayangkan, bagaimana kami hanya akan menjadi bahan cemoohan dan ledekan karena pernikahan dan pesta resepsi ini harus batal gara-gara perbuatan menjijikkan Raka!" Mama berteriak di depan kedua calon besannya. "Kami benar-benar minta maaf atas kejadian hari ini, Ruslan, Zaida. Mohon maaf sekali. Kami sebagai orang tua dari Raka, turut syok akan kejadian ini. Sungguh," ucap Tante Tari dengan kedua telapak tangan yang bertangkup. "Benar. Kami meminta maaf yang sebesar-besarnya atas hari ini. Semua di luar kuasa kami. Kami juga baru mengetahui kenyataan ini sekarang. Seandainya semua terungkap sebelum hari ini, saya selaku ayah Raka, tentu akan membicarakan semuanya lebih dulu. Tidak akan hal ini terjadi," tutur Om Hans lesu. "Aku gak peduli, Hans! Aku hanya peduli pada putri bungsuku. Dia dan anakmu sudah berpacaran sejak lama. Hampir tujuh tahun, bukan? Tapi, apa yang Chia dapatkan sekarang? Pernikahan impiannya harus batal dan kandas. Karena aku tidak mungkin menikahkannya dengan Raka. Jelas-jelas dia sudah menghamili perempuan lain!" tukas Papa kembali. "Tenang, Ruslan. Tenang. Kita bisa bicarakan dan berunding baik-baik," jawab Om Hans. "Berunding baik-baik gundulmu! Sudah tidak ada yang bisa dirundingkan lagi. Pernikahan ini batal! Batal!" ujar Papa penuh kemurkaan. Mendengar Papa berucap dengan tegas membatalkan pernikahanku dan Raka membuat hati ini kian berdenyut-denyut saja. "Pergi dari sini. Bawa anak lelakimu yang kurang ajar dan brengsek itu pulang. Pergi dari hadapanku!" Papa mengusir dengan terang-terangan. "Tolonglah tenang dulu, Pak Rus. Kita pasti akan menemukan solusi atas masalah ini," pinta Bu Tari. "Solusi apa? Sudah, bubar saja sana! Pergi kalian semua dari sini. Pergi! Memalukan!" tukas Papa dengan kerasnya. Pastilah Papa merasakan malu yang teramat sangat. Calon menantu yang dibanggakannya, ternyata tak lebih dari seorang pengkhianat. "Tunggu, Ruslan. Tolong dengarkan dulu kami." Om Hans terus memohon. "Apalagi yang harus didengarkan Pak Hans?" Mama menimpali kali ini. "Raka memang tidak akan bisa menikahi Chia. Tetapi pernikahan ini akan tetap bisa berjalan. Pesta ini harus tetap berlangsung. Pernikahan ini harus tetap terlaksana. Putra sulung kami yang akan menggantikannya. Fahad lah yang akan menikahi Chia menggantikan Raka," jelas Om Hans membuatku melongo dengan mata melebar sempurna. "Fahad yang akan menjadi mempelai pengganti" What? Bang Fahad yang akan menjadi mempelai lelakinya? Aku menikah dengannya? Hampir tujuh tahun aku berpacaran dengan Rakana. Bolak-balik aku ke rumah orang tua Rakana selama itu dan baru sekali aku mendengar suara dari laki-laki tersebut. Usianya dua belas tahun lebih tua dariku. Dia juga duda selama sepuluh tahun lamanya. Yang benar saja aku harus menikah dengan dia? *“Aku harus mengangkatnya, itu nomor pribadiku bukan ponsel bisnis jadi pasti keluargaku yang menelepon,” ujar Anya hendak menjauh dari pangkuan Trevor tapi pria itu menahannya.“Duduklah dengan tenang dan habiskan makananmu, aku akan mengambilkan ponselmu,” ujar Trevor mendudukkan Anya ke kursi lalu melesat pergi ke kamar untuk mengambil ponsel.Tak lama setelahnya, Trevor keluar dan berkata, “Papamu menelepon, sudah saatnya kita berperang.”“Siap berperang bersamaku?” ujar Anya dengan senyum tanpa rasa takut.“Bersamamu, aku siap menghadapi apa pun,” tegas Trevor.Setelah menerima telepon dari Richard dan melakukan perjalanan jauh, Anya dan Trevor saat ini berdiri di depan kediaman Jackson. Richard menyuruhnya pulang dan Anya mengajak Trevor untuk memberitahu keputusan yang telah mereka ambil.Anya menatap wajah Trevor, meski terlihat tenang tapi dia tahu ada ketegangan dalam diri pria itu. Untuk membuat kekasihnya tenang, dia menggenggam tangan Trevor.“Sebaiknya kita masuk sekarang
Keadaan Trevor semakin membaik setelah Anya merawatnya. Wanita itu memberi kekuatan sehingga dia punya semangat dan pengharapan baru. Dia selalu bangun lebih pagi untuk menatap kekasihnya yang masih tertidur, rasanya tak percaya jika Anya ada bersamanya dan akan selalu menemani paginya. Seperti pagi ini di mana matanya tak berkedip menatap kecantikan Anya. Wanita itu menarik dan menenggelamkannya dalam pesona. Dalam kekaguman yang dia rasakan, tanpa sadar Trevor mendekatkan bibir lalu mengecup bibir manis sang pemilik membuat Anya bergerak dalam tidur dan membuka mata. Anya terkejut mendapati sepasang mata bening sedang menatapnya dengan jarak sangat dekat. Di tengah nyawanya yang belum terkumpul, jantungnya berdetak tidak karuan. “Trevor …” ucapnya parau yang terdengar seperti desahan. Tangan Trevor mengusap pipi dan rahangnya, lalu menelusuri bibirnya. “Semenjak aku bangun dari tidur panjangku dan menemukanmu kembali, aku selalu memikirkan hal ini. Awalnya aku ragu karena ma
“Berhentilah tenggelam dalam pekerjaanmu!” tegur Arlo khawatir dengan keadaan Anya.Semenjak berpisah dengan Trevor, adiknya itu menghabiskan waktu untuk bekerja. Bahkan ini sudah larut malam dan Anya masih berada di kantor. Arlo sengaja menemuinya untuk menegurnya.“Tidak ada yang salah dengan yang kulakukan, paling tidak aku tetap hidup dengan baik bukan?” jawab Anya.“Hidup dengan baik? Jangan membuatku tertawa dengan candaanmu yang tidak lucu. Aku tahu kamu hanya tidur 3 jam setiap hari, makan tidak teratur, kurus kering dan lihatlah kantung matamu yang sudah seperti mata panda. Apa yang sebenarnya kamu kejar? Uang? Kedudukan? Kekuasaan? Bahkan kamu sudah memiliki semuanya itu.”Anya mengalihkan perhatian dari laptopnya, lalu menatap mata kakaknya. “Aku butuh tujuan untuk tetap bisa hidup, aku butuh tubuh yang lelah untuk bisa tidur, aku butuh ambisi untuk tetap bisa bertahan dan semua itu aku dapatkan dengan bekerja.”“Apakah kamu belum melupakan Trevor?” singgung Arlo membuat ek
“Jackson telah menghancurkan perusahaanmu. Mereka tidak menyeretmu ke penjara karena menganggap aset perusahaanmu yang telah mereka ambil sudah bisa menutup kerugian yang kamu sebabkan dari pembobolan server yang kamu lakukan. Namun hal itu juga membuatmu tidak bisa menyeret Arlo Jackson ke penjara setelah memukulimu hingga kamu hampir mati,” terang Adam.“Aku tidak peduli dengan hal itu. Bahkan aku menyesal kenapa Arlo tidak membunuhku,” balas Trevor.“Lalu bagaimana denganku? Aku menjadi pengangguran saat ini,” protes Adam.“Maafkan aku karena telah merusak masa depan dan impianmu. Aku masih memiliki sedikit properti, aku akan memberikannya padamu dan mengurus pemindahan nama atas namamu setelah keluar dari rumah sakit,” ujar Trevor merasa bersalah pada temannya itu. Urusan pribadi dan keluarganya membuat karir Adam hancur.“Aku tidak butuh propertimu, kamu lebih membutuhkannya setelah perusahaanmu hancur,” balas Adam.“Lalu bagaimana denganmu? Aku tidak mungkin membuatmu kelaparan.
“Kenapa papa belum tidur dan tampak gelisah?” tanya Britne melihat papanya mondar-mandir di ruang tamu padahal malam sudah larut.“Sudah beberapa hari tidak ada kabar dari Alvaro semenjak sarapan kita pagi itu. Jika terus begini, bagaimana dengan nasibmu?” jawab Axton.“Aku tidak terkejut dengan ha
Alvaro melirik sekilas ke arah Britne lalu melemparkan handuk yang dipakai untuk mengeringkan rambut ke kursi di dekatnya, sengaja mengabaikan keterkejutan wanita itu.“Bagaimana aku bisa bersamamu?” tanya Britne heran.“Memangnya siapa yang kamu harapkan bersamamu saat ini, pria brengsek yang ingi
Malam hari, Britne tidur dengan gelisah. Mimpi yang selama ini mengganggu tidurnya, datang kembali. Dia meringis menahan rasa sakit di pangkal paha, rasa nyeri itu masih teringat jelas di alam bawah sadar.“Geena, aku mencintaimu,” racau Alvaro sesaat setelah pria itu meledakkan benih di dalam rahi
Ketegangan Britne dan Geena masih terus berlanjut hingga acara pernikahan sepupu mereka berlangsung. Dia sengaja menghindar dari keramaian dan menatap acara pernikahan tersebut dari kejauhan.“Pernikahan yang sangat indah,” pujinya sedikit iri.Berusaha mengurangi kegalauan hati, Britne mengambil m






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore