เข้าสู่ระบบAva ingin bercerai dari James setelah suaminya didapati berselingkuh dengan sahabat Ava, tetapi James yang licik meminta Ava mengembalikan uang sebesar 1 juta dolar. Akhirnya Ava nekat menerima tawaran pernikahan kontrak dari Rick, demi mendapatkan 1 juta dolar agar bisa bercerai dari James.
ดูเพิ่มเติมKicauan burung terdengar lagi. Rasanya, baru tadi malam aku pulang dari pekerjaan paruh waktu.
"Punya anak gadis tak ada gunanya! Ibu hanya memiliki dua tangan. Setidaknya bantu menyapu halaman!" Ibuku Sekar, sudah menggerutu. "Jika saja aku telah tiada, baru kau akan mengerti." Sontak aku melihat jam. Masih menunjukkan pukul enam pagi. Aku bergegas membereskan kamar. Lalu, membasuh diri. **** Kuambil sapu itu dalam genggaman Ibuku. "Biar Sukma saja." "Sudah kubilang ... hentikan kuliahmu itu. Bantu Ibumu untuk bekerja. Kau hanya membuang-buang uang saja!" Ibu melemparkan sapu itu. "Kita ini orang miskin Sukma. Kau seharusnya berpikir! Buang sudah semua mimpimu!" Sejak kepergian Bapak, Ibu jadi emosional. Ia tak pernah menghargai hasil kerja kerasku. Aku bekerja paruh waktu, membiayai semuanya. Perlahan kutarik napas dan membuangnya. Aku mengambil sapu itu. Membersihkan beberapa debu yang belum tersapu. Ibuku melemparkan beberapa barang-barang yang berserakan. "Selama ini aku hanya memungut sampah! Sampah hidup dan sampah mati, keduanya tak ada gunanya!" Sesekali hatiku menggerutu. Lagi-lagi kujejalkan. Tak sekali dua kali hal ini terjadi. Ketahuilah, aku sudah mengatur semuanya dengan baik. "Ah! Sudah!" Ibu mengambil sapu dalam genggamanku. "Kau cari uang saja. Sana! Melihatmu hanya membuat Ibu pusing!" Ya ... hari ini aku harus pergi ke kampus untuk mengikuti seminar. Masih ada waktu empat jam untukku mencari sampingan lagi. Aku kembali ke kamar. Menyiapkan beberapa barang-barang. **** "Mau ke mana?" ketus Ibuku. "Kau dengar?!" Suara token rumahku berbunyi. "Bikin pusing! Kau seharusnya berpikir Sukma!" "Aku akan cari uang." Aku pergi. Tak lagi kudengar suara Ibuku saat itu. Aku tidak ingin memperpanjang semuanya. Sesekali ingin kuberontak tetapi mungkin jadi Ibu lebih capek. "Sukma! Jika kau tak membawa uang sepeser pun, tak akan kubiarkan kau masuk ke dalam rumah!" teriak Ibu. Membuat semua tetanggaku menatapku. Kuhiraukan itu semua. Tak mungkin jika aku harus berhenti kuliah. Sekarang sudah semester tujuh. KKN telah kulewati. Kini hanya tinggal menyelesaikan skripsiku. **** Aku berjalan seorang diri di keramaian Kota. Suara klakson mobil dan motor saling beradu. Kutanyakan beberapa penjual keliling agar kubisa bekerja dengan mereka saat itu juga. Namun lagi-lagi mereka menolak-ku. Tak sampai sana. Kulihat penjual koran keliling. Mungkin hasilnya bisa dibagi dua jika kuberhasil menjual banyak, pikirku begitu. "Pak ... aku sedang membutuhkan perkejaan. Bolehkah aku membantu menjual koran ini?" tanyaku. Penjual koran itu menatapku dengan tatapan iba. "Maaf Nak ... semuanya pun jika terjual, tak akan cukup membeli beras. Mungkin ... kau bisa mencari pekerjaan lain yang lebih besar keuntungannya." Aku menundukkan pandanganku. Membuang napasku secara perlahan. "Yasudah, tidak apa-apa. Terimakasih Pak." Kuberi senyumanku, lalu melanjutkan langkahku kembali. Matahari semakin naik. Rasanya, ingin kuberistirahat. Sesekali terlintas di pikiranku mengenai Ibu, bahwa Ia sedang mengharapkanku. Di pemberhentian lampu merah, kumelihat ada band jalanan yang sedang bernyanyi. Aku langsung bergegas ke sana. Mereka bertato. Pergaulannya terlihat bebas. Perlahan kujejalkan niatku. Rasanya, aku takut mendekati mereka. Di sisi lain, pikiranku mendorongku. "Ah~ tidak!" batinku. Aku hanya menatap mereka. Ya, dari dekat. Satu lagu telah selesai mereka nyanyikan. Melihat mereka seperti tak ada masalah yang menimpa. Canda tawanya mengalir begitu saja. "Aduh ... bagaimana ini? Bagaimana jika mereka tak suka aku berada di sini? Apa aku pergi saja?" Pikiranku bertanya-tanya. "Lebih baik ... aku menyelesaikan skripsiku di warnet." Seseorang dari mereka menatapku. Ia memberikan kode pada teman-temannya bahwa aku ada di sana. Aku tersadar. Kini mereka menatapku. "Ada perlu apa?" Salah satu dari mereka berjalan ke arahku. "Ada yang perlu kami bantu?" "Em ... anu ...." Aku terlihat gugup. Mulutku tak mahu berbicara. Ia tertawa. "Santai saja ... kau tak akan kuterkam. Jadi ... ada apa?" Aku tak mampu menatapnya. "Aku butuh pekerjaan. Mungkin suaraku akan membantu meramaikan band-mu, bagaimana?" Perlahan kulirik lagi pria itu. "Jika memang tidak bisa ... tidak apa-apa. Terimakasih." Saat itu aku melangkahkan kakiku hendak pergi. "Tunggu ... kau mahu kemana? Aku belum menjawabnya." Sesekali kumenatapnya, Ia sedang menatapku heran. "Boleh saja ... tetapi, upahnya tak sebanding. Kasihan, nanti suaramu serak." Mataku mulai berbinar. "Tidak apa-apa. Itu sudah lebih dari cukup. Terimakasih!" **** Lampu merah mulai terhenti. Kubulatkan tekadku untuk berani tampil depan mereka. Diiringi gitar yang dipetik. Semuanya berjalan lancar. Tatapan orang-orang menatap ke arahku. Aku tetap berfokus pada lagu yang sedang kubawakan. Lagu berjudul Dear God karya Avenged Sevenvold, lagu kesukaanku. Orang-orang mulai ramai berdatangan memberikan tip. Aku merasa semakin semangat. Hingga aku lupa bahwa aku harus pergi ke kampus untuk mengikuti kelas. "Oh ya ... siapa namamu?" tanyaku pada pria itu. "Kenapa?" tanyanya. Suaraku tidak terdengar lantaran suara kencang dari klakson kendaraan. "Siapa namamu?" tanyaku lagi. Kali ini dengan keras. "Bayu ... kau mahu kemana?" tanya Bayu. "Aku harus pergi ke kampus sekarang." Bayu mengangguk paham. "Oh iya ... temui aku di sini lagi, ya. Pergilah ... hati-hati." Aku berlari menuju kampus. Untungnya, jaraknya tak jauh. **** "Kau dari mana? Kau tahu video yang telah beredar?" tanya sahabatku, Ivi. Ia bertanya dengan wajah panik. "Tidak ... memangnya kenapa?" tanyaku. Ku dekatkan pandanganku pada layar handphone Ivi. "Ini kau kan?" Seseorang merekam video pada saat aku bernyanyi di lampu merah tadi. "Lalu? Apa salahnya?" tanyaku, sembari mengerutkan dahi. "Lagi pula, ini bukanlah hal yang negatif, bukan?" "Kau benar juga ... sebelum kau datang, tadi video ini ramai. Kau tahu anak-anak kampus ini bukan?" "Ya ... tak mengapa. Mereka hanya belum mengerti. Jadi tetaplah pada pandanganmu Ivi." Aku masukkan buku note-ku pada tas. "Kau masih ada kelas lagi?" "Tidak ... bagaimana dengan kau?" "Aku sudah selesai ... sekarang aku harus bekerja lagi. Kau akan tetap di sini?" "Tidak. Aku ingin ikut denganmu saja." Lagi-lagi Ivi menatapku dengan tatapan Iba. "Aku akan membantumu bekerja." "Ck! Tidak Ivi. Kau fokus saja untuk hidupmu." Aku berusaha meyakinkannya. "Semester terakhir ... kita punya jalan masing-masing, begitu pun kau. Tidak usah mencemaskan aku, aku senang dengan hidupku seperti ini." "Bekerjalah bersama ayahku, Sukma. Lagi pula itu tak masalah." Aku tersenyum. Kupegang punggung tangan Ivi. "Ayahmu juga perlu pekerja yang selaras dan handal. Tak sepadan denganku. Aku hanya ingin mengasah diriku saja agar menjadi orang yang hebat." Ivi mengelak dengan jawabanku. "Oh ayolah Sukma ... hidup tak seperti itu. Kau membutuhkan uang untuk semuanya. Dan aku tak menerima jika kau kesulitan. Aku di sini kan juga sahabatmu, apa kau tak menganggap itu?" "Kau sahabatku, bahkan lebih dari itu ... kau terbaik dari segala yang terbaik dan kau sudah lebih dari cukup membantuku ... sekarang biarkan aku untuk berjalan sendiri, okeee?"Sementara Rick langsung menginterupsi kepala pelayan agar menyelidiki lebih jelas. Sena membawa bukti liontin yang ditemukan di kamar Maria, tentu saja itu membuktikan pelakunya adalah beliau.Hanya saja, Rick percaya masalah ini sama sekali tak ada hubungannya dengan Maria. Akhirnya dia meminta Sena untuk menyelidiki dengan cara lebih spesifik.Satu jam kemudian.Sena datang ke ruang kerja Rick."Tuan, masalah yang terjadi kali ini adalah kelalaian saya. Maaf, membuat hubungan Anda dengan Nyonya Maria menjadi retak," kata Sena, penuh sesal. Dia sudah bertahun-tahun bekerja di bawah naungan Esmee, tetapi masalah kali ini berakibat fatal."Jadi, siapa pelakunya?" Rick berkata dengan dingin."Pelayan yang baru bekerja dua bulan lalu, tetapi karena ketakutan, akhirnya dia menyimpan liontin Nyonya besar di kamar Maria." Sena menunduk menjelaskan dengan terperinci.Rick menyipitkan mata sebelum berkata, "Pergilah, urus kompensasi yang pantas. Jangan biarkan dia bekerja di sini lagi, cari p
Keesokan harinya.Meskipun saat itu adalah akhir pekan, Rick dan Ava tetap bangun lebih awal karena harus bekerja di laboratorium.Ketika turun, Maria sedang berjibaku memasak di dapur."Bu, biar pelayan yang mengurusnya," kata Ava dengan prihatin.Maria tersenyum sebelum menjawab, "Aku tak mungkin diam di sini tanpa melakukan apa pun."Ava menghela napas panjang, tentu saja dia tahu sang ibu tak bisa dilarang, dan dia tahu jelas apa yang ada dalam pikiran Maria."Kita lakukan bersama," kata Ava.Ketika Rick turun, sarapan di meja makan sangat biasa. Hanya pancake caramel polos, salad buah, dan secangkir espresso untuk Rick. Jika dibandingkan sarapan berat Keluarga Martinez, ini terlalu sederhana.Ava melihat wajah Rick, beruntunglah pria itu tak menampakkan ekspresi apa pun. Padahal jelas betul dia tak suka makanan manis. Ava menyiapkan beberapa lembar pancake di atas piring untuk Rick."Suka sarapan ini?" tanya Rick dengan lembut."Tentu, Putriku tak bisa lepas dari makanan manis. A
Satu jam kemudian, mereka tiba di tempat tujuan.Saat keluar dari mobil, Rick tak melepas tangan Ava, menggenggam dengan erat sebelum berkata, "Istriku, tenanglah."Rick menghubungi Felix agar datang dan mengurus kekacauan.Hati Ava bagai tertusuk duri saat melihat Maria duduk tak berdaya di atas tanah. Dia langsung berlari memeluk ibunya yang tersedu-sedu."Putriku, siapa yang sudah tega menghancurkan rumah kita? Rumah kita yang seperti ini bagaimana mungkin mereka bisa menghancurkan hingga seperti ini."Mata Ava terasa panas saat mengusap-usap punggung sang ibu. Ditatapnya kondisi rumah mereka, lebih kacau dari kerusakan yang dibayangkan. Semua jendela hancur, barang biasa dan benda berharga bagai tumpukan sampah, pecah berkeping-keping.Dalam rumah yang tak besar itu dirinya dibesarkan oleh Maria. Detik berikutnya, lutut Ava gemetaran. Dia menggigit bibir dengan erat, tak ingin air mata jatuh di depan Rick dan sang ibu."Bu, tidak apa-apa. Ada aku, putrimu. Kita renovasi dari awal,
‘Kembalikan anakku!’"Tuan James, tolong jangan sembarangan bicara!" Suara Rick tak kalah dingin. Pandangan kedua pria itu sama-sama mencekam."Aku tidak sembarang bicara. Scarlett tidak akan keguguran jika Ava tidak mendorongnya." James bersikeras menekan."Perhatikan ucapan Anda! Sedikit hempasan tidak akan membuat orang terjatuh hingga keguguran," timpal Rick, tegas.Rick jelas tahu betul. Jika benar itu penyebabnya, berarti sudah dipastikan dari awal kehamilannya tidak kuat. Atau, mungkin ibu hamil tidak dalam kondisi yang baik untuk mengandung."Ava, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Bukan kali pertama aku melihatmu berusaha mencelakai Scarlett! Kamu benar-benar manusia berdarah dingin!" James tak puas mencecar Ava."Aku tidak, a-aku tidak pernah mencelakai dia," jawab Ava, terbata-bata. Tak dapat dipungkiri, dia saat ini sangat tertekan."Jangan mengelak lagi, Ava. Aku akan membalas ….""Anda tak punya cukup bukti untuk menuduh istriku. Jaga batasan Anda!" Rick tegas mem
"Tunggu!"James mengulas senyum penuh kemenangan karena dia tahu betul kalau sang istri tak bisa jauh darinya. Sambil mempertahankan senyum lebar, James berbalik menghadap Ava dan berkata dengan percaya diri, "Lihatlah, aku belum jauh pergi, kamu sudah memanggilku. Kamu memang tak bisa jauh dariku,
"Aku mencintai Ava, dan sampai kapan pun aku tidak akan menceraikannya!" James berkeras membela diri dihadapan ibu Ava. "Aku hanya berusaha menyenangkan Ava agar dia bisa hidup layak dan terbebas dari kemiskinan hingga—""Dengan cara menyakiti hatinya, mengkhianatinya, dan membohonginya?" pungkas M
"Kenapa kamu datang di jam seperti ini?"Ava kira ibunya tidak akan ada di rumah di jam satu siang seperti sekarang. Oleh sebab itulah dia memutuskan datang ke rumah orang tuanya guna menenangkan pikiran dari hal luar biasa yang baru saja menimpanya."Kenapa ibu tidak pergi ke toko?" Ava berjalan m
Ditunjuk dan disudutkan seperti itu oleh Scarlett tentu saja membuat wajah Ava seketika pucat. Ava tak terima jika semua kesalahan itu ditujukan kepadanya, tetapi Ava memang mengakui kalau dia datang dan berniat menyiramkan kopi pada Scarlett. Semua itu adalah tindakan refleks karena dia begitu sa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น