Share

Bab 5

Penulis: Emily Hadid
Rendra mengira Clara hanya sedang cemburu karena Caroline kembali, bahwa dia sengaja ingin memainkan strategi tarik-ulur, mengganti taktik untuk menarik perhatian Rendra.

Tak disangka, Clara benar-benar sudah menyiapkan kartu keluarga, bahkan juga sudah mempersiapkan surat perjanjian kerahasiaan, dan mengikuti berita tentang kebijakan baru yang baru diumumkan beberapa hari terakhir.

Hal itu membuat Rendra merasa menarik. Dia ingin tahu, apakah Clara akan memanfaatkan perceraian ini untuk meminta sesuatu darinya.

Mendengar kata-kata Rendra, Clara menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Dia bahkan tidak bisa membayangkan, di dalam hati Rendra, dirinya ternyata serendah itu.

Tak ada gunanya berbicara dengan pria ini. Mereka berdua memang tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Prasangka buruk Rendra terhadapnya tidak akan bisa diubah seumur hidup. Sudahlah. Semua itu tidak penting lagi.

Akhirnya, Clara menatapnya dengan lelah dan berkata, "Kalau kamu mau berpikir begitu, ya sudah. Kamu tentukan saja kapan kamu sempat, biar kita urus surat-suratnya."

Sikap tenang Clara membuat senyuman di wajah Rendra langsung lenyap. Dia menatap Clara dengan dingin.

Melihat Rendra diam saja, Clara melanjutkan, "Kamu istirahat saja. Kalau nanti sudah ada waktu, kabari aku."

Selesai berbicara, Clara berbalik untuk pergi. Saat tangannya menyentuh gagang pintu, pergelangan tangannya tiba-tiba ditarik.

Belum sempat bereaksi, Rendra sudah menariknya dengan keras hingga tubuhnya nyaris jatuh di depannya. Clara sempat terhuyung, lalu menatap Rendra.

Ditarik begitu saja membuatnya sempat kesal, tetapi begitu teringat bagaimana Rendra dulu menyelamatkannya dari kobaran api, amarahnya pun perlahan surut.

Sambil mengusap pergelangan tangan yang memerah, Clara bertanya dengan lirih, "Ada apa lagi?"

Dia sudah berpikir panjang, berkali-kali. Namun, dia tetap tidak mengerti bagaimana hubungan mereka bisa berubah sejauh ini. Kenapa Rendra begitu membencinya?

Clara tetap bersikap tenang. Sementara itu, Rendra memasukkan kedua tangannya ke saku celana, memalingkan wajahnya, dan menahan tertawa kesal. Kemudian, dia menatap Clara dan berkata, "Clara, pria mana yang berani merebut istri orang sepertiku? Siapa yang berani macam-macam denganku?"

Clara terdiam. Kalau dipikir-pikir, seharusnya yang diselingkuhi itu dirinya, 'kan?

Clara tidak menanggapi. Rendra berjalan ke meja, kembali menyalakan sebatang rokok. Dia berdiri di depan jendela besar, asap rokok meliputi dirinya. Punggungnya tegap, kakinya panjang. Bahkan dia tampak menarik saat dilihat dari belakang.

Menghadapi Rendra yang seperti ini, Clara benar-benar tak berdaya. Sambil menatap punggungnya, dia berkata, "Kamu tahu sendiri nggak ada yang berani dekat sama aku. Aku cuma ikut omonganmu, jadi jangan pikir aneh-aneh. Kapan kamu sempat, kita urus saja prosedur cerai. Lagi pula, kalau Ibu setiap hari awasin kamu, kamu juga tertekan."

Padahal yang dikhianati itu dirinya, padahal dia yang menahan semua rasa sakit itu. Namun, tetap saja dia yang harus menenangkan Rendra. Benar saja, siapa yang lebih dulu jatuh cinta, dialah yang kalah lebih dulu.

Ketika Clara kembali menyinggung soal perceraian, Rendra hanya berdiri membelakanginya. Bahkan punggungnya pun terasa dingin dan asing. Dia tidak menjawab dan Clara pun tidak berbicara lagi.

Clara membuka pintu perlahan. Tepat saat itu, Delisha sudah berdiri di depan pintu dan hendak mengetuk.

"Ibu," sapa Clara dengan kaget.

Delisha melirik ke dalam kamar sebelum menatap Clara dan bertanya, "Clara, kamu sama Rendra habis bertengkar ya? Dia nggak marahin kamu, 'kan?"

Clara tersenyum. "Nggak, Bu. Kami nggak bertengkar kok."

Delisha menatapnya dengan curiga. "Kalau nggak bertengkar, kenapa kamu keluar dari kamar?"

"Aku cuma mau ambil air minum."

"Ya sudah, sana ambil dulu."

Setelah mendapat izin, Clara keluar kamar dan menuruni tangga. Sementara itu, Delisha masuk dengan wajah serius.

Rendra yang sudah berbalik arah hanya menatap ibunya culas. "Ibu mau sekalian tidur di sini? Biar bisa awasin aku 24 jam?"

Delisha mencubit lengannya. "Rendra, kamu jangan keterlaluan. Clara sudah cukup sabar dan banyak ngalah. Jangan jadi orang yang nggak tahu diri!"

"Clara itu juga manusia, dia punya perasaan. Kamu setiap hari pulang larut, bersikap dingin. Kamu kira dia nggak sedih? Nanti kalau dia benaran pergi, baru kamu tahu rasanya menyesal."

Rendra mengernyit karena kesakitan, lalu menepis tangan ibunya. "Kebiasaan Ibu nyubit orang itu kapan hilangnya sih? Tahu sakit nggak?"

Delisha membalas, "Kalau nggak sakit, buat apa aku cubit? Aku kasih peringatan ya, Rendra. Kalau kamu masih terus main belakang sama Caroline, bikin Clara sedih, aku bisa bikin keluarga Caroline jatuh miskin dan jadi pengemis!"

Rendra menunduk menatap ibunya. "Clara kasih Ibu obat apa sih, sampai bela dia segitunya?"

"Kamu sendiri dikasih obat apa sama Caroline? Istri sebaik ini kamu sia-siain, setiap hari nongkrong sama dia. Otakmu itu masih waras nggak?"

Delisha mencolek dahi Rendra keras-keras. Rendra langsung menepisnya dengan kesal.

Tak lama kemudian, Clara naik dengan membawa segelas air. Mendengar suara langkah kakinya, Delisha langsung mengubah ekspresinya dan tersenyum manis. "Sudah ambil air ya? Kalau begitu, cepat masuk dan istirahat. Besok masih harus kerja."

Begitu melihat Clara masuk ke kamar, barulah Delisha menutup pintu dan pergi.

Sekarang hanya tinggal mereka berdua. Rendra masih memijat lengannya yang sakit.

Karena terus diawasi oleh Delisha, Clara akhirnya berkata, "Aku tidur di sofa saja ya?"

Rendra tak menjawab, hanya mengambil piama, lalu masuk ke kamar mandi.

Clara menatap punggungnya, benar-benar merasa lelah. Segala hal yang seharusnya dihadapi berdua, selalu dia hadapi sendirian.

Begitu Rendra selesai mandi, Clara bergantian masuk, membersihkan diri, bahkan menyemprot disinfektan di kamar mandi. Dia takut Rendra akan merasa jijik karena dia pernah memakai kamar mandi ini.

Setelah semua selesai, Clara mengenakan penutup telinga dan mata, lalu tidur di sofa dengan selimut tipis. Hari terasa begitu panjang. Dia sudah tidak punya tenaga untuk berdebat lagi.

Dari meja kerja, Rendra menatap punggung Clara yang meringkuk di sofa. Kenangan lama pun tebersit di benaknya.

[ Rendra, kamu malam ini pulang makan nggak? Aku bikin sup buat kamu. ]

[ Rendra, lihat deh, langit sore ini cantik banget. ]

[ Rendra, kamu sebenarnya suka aku nggak? ]

Kalau saja waktu itu kakeknya tidak mengatakan itu, kalau saja dia tidak pernah tahu rahasia Clara,

kalau saja dia tidak membaca isi buku hariannya, mungkin dia masih bisa percaya bahwa perasaan Clara padanya tulus.

....

Beberapa hari setelah itu, Delisha benar-benar tinggal di Awana Bay. Rendra semakin tertekan dan Clara juga hampir tak kuat lagi.

Setiap malam dia tidur di sofa dan sering jatuh ke lantai beberapa kali. Sebenarnya Rendra tahu. Setiap kali dia jatuh, Rendra selalu terbangun. Namun, dia berpura-pura tidak tahu dan tidak pernah bertanya sekali pun.

Clara pun tak membongkar kepura-puraannya. Kalau pernikahan sudah sampai tahap ini, memang sudah tidak ada yang tersisa.

Sampai akhirnya Renata pulang dari dinas luar kota dan mengajaknya makan malam, barulah Clara merasa sedikit lega.

Setelah mendengar keluhannya, Renata menatapnya dengan kesal. "Aku sudah bilang dari dulu, Rendra itu nggak bisa diandalkan. Sekarang rasain sendiri, 'kan? Kalau waktu itu kamu pilih Kak Rendy, hidupmu pasti nggak begini."

Clara tersenyum samar. "Kadang orang memang harus nabrak tembok dulu baru sadar sakitnya."

Dia teringat masa muda mereka, bagaimana Rendra dulu berani menerobos api demi menyelamatkannya, mengajaknya bolos kuliah, memanjat pagar kampus, menonton konser, bermain biliar .... Mereka melakukan banyak hal yang Clara tidak berani lakukan ataupun bayangkan. Semua kenangan indah masa remaja bersama Rendra.

Bagaimana mungkin dia tidak menyukai Rendra? Dia pun mengira Rendra juga menyukainya.

Jadi, waktu Zafran bertanya apakah dia menyukai Rendy atau Rendra, dia dengan yakin memilih Rendra.

Mengingat hal itu, Clara melanjutkan, "Lagi pula, aku memang takut sama Kak Rendy. Dari kecil dia sudah tegas banget, bahkan lebih galak dari ayahku. Setiap kali lihat dia saja aku ingin kabur."

Melihat Clara begitu lemah, Renata berkata, "Kak Rendra itu benar-benar nggak tahu malu. Dia yang keluyuran setiap malam, malah nuduh kamu punya orang lain. Apa yang dia pikirkan tentang orang lain itu sebenarnya cerminan dirinya sendiri!"

"Sebenarnya apa yang bagus dari dia sih? Kamu juga tahu, dia dari dulu memang begitu. Ngapain dulu kamu maksa nikah sama dia?"

Clara sampai ingin menggali lubang untuk bersembunyi. Akhirnya, dia hanya tersenyum pahit. "Aku cuma terlalu muda dan terlalu naif. Kupikir aku bisa mengubah dia."

Renata menyahut, "Sekarang sudah sadar, 'kan? Realitas nggak seindah drama."

Clara terkekeh-kekeh, tidak membantah. Sebenarnya Rendra juga tidak selalu seperti sekarang. Kebanyakan perubahan itu terjadi setelah mereka menikah. Mungkin Rendra memang tidak bahagia bersamanya.

Melihatnya terdiam, Renata menepuk bahunya. "Sudah, jangan dipikirin lagi. Nanti malam keluar sebentar, cari udara segar."

....

Selesai makan malam, Renata pun mengajak Clara ke bar. Melihat Renata sibuk menyapa teman-temannya, Clara bertanya dengan heran, "Jadi, ini cara kamu buat cari udara segar?"

Renata mengangkat alis. "Ya dong. Kak Rendra 'kan suka keluar sampai nggak pulang. Sekarang kamu juga begitu, biar dia tahu rasanya."

Clara tertawa. "Kamu terlalu menilai tinggi posisiku di hatinya."

Renata menuangkan jus dan menyerahkannya kepada Clara. "Sudahlah, jangan pikirin dia terus. Kamu harus belajar cuek. Kalau nggak, aku takut kamu depresi."

Clara menerima minuman itu tanpa berkata-kata. Karena tahu Renata niatnya baik, dia berusaha bersikap santai. Dia bahkan ikut main game dengan beberapa mahasiswa laki-laki yang diajak Renata. Anehnya, bermain seperti ini justru membuatnya sedikit melupakan kesedihan.

Namun, tak jauh dari mereka, sekelompok orang yang juga sedang bersenang-senang tiba-tiba memperhatikan. "Eh, itu Clara sama Renata?"

"Ya, itu Clara! Dia ke bar juga sekarang? Bukannya dia itu istri penurut?"

"Pasti Renata yang ngajak."

"Eh, tunggu dulu, jangan nyapa dulu. Aku fotoin dulu."

Pria itu mengeluarkan ponselnya dan memotret mereka berdua. "Wah, ini istri Rendra yang penyabar itu. Kayaknya dia mulai melawan nih. Aku kirim ke Rendra."

Begitu difoto dan direkam, pria itu langsung mengirimkannya tanpa ragu sedikit pun.

....

Di Awana Bay, di bawah pengawasan Delisha, Rendra sudah pulang sejak pukul 7 malam dan sedang lembur di ruang kerja. Ponselnya terus bergetar.

Dia mengambilnya, membuka pesan, dan melihat lebih dari sepuluh foto dan beberapa video. Begitu melihat isinya, wajahnya langsung menjadi masam.

Heh .... Dirinya pulang lebih awal, tetapi Clara malah bersenang-senang di luar. Bahkan videonya menunjukkan bahwa Clara sedang bermain game dengan para pemuda.

Melihat senyuman canggung tetapi cerah di wajahnya, wajah Rendra pun menegang. Keluar dari aplikasi, dia langsung menekan nomor Clara.

Namun, suara operator terdengar. "Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif."

Dia menekan lagi dan lagi. Hasilnya tetap sama.

"Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak ak ...." Sebelum kalimat itu selesai, Rendra sudah membanting ponselnya. Wajahnya suram, suasana hatinya hancur. Dia tidak bisa bekerja lagi.

Rendra berdiri dan berjalan ke arah jendela. Di luar halaman, suasananya sunyi sekali. Tidak ada tanda-tanda mobil yang kembali.

Dia merogoh sakunya, mengambil sebungkus rokok, menaruh sebatang di bibirnya, lalu menunduk dan menyalakannya. Setelah mengisap dalam-dalam, dia mengembuskan asap dengan berat, bahkan suara napasnya pun terdengar keras.

Entah sudah berapa lama berdiri di depan jendela, akhirnya sebuah mobil sedan putih masuk ke halaman. Barulah Rendra memutar badan dan melangkah pergi.

Di lantai bawah, Clara baru turun dari mobil. Dia menarik kerah bajunya, mencium sedikit aroma alkohol di bar, lalu menepuk-nepuk pakaiannya agar baunya hilang sebelum masuk ke rumah.

Sebenarnya dia berniat pulang lebih awal, tetapi karena Renata sedang bersenang-senang, dia akhirnya ikut bertahan sedikit lebih lama.

Begitu masuk rumah, suasana di dalam benar-benar tenang. Semua orang tampaknya sudah beristirahat.

Clara melangkah pelan menaiki tangga. Begitu membuka pintu kamar tamu, terdengar suara Rendra yang dingin. "Ke mana saja? Kenapa telepon nggak diangkat?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Rahma Diana Utami
laki2 n suami munafik brengsek n memuakkan..ayo sgra tinggalin rendra cla..km berhak bhgia n bhgia mu tdk bersm rendra krn rendra tdk mencintai n menginginkanmu
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 370

    Saat itu, staf di pintu jelas melihat Rendra menariknya, jelas melihat dia meminta tolong. Namun, ketika pandangan mereka bertemu dengan tatapan Rendra, mereka segera mengalihkan mata.Clara berteriak, meminta mereka membantu memanggil Miller atau pimpinan yang ikut dari Kota Gianora, tetapi kedua staf itu seolah-olah tidak punya telinga, bahkan tidak melirik ke arahnya, seolah-olah dia dan Rendra hanyalah segumpal udara.Dengan kening berkerut erat, Clara berkata, "Pak Rendra, kalau kamu terus seperti ini, aku akan lapor polisi."Rendra menjawab, "Beri aku sepuluh menit. Aku hanya ingin memastikan beberapa hal denganmu."Setelah berkata demikian, tanpa menunggu tanggapan Clara, Rendra menarik lengannya dan membawanya ke ruang teh di lantai dua.Ruang teh itu didekorasi dengan elegan. Pelayan menyeduhkan teh untuk mereka, tetapi Rendra langsung menyuruh mereka pergi, lalu secara pribadi menyeduhkan teh untuk Clara.Berusaha tetap sadar, Rendra menyerahkan teh yang sudah diseduh kepada

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 369

    Sampai Clara selesai menerima telepon, sampai Clara berjalan kembali ke arah mereka, sampai Clara masuk lebih dulu ke ruang privat dengan sikap seolah-olah tak terjadi apa-apa, barulah Rendra kembali masuk.Melihat dengan mata kepala sendiri Clara dan Rendra pergi dari hadapannya, Caroline tiba-tiba tertawa pelan. Tawa yang penuh sindiran.Jadi, apa maksud sikap Rendra tadi? Dia sedang berjaga-jaga terhadapnya? Takut dia mengganggu wanita itu? Baru bertemu beberapa kali saja sudah begitu melindunginya?Ketika menoleh ke arah ruang privat mereka, mata Caroline memerah karena marah.....Di dalam ruang privat, melihat Clara dan Rendra masuk berurutan, raut wajah Miller jelas menjadi lebih suram.Setelah itu, dia menarik Rendra dan kembali minum cukup banyak dengannya. Lewat pukul 10 malam saat semua bubar, Miller sudah cukup mabuk, begitu pula Rendra.Selama bertahun-tahun, ini pertama kalinya dia minum sampai semabuk ini. Ini pun karena Miller, semata-mata karena dia adalah kakak dari C

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 368

    Hari ini Rendra memang ada jamuan makan di sini. Caroline sudah mengetahuinya sejak awal, jadi dia juga sengaja menjadwalkan jamuannya di tempat yang sama.Selain ingin membicarakan kerja sama dengan Grup Solara, dia juga ingin melihat langsung Calla yang selama ini hanya dia dengar dari rumor, ingin memastikan seberapa miripnya dengan Clara.Mendengar permintaannya, Rendra berkata dengan nada datar, "Kamu nggak saling kenal dengan kakak beradik dari Keluarga Widjaja, nggak perlu muncul di depan mereka. Kalau mau kerja sama, suruh ayahmu cari orang untuk mengurusnya."Walaupun belum sepenuhnya yakin bahwa Calla adalah Clara, Rendra tetap tidak mengizinkan Caroline muncul di hadapannya.Penolakan Rendra membuat senyuman di wajah Caroline perlahan memudar. Dia mengatupkan bibir dan menatap Rendra lama sekali tanpa bergerak, baru kemudian berkata, "Rendra, apa kamu harus sedingin ini? Apa janji yang pernah kamu berikan pada Carolina juga sudah nggak berlaku?""Sebetulnya kamu tahu, aku bu

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 367

    Renata tidak bisa berkata-kata.Mendengar pertanyaan lanjutan Miller, Renata baru tersadar bahwa dia terlalu banyak bicara dan hampir membuka aib Rendra di depan umum.Sambil memandang Miller dengan tatapan penuh pertimbangan, Renata memikirkan bagaimana harus menjawabnya. Saat itulah Jonas tersenyum dan mencoba meredakan suasana. "Dalam hubungan suami istri, pasti ada konflik. Rendra terlalu mencintai Clara. Obsesinya terlalu dalam.""Hanya saja, masa lalu ya sudah berlalu. Kalau Clara benar-benar cuma pergi, kalau mereka masih bisa bertemu lagi, aku yakin Rendra pasti akan memperjelas semua dengan Clara dan juga akan mendoakan kehidupan Clara yang sekarang."Bertahun-tahun berkecimpung di dunia bisnis, Jonas memang jauh lebih cerdik. Beberapa perkataan itu juga sebenarnya ditujukan untuk Clara. Terlepas apakah dia benar Clara atau bukan, kata-kata itu tidak akan salah.Saat Jonas mengatakan semua itu, pandangannya terus tertuju pada Clara. Clara mendengarkan dengan tenang, seolah-ola

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 366

    Dia bertanya, "Masih belum melupakannya?"Mendengar pertanyaan Miller, Clara menatap matanya dan menjawab dengan tegas, "Bukan."Melupakan, tentu saja tidak mungkin. Bagaimanapun juga, mereka tumbuh bersama sejak kecil, sudah saling mengenal lebih dari 20 tahun.Hanya saja, sebatas tidak lupa. Tidak ada lagi perasaan lain. Bahkan Rendra tidak bisa dianggap orang asing baginya.Melihat tatapan Clara yang begitu tegas, ibu jari Miller mengusap pelan dagunya dan berkata dengan lembut, "Clara, aku nggak ingin kamu mengulang kesalahan yang sama. Aku harap pelarianmu dua tahun lalu membuatmu benar-benar memahami semuanya. Aku juga nggak ingin kamu menempuh jalan yang sama seperti Calla."Mendengar pengingat itu, tatapan Clara tetap teguh. "Aku tahu, Kak."Panggilan "Kak" dari Clara membuat Miller tertegun sejenak. Biasanya saat berdua saja, dia tidak pernah memanggilnya kakak. Hanya di depan orang luar, dia akan memanggil begitu.Setelah tersadar, jari Miller menyapu lembut bibirnya, lalu di

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 365

    Cip yang mereka luncurkan tahun lalu saat IPO benar-benar menampar keras perusahaan-perusahaan luar negeri yang katanya sangat hebat itu. Mereka sama sekali tidak gentar.Namun, Calla berbeda dari orang lain. Rendra tetap ingin memperjuangkan kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh, ingin memastikan apakah dia benar-benar Clara. Dia hanya ingin tahu itu, tidak ada tujuan lain.Mendengar perintah Rendra, Frandy segera pergi mengurusnya.Di hotel, para pimpinan Kota Gianora sedang melakukan pendekatan kepada Miller, menanyakan mengapa dia tidak bekerja sama dengan Grup Adresta. Mereka mengatakan bahwa dari segi kekuatan finansial dan teknologi, Grup Adresta adalah yang paling cocok, terutama dari sisi dana.Mereka juga mengatakan bahwa ini bukan sekadar kerja sama bisnis, tetapi juga menunjukkan sikap kedua tim kepada pihak luar.Di samping, Clara mendengarkan perkataan pimpinan itu, hanya memandangi mereka tanpa menyampaikan pendapat apa pun.Setelah selesai menyampaikan alasannya, pimp

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 277

    Kaca jendela mobil diturunkan. Aidan berkata dengan suara lembut, "Bu Clara, naiklah. Aku antar sebentar."Sekarang hubungan Clara dengan Aidan tidak bisa dibilang asing. Apalagi mereka baru saja bertemu di rapat dan sempat berbincang beberapa kata. Karena itu, Clara tidak sungkan dan langsung naik

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 273

    Selain itu, Clara yang sudah meninggalkan Grup Adresta kini terlihat jauh lebih percaya diri dibanding sebelumnya dan juga lebih bahagia.Mendengar perkataan Rendra, Clara mengangguk. "Oke."Dia sudah pindah dan semuanya sudah sampai sejauh ini. Dia percaya kali ini Rendra tidak membohonginya dan me

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 263

    Melihat hal itu, Clara berjalan perlahan ke arah gedung tempat tinggalnya, lalu menyapanya dengan suara pelan, "Sudah kembali, ya."Melihat Clara mendekat, Rendra melepaskan punggungnya dari bodi mobil dan memasukkan kedua tangan ke saku, lalu berkata dengan nada malas, "Jadi kalau aku nggak menghub

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 269

    Saat itu, Renata melanjutkan, "Kemarin siang, setelah Kak Rendra pulang sendirian, Nenek jadi nggak bicara sama sekali. Seharian penuh nggak bicara. Waktu lihat Kak Rendra pun raut wajahnya nggak enak, tapi dia juga nggak marah, nggak bentak, cuma nggak mau ladeni dia.""Sekitar jam 8 malam, Nenek t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status