공유

Bab 5

작가: Emily Hadid
Rendra mengira Clara hanya sedang cemburu karena Caroline kembali, bahwa dia sengaja ingin memainkan strategi tarik-ulur, mengganti taktik untuk menarik perhatian Rendra.

Tak disangka, Clara benar-benar sudah menyiapkan kartu keluarga, bahkan juga sudah mempersiapkan surat perjanjian kerahasiaan, dan mengikuti berita tentang kebijakan baru yang baru diumumkan beberapa hari terakhir.

Hal itu membuat Rendra merasa menarik. Dia ingin tahu, apakah Clara akan memanfaatkan perceraian ini untuk meminta sesuatu darinya.

Mendengar kata-kata Rendra, Clara menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Dia bahkan tidak bisa membayangkan, di dalam hati Rendra, dirinya ternyata serendah itu.

Tak ada gunanya berbicara dengan pria ini. Mereka berdua memang tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Prasangka buruk Rendra terhadapnya tidak akan bisa diubah seumur hidup. Sudahlah. Semua itu tidak penting lagi.

Akhirnya, Clara menatapnya dengan lelah dan berkata, "Kalau kamu mau berpikir begitu, ya sudah. Kamu tentukan saja kapan kamu sempat, biar kita urus surat-suratnya."

Sikap tenang Clara membuat senyuman di wajah Rendra langsung lenyap. Dia menatap Clara dengan dingin.

Melihat Rendra diam saja, Clara melanjutkan, "Kamu istirahat saja. Kalau nanti sudah ada waktu, kabari aku."

Selesai berbicara, Clara berbalik untuk pergi. Saat tangannya menyentuh gagang pintu, pergelangan tangannya tiba-tiba ditarik.

Belum sempat bereaksi, Rendra sudah menariknya dengan keras hingga tubuhnya nyaris jatuh di depannya. Clara sempat terhuyung, lalu menatap Rendra.

Ditarik begitu saja membuatnya sempat kesal, tetapi begitu teringat bagaimana Rendra dulu menyelamatkannya dari kobaran api, amarahnya pun perlahan surut.

Sambil mengusap pergelangan tangan yang memerah, Clara bertanya dengan lirih, "Ada apa lagi?"

Dia sudah berpikir panjang, berkali-kali. Namun, dia tetap tidak mengerti bagaimana hubungan mereka bisa berubah sejauh ini. Kenapa Rendra begitu membencinya?

Clara tetap bersikap tenang. Sementara itu, Rendra memasukkan kedua tangannya ke saku celana, memalingkan wajahnya, dan menahan tertawa kesal. Kemudian, dia menatap Clara dan berkata, "Clara, pria mana yang berani merebut istri orang sepertiku? Siapa yang berani macam-macam denganku?"

Clara terdiam. Kalau dipikir-pikir, seharusnya yang diselingkuhi itu dirinya, 'kan?

Clara tidak menanggapi. Rendra berjalan ke meja, kembali menyalakan sebatang rokok. Dia berdiri di depan jendela besar, asap rokok meliputi dirinya. Punggungnya tegap, kakinya panjang. Bahkan dia tampak menarik saat dilihat dari belakang.

Menghadapi Rendra yang seperti ini, Clara benar-benar tak berdaya. Sambil menatap punggungnya, dia berkata, "Kamu tahu sendiri nggak ada yang berani dekat sama aku. Aku cuma ikut omonganmu, jadi jangan pikir aneh-aneh. Kapan kamu sempat, kita urus saja prosedur cerai. Lagi pula, kalau Ibu setiap hari awasin kamu, kamu juga tertekan."

Padahal yang dikhianati itu dirinya, padahal dia yang menahan semua rasa sakit itu. Namun, tetap saja dia yang harus menenangkan Rendra. Benar saja, siapa yang lebih dulu jatuh cinta, dialah yang kalah lebih dulu.

Ketika Clara kembali menyinggung soal perceraian, Rendra hanya berdiri membelakanginya. Bahkan punggungnya pun terasa dingin dan asing. Dia tidak menjawab dan Clara pun tidak berbicara lagi.

Clara membuka pintu perlahan. Tepat saat itu, Delisha sudah berdiri di depan pintu dan hendak mengetuk.

"Ibu," sapa Clara dengan kaget.

Delisha melirik ke dalam kamar sebelum menatap Clara dan bertanya, "Clara, kamu sama Rendra habis bertengkar ya? Dia nggak marahin kamu, 'kan?"

Clara tersenyum. "Nggak, Bu. Kami nggak bertengkar kok."

Delisha menatapnya dengan curiga. "Kalau nggak bertengkar, kenapa kamu keluar dari kamar?"

"Aku cuma mau ambil air minum."

"Ya sudah, sana ambil dulu."

Setelah mendapat izin, Clara keluar kamar dan menuruni tangga. Sementara itu, Delisha masuk dengan wajah serius.

Rendra yang sudah berbalik arah hanya menatap ibunya culas. "Ibu mau sekalian tidur di sini? Biar bisa awasin aku 24 jam?"

Delisha mencubit lengannya. "Rendra, kamu jangan keterlaluan. Clara sudah cukup sabar dan banyak ngalah. Jangan jadi orang yang nggak tahu diri!"

"Clara itu juga manusia, dia punya perasaan. Kamu setiap hari pulang larut, bersikap dingin. Kamu kira dia nggak sedih? Nanti kalau dia benaran pergi, baru kamu tahu rasanya menyesal."

Rendra mengernyit karena kesakitan, lalu menepis tangan ibunya. "Kebiasaan Ibu nyubit orang itu kapan hilangnya sih? Tahu sakit nggak?"

Delisha membalas, "Kalau nggak sakit, buat apa aku cubit? Aku kasih peringatan ya, Rendra. Kalau kamu masih terus main belakang sama Caroline, bikin Clara sedih, aku bisa bikin keluarga Caroline jatuh miskin dan jadi pengemis!"

Rendra menunduk menatap ibunya. "Clara kasih Ibu obat apa sih, sampai bela dia segitunya?"

"Kamu sendiri dikasih obat apa sama Caroline? Istri sebaik ini kamu sia-siain, setiap hari nongkrong sama dia. Otakmu itu masih waras nggak?"

Delisha mencolek dahi Rendra keras-keras. Rendra langsung menepisnya dengan kesal.

Tak lama kemudian, Clara naik dengan membawa segelas air. Mendengar suara langkah kakinya, Delisha langsung mengubah ekspresinya dan tersenyum manis. "Sudah ambil air ya? Kalau begitu, cepat masuk dan istirahat. Besok masih harus kerja."

Begitu melihat Clara masuk ke kamar, barulah Delisha menutup pintu dan pergi.

Sekarang hanya tinggal mereka berdua. Rendra masih memijat lengannya yang sakit.

Karena terus diawasi oleh Delisha, Clara akhirnya berkata, "Aku tidur di sofa saja ya?"

Rendra tak menjawab, hanya mengambil piama, lalu masuk ke kamar mandi.

Clara menatap punggungnya, benar-benar merasa lelah. Segala hal yang seharusnya dihadapi berdua, selalu dia hadapi sendirian.

Begitu Rendra selesai mandi, Clara bergantian masuk, membersihkan diri, bahkan menyemprot disinfektan di kamar mandi. Dia takut Rendra akan merasa jijik karena dia pernah memakai kamar mandi ini.

Setelah semua selesai, Clara mengenakan penutup telinga dan mata, lalu tidur di sofa dengan selimut tipis. Hari terasa begitu panjang. Dia sudah tidak punya tenaga untuk berdebat lagi.

Dari meja kerja, Rendra menatap punggung Clara yang meringkuk di sofa. Kenangan lama pun tebersit di benaknya.

[ Rendra, kamu malam ini pulang makan nggak? Aku bikin sup buat kamu. ]

[ Rendra, lihat deh, langit sore ini cantik banget. ]

[ Rendra, kamu sebenarnya suka aku nggak? ]

Kalau saja waktu itu kakeknya tidak mengatakan itu, kalau saja dia tidak pernah tahu rahasia Clara,

kalau saja dia tidak membaca isi buku hariannya, mungkin dia masih bisa percaya bahwa perasaan Clara padanya tulus.

....

Beberapa hari setelah itu, Delisha benar-benar tinggal di Awana Bay. Rendra semakin tertekan dan Clara juga hampir tak kuat lagi.

Setiap malam dia tidur di sofa dan sering jatuh ke lantai beberapa kali. Sebenarnya Rendra tahu. Setiap kali dia jatuh, Rendra selalu terbangun. Namun, dia berpura-pura tidak tahu dan tidak pernah bertanya sekali pun.

Clara pun tak membongkar kepura-puraannya. Kalau pernikahan sudah sampai tahap ini, memang sudah tidak ada yang tersisa.

Sampai akhirnya Renata pulang dari dinas luar kota dan mengajaknya makan malam, barulah Clara merasa sedikit lega.

Setelah mendengar keluhannya, Renata menatapnya dengan kesal. "Aku sudah bilang dari dulu, Rendra itu nggak bisa diandalkan. Sekarang rasain sendiri, 'kan? Kalau waktu itu kamu pilih Kak Rendy, hidupmu pasti nggak begini."

Clara tersenyum samar. "Kadang orang memang harus nabrak tembok dulu baru sadar sakitnya."

Dia teringat masa muda mereka, bagaimana Rendra dulu berani menerobos api demi menyelamatkannya, mengajaknya bolos kuliah, memanjat pagar kampus, menonton konser, bermain biliar .... Mereka melakukan banyak hal yang Clara tidak berani lakukan ataupun bayangkan. Semua kenangan indah masa remaja bersama Rendra.

Bagaimana mungkin dia tidak menyukai Rendra? Dia pun mengira Rendra juga menyukainya.

Jadi, waktu Zafran bertanya apakah dia menyukai Rendy atau Rendra, dia dengan yakin memilih Rendra.

Mengingat hal itu, Clara melanjutkan, "Lagi pula, aku memang takut sama Kak Rendy. Dari kecil dia sudah tegas banget, bahkan lebih galak dari ayahku. Setiap kali lihat dia saja aku ingin kabur."

Melihat Clara begitu lemah, Renata berkata, "Kak Rendra itu benar-benar nggak tahu malu. Dia yang keluyuran setiap malam, malah nuduh kamu punya orang lain. Apa yang dia pikirkan tentang orang lain itu sebenarnya cerminan dirinya sendiri!"

"Sebenarnya apa yang bagus dari dia sih? Kamu juga tahu, dia dari dulu memang begitu. Ngapain dulu kamu maksa nikah sama dia?"

Clara sampai ingin menggali lubang untuk bersembunyi. Akhirnya, dia hanya tersenyum pahit. "Aku cuma terlalu muda dan terlalu naif. Kupikir aku bisa mengubah dia."

Renata menyahut, "Sekarang sudah sadar, 'kan? Realitas nggak seindah drama."

Clara terkekeh-kekeh, tidak membantah. Sebenarnya Rendra juga tidak selalu seperti sekarang. Kebanyakan perubahan itu terjadi setelah mereka menikah. Mungkin Rendra memang tidak bahagia bersamanya.

Melihatnya terdiam, Renata menepuk bahunya. "Sudah, jangan dipikirin lagi. Nanti malam keluar sebentar, cari udara segar."

....

Selesai makan malam, Renata pun mengajak Clara ke bar. Melihat Renata sibuk menyapa teman-temannya, Clara bertanya dengan heran, "Jadi, ini cara kamu buat cari udara segar?"

Renata mengangkat alis. "Ya dong. Kak Rendra 'kan suka keluar sampai nggak pulang. Sekarang kamu juga begitu, biar dia tahu rasanya."

Clara tertawa. "Kamu terlalu menilai tinggi posisiku di hatinya."

Renata menuangkan jus dan menyerahkannya kepada Clara. "Sudahlah, jangan pikirin dia terus. Kamu harus belajar cuek. Kalau nggak, aku takut kamu depresi."

Clara menerima minuman itu tanpa berkata-kata. Karena tahu Renata niatnya baik, dia berusaha bersikap santai. Dia bahkan ikut main game dengan beberapa mahasiswa laki-laki yang diajak Renata. Anehnya, bermain seperti ini justru membuatnya sedikit melupakan kesedihan.

Namun, tak jauh dari mereka, sekelompok orang yang juga sedang bersenang-senang tiba-tiba memperhatikan. "Eh, itu Clara sama Renata?"

"Ya, itu Clara! Dia ke bar juga sekarang? Bukannya dia itu istri penurut?"

"Pasti Renata yang ngajak."

"Eh, tunggu dulu, jangan nyapa dulu. Aku fotoin dulu."

Pria itu mengeluarkan ponselnya dan memotret mereka berdua. "Wah, ini istri Rendra yang penyabar itu. Kayaknya dia mulai melawan nih. Aku kirim ke Rendra."

Begitu difoto dan direkam, pria itu langsung mengirimkannya tanpa ragu sedikit pun.

....

Di Awana Bay, di bawah pengawasan Delisha, Rendra sudah pulang sejak pukul 7 malam dan sedang lembur di ruang kerja. Ponselnya terus bergetar.

Dia mengambilnya, membuka pesan, dan melihat lebih dari sepuluh foto dan beberapa video. Begitu melihat isinya, wajahnya langsung menjadi masam.

Heh .... Dirinya pulang lebih awal, tetapi Clara malah bersenang-senang di luar. Bahkan videonya menunjukkan bahwa Clara sedang bermain game dengan para pemuda.

Melihat senyuman canggung tetapi cerah di wajahnya, wajah Rendra pun menegang. Keluar dari aplikasi, dia langsung menekan nomor Clara.

Namun, suara operator terdengar. "Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif."

Dia menekan lagi dan lagi. Hasilnya tetap sama.

"Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak ak ...." Sebelum kalimat itu selesai, Rendra sudah membanting ponselnya. Wajahnya suram, suasana hatinya hancur. Dia tidak bisa bekerja lagi.

Rendra berdiri dan berjalan ke arah jendela. Di luar halaman, suasananya sunyi sekali. Tidak ada tanda-tanda mobil yang kembali.

Dia merogoh sakunya, mengambil sebungkus rokok, menaruh sebatang di bibirnya, lalu menunduk dan menyalakannya. Setelah mengisap dalam-dalam, dia mengembuskan asap dengan berat, bahkan suara napasnya pun terdengar keras.

Entah sudah berapa lama berdiri di depan jendela, akhirnya sebuah mobil sedan putih masuk ke halaman. Barulah Rendra memutar badan dan melangkah pergi.

Di lantai bawah, Clara baru turun dari mobil. Dia menarik kerah bajunya, mencium sedikit aroma alkohol di bar, lalu menepuk-nepuk pakaiannya agar baunya hilang sebelum masuk ke rumah.

Sebenarnya dia berniat pulang lebih awal, tetapi karena Renata sedang bersenang-senang, dia akhirnya ikut bertahan sedikit lebih lama.

Begitu masuk rumah, suasana di dalam benar-benar tenang. Semua orang tampaknya sudah beristirahat.

Clara melangkah pelan menaiki tangga. Begitu membuka pintu kamar tamu, terdengar suara Rendra yang dingin. "Ke mana saja? Kenapa telepon nggak diangkat?"
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 367

    Renata tidak bisa berkata-kata.Mendengar pertanyaan lanjutan Miller, Renata baru tersadar bahwa dia terlalu banyak bicara dan hampir membuka aib Rendra di depan umum.Sambil memandang Miller dengan tatapan penuh pertimbangan, Renata memikirkan bagaimana harus menjawabnya. Saat itulah Jonas tersenyum dan mencoba meredakan suasana. "Dalam hubungan suami istri, pasti ada konflik. Rendra terlalu mencintai Clara. Obsesinya terlalu dalam.""Hanya saja, masa lalu ya sudah berlalu. Kalau Clara benar-benar cuma pergi, kalau mereka masih bisa bertemu lagi, aku yakin Rendra pasti akan memperjelas semua dengan Clara dan juga akan mendoakan kehidupan Clara yang sekarang."Bertahun-tahun berkecimpung di dunia bisnis, Jonas memang jauh lebih cerdik. Beberapa perkataan itu juga sebenarnya ditujukan untuk Clara. Terlepas apakah dia benar Clara atau bukan, kata-kata itu tidak akan salah.Saat Jonas mengatakan semua itu, pandangannya terus tertuju pada Clara. Clara mendengarkan dengan tenang, seolah-ola

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 366

    Dia bertanya, "Masih belum melupakannya?"Mendengar pertanyaan Miller, Clara menatap matanya dan menjawab dengan tegas, "Bukan."Melupakan, tentu saja tidak mungkin. Bagaimanapun juga, mereka tumbuh bersama sejak kecil, sudah saling mengenal lebih dari 20 tahun.Hanya saja, sebatas tidak lupa. Tidak ada lagi perasaan lain. Bahkan Rendra tidak bisa dianggap orang asing baginya.Melihat tatapan Clara yang begitu tegas, ibu jari Miller mengusap pelan dagunya dan berkata dengan lembut, "Clara, aku nggak ingin kamu mengulang kesalahan yang sama. Aku harap pelarianmu dua tahun lalu membuatmu benar-benar memahami semuanya. Aku juga nggak ingin kamu menempuh jalan yang sama seperti Calla."Mendengar pengingat itu, tatapan Clara tetap teguh. "Aku tahu, Kak."Panggilan "Kak" dari Clara membuat Miller tertegun sejenak. Biasanya saat berdua saja, dia tidak pernah memanggilnya kakak. Hanya di depan orang luar, dia akan memanggil begitu.Setelah tersadar, jari Miller menyapu lembut bibirnya, lalu di

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 365

    Cip yang mereka luncurkan tahun lalu saat IPO benar-benar menampar keras perusahaan-perusahaan luar negeri yang katanya sangat hebat itu. Mereka sama sekali tidak gentar.Namun, Calla berbeda dari orang lain. Rendra tetap ingin memperjuangkan kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh, ingin memastikan apakah dia benar-benar Clara. Dia hanya ingin tahu itu, tidak ada tujuan lain.Mendengar perintah Rendra, Frandy segera pergi mengurusnya.Di hotel, para pimpinan Kota Gianora sedang melakukan pendekatan kepada Miller, menanyakan mengapa dia tidak bekerja sama dengan Grup Adresta. Mereka mengatakan bahwa dari segi kekuatan finansial dan teknologi, Grup Adresta adalah yang paling cocok, terutama dari sisi dana.Mereka juga mengatakan bahwa ini bukan sekadar kerja sama bisnis, tetapi juga menunjukkan sikap kedua tim kepada pihak luar.Di samping, Clara mendengarkan perkataan pimpinan itu, hanya memandangi mereka tanpa menyampaikan pendapat apa pun.Setelah selesai menyampaikan alasannya, pimp

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 364

    Setelah melakukan beberapa kali pemahaman dan penjajakan, pihak manajemen dan tim teknis Grup Solara sebenarnya lebih mencondong ke StarTech dan Grup Adresta.Namun, karena adanya prasangka terhadap Rendra, Miller tidak membicarakan kerja sama dengannya. Miller hanya mengatakan bahwa mereka masih dalam tahap observasi dan pertimbangan.Selama periode itu, Grup Nexus diam-diam beberapa kali menemui penanggung jawab lain dari Grup Solara, ingin membicarakan kemungkinan kerja sama dan berusaha mendapatkan kesempatan. Beberapa penanggung jawab tersebut memang sempat bertemu Caroline dan Edward, tetapi Miller tidak pernah menemui mereka.Kerja sama tentu saja tidak tercapai.....Pagi itu, setelah kembali ditolak oleh Miller, Caroline duduk di depan meja kerjanya. Dia memegang ponsel dan menatap foto-foto Clara dalam beberapa rapat sebelumnya.Calla mirip dengan Clara, hal itu sudah lama Caroline dengar dari orang lain. Namun, dia tidak pernah tahu seberapa miripnya. Saat melihat foto itu s

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 363

    Miller tidak terlalu khawatir terhadap Rendra. Namun, kemunculan Renata membuatnya cemas Clara akan menunjukkan celah. Dia tidak ingin Clara memperlihatkan kelemahan dan lebih tidak ingin lagi Clara terlibat lagi dengan Keluarga Adresta dalam bentuk apa pun, bahkan dengan adik yang tidak bersalah itu.Atas peringatannya, Clara berkata lembut, "Aku tahu. Aku akan menjaga jarak." Dia menambahkan, "Setelah urusan di sini selesai, aku akan segera kembali."Mendengar pemahamannya dan melihat bahwa mereka sepakat dalam hal ini, tatapan Miller langsung melembut. Dia berkata, "Kerja nggak perlu terlalu dipaksakan. Istirahatmu yang paling penting. Nggak perlu terburu-buru mengejar waktu dan progres."Saat Clara pergi ke rumah sakit untuk terapi, Miller pernah menemaninya. Dia mendengar Clara berbicara dengan dokter tentang fase somatisasi, saat dia tidak bisa bergerak, tidak bisa berbicara, dan harus menjalani masa pemulihan di rumah. Sejak itu, dia tidak pernah berpikir membiarkan Clara kembal

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 362

    Keyakinan Renata membuat hati Rendra yang semula tenang, kembali bergejolak. Dia memang memiliki perasaan yang sama. Hanya saja, dia tidak berani lagi mengganggu.Setelah Clara tiada dua tahun lalu, Rendra sangat takut mengusik kehidupan Calla. Walaupun ingin menyelidiki sampai tuntas, dia tetap tidak berani melangkah gegabah. Jika tragedi dua tahun lalu terulang lagi, hidupnya pun tidak ada artinya lagi.Menjelang pukul sebelas, rombongan tiba di laboratorium. Setelah melewati pemeriksaan keamanan dan masuk ke kawasan, tatapan Renata seolah menempel pada Clara tanpa berpindah sedetik pun.Hari ini, dia memang datang demi Clara.Di sisi lain, Clara sudah lama menyadari tatapan Renata.Saat dia memasuki ruang rapat tadi pagi, Clara sudah menyadarinya.Orang yang paling dia takuti dan paling membuatnya gugup untuk bertemu dalam kepulangannya ke Kota Ardivo kali ini adalah Renata. Untungnya, dia sudah menyiapkan mentalnya dengan baik, sehingga dia masih bisa tetap tenang tanpa menunjukkan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status