공유

Bab 4

작가: Emily Hadid
Caroline langsung berdiri dengan senyuman ramah yang menyambut. "Tadi kebetulan ketemu Clara, jadi aku ajak dia sekalian makan bareng. Rendra, kamu nggak keberatan, 'kan?"

Rendra melirik Clara dengan ekspresi datar. "Selama kamu senang, terserah."

Dia kemudian duduk di sebelah Caroline. Caroline menuangkan teh untuknya sambil tersenyum. "Barusan aku ngobrol sama Clara. Dia bilang kalian berdua berencana cerai. Aku tadi sempat mikir, kalau kalian benar-benar pisah, aku harus kenalin Clara sama cowok baik. Sayang 'kan, beberapa tahun ini waktunya sudah terbuang."

Padahal secara resmi mereka masih suami istri, tetapi Rendra duduk di sebelah Caroline seolah-olah itu hal yang wajar. Tatapannya pun datar. Setiap kali melihat Clara, dia seperti sedang melewati rintangan yang ingin dihindari.

Clara malas mempermasalahkan itu. Lagi pula, dia memang tidak punya hak untuk mempermasalahkannya. Yang dia rasakan hanya satu, yaitu canggung.

Seharusnya tadi dia sudah sadar, kalau Caroline muncul di kantor, berarti pasti dia datang karena janjian dengan Rendra.

Pelayan menyerahkan menu kepada Rendra. Dia memesan beberapa hidangan, tetapi Caroline menimpali, "Rendra, jangan cuma pesan yang aku suka, pesankan juga makanan favorit Clara."

Rendra melirik Clara sebentar sambil tetap memegang menu. Dalam pikirannya, kehadiran Clara terasa begitu berlebihan. Clara pun berpikir sama. Dia merasa keberadaannya benar-benar tidak diperlukan.

Clara diam-diam mengambil ponsel. Namun, begitu Rendra menyerahkan menu kepadanya, ponselnya bergetar.

Clara segera mengangkatnya. Suara Miara terdengar di seberang. "Bu Clara, Pak Fauzi dari Perusahaan Maxim datang. Katanya alur proyek nomor dua belum selesai dan Pak Rendra belum tanda tangan, mereka jadi belum bisa mulai."

Clara menjawab, "Oke, aku segera ke kantor."

Selesai menutup telepon, Clara menatap Caroline dan berkata, "Kak Caroline, di kantor ada urusan mendadak. Aku harus balik dulu. Kalian lanjutkan saja makannya."

Dia mengambil tas dan ponsel, lalu berbalik dan pergi tanpa menunggu tanggapan mereka. Begitu keluar dari restoran, Clara merasa napasnya lebih lega. Langit bahkan terasa lebih cerah daripada biasanya.

....

Di dalam restoran, Caroline menoleh pada Rendra. "Kalian benar-benar mau cerai?"

Rendra tertawa meremehkan. "Kamu percaya omongannya?"

Baginya, Clara terlalu mementingkan status dan kekuasaan. Kalaupun benar-benar ingin bercerai, wanita itu pasti akan menghitung dengan sangat teliti soal pembagian harta.

Caroline berkata, "Tapi aku lihat Clara kelihatannya sungguh-sungguh. Atau jangan-jangan kamu yang sebenarnya nggak rela?"

Rendra tertawa geli. "Kamu kebanyakan mikir. Sudahlah, makan saja." Kemudian, dia mengalihkan pembicaraan. "Kondisimu sekarang gimana?"

Caroline tersenyum lembut. "Sangat baik. Tuhan pasti sayang sama aku."

....

Di kantor Grup Adresta, Clara baru saja selesai berbicara dengan rekan kerja dari perusahaan mitra. Saat mengantarnya keluar, dia masih sempat tersenyum sopan.

"Pak Fauzi, tenang saja. Aku akan segera minta tanda tangan dari Pak Rendra. Proyeknya nggak akan tertunda."

"Terima kasih, Bu Clara. Maaf merepotkan."

"Nggak masalah, semua demi pekerjaan."

"Pak Rendra benar-benar beruntung punya istri sekaligus wakil sepertimu."

Clara hanya tersenyum, lalu mengantarnya sampai ke luar.

Begitu kembali, Miara datang membawakan makan siang. "Bu Clara, tadi hasil pemeriksaan di rumah sakit gimana?"

Clara membuka kotak makan sambil tersenyum. "Semuanya normal, nggak ada masalah."

Miara mengingatkan, "Tetap harus jaga kesehatan ya, Bu. Walaupun masih muda, tubuh juga bisa sakit kalau terus diforsir kerja."

Clara mengangguk. "Aku tahu kok. Aku bakal jaga diri."

Meskipun begitu, selesai makan, dia kembali tenggelam dalam tumpukan berkas. Malam pun tiba dan dia masih di kantor. Bukan karena suka lembur, tetapi karena di rumah tidak ada yang menunggunya. Lebih baik sibuk daripada sendirian dalam keheningan.

Sementara itu, Rendra menghadiri jamuan makan bisnis. Saat pembicaraan masih berlangsung, ponselnya berdering. Nama yang muncul adalah Delisha.

Rendra keluar dari ruangan untuk menjawab. "Rendra, ini sudah jam berapa? Kenapa belum pulang juga? Bisa nggak sih kamu buat Ibu tenang sedikit? Jadi suami baik itu susah ya?"

Rendra mematikan sisa rokoknya di asbak, lalu menjawab dengan malas, "Ibu ke Awana Bay?"

"Ya. Ibu mau tinggal di sini beberapa hari. Cepat pulang. Oh ya, sekalian jemput Clara. Dia masih lembur."

Rendra membuang rokoknya ke tong sampah. Dia terdiam sesaat sebelum menjawab dengan nada datar, "Ya, aku sudah tahu."

Setelah menutup telepon, dia memijat pelipisnya. Kepalanya terasa berat. Dia mencoba mencari nomor Clara di ponselnya, tetapi setelah beberapa saat, dia sadar dia bahkan tidak pernah menyimpan nomor wanita itu.

Nomornya pun tidak dia hafal. Akhirnya, karena harus melalui kantor juga, Rendra memutuskan langsung menjemputnya tanpa menelepon dulu.

Di kantor Grup Adresta, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Clara masih di sana, mengetik laporan dan menata dokumen untuk serah terima kerja.

Karena sudah mantap ingin bercerai, dia tahu posisinya sebagai wakil presdir pasti tidak bisa dipertahankan lagi. Jadi, dia berusaha menyelesaikan semuanya sebelum benar-benar pergi.

Kantor sudah sepi, hanya lampu dari beberapa ruangan yang masih menyala. Keheningan seperti ini sudah biasa baginya.

Saat sedang mengetik, pintu ruangannya diketuk. "Masuk," ucap Clara dengan suara lembut.

Begitu pintu terbuka, dia mendongak dan terkejut. Rendra berdiri di sana.

Clara sempat termangu, lalu menyapa, "Kamu belum pulang?"

Dia cepat-cepat berdiri, mengambil dokumen dari meja, dan berjalan menghampiri. "Proyek kerja sama dengan Perusahaan Maxim sudah siap mulai, tapi kontraknya belum kamu tandatangani. Aku tadi ke ruanganmu dua kali, tapi kamu nggak ada. Sekarang bisa ditandatangani?"

Rendra menatapnya sebentar sebelum mengambil dokumen dan membacanya sekilas. Kontrak itu tidak ada masalah, jadi dia langsung mengambil pulpen dan menandatangani beberapa lembar di posisi pihak pertama.

Clara menerima dan memeriksa sebentar, lalu berkata dengan tenang, "Sekarang aku cuma akan fokus di proyek ini. Setelah semua beres, aku akan ajukan surat pengunduran diri ke kamu dan dewan direksi."

Dia menambahkan, "Aku juga sudah buat perjanjian kerahasiaan. Setelah keluar nanti, aku nggak akan kerja di industri serupa dan semua data Grup Adresta akan tetap kurahasiakan. Coba kamu pikirkan, masih butuh syarat apa. Kalau ada, kita bisa persiapkan selama beberapa hari ini."

Clara bukan lulusan jurusan keuangan atau manajemen. Dia belajar teknik otomasi industri robotika, dengan mata kuliah pilihan sistem kendali cerdas.

Dulu saat berusia 16 tahun, dia diterima di Universitas Astram dengan nilai tertinggi seangkatan, yaitu 748 poin. Dia menjadi murid yang paling dibanggakan oleh para dosen.

Waktu masih SMP, Clara sudah bisa membuat model robot sendiri. Dia pernah ikut berbagai lomba, memenangkan banyak penghargaan, bahkan memiliki hak paten atas hasil karyanya.

Saat tahun terakhir kuliah, Universitas Astram dan dua universitas lain menawarinya jalur rekomendasi pascasarjana, sementara beberapa kampus ternama di luar negeri juga mengundangnya untuk melanjutkan studi.

Namun, demi Rendra, Clara menolak semuanya. Kini setelah akan bercerai, dia ingin kembali ke bidang aslinya dan melanjutkan pendidikan yang dulu dia tinggalkan.

Clara memang lebih suka berurusan dengan robot dan teknologi tinggi daripada rapat, laporan, dan senyuman basa-basi setiap hari.

Saat ini, ketika dia berbicara dengan Rendra soal urusan pekerjaan, rasanya dia bukan lagi istrinya, melainkan sekadar bawahannya.

Rendra menatap Clara dengan wajah datar, tiba-tiba merasa seperti sedang melihat orang lain. Clara sudah bukan Clara yang dulu. Tidak lagi hangat, tidak lagi bersinar, juga tidak lagi berusaha menyenangkan dirinya.

Rendra menatapnya lama. Entah sejak kapan, Clara yang berdiri di depannya sudah tidak sama seperti dulu. Dia tidak lagi berusaha menyenangkan dirinya.

Tanpa menanggapi ucapan Clara, Rendra berkata dengan dingin, "Ibu di Awana Bay. Kita pulang dulu, nanti baru bicara."

Clara masih ingin berbicara, tetapi akhirnya hanya mengangguk pelan. "Oke, aku bereskan dulu barang-barangku."

Setelah menutup laptop dan memasukkan berkas-berkas ke laci, Clara baru sadar kalau Rendra belum pergi duluan. Dia sedikit terkejut, tak menyangka kalau pria itu ternyata menunggunya.

Saat menatapnya, Clara melihat Rendra berbalik dan melangkah keluar lebih dulu. Baru setelah itu, Clara mengambil ponsel dan tasnya, mengikuti di belakang. Keduanya meninggalkan ruang kantor bersama-sama.

Di lift, Rendra menyelipkan tangan ke saku celana seperti biasa, sementara Clara berdiri diam di sampingnya. Bayangan mereka terpantul samar di pintu lift. Mereka terlihat lebih asing daripada orang asing.

Begitu tiba di lantai dasar, Maybach hitam Rendra sudah menunggu di depan. Clara membuka pintu belakang, sedangkan Rendra masuk ke kursi pengemudi.

Sebenarnya ada alasan Clara duduk di kursi belakang. Dulu tak lama setelah mereka menikah, nenek Rendra menyuruh Rendra membawanya ke rumah lama untuk makan malam. Saat itu, Clara sempat membuka pintu kursi penumpang di depan dan berniat naik. Namun, Rendra langsung mengunci pintunya.

Hari itu, suasananya canggung sepanjang jalan. Sejak kejadian itu, Clara tidak pernah lagi naik mobil Rendra. Malam ini benar-benar sebuah kebetulan.

Begitu mobil melaju, Clara menyilangkan tangan di dada. Tangan kanannya memegang ponsel. Dia menunduk membaca berita. Dia sama sekali tidak menatap Rendra, apalagi mengajaknya berbicara. Suasana di dalam mobil sunyi sekali.

Dulu, Clara selalu bersemangat berbagi hal-hal kecil dalam hidupnya dengan Rendra. Apa pun yang terjadi, orang pertama yang ingin dia beri tahu selalu dia. Namun, sejak tahu bahwa Rendra sengaja tidak mengangkat teleponnya, tidak membalas pesannya, bahkan sering berpura-pura tidak melihatnya, dia akhirnya belajar untuk diam.

Rendra juga tidak melontarkan sepatah kata pun kepadanya. Mereka hanya diam sepanjang perjalanan.

Hingga mobil masuk ke halaman dan mereka turun, Delisha langsung menyambut dengan senyuman hangat. "Clara, kamu sudah pulang. Ibu masak sup buat kamu. Ayo diminum dulu selagi hangat."

"Baik, Bu."

Delisha merangkul bahunya dan mengajaknya ke ruang makan, sama sekali tidak memedulikan Rendra. Rendra sendiri duduk begitu saja dan mulai makan tanpa bicara. Para pembantu pun mulai menyajikan makanan.

Delisha duduk di sebelah Clara. "Clara, Ibu rencananya mau tinggal beberapa hari di Awana Bay. Nggak apa-apa, 'kan?"

Clara segera menjawab, "Tentu nggak masalah. Ibu mau tinggal selama apa pun juga boleh."

Delisha langsung tersenyum lega karena mendapat persetujuan. Kemudian, dia menatap Rendra yang berwajah masam dan berkata, "Rendra, jangan lihat Ibu begitu. Kamu boleh keberatan, tapi percuma."

Dia menambahkan, "Mulai sekarang, setiap pulang kerja langsung ke rumah. Jangan terus-terusan keluyuran."

Faktanya, Delisha tinggal di sini untuk mengawasi Rendra. Dia sudah punya rencana sendiri. Dia berniat tinggal di Awana Bay sampai Clara hamil. Dia tidak percaya, masa dia kalah dari tipu daya Caroline?

Rendra mendongak dengan tidak acuh, lalu menjawab dengan malas, "Kalau aku nggak kerja, Ibu mau pakai uang dari mana?"

Delisha melotot. "Mana ada orang baik yang kerja lembur setiap malam? Pokoknya kamu harus pulang!"

Rendra memilih diam. Dia tahu percuma berdebat dengan Delisha yang begitu mendominasi. Lagi pula, begitu keluar dari rumah itu, siapa lagi yang bisa mengatur dirinya?

Clara pun mendongak melirik ke arah Rendra. Kalau pernikahan ini tidak segera berakhir, sepertinya hari-hari Rendra ke depan juga tidak akan tenang.

Setelah makan malam, pasangan muda itu duduk menemani Delisha sebentar di ruang tamu. Tak lama kemudian, Delisha menyuruh mereka naik untuk beristirahat. Setelah dia mengantar keduanya sampai ke kamar, barulah dia berbalik meninggalkan tempat itu.

Begitu pintu kamar tertutup, Rendra melepaskan jasnya dan melemparkannya secara asal ke sofa, lalu menggulung lengan kemejanya sampai ke siku. Kulitnya putih, dengan urat kebiruan yang tampak jelas di punggung tangannya.

Saat itu, ponselnya tiba-tiba berdering. Dia tidak langsung mengangkatnya. Rendra mengambil sebatang rokok dan pemantik api, menyalakannya, lalu baru berjalan ke arah jendela besar sambil menerima panggilan itu.

Asap rokok perlahan keluar dari bibirnya. Dia berkata, "Ibuku datang, malam ini aku nggak ke sana."

"Hmm, istirahatlah lebih awal."

"Oke."

"Ya."

Nada bicara Rendra terdengar sangat lembut dan penuh perhatian. Itu adalah sesuatu yang Clara belum pernah dengar darinya. Dia pun tidak merasa perlu menghindar, padahal Clara berdiri tak jauh di belakangnya.

Setelah menutup telepon, Rendra berjalan ke meja kopi, membungkuk santai, dan mematikan rokoknya di asbak. Aroma asap rokok menyebar di seluruh ruangan.

Clara merasa canggung untuk tetap berada di sana. Namun, jika pergi, dia takut Delisha akan tahu dan mulai bertanya-tanya. Delisha tidak bisa dikelabui seperti para pembantu.

Sementara itu, Rendra sama sekali tidak peduli. Dia tetap sibuk dengan urusan sendiri. Merokok, menelepon, lalu menyalakan laptop dan kembali bekerja, seolah-olah dunia di sekitarnya tidak ada siapa pun.

Terjebak dalam situasi yang serbasalah, Clara akhirnya menatap Rendra dan berkata, "Aku lihat di berita, sekarang katanya kalau mau cerai nggak perlu bawa kartu keluarga lagi. Gimana kalau kita urus dulu saja? Nanti baru kita beri tahu ayah dan ibumu."

Peraturan itu baru saja diberlakukan beberapa hari yang lalu. Begitu melihat beritanya, Clara merasa sangat lega.

Itu berarti, selama dia dan Rendra sepakat, mereka tidak perlu menunggu restu siapa pun untuk mengurus perceraian.

Mendengar itu, Rendra mendongak dan menatap Clara cukup lama. Dengan senyuman dingin, dia bertanya, "Kamu begitu nggak sabar mau cerai, apa kamu sudah punya orang lain di luar sana?"

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 367

    Renata tidak bisa berkata-kata.Mendengar pertanyaan lanjutan Miller, Renata baru tersadar bahwa dia terlalu banyak bicara dan hampir membuka aib Rendra di depan umum.Sambil memandang Miller dengan tatapan penuh pertimbangan, Renata memikirkan bagaimana harus menjawabnya. Saat itulah Jonas tersenyum dan mencoba meredakan suasana. "Dalam hubungan suami istri, pasti ada konflik. Rendra terlalu mencintai Clara. Obsesinya terlalu dalam.""Hanya saja, masa lalu ya sudah berlalu. Kalau Clara benar-benar cuma pergi, kalau mereka masih bisa bertemu lagi, aku yakin Rendra pasti akan memperjelas semua dengan Clara dan juga akan mendoakan kehidupan Clara yang sekarang."Bertahun-tahun berkecimpung di dunia bisnis, Jonas memang jauh lebih cerdik. Beberapa perkataan itu juga sebenarnya ditujukan untuk Clara. Terlepas apakah dia benar Clara atau bukan, kata-kata itu tidak akan salah.Saat Jonas mengatakan semua itu, pandangannya terus tertuju pada Clara. Clara mendengarkan dengan tenang, seolah-ola

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 366

    Dia bertanya, "Masih belum melupakannya?"Mendengar pertanyaan Miller, Clara menatap matanya dan menjawab dengan tegas, "Bukan."Melupakan, tentu saja tidak mungkin. Bagaimanapun juga, mereka tumbuh bersama sejak kecil, sudah saling mengenal lebih dari 20 tahun.Hanya saja, sebatas tidak lupa. Tidak ada lagi perasaan lain. Bahkan Rendra tidak bisa dianggap orang asing baginya.Melihat tatapan Clara yang begitu tegas, ibu jari Miller mengusap pelan dagunya dan berkata dengan lembut, "Clara, aku nggak ingin kamu mengulang kesalahan yang sama. Aku harap pelarianmu dua tahun lalu membuatmu benar-benar memahami semuanya. Aku juga nggak ingin kamu menempuh jalan yang sama seperti Calla."Mendengar pengingat itu, tatapan Clara tetap teguh. "Aku tahu, Kak."Panggilan "Kak" dari Clara membuat Miller tertegun sejenak. Biasanya saat berdua saja, dia tidak pernah memanggilnya kakak. Hanya di depan orang luar, dia akan memanggil begitu.Setelah tersadar, jari Miller menyapu lembut bibirnya, lalu di

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 365

    Cip yang mereka luncurkan tahun lalu saat IPO benar-benar menampar keras perusahaan-perusahaan luar negeri yang katanya sangat hebat itu. Mereka sama sekali tidak gentar.Namun, Calla berbeda dari orang lain. Rendra tetap ingin memperjuangkan kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh, ingin memastikan apakah dia benar-benar Clara. Dia hanya ingin tahu itu, tidak ada tujuan lain.Mendengar perintah Rendra, Frandy segera pergi mengurusnya.Di hotel, para pimpinan Kota Gianora sedang melakukan pendekatan kepada Miller, menanyakan mengapa dia tidak bekerja sama dengan Grup Adresta. Mereka mengatakan bahwa dari segi kekuatan finansial dan teknologi, Grup Adresta adalah yang paling cocok, terutama dari sisi dana.Mereka juga mengatakan bahwa ini bukan sekadar kerja sama bisnis, tetapi juga menunjukkan sikap kedua tim kepada pihak luar.Di samping, Clara mendengarkan perkataan pimpinan itu, hanya memandangi mereka tanpa menyampaikan pendapat apa pun.Setelah selesai menyampaikan alasannya, pimp

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 364

    Setelah melakukan beberapa kali pemahaman dan penjajakan, pihak manajemen dan tim teknis Grup Solara sebenarnya lebih mencondong ke StarTech dan Grup Adresta.Namun, karena adanya prasangka terhadap Rendra, Miller tidak membicarakan kerja sama dengannya. Miller hanya mengatakan bahwa mereka masih dalam tahap observasi dan pertimbangan.Selama periode itu, Grup Nexus diam-diam beberapa kali menemui penanggung jawab lain dari Grup Solara, ingin membicarakan kemungkinan kerja sama dan berusaha mendapatkan kesempatan. Beberapa penanggung jawab tersebut memang sempat bertemu Caroline dan Edward, tetapi Miller tidak pernah menemui mereka.Kerja sama tentu saja tidak tercapai.....Pagi itu, setelah kembali ditolak oleh Miller, Caroline duduk di depan meja kerjanya. Dia memegang ponsel dan menatap foto-foto Clara dalam beberapa rapat sebelumnya.Calla mirip dengan Clara, hal itu sudah lama Caroline dengar dari orang lain. Namun, dia tidak pernah tahu seberapa miripnya. Saat melihat foto itu s

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 363

    Miller tidak terlalu khawatir terhadap Rendra. Namun, kemunculan Renata membuatnya cemas Clara akan menunjukkan celah. Dia tidak ingin Clara memperlihatkan kelemahan dan lebih tidak ingin lagi Clara terlibat lagi dengan Keluarga Adresta dalam bentuk apa pun, bahkan dengan adik yang tidak bersalah itu.Atas peringatannya, Clara berkata lembut, "Aku tahu. Aku akan menjaga jarak." Dia menambahkan, "Setelah urusan di sini selesai, aku akan segera kembali."Mendengar pemahamannya dan melihat bahwa mereka sepakat dalam hal ini, tatapan Miller langsung melembut. Dia berkata, "Kerja nggak perlu terlalu dipaksakan. Istirahatmu yang paling penting. Nggak perlu terburu-buru mengejar waktu dan progres."Saat Clara pergi ke rumah sakit untuk terapi, Miller pernah menemaninya. Dia mendengar Clara berbicara dengan dokter tentang fase somatisasi, saat dia tidak bisa bergerak, tidak bisa berbicara, dan harus menjalani masa pemulihan di rumah. Sejak itu, dia tidak pernah berpikir membiarkan Clara kembal

  • Pernikahan Lelucon: Cinta Tulus Lenyap Bersama Abu   Bab 362

    Keyakinan Renata membuat hati Rendra yang semula tenang, kembali bergejolak. Dia memang memiliki perasaan yang sama. Hanya saja, dia tidak berani lagi mengganggu.Setelah Clara tiada dua tahun lalu, Rendra sangat takut mengusik kehidupan Calla. Walaupun ingin menyelidiki sampai tuntas, dia tetap tidak berani melangkah gegabah. Jika tragedi dua tahun lalu terulang lagi, hidupnya pun tidak ada artinya lagi.Menjelang pukul sebelas, rombongan tiba di laboratorium. Setelah melewati pemeriksaan keamanan dan masuk ke kawasan, tatapan Renata seolah menempel pada Clara tanpa berpindah sedetik pun.Hari ini, dia memang datang demi Clara.Di sisi lain, Clara sudah lama menyadari tatapan Renata.Saat dia memasuki ruang rapat tadi pagi, Clara sudah menyadarinya.Orang yang paling dia takuti dan paling membuatnya gugup untuk bertemu dalam kepulangannya ke Kota Ardivo kali ini adalah Renata. Untungnya, dia sudah menyiapkan mentalnya dengan baik, sehingga dia masih bisa tetap tenang tanpa menunjukkan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status