MasukMalam itu Andini belum memejamkan mata, ia masih menatap layar ponselnya. Memeriksa CCTV yang ia pasang, meski tak sekalipun ia mendapatkan sebuah kejutan.
“Mungkin benar, Fahmi ke tempat bilyard,” gumam Andini.
Tak lama terdengar suara mesin mobil yang menepi di halaman rumahnya. Ia segera beranjak dari tempat tidur,melihat ke luar jendela. Setelah tahu itu Fahmi, Andini buru-buru keluar kamar dan turun ke lantai dua.
Sebelum Fahmi menginjak teras depan, Andini sudah berdiri di ambang pintu. Ada sesuatu yang hendak ia tanyakan pada Bagas. Tetapi,harus menunggu dulu Fahmi masuk ke rumah.
“Kamu belum tidur?” tanya Fahmi menatap Andini.
“Belum, aku gak bisa tidur,” jawab Andini menyambut Fahmi lalu memeluknya.
“Ya sudah, ayo masuk,” ajak Fahmi mengelus rambut halus Andini yang mengeluarkan aroma harum blossom.
“Kamu duluan aja, aku mau menghirup udara segar dulu, kamu kan tahu ritual aku jika tidak bisa tidur.” Andini menempelkan kedua telapak tangannya di pipi Fahmi. Wanita itu harus menjinjitkan kakinya sedikit.
“Kebiasaan kamu itu harus dihilangkan, angin malam bukan solusi untuk bisa tidur,” ujar Fahmi, ia berlalu membawa tas selempang branded nya di lengan sebelah kiri.
Andini memastikan Fahmi benar-benar masuk ke dalam rumah. Ia mendekati Bagas yang sedang memarkirkan mobil untuk dimasukan ke garasi.
“Pak Bagas!” seru Andini mengetuk kaca mobil.
Bagas mematikan mesin mobil, ia keluar dengan wajah ditekuk.
“Tadi Fahmi beneran ke tempat bilyard?” tanya Andini penasaran.
“Iya nyonya,” jawab Bagas.
“Dia ….” Andini celingukan sebentar, memastikan tidak ada yang mengintip dari jendela ataupun di balik tembok, kemudian melanjutkan, “bertemu dengan siapa saja?”
“Hanya dengan sahabatnya nyonya, lalu ada pak Julian juga,” jelas Bagas mengatakan yang sebenarnya. “permisi nyonya, saya … mau memasukan mobil dulu.”
Andini hanya diam, ia percaya pada Bagas. Setelah puas dengan rasa penasarannya,Andini masuk kembali ke rumah dan menuju kamar tidur.
“Sudah?” tanya Fahmi saat Andini masuk.
“Mana martabak Bangka ku?” tanya Andini mencecarnya.
Fahmi menepuk jidatnya, diiringi tertawaan.
“Astaga! Aku lupa, minta maaf ya sayang,” bujuk Fahmi kedua tangannya memohon.
Andini melotot garang,ia mencubit kecil pinggang Fahmi hingga CEO itu meringis kesakitan. Andini begitu puas melihat ekspresi wajah Fahmi.
Mereka saling bersenda gurau, melempar cubitan. Hal yang tidak pernah lagi mengisi keheningan ruangan itu. Semenjak Andini sibuk dengan butik, mereka bertemu pun jarang. Seketika tubuh Andini berada di bawah Fahmi. Nafas keduanya berat, mereka saling pandang. Segala kekecewaan Andini terhadap Fahmi hilang sejenak.
“Kamu selalu cantik,” puji Fahmi, ia mencium kening sekaligus kedua pipi istrinya itu.
“Selalu saja menggodaku,” balas Andini.
“Aku tidak menggoda, aku serius kamu selalu membuatku jatuh cinta setiap hari,” ujar Fahmi.
Ia menggerayangi Andini penuh gairah. Sehingga Andini pun larut dalam nafsu membara. Kecupan menepi di bibir Andini yang lembut dan kenyal. Warna pink alami nya selalu membuat Fahmi tergoda.
Tubub keduanya mulai berpeluh, apalagi saat Fahmi membuka gaun tidur yang dipakai Andini. Menampakan bagian atas tubuhnya, membuat Fahmi makin beringas dan menuju ke puncaknya. Satu persatu yang melekat pada Andinj terhempas, giliran bagian bawah. Namun, ada sesuatu yang membuat Fahmi kesal. Benda yang paling di benci Fahmi saat Andini datang bulan.
“Aku … lagi menstruasi,” ucap Andini singkat, membuat Fahmi putus asa.
Ia merubuhkan badan di samping Andini, seraya mengatur nafas.
“Berapa lama?” tanya Fahmi mengeluh.
“Satu minggu,” tutur Andini menu
tupi tubuhnya dengan selimut tebal berwarna abu-abu itu.
Andini masih terdiam dalam tatapannya pada Indri. Hingga wanita berusia lebih muda darinya itu jadi salah tingkah. “Mbak Andini,” sapa Indri melambaikan tangan di depan wajah Andini dengan tatapan kosong. Sekali lagi, ia terjerat dalam pikirannya. Andini mengerjap sambil tersipu malu. “Kelihatannya Mbak Andini lagi banyak pikiran ya?” tebak Indri penasaran memiringkan kepalanya. “Iya, sedikit sih cuman … selalu kepikiran,” jelas Andini melantur. Ia beranjak menuju dispenser, jari telunjuknya menekan tombol air dingin. Hingga satu gelas penuh, Andini meneguk air putih itu hingga habis. Parinya terasa sesak,ia mengatir nafas yang tersengal-sengal itu. “Kalau Mbak mau cerita, Mbak boleh cerita sama saya,” ucap Indri agu-ragu. Ia masih memandangi Andini dengan wajah penasaran. “Memangnya kamu sanggup mendengarkan semua ceritaku,” ledek Andini memicingkan matanya, “aku takut kamu nanti malah overthinking sama suami kamu.” “Ha-ha-ha … apa hubungannya dengan suamiku?” tanya Indri bahu
“Andini, kamu kenapa?” Jessica membuyarkan lamunan Andini. Ia terperanjat dengan jantung yang berdegup kencang. “Eh, nggak.” Andini menstabilkan dirinya, “emh … Jess, aku mau interview dulu Indri, boleh?” “Boleh dong, ya udah aku keluar ya,” ujar Jessica, ia mengambil tas miliknya lalu meninggalkan ruangan itu. Hanya ada Andini dan Indri berdua saja. Ruangan itu penuh hening sebelum Andini memulai percakapan. “Kamu … udah berapa lama gabung di queen Management?” tanya Andini sedikit gugup.“Sudah hampir satu tahun Mbak, tadinya saya kerja di Malaysia jadi asisten salah satu artis di sana,” jelas Indri tatapannya penuh haru. “Oh, berarti kamu sudah paham dunia entertainment sejak kamu bekerja di Malaysia?” Indri mengangguk sambil terus menyimpulkan senyuman manisnya. Andini melanjutkan beberapa pertanyaan. “Kamu masih single atau sudah menikah? maaf ya aku tanya gini,” ucap Andini.“Its okay, Mbak aku … sudah menikah,” jelas Indri menjawab dengan ragu, “baru satu minggu yang lal
Cahaya matahari masuk menyorot seluruh ruangan saat Andini membuka gorden kamar. Cahaya itu menyinari sebagian wajah Fahmi yang masih tertidur setengah pulas. Sehingga, ia mengerjap karena silau. “Sayang,” kata Fahmi suaranya parau. Andini cekikikan, lalu duduk di samping Fahmi dan berkata sambil menyisir rambut, “Hari ini aku harus ke butik, ada seseorang yang ingin bertemu.” “Siapa?” tanya Fahmi seraya minum air putih yang telah disediakan Andini. “Jessica dan Influencer yang nantinya akan jadi brand ambassador sekaligus konten kreator di butik,” jelas Andini senang. “Oke, tapi kamu sarapan dulu,” perintah Fahmi mengelus setiap helai rambut milik Andini. “Sudah, sarapan untuk kamu sudah aku siapkan, baju kerja sudah, jam tangan sudah dan semuanya …,” tutur Andini. “Kenapa kamu gak bangunin aku?” Fahmi menggerakan tangannya ke atas, lalu memutar pinggang ke kanan dan kiri bergantian. Terdengar bunyi krek dari setiap persendian. “Kamu tidur pulas banget, aku gak tega bangunin
Malam itu Andini belum memejamkan mata, ia masih menatap layar ponselnya. Memeriksa CCTV yang ia pasang, meski tak sekalipun ia mendapatkan sebuah kejutan. “Mungkin benar, Fahmi ke tempat bilyard,” gumam Andini.Tak lama terdengar suara mesin mobil yang menepi di halaman rumahnya. Ia segera beranjak dari tempat tidur,melihat ke luar jendela. Setelah tahu itu Fahmi, Andini buru-buru keluar kamar dan turun ke lantai dua.Sebelum Fahmi menginjak teras depan, Andini sudah berdiri di ambang pintu. Ada sesuatu yang hendak ia tanyakan pada Bagas. Tetapi,harus menunggu dulu Fahmi masuk ke rumah. “Kamu belum tidur?” tanya Fahmi menatap Andini. “Belum, aku gak bisa tidur,” jawab Andini menyambut Fahmi lalu memeluknya.“Ya sudah, ayo masuk,” ajak Fahmi mengelus rambut halus Andini yang mengeluarkan aroma harum blossom. “Kamu duluan aja, aku mau menghirup udara segar dulu, kamu kan tahu ritual aku jika tidak bisa tidur.” Andini menempelkan kedua telapak tangannya di pipi Fahmi. Wanita itu har
"Kamu main bilyard sama siapa aja?" tanya Andini sambil membetulkan jaket Fahmi. Ia meraba keseluruhan dada bidang Fahmi. Tercium aroma parfum yang begitu menyengat, sehingga Andini sedikit ingin batuk. "Seperti biasa, Aditya, Raihan ... Sebelum itu aku akan menemui pak Julian," jelas Fahmi. Andini memicingkan mata seraya mencibir, "pak Julian atau Julia?" "Pak Julian sayang, dia tadi menelponku katanya ada hal penting yang mau dibicarakan, mudah-mudahan dia ingin menambah jumlah investasinya di perusahaanku." Fahmi terbahak-bahak, ia tampak geli dengan ucapan percaya dirinya tersebut. Andini hanya tersenyum getir, lalu memeluk tubub atletis Fahmi yang kekar dan tinggi. Apabila dia berdiri di samping suaminya ia harus menengadahkan kepalanya saking tinggi. "Oke kalau begitu, have fun," "Aku janji gak akan pulang larut malam lagi, aku juga akan membawakan martabak Bangka kesukaanmu," tutur Fahmi mencium kening Andini. Lelaki berpostur lebih tinggi dari Andini itu memasuki mobil
Perkataan Fahmi masih membekas. Apakah itu penyebab Fahmi berselingkuh dengan wanita lain? Ia berjalan menuju halaman belakang rumah, untuk sekadar menenangkan diri. Menikmati suara air mancur yang gemericik. Tampak Bagas tengah duduk santai sambil mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk. "Pak Bagas," sapa Andini menghampiri sopir pribadi suaminya itu. Bagas menoleh ke arah sumber suara, ia begitu kaget. Matanya melebar, takut jika Andini akan bertanya sesuatu tentang Fahmi. "Nyo-nya," sahutnya gagap. Andini celingukan, memastikan tak ada Fahmi di sekitar halaman. "ada yang mau saya tanyakan." Perkataan itu membuat Bagas mati kutu. Ia makin gelagapan salah tingkah. "Apa ... Nyonya?" tanya Bagas terbata-bata. "Pak Bagas tau tentang apartemen edelweis?" tanya Andini mengecilkan volume suara. "Apartemen? Tidak, Nyonya," jawab Bagas. "Yakin? Pak Bagas adalah asisten suami saya,seharusnya kamu tahu apa yang dilakukan suami saya," cecar Andini ia sedikit mendekatkan dir







