Masuk"Kamu main bilyard sama siapa aja?" tanya Andini sambil membetulkan jaket Fahmi. Ia meraba keseluruhan dada bidang Fahmi. Tercium aroma parfum yang begitu menyengat, sehingga Andini sedikit ingin batuk.
"Seperti biasa, Aditya, Raihan ... Sebelum itu aku akan menemui pak Julian," jelas Fahmi.
Andini memicingkan mata seraya mencibir, "pak Julian atau Julia?"
"Pak Julian sayang, dia tadi menelponku katanya ada hal penting yang mau dibicarakan, mudah-mudahan dia ingin menambah jumlah investasinya di perusahaanku." Fahmi terbahak-bahak, ia tampak geli dengan ucapan percaya dirinya tersebut.
Andini hanya tersenyum getir, lalu memeluk tubub atletis Fahmi yang kekar dan tinggi. Apabila dia berdiri di samping suaminya ia harus menengadahkan kepalanya saking tinggi.
"Oke kalau begitu, have fun,"
"Aku janji gak akan pulang larut malam lagi, aku juga akan membawakan martabak Bangka kesukaanmu," tutur Fahmi mencium kening Andini.
Lelaki berpostur lebih tinggi dari Andini itu memasuki mobil pajero sport miliknya. Ia duduk di sebelah kiri, mobil itu dikemudikan Bagas, Fahmi membuka sedikit kaca mobil dan sekilas tersenyum. Andini membalas sambil melambaikan tangannya.
Perlahan mobil itu bergerak maju menuju ke jalanan komplek. Hingga memasuki jalan raya yang ramai dan padat kendaraan. Lampu-lampu roda empat dan dua saling menyoroti jalanan.
"Apa yang tadi Andini tanyakan?" tanya Fahmi seraya meminum air mineral dalam botol.
Bagas terdiam, ia sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan majikan laki-lakinya itu.
"Pak Bagas mendengar saya?"
"I-iya Tuan mendengar," jawab Bagas gugup.
"Lalu apa yang tadi kalian bicarakan?" tanya Fahmi sedikit memaksa.
"Nyonya ... hanya menanyakan dengan ... siapa saja Tuan bertemu dan bagaimana keadaan di Bali," jelas Bagas berhati-hati.
Fahmi mendelik sinis, ia mengangkat sudut bibir kanannya.
“Pak Bagas pikir saya percaya?”
Mendengar itu Bagas memalingkan wajah sebentar, ia merasakan degupan jantungnya yang seperti diburu.
“Saya bisa saja meminta pak Bagas mengembalikan uang yang telah saya berikan, dan setelah itu pak Bagas boleh tidak bekerja lagi dengan saya,” ancam Fahmi.
“Ja-jangan Tuan … tadi … nyonya meminta saya … untuk mengawasi Tuan,” ungkap Bagas takut.
Fahmi terkejut, ia menoleh ke arah Bagas dan bertanya, “apa dia tahu tentang pernikahan saya?”
“Tidak tuan, mungkin nyonya sedikit curiga,” ujar Bagas.
“Curiga?” gumam Fahmi seraya menggigit bibir bawahnya, ia menatap ke luar jendela. Tampak bias bayangan dirinya di kaca mobil.
“Tapi,pak Bagas tidak memberitahu Andini soal itu?”
“Tidak tuan,”
“Ha-ha-ha, kamu pikir aku tidak tahu?!” tegas Fahmi suaranya menggelegar.
Suasana makin mencekam dalam mobil itu, berkali-kali Bagas kehilangan fokus menyetir. Mobil itu berbelok ke sembarang arah karena ketakutan dan rasa cemas yang dialami Bagas.
“Aku mendengar jika Andini membahas soal apartemen, betul?”
Fahmi terus mencecar Bagas, agar dia mengakui percakapannya dengan Andini.
“Tuan, saya tidak memberitahu soal apartemen itu,” keluh Bagas.
“Lalu, darimana Andini tahu jika aku memiliki apartemen kalau bukan dari orang yang sering bersamaku,” sindir Fahmi.
“Saya tidak tahu tuan, tiba-tiba saja nyonya menanyakan itu pada saya,” ujar Bagas.
“Lalu kamu jawab apa?” Fahmi menekan pembicaraan, ia sedikit tersulut emosi.
“Saya jawab, tidak tahu,” sahut Bagas gemetar.
“Berapa Andini membayarmu?” tanya Fahmi memancing.
Bagas menelan salivanya, ia bagai buah simalakama, sangat terjebak.
“Seratus juta tuan,” jawab Bagas suaranya pelan.
Fahmi terbelalak, jumlah uang itu memang tidak melebihi uang yang diberikan Fahmi.
“Saya membayar pak Bagas dua ratus juta, apa masih belum cukup?!” behtak Fahmi.
“Saya bingung tuan, saya juga masih butuh uang untuk biaya sekolah anak saya, juga biaya operasi istri saya yang hampir setengah milyar,” rintih Bagas sesekali pria paruh baya itu mengusap kedua matanya karena berlinangan air mata.
“Saya akan tambahkan lagi jadi tiga ratus juta, tapi jangan pe
rnah … berkata apapun pada Andini!”
“Andini, kamu kenapa?” Jessica membuyarkan lamunan Andini. Ia terperanjat dengan jantung yang berdegup kencang. “Eh, nggak.” Andini menstabilkan dirinya, “emh … Jess, aku mau interview dulu Indri, boleh?” “Boleh dong, ya udah aku keluar ya,” ujar Jessica, ia mengambil tas miliknya lalu meninggalkan ruangan itu. Hanya ada Andini dan Indri berdua saja. Ruangan itu penuh hening sebelum Andini memulai percakapan. “Kamu … udah berapa lama gabung di queen Management?” tanya Andini sedikit gugup.“Sudah hampir satu tahun Mbak, tadinya saya kerja di Malaysia jadi asisten salah satu artis di sana,” jelas Indri tatapannya penuh haru. “Oh, berarti kamu sudah paham dunia entertainment sejak kamu bekerja di Malaysia?” Indri mengangguk sambil terus menyimpulkan senyuman manisnya. Andini melanjutkan beberapa pertanyaan. “Kamu masih single atau sudah menikah? maaf ya aku tanya gini,” ucap Andini.“Its okay, Mbak aku … sudah menikah,” jelas Indri menjawab dengan ragu, “baru satu minggu yang lal
Cahaya matahari masuk menyorot seluruh ruangan saat Andini membuka gorden kamar. Cahaya itu menyinari sebagian wajah Fahmi yang masih tertidur setengah pulas. Sehingga, ia mengerjap karena silau. “Sayang,” kata Fahmi suaranya parau. Andini cekikikan, lalu duduk di samping Fahmi dan berkata sambil menyisir rambut, “Hari ini aku harus ke butik, ada seseorang yang ingin bertemu.” “Siapa?” tanya Fahmi seraya minum air putih yang telah disediakan Andini. “Jessica dan Influencer yang nantinya akan jadi brand ambassador sekaligus konten kreator di butik,” jelas Andini senang. “Oke, tapi kamu sarapan dulu,” perintah Fahmi mengelus setiap helai rambut milik Andini. “Sudah, sarapan untuk kamu sudah aku siapkan, baju kerja sudah, jam tangan sudah dan semuanya …,” tutur Andini. “Kenapa kamu gak bangunin aku?” Fahmi menggerakan tangannya ke atas, lalu memutar pinggang ke kanan dan kiri bergantian. Terdengar bunyi krek dari setiap persendian. “Kamu tidur pulas banget, aku gak tega bangunin
Malam itu Andini belum memejamkan mata, ia masih menatap layar ponselnya. Memeriksa CCTV yang ia pasang, meski tak sekalipun ia mendapatkan sebuah kejutan. “Mungkin benar, Fahmi ke tempat bilyard,” gumam Andini.Tak lama terdengar suara mesin mobil yang menepi di halaman rumahnya. Ia segera beranjak dari tempat tidur,melihat ke luar jendela. Setelah tahu itu Fahmi, Andini buru-buru keluar kamar dan turun ke lantai dua.Sebelum Fahmi menginjak teras depan, Andini sudah berdiri di ambang pintu. Ada sesuatu yang hendak ia tanyakan pada Bagas. Tetapi,harus menunggu dulu Fahmi masuk ke rumah. “Kamu belum tidur?” tanya Fahmi menatap Andini. “Belum, aku gak bisa tidur,” jawab Andini menyambut Fahmi lalu memeluknya.“Ya sudah, ayo masuk,” ajak Fahmi mengelus rambut halus Andini yang mengeluarkan aroma harum blossom. “Kamu duluan aja, aku mau menghirup udara segar dulu, kamu kan tahu ritual aku jika tidak bisa tidur.” Andini menempelkan kedua telapak tangannya di pipi Fahmi. Wanita itu har
"Kamu main bilyard sama siapa aja?" tanya Andini sambil membetulkan jaket Fahmi. Ia meraba keseluruhan dada bidang Fahmi. Tercium aroma parfum yang begitu menyengat, sehingga Andini sedikit ingin batuk. "Seperti biasa, Aditya, Raihan ... Sebelum itu aku akan menemui pak Julian," jelas Fahmi. Andini memicingkan mata seraya mencibir, "pak Julian atau Julia?" "Pak Julian sayang, dia tadi menelponku katanya ada hal penting yang mau dibicarakan, mudah-mudahan dia ingin menambah jumlah investasinya di perusahaanku." Fahmi terbahak-bahak, ia tampak geli dengan ucapan percaya dirinya tersebut. Andini hanya tersenyum getir, lalu memeluk tubub atletis Fahmi yang kekar dan tinggi. Apabila dia berdiri di samping suaminya ia harus menengadahkan kepalanya saking tinggi. "Oke kalau begitu, have fun," "Aku janji gak akan pulang larut malam lagi, aku juga akan membawakan martabak Bangka kesukaanmu," tutur Fahmi mencium kening Andini. Lelaki berpostur lebih tinggi dari Andini itu memasuki mobil
Perkataan Fahmi masih membekas. Apakah itu penyebab Fahmi berselingkuh dengan wanita lain? Ia berjalan menuju halaman belakang rumah, untuk sekadar menenangkan diri. Menikmati suara air mancur yang gemericik. Tampak Bagas tengah duduk santai sambil mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk. "Pak Bagas," sapa Andini menghampiri sopir pribadi suaminya itu. Bagas menoleh ke arah sumber suara, ia begitu kaget. Matanya melebar, takut jika Andini akan bertanya sesuatu tentang Fahmi. "Nyo-nya," sahutnya gagap. Andini celingukan, memastikan tak ada Fahmi di sekitar halaman. "ada yang mau saya tanyakan." Perkataan itu membuat Bagas mati kutu. Ia makin gelagapan salah tingkah. "Apa ... Nyonya?" tanya Bagas terbata-bata. "Pak Bagas tau tentang apartemen edelweis?" tanya Andini mengecilkan volume suara. "Apartemen? Tidak, Nyonya," jawab Bagas. "Yakin? Pak Bagas adalah asisten suami saya,seharusnya kamu tahu apa yang dilakukan suami saya," cecar Andini ia sedikit mendekatkan dir
Andini membisu sepanjang perjalanan pulang, ia begitu syok. “Sabar ya Mbak,” hibur Sintya matanya fokus ke jalanan. Andini hanya tersenyum sebentar, setelah itu kembali murung. Mereka sudah tiba di depan pintu gerbang rumah Andini. Mata Andini terbelalak saat melihat mobil berwarna putih di halamanya. “Itu Mas Fahmi udah pulang,” cetus Sintya. “Iya,” sahut Andini singkat, ia melepaskan sabuk pengaman dari badannya. “Mbak, kamu bersikap seperti biasa ya jangan dulu aneh-aneh,” pinta Sintya. Andini mengangguk, ia menyiapkan wajah manisnya sebelum turun dari mobil. “Kamu gak mampir dulu?” tanya Andini seraya membuka pintu mobil. “Lain kali aja,” Ia mengatur nafas sebelum memasuki rumah mewah berlantai dua itu. Perlahan kakinya melangkah menuju pintu utama. Tangannya sedikit gemetar saat memegang gagang pintu. Namun, Andini harus bisa mengendalikan emosinya. “Surprise!” seruan itu membuat Andini terperanjat saat sudah berada di dalam rumah. Tampak, Fahmi dan asisten rumah tangga







