Share

#6 Simalakama

Author: Brown Sugar
last update publish date: 2026-06-05 22:12:06

"Kamu main bilyard sama siapa aja?" tanya Andini sambil membetulkan jaket Fahmi. Ia meraba keseluruhan dada bidang Fahmi. Tercium aroma parfum yang begitu menyengat, sehingga Andini sedikit ingin batuk. 

"Seperti biasa, Aditya, Raihan ... Sebelum itu aku akan menemui pak Julian," jelas Fahmi. 

Andini memicingkan mata seraya mencibir, "pak Julian atau Julia?" 

"Pak Julian sayang, dia tadi menelponku katanya ada hal penting yang mau dibicarakan, mudah-mudahan dia ingin menambah jumlah investasinya di perusahaanku." Fahmi terbahak-bahak, ia tampak geli dengan ucapan percaya dirinya tersebut. 

Andini hanya tersenyum getir, lalu memeluk tubub atletis Fahmi yang kekar dan tinggi. Apabila dia berdiri di samping suaminya ia harus menengadahkan kepalanya saking tinggi. 

"Oke kalau begitu, have fun," 

"Aku janji gak akan pulang larut malam lagi, aku juga akan membawakan martabak Bangka kesukaanmu," tutur Fahmi mencium kening Andini. 

Lelaki berpostur lebih tinggi dari Andini itu memasuki mobil pajero sport miliknya. Ia duduk di sebelah kiri, mobil itu dikemudikan Bagas, Fahmi  membuka sedikit kaca mobil dan sekilas tersenyum. Andini membalas sambil melambaikan tangannya. 

Perlahan mobil itu bergerak maju menuju ke jalanan komplek. Hingga memasuki jalan raya yang ramai dan padat kendaraan. Lampu-lampu roda empat dan dua  saling menyoroti jalanan. 

"Apa yang tadi Andini tanyakan?" tanya Fahmi seraya meminum air mineral dalam botol. 

Bagas terdiam, ia sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan majikan laki-lakinya itu. 

"Pak Bagas mendengar saya?" 

"I-iya Tuan mendengar," jawab Bagas gugup. 

"Lalu apa yang tadi kalian bicarakan?" tanya Fahmi sedikit memaksa. 

"Nyonya ... hanya menanyakan dengan ... siapa saja Tuan bertemu dan bagaimana keadaan di Bali," jelas Bagas berhati-hati. 

Fahmi mendelik sinis, ia mengangkat sudut bibir kanannya. 

“Pak Bagas pikir saya percaya?” 

Mendengar itu Bagas memalingkan wajah sebentar, ia merasakan degupan jantungnya yang seperti diburu. 

“Saya bisa saja meminta pak Bagas mengembalikan uang yang telah saya berikan, dan setelah itu pak Bagas boleh tidak bekerja lagi dengan saya,” ancam Fahmi. 

“Ja-jangan Tuan … tadi … nyonya meminta saya … untuk mengawasi Tuan,” ungkap Bagas takut. 

Fahmi terkejut, ia menoleh ke arah Bagas dan bertanya, “apa dia tahu tentang pernikahan saya?” 

“Tidak tuan, mungkin nyonya sedikit curiga,” ujar Bagas. 

“Curiga?” gumam Fahmi seraya menggigit bibir bawahnya, ia menatap ke luar jendela. Tampak bias bayangan dirinya di kaca mobil. 

“Tapi,pak Bagas tidak memberitahu Andini soal itu?” 

“Tidak tuan,” 

“Ha-ha-ha, kamu pikir aku tidak tahu?!” tegas Fahmi suaranya menggelegar. 

Suasana makin mencekam dalam mobil itu, berkali-kali Bagas kehilangan fokus menyetir. Mobil itu berbelok ke sembarang arah karena ketakutan dan rasa cemas yang dialami Bagas. 

“Aku mendengar jika Andini membahas soal apartemen, betul?” 

Fahmi terus mencecar Bagas, agar dia mengakui percakapannya dengan Andini. 

“Tuan, saya tidak memberitahu soal apartemen itu,” keluh Bagas. 

“Lalu, darimana Andini tahu jika aku memiliki apartemen kalau bukan dari orang yang sering bersamaku,” sindir Fahmi. 

“Saya tidak tahu tuan, tiba-tiba saja nyonya menanyakan itu pada saya,” ujar Bagas. 

“Lalu kamu jawab apa?” Fahmi menekan pembicaraan, ia sedikit tersulut emosi. 

“Saya jawab, tidak tahu,” sahut Bagas gemetar. 

“Berapa Andini membayarmu?” tanya Fahmi memancing. 

Bagas menelan salivanya, ia bagai buah simalakama, sangat terjebak. 

“Seratus juta tuan,” jawab Bagas suaranya pelan. 

Fahmi terbelalak, jumlah uang itu memang tidak melebihi uang yang diberikan Fahmi. 

“Saya membayar pak Bagas dua ratus juta, apa masih belum cukup?!” behtak Fahmi. 

“Saya bingung tuan, saya juga masih butuh uang untuk biaya sekolah anak saya, juga biaya operasi istri saya yang hampir setengah milyar,” rintih Bagas sesekali pria paruh baya itu mengusap kedua matanya karena berlinangan air mata. 

“Saya akan tambahkan lagi jadi tiga ratus juta, tapi jangan pe

rnah … berkata apapun pada Andini!” 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #29

    "Bagaimana bisa dihubungi?" tanya Fahmi dengan nada panik, pandangannya tidak fokus berkali-kali menoleh jok belakang tempat Andini duduk. Andini menggeleng, tanpa menatap Fahmi. Ia merasa begitu bodoh, harus mengikuti permintaan Fahmi. Tidak ada suara keluar dari mulut wanita itu, sejak memasuki mobil. Ia hanya menatap ke luar jendela, memandangi jalanan Ibukota yang selalu ramai. "Sialan!" decak Fahmi menghantam stir mobilnya. "Coba pakai ponsel kamu Mas," bujuk Sintya yang duduk di sampingnya. "Tertinggal di apartemen, tapi ... aku tau, kemana dia akan membawa Indri." Fahmi memutar stir, ia berbelok menjauh dari jalan protokol. "Kalau kamu tidak memposting apapun di sosial media, ini semua tidak akan terjadi," tambah Fahmi menggerutu. "Apa aku salah jika mencari pembelaan?" "Kamu bukan mencari pembelaan, tapi mencari sensasi dan kegaduhan!" "Memangnya penculikan Indri, itu sebabku?" Andini bergejolak, ia memasang wajah garang. "Tentu saja, bisa saja ada ora

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #28 2M harga mati

    Ia membekap mulut Indri, pekikan dari wanita itu masih terdengar samar. Indri berusaha melindungi dirinya, dengan memukuli dada Alex menggunakan kedua tangannya. Ia juga hendak menendang dengan kaki, saat Alex mulai menciumi kedua pipi Indri secara paksa. Melihat itu, lelaki bertubuh lebih besar dari Indri hanya tertawa sedemikian keras, merasa puas. Namun, aksi Alex tersebut terhenti oleh suara dering dari ponsel Indri. Alex berdecak kesal, ia melepaskan tangannya dari mulut Indri. Gadis itu mencoba mengatur nafas dalam ketakutannya. "Siapa itu?" tanya Alex menoleh sedikit kearah ponsel yang digenggam Indri. "Mbak Andini," ucap Indri gemetar. Sigap Alex merebut ponsel itu, Indri berusaha merebut kembali. Namun, tenaga Alex lebih besar dari dirinya. Ia kembali dibekap sekuat tenaga saat Alex menerima telepon tersebut. "Hallo ... Ha-ha-ha, kalau kamu ingin Indri selamat, berikan uang dua miliyar untukku!" ancam Alex dengan suara keras. Mata Indri membulat lebar, dua mil

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #27 Penculikan

    "Apa?" Fahmi tersentak dengan wajah memerah. Sialnya, dia tidak membawa ponsel. "Coba hubungi Indri," perintah Fahmi memohon. "Kamu saja yang hubungi, itu bukan urusanku." Andini melenggang begitu saja, disusul Sintya dibelakangnya. "Aku minta tolong," ucap Fahmi suaranya lirih. Mendengar itu, Andini menghentikan langkah. Ia menghela nafas berat, haruskan ia menolong orang yang telah menghancurkan rumah tangganya. Itu adalah sebuah ketidak mungkinan. "Kali ini saja, tolong ... telpon Indri, tanyakan keadaan dia," bujuk Fahmi melas. Andini menatap kearah Sintya, gadis di sampingnya itu mengangguk samar. Namun, matanya seolah berkata tidak perlu. Dilema dan bingung, masih banyak permasalahan yang harus Andini selesaikan. "Andini, tolong ini demi anakku," Fahmi memohon dengan suaranya yang gemetaran, seketika ia menangis sesegukan begitu saja. Pemandangan itu sedikit menjijikan di mata Andini, ia mendelikan mata keatas. Sambil mencibir dalam hati bagaimana Fahmi memohon. "Oke, t

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #26 Kenapa Indri?

    "Ini semua karena postingan kamu! pak Julian dan Om Hans batal menjadi investor di perusahaanku," hardik Fahmi berjalan kearah Andini dengan bahu naik turun. Wajahnya merah, bola mata melotot seakan mau keluar. Tangannya mengepal dengan urat yang nampak. Andini tak gentar, ia menengadahkan kepala menyambut Fahmi yang kian mendekat. Kedua pasang mata mereka saling bertatapan, tak ada kata yang keluar dari keduanya. Ruangan itu kian memanas, menjadi saksi bisu ketika tangan Fahmi melayang menampar pipi Andini. Hingga, Andini tersungkur jatuh tak berdaya. Air matanya jatuh setetes, namun tidak membuat ia ciut atau takut. "Kamu harus menghapus postingan itu!" bentak Fahmi. Andini tertawa seraya menyeka air matanya dan bangkit, ia menatap tajam kearah Fahmi dan berkata, "semua orang sudah tahu kelakuan kamu, kamu harus bisa menerima konsekuensinya." "Apa yang aku lakukan bukanlah kriminal, ada banyak laki-laki yang berpoligami di dunia ini dan itu bukanlah hal ilegal," tambah Fahmi. "

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #25 Berkas perceraian

    "Kamu lihat! netizen sudah menghujat aku Mas!" bentak Indri menunjuk-nunjuk ke ponsel yang ia pegang. Fahmi merebut ponsel itu, ia memperhatikan dengan seksama. Beberapa DM dari pengikut Indri, hujatan dan ujaran kebencian terlontar begitu saja. Fahmi mempererat genggaman tangannya, urat di atas punggung tangannya timbul, bibirnya menutup dan giginya gemeretak. "Andini," gumam Fahmi kesal. "Aku gak mau kehilangan pekerjaan aku,yang sudah aku bangun dengan susah payah," caci Indri sesegukan. "Iya, aku akan meminta Andini untuk menghapus semua postingan tentang ini," timpal Fahmi. "Menghapus? Terlambat! Semua orang sudah tahu,dan semua orang mengira aku ini gundik! Wanita murahan! Padahal, jelas-jelas aku juga korban." Wanita itu mondar-mandir dengan menggigiti jari telunjuk. Perasaan resah dan gelisah menyelimuti tubuh Indri. "Huek! Huek ...." Indri memegangi perutnya yang terasa mual. "Sayang, kamu ...kenapa?" tanya Fahmi mendekat. "Jangan mendekati aku!" sergah Indri menepis d

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #24

    "Mau apa kamu?" tanya Indri tanpa menoleh. "Hanya ingin tahu kabarmu, memastikan kamu tidak betul-betul bahagia dengan pernikahanmu! Apalagi ... kamu menikah dengan suami orang," ujar lelaki itu. Laki-laki itu berjalan mendekati Indri. Keringat dingin menyeringai di area pelipis dan kening. Indri terus memencet-mencet tombol lift di depannya panik. "Ayo buka," rintih Indri melirik sedikit kearah mantan pacarnya itu. Saat pintu terbuka, Indri buru-buru masuk untung saja dalam lift itu ada beberapa orang yang hendak naik dari basement. Ia menyelipkan diri diantara mereka. Lelaki itu hanya berdiam diri, berdecak kesal karena gagal menghampiri Indri. Ia menghentakkan kakinya ke lantai penuh emosi. "Awas kamu!" ancam lelaki itu menatap kearah lift. Dengan tergesa-gesa, Indri langsung keluar dari dalam lift setelah pintu terbuka pada lantai tujuannya. Tangannya gemetar hebat, jantungnya masih bertalu-talu. Kartu akses yang ia pegang pun sempat terjatuh. Ia terhenti di pintu, sekit

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #7 Gagal

    Malam itu Andini belum memejamkan mata, ia masih menatap layar ponselnya. Memeriksa CCTV yang ia pasang, meski tak sekalipun ia mendapatkan sebuah kejutan. “Mungkin benar, Fahmi ke tempat bilyard,” gumam Andini.Tak lama terdengar suara mesin mobil yang menepi di halaman rumahnya. Ia segera beranj

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #5 Tawaran menggiurkan

    Perkataan Fahmi masih membekas. Apakah itu penyebab Fahmi berselingkuh dengan wanita lain? Ia berjalan menuju halaman belakang rumah, untuk sekadar menenangkan diri. Menikmati suara air mancur yang gemericik. Tampak Bagas tengah duduk santai sambil mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handu

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #4 Romantis tapi najis

    Andini membisu sepanjang perjalanan pulang, ia begitu syok. “Sabar ya Mbak,” hibur Sintya matanya fokus ke jalanan. Andini hanya tersenyum sebentar, setelah itu kembali murung. Mereka sudah tiba di depan pintu gerbang rumah Andini. Mata Andini terbelalak saat melihat mobil berwarna putih di halam

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #3 Gaun pengantin

    Lampu menyala seketika, Andini menyipitkan matanya sedikit silau. Ruangan dengan satu kamar tidur itu terasa sunyi. Andini melangkah lagi menyusuri setiap sudut di susul Sintya. "Seperti ditinggalkan sudah lama," kata Sintya seraya meletakan jari telunjuk di atas meja kayu, "berdebu." "Lihat!" tu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status