Share

#3 Gaun pengantin

Penulis: Brown Sugar
last update Tanggal publikasi: 2026-06-02 13:43:48

Lampu menyala seketika, Andini menyipitkan matanya sedikit silau. Ruangan dengan satu kamar tidur itu terasa sunyi. Andini melangkah lagi menyusuri setiap sudut di susul Sintya. 

"Seperti ditinggalkan sudah lama," kata Sintya seraya meletakan jari telunjuk di atas meja kayu, "berdebu." 

"Lihat!" tunjuk Andini, ia menggenggam jam tangan mewah yang persis seperti milik Fahmi. Hadiah ulang tahun tiga bulan silam yang ia berikan. 

"Ini jam tangan milik Fahmi," lirih Andini lesu. Wajahnya pucat pasi, air matanya tiba-tiba jatuh perlahan.

"Jadi benar apartemen ini milik Mas Fahmi," gumam Sintya menghampiri Andini. Matanya berkeliling, bergulir kanan kiri. 

Andini masih butuh bukti yang kuat, ia kali ini menuju ruang tidur. Pintunya tidak dikunci, Andini langsung menerobos masuk. Ia memandangi sekeliling ruang tidur yang mengeluarkan aroma jasmin itu. Andini membuka lemari pakaian, ia kaget ada sepasang baju pengantin yang menggantung disana. Ada juga kaos dan kemeja milik Fahmi, tas branded wanita dan bandana pita yang terbungkus plastik. 

Wanita itu semakin lesu, Andini tersungkur menghasilkan suara jatuh yang kencang. Sintya menghampirinya panik. 

"Mbak, Mbak Andini kenapa?" tanya Sintya cemas. 

Andini tak menjawab, hanya suara tangisan yang kekuar dari mulutnya sambil menunjuk kearah lemari pakaian yang masih terbuka. 

Sintya pun kaget melihat sepasang baju pengantin itu. Ia menghampiri dan mengambil gaun wanitanya. "ini seperti gaun pra wedding." 

"Jangan-jangan, Fahmi menikah lagi tanpa sepengetahuanku?" gumam Andini lirih. 

Sintya memeluk Andini erat, mengelus punggung penuh kelembutan. 

"Mbak, bagaimana kalau di apartemen ini kamu pasang CCTV saja," usul Sintya. 

"CCTV?" 

"Iya, biar kamu bisa tau apa saja yang dilakukan Mas Fahmi," timpal Sintya seraya duduk di pinggiran springbed. 

"Memangnya sempat? Kita hanya memiliki waktu hari ini," keluh Andini mengusap air matanya. 

"Aku punya sahabat yang tinggal di daerah sini, dia tukang pasang CCTV, sebentar ... Aku coba menghubunginya ...." Sintya membuka ponselnya, dengan cepat jari nya mengetik pesan. "dia akan tiba disini sekitar sepuluh menit lagi." 

Andini menghela nafas, ia merebahkan diri di kasur yang empuk itu. Air matanya masih turun, menatap langit-langit apartemen. 

"Apapun yang terjadi nanti, kamu harus menerimanya, Mbak," tutur Sintya

"Siapa wanita itu? Kamu tau?" tanya Andini tatapannya kosong. 

Sintya menggelengkan kepala. Ia berdiri, membuka gorden hingga cahaya matahari masuk ke kamar itu. 

"Kalaupun aku tau, aku akan langsung memberitau mu Mbak," kata Sintya.

Ruangan itu seketika hening, hanya ada ada hembusan AC yang mengeluarkan angin segar nan dingin. Tak lama, suara ponsel Sintya berdering. Ada telpon masuk, Sintya memeriksa dan itu adalah temannya yang akan memasang CCTV. 

"Hallo ... Oh, oke." Dengan tergesa-gesa Sintya meninggalkan Andini yang masih terbaring di atas kasur. Ia menemui sahabatnya yang sudah ada di depan pintu. 

"Masuk," pinta Sintya. 

"Kamu tidak bilang kalau tinggal di sini," cetus lelaki itu seraya meletakan tas hitam di meja. 

"Ini milik kakak sepupuku," jelas Sintya. Ia membuka kulkas, di dalamnya penuh dengan minuman memabukan mulai dari yang termurah hingga paling mahal. Sintya geleng-geleng,tidak percaya dengan kelakuan Fahmi yang di niai nya begitu alim. 

"Minum?" tanya Sintya sambil memgacungkan satu botol berwarna hitam. 

"Kamu gila, bagaimana aku bisa memasang CCTV jika aku mabuk. Tidak ada air putih?" ujar Alex. 

Sintya terbahak-bahak, suaranya memenuhi isi ruangan. Begitu menggelegar sampai Andini pun beranjak keluar dari kamar. 

"Ada apa?" tanya Andini suaranya sedikit parau. 

"Kenalin Mbak, ini teman aku namanya Alex, dia yang akan pasang CCTV nya," jelas Sintya. 

Andini menatap Alex sambil tersenyum. Lelaki itupun membalasnya, hingga timbul kedua lesung pipi yang manis. 

"Langsung aja," pinta Andini. 

Alex patuh, ia memasang CCTV wireless di sela-sela buku yang terpajang di rak. Sangat tersembunyi, Andini berpikir Fahmi tidak akan menyadari keberadaan benda itu. 

"Mau sekalian spycam?" tanya Alex. 

"Apa bedanya?" 

"Spycam itu kamera pengintai, ukurannya kecil dan bisa diletakan dimana saja tanpa diketahui target," 

"Nah, iya Mbak, biar Mbak bisa tau aktivitas Mas Fahmi di luar," timpal Sintya dengan mulut penuh camilan yang ia dapatkan dari lemari es. 

Andini terdiam sesaat lalu berkata, "aku butuh beberapa." 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #29

    "Bagaimana bisa dihubungi?" tanya Fahmi dengan nada panik, pandangannya tidak fokus berkali-kali menoleh jok belakang tempat Andini duduk. Andini menggeleng, tanpa menatap Fahmi. Ia merasa begitu bodoh, harus mengikuti permintaan Fahmi. Tidak ada suara keluar dari mulut wanita itu, sejak memasuki mobil. Ia hanya menatap ke luar jendela, memandangi jalanan Ibukota yang selalu ramai. "Sialan!" decak Fahmi menghantam stir mobilnya. "Coba pakai ponsel kamu Mas," bujuk Sintya yang duduk di sampingnya. "Tertinggal di apartemen, tapi ... aku tau, kemana dia akan membawa Indri." Fahmi memutar stir, ia berbelok menjauh dari jalan protokol. "Kalau kamu tidak memposting apapun di sosial media, ini semua tidak akan terjadi," tambah Fahmi menggerutu. "Apa aku salah jika mencari pembelaan?" "Kamu bukan mencari pembelaan, tapi mencari sensasi dan kegaduhan!" "Memangnya penculikan Indri, itu sebabku?" Andini bergejolak, ia memasang wajah garang. "Tentu saja, bisa saja ada ora

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #28 2M harga mati

    Ia membekap mulut Indri, pekikan dari wanita itu masih terdengar samar. Indri berusaha melindungi dirinya, dengan memukuli dada Alex menggunakan kedua tangannya. Ia juga hendak menendang dengan kaki, saat Alex mulai menciumi kedua pipi Indri secara paksa. Melihat itu, lelaki bertubuh lebih besar dari Indri hanya tertawa sedemikian keras, merasa puas. Namun, aksi Alex tersebut terhenti oleh suara dering dari ponsel Indri. Alex berdecak kesal, ia melepaskan tangannya dari mulut Indri. Gadis itu mencoba mengatur nafas dalam ketakutannya. "Siapa itu?" tanya Alex menoleh sedikit kearah ponsel yang digenggam Indri. "Mbak Andini," ucap Indri gemetar. Sigap Alex merebut ponsel itu, Indri berusaha merebut kembali. Namun, tenaga Alex lebih besar dari dirinya. Ia kembali dibekap sekuat tenaga saat Alex menerima telepon tersebut. "Hallo ... Ha-ha-ha, kalau kamu ingin Indri selamat, berikan uang dua miliyar untukku!" ancam Alex dengan suara keras. Mata Indri membulat lebar, dua mil

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #27 Penculikan

    "Apa?" Fahmi tersentak dengan wajah memerah. Sialnya, dia tidak membawa ponsel. "Coba hubungi Indri," perintah Fahmi memohon. "Kamu saja yang hubungi, itu bukan urusanku." Andini melenggang begitu saja, disusul Sintya dibelakangnya. "Aku minta tolong," ucap Fahmi suaranya lirih. Mendengar itu, Andini menghentikan langkah. Ia menghela nafas berat, haruskan ia menolong orang yang telah menghancurkan rumah tangganya. Itu adalah sebuah ketidak mungkinan. "Kali ini saja, tolong ... telpon Indri, tanyakan keadaan dia," bujuk Fahmi melas. Andini menatap kearah Sintya, gadis di sampingnya itu mengangguk samar. Namun, matanya seolah berkata tidak perlu. Dilema dan bingung, masih banyak permasalahan yang harus Andini selesaikan. "Andini, tolong ini demi anakku," Fahmi memohon dengan suaranya yang gemetaran, seketika ia menangis sesegukan begitu saja. Pemandangan itu sedikit menjijikan di mata Andini, ia mendelikan mata keatas. Sambil mencibir dalam hati bagaimana Fahmi memohon. "Oke, t

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #26 Kenapa Indri?

    "Ini semua karena postingan kamu! pak Julian dan Om Hans batal menjadi investor di perusahaanku," hardik Fahmi berjalan kearah Andini dengan bahu naik turun. Wajahnya merah, bola mata melotot seakan mau keluar. Tangannya mengepal dengan urat yang nampak. Andini tak gentar, ia menengadahkan kepala menyambut Fahmi yang kian mendekat. Kedua pasang mata mereka saling bertatapan, tak ada kata yang keluar dari keduanya. Ruangan itu kian memanas, menjadi saksi bisu ketika tangan Fahmi melayang menampar pipi Andini. Hingga, Andini tersungkur jatuh tak berdaya. Air matanya jatuh setetes, namun tidak membuat ia ciut atau takut. "Kamu harus menghapus postingan itu!" bentak Fahmi. Andini tertawa seraya menyeka air matanya dan bangkit, ia menatap tajam kearah Fahmi dan berkata, "semua orang sudah tahu kelakuan kamu, kamu harus bisa menerima konsekuensinya." "Apa yang aku lakukan bukanlah kriminal, ada banyak laki-laki yang berpoligami di dunia ini dan itu bukanlah hal ilegal," tambah Fahmi. "

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #25 Berkas perceraian

    "Kamu lihat! netizen sudah menghujat aku Mas!" bentak Indri menunjuk-nunjuk ke ponsel yang ia pegang. Fahmi merebut ponsel itu, ia memperhatikan dengan seksama. Beberapa DM dari pengikut Indri, hujatan dan ujaran kebencian terlontar begitu saja. Fahmi mempererat genggaman tangannya, urat di atas punggung tangannya timbul, bibirnya menutup dan giginya gemeretak. "Andini," gumam Fahmi kesal. "Aku gak mau kehilangan pekerjaan aku,yang sudah aku bangun dengan susah payah," caci Indri sesegukan. "Iya, aku akan meminta Andini untuk menghapus semua postingan tentang ini," timpal Fahmi. "Menghapus? Terlambat! Semua orang sudah tahu,dan semua orang mengira aku ini gundik! Wanita murahan! Padahal, jelas-jelas aku juga korban." Wanita itu mondar-mandir dengan menggigiti jari telunjuk. Perasaan resah dan gelisah menyelimuti tubuh Indri. "Huek! Huek ...." Indri memegangi perutnya yang terasa mual. "Sayang, kamu ...kenapa?" tanya Fahmi mendekat. "Jangan mendekati aku!" sergah Indri menepis d

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #24

    "Mau apa kamu?" tanya Indri tanpa menoleh. "Hanya ingin tahu kabarmu, memastikan kamu tidak betul-betul bahagia dengan pernikahanmu! Apalagi ... kamu menikah dengan suami orang," ujar lelaki itu. Laki-laki itu berjalan mendekati Indri. Keringat dingin menyeringai di area pelipis dan kening. Indri terus memencet-mencet tombol lift di depannya panik. "Ayo buka," rintih Indri melirik sedikit kearah mantan pacarnya itu. Saat pintu terbuka, Indri buru-buru masuk untung saja dalam lift itu ada beberapa orang yang hendak naik dari basement. Ia menyelipkan diri diantara mereka. Lelaki itu hanya berdiam diri, berdecak kesal karena gagal menghampiri Indri. Ia menghentakkan kakinya ke lantai penuh emosi. "Awas kamu!" ancam lelaki itu menatap kearah lift. Dengan tergesa-gesa, Indri langsung keluar dari dalam lift setelah pintu terbuka pada lantai tujuannya. Tangannya gemetar hebat, jantungnya masih bertalu-talu. Kartu akses yang ia pegang pun sempat terjatuh. Ia terhenti di pintu, sekit

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #7 Gagal

    Malam itu Andini belum memejamkan mata, ia masih menatap layar ponselnya. Memeriksa CCTV yang ia pasang, meski tak sekalipun ia mendapatkan sebuah kejutan. “Mungkin benar, Fahmi ke tempat bilyard,” gumam Andini.Tak lama terdengar suara mesin mobil yang menepi di halaman rumahnya. Ia segera beranj

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #6 Simalakama

    "Kamu main bilyard sama siapa aja?" tanya Andini sambil membetulkan jaket Fahmi. Ia meraba keseluruhan dada bidang Fahmi. Tercium aroma parfum yang begitu menyengat, sehingga Andini sedikit ingin batuk. "Seperti biasa, Aditya, Raihan ... Sebelum itu aku akan menemui pak Julian," jelas Fahmi. Andi

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #5 Tawaran menggiurkan

    Perkataan Fahmi masih membekas. Apakah itu penyebab Fahmi berselingkuh dengan wanita lain? Ia berjalan menuju halaman belakang rumah, untuk sekadar menenangkan diri. Menikmati suara air mancur yang gemericik. Tampak Bagas tengah duduk santai sambil mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handu

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #4 Romantis tapi najis

    Andini membisu sepanjang perjalanan pulang, ia begitu syok. “Sabar ya Mbak,” hibur Sintya matanya fokus ke jalanan. Andini hanya tersenyum sebentar, setelah itu kembali murung. Mereka sudah tiba di depan pintu gerbang rumah Andini. Mata Andini terbelalak saat melihat mobil berwarna putih di halam

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status